
Selamat Tinggal 2021 – “Ini tentang kisahku, kisah pada tahun 2021. Saat aku bisa mengerti bagaimana arti menemukan setelah begitu merasa kehilangan,” ujar Mayang dengan linangan air mata.
***
“Aku akan selalu merindukanmu dan bertahan untuk tetap mencintaimu.” ujar Andre dalam pesan singkatnya setelah sebelumnya bercerita tentang pekerjaannya ke luar kota yang begitu mendadak.
Sempat tak ada jawaban dari Mayang kekasihnya hingga Andre pun kembali menulis pesan buat kekasihnya itu.
“Tak ada rencana sebelumnya, tetapi kamu harus yakin, walau kita berjauhan, aku akan selalu mengabarimu setiap saat. Percayalah!” ujar Andre berusaha meyakinkan Mayang.
Sementara di benak Mayang begitu banyak menumpuk pertanyaan sehingga jari-jarinya seakan berat untuk membalas balik pesan chat dari kekasihnya itu.
“Jika memang kamu bisa bertahan dan bisa meyakinkanku, akupun akan mempertahankan cinta ini.” Akhirnya Mayang menjawab pesan singkat Andre dengan hati yang berkecamuk. Apa yang ditulisnya, cukup mengimbangi kata-kata Andre. Entah mengapa keraguan selalu muncul dalam benaknya.
Apakah benar dia pindah ke luar kota atahu karena dia hanya ingin menjauhiku. Lagi-lagi hati Mayang diliputi banyak pertanyaan. Entah kenapa pula keraguan itu selalu muncul dalam hatinya, terlebih akhir-akhir ini, Andre sangat sulit ditemui. Hanya sesekali ia mengirim pesan padanya, tetapi itu pun sungguh sangat jarang dan bisa dihitung dengan jari.
Andre yang merupakan senior di kampusnya kini sudah lulus dan bekerja. Mungkin karena jarangnya mereka bertemu, membuat hubungan keduanya seakan renggang. Namun, komitmen untuk saling percaya, membuat hati Mayang sedikit tenang dan tetap berprasangka baik pada kekasih hatinya itu.
***
“Ada hal yang ingin aku katakan padamu, Des!” ujar Mayang pada Desi sahabatnya, ke esokan harinya.
Mayang yang semalaman tak bisa tidur, akhirnya memutuskan untuk mencari tahu tentang Andre lewat Desi dan janji bertemu di tukang bakso langganannya.
Mayang merasa, kalau Desi tahu, mengingat Andre bekerja di perusahaan milik pamannya.
“Dengan tiba-tiba, Andre mau pergi ke luar kota, feeling aku dia sedang berbohong padaku, Des!” ujar Mayang ungkap keresahannya pada sahabatnya itu.
“Terakhir saat memberi tahu aku, handphonenya masih aktif, setelah itu, dia tak bisa dihubungi lagi,” ujar Mayang.
“Bagaimana bisa aku mempertahankan hubungan ini, kalau dia sendiri seperti menghindar dari aku,” ujar Mayang dengan muka sedih.
“Perasaan dari tadi, cuma aku yang nyerocos. Apa kamu mau jadi pendengar saja?” tanya Mayang yang sedari tadi sahabatnya itu hanya mengaduk-aduk isi mangkoknya saja tanpa bicara sepatah kata pun.
“Mayang …, sebenarnya Minggu depan aku sudah mau menikah.” Desi akhirnya buka suara.
“Tidak Andre! Tidak kamu! Semuanya memberitahu serba dadakan, ada apa sih?” tanya Mayang dengan muka kecewa.
“Tidak ada maksud apa-apa Mayang … kalau sudah ada laki-laki yang serius sama aku, mau apa lagi!” ujar Desi seolah mereka sedang berdebat dan sama-sama ingin menang.
“Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan untuk membantu kamu, mungpung liburan kita masih panjang?”tanya Mayang, membuat suasana kembali mencair.
“Aku hanya mau kamu ikhlas ….” Baru sampai di situ, Mayang sudah memotong ucapannya, hingga Desi tak meneruskan kata-katanya.
“Ikhlas dong, kecuali kamu nikahnya Sama Andre.” Canda Mayang sambil tersenyum.
Walaupun ucapan Mayang adalah candaan, tetapi berhasil membuat Desi mendadak gugup, dan wajahnya berubah memerah.
Kamu tidak tahu Mayang, siapa laki-laki yang akan menikahi aku. Gumam Desi sambil berusaha tersenyum untuk menutupi kegugupannya.
“Awas saja kalau calon suamimu itu adalah Andre!” Ancam Mayang.
“Kalau benar yang nikahi aku itu Andre, kamu mau apa?” tanya Desi memberanikan diri.
“Ya, aku tak akan memaafkan kamu!” jawab Mayang dengan nada kesal.
Desi hanya tersenyum seolah dirinya baik-baik saja. Padahal, hatinya mulai dihantui rasa takut dan rasa bersalah yang luar biasa.
“Aku lupa, hari ini aku ada Janji, tetapi aku janji kalau ada info tentang Andre, aku kasih tahu,” ujar Desi. Padahal, bukan itu yang sebenarnya, dirinya sudah merasa tak nyaman dan ingin segera pergi dari tempat itu.
“Trim’s traktirannya ya,” ujar Desi sambil memeluk Mayang.
“Ada janji sama siapa?” tanya Mayang sambil membalas pelukan sahabatnya itu.
“Teman,” jawab Desi singkat.
Tanpa menahan, Mayang pun mengiakan Desi pergi, walaupun hatinya sedikit kecewa karena tak mendapatkan informasi sedikit pun tentang Andre dari sahabatnya itu.
***
Kepergian Desi tak lantas membuat Mayang beranjak dari tempat duduknya, gadis itu, sempat termenung dan bertanya dalam hatinya.
Ada yang tak aku mengerti dari rencana Andre dan Desi. Keduanya kok sama-sama mendadak. Gumam Mayang sampai akhirnya bangkit dari duduknya dan beranjak pulang. Namun, langkah kakinya terhenti di sebuah restoran sea food, tak jauh dari tukang baso.
Kenangannya bersama Andre yang sering mengunjungi tempat itu, membuat Mayang rindu untuk kembali mengunjunginya.
Mayang menuju ke sudut ruangan yang sering dipakainya saat menikmati makan bersama Andre, tetapi telah ada yang menempatinya. Akhirnya, Mayang mencari tempat lainnya yang masih kosong.
Samar-samar terdengar suara perempuan terisak, mayang pun mengalihkan pandangannya ke arah suara tadi.
“Andre dan Desi? Sedang apa mereka berdua?” tanya Mayang dengan ekspresi tak percaya.
Mereka begitu serius hingga tak menyadari kehadiran Mayang. “Ternyata yang janjian sama Desi adalah Andre?” tanya Mayang lagi.
“Apa yang diceritakan Mayang sama kamu?” tanya Andre yang ternyata sudah tahu tentang pertemuan Desi dan Mayang.
“Dia bercerita dan bertanya tentang kamu Ndre,” jawab Desi.
“Aku ingin jujur dan menceritakan yang sebenarnya, tetapi aku gak tega Ndre!” ujar Desi lagi.
Mayang yang berpindah ke tempat yang lebih dekat ke arah keduanya, begitu jelas mendengar percakapan mereka.
“Aku gak bisa bayangkan, kalau dia tahu, kalau yang akan menikahiku adalah kamu,”ujar Desi masih dengan suara terisak.
“Aku juga merasa malu dan berdosa, tetapi harus bagaimana lagi Des … Aku sudah tidak punya rasa lagi sama dia,” ujar Andre dengan datarnya.
Bagai petir yang menyambar, Mayang merasakan sesak di dadanya. Gadis itu ingin sekali melabrak keduanya, tetapi diurungkannya. Mayang berusaha untuk tegar dan menenangkan hatinya agar bisa pulang dengan selamat, lalu ia pun bergegas pergi, meninggalkan Desi dan Andre tanpa diketahui oleh keduanya.
***
Sejak kejadian itu, Mayang sering mengurung diri dikamarnya, atau menyendiri di halaman belakang.
“Kenapa putri ayah akhir-akhir ini, sering murung?” tanya Pak Hendi sambil merangkul putrinya yang tengah termenung di kursi belakang rumahnya.
Mayang hanya memandang ayahnya sekilas sambil tersenyum tipis.
“Ayah … bolehkah aku mengatakan sesuatu?” pinta Mayang sambil menatap ayahnya. Dari sudut matanya terlihat basah.
“Dengan senang hati, pasti ayah dengarkan,” ujar bapak tiga anak ini sambil mengusap air mata yang tertahan di sudut mata putrinya.
“Aku mau terima perjodohan Ayah,” ujar Mayang begitu tiba-tiba.
“Putri ayah yakin?” tanya Pak Hendi mengingat belum lama putrinya menolak keinginannya.
“Jika keputusan ini, bukan karena ada sesuatu hal, ayah sangat bersyukur sekali,” ujar Pak Hendi dengan rona wajah bahagia.
“Tapi …, hati ayah tidak bisa dibohongi, putri ayah sepertinya sedang patah hati,” tebak Pak Hendi sambil kembali menghapus air mata Mayang yang sepertinya sudah tak bisa dibendung lagi.
“Ayah sudah tenang, melihat kedua putri ayah sudah hidup bahagia dengan para suaminya, apalagi setelah mendengar putri ayah yang cantik ini, mau menuruti keinginan ayah,” ujar Pak Hendi sambil mencolek hidung putrinya.
“Ketika kita kehilangan, berusahalah untuk menemukannya, tetapi jika tak kunjung menemukannya ikhlaskan …,” ujar Pak Hendi. Kata-katanya yang begitu bijaksana, membuat Mayang memeluk ayah yang masih kelihatan ganteng ini sambil menangis. Betapa dirinya menyadari, kalau ayahnya begitu menyayanginya walaupun,dirinya pernah menentangnya.
Bu Tika yang menyaksikan dari arah pintu pun, ikut menitikkan air mata. Beliau paham kalau putrinya kini sudah mulai dewasa walau tak mendengar apa yang sedang suami dan putrinya bicarakan. Namun, dirinya merasa bangga memiliki suami yang begitu sayang pada dirinya dan juga pada ketiga putrinya.
***
“Neng Mayang, ada tamu di depan.” Terdengar Bi Ijah mengetuk pintu.
Mayang yang merasakan kepalanya pusing, hanya menoleh ke arah pintu.
“Masuk saja Bi, gak di kunci kok,” jawab Mayang dengan suara yang agak serak.
Tanpa menunggu lama, Bi Ijah langsung masuk dan begitu kaget melihat Mayang terbaring lemas dengan wajah yang pucat.
“Aduh Neng Mayang teh kenapa?” Bi Ijah langsung memegang kepala Mayang.
Asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di keluarga Pak Hendi itu, terlihat panik, Apalagi Mayang adalah anak majikannya yang sangat dekat dengannya.
“Siapa tamunya Bi?” tanya Mayang seakan tak menghiraukan ucapan Bi Ijah.
“Neng Desi sama temannya Neng!” Jawab Bi Ijah yang sudah sejak lama mengenal Desi.
“Suruh masuk Bi, suruh masuk ke sini saja,” ujar Mayang.
“Ya Neng,” Jawab Bu Ijah sambil meninggalkan Mayang.
Tak pernah disangka oleh Mayang, ternyata Desi datang bersama Andre.
“Kalau kalian datang untuk meminta restu, kemarilah,” ujar Mayang pada kedua pasangan itu yang berdiri di depan pintu.
“Apa maksudmu?” tanya Desi sambil melangkah menghampiri Mayang hingga lupa bertanya dengan keadaan Mayang yang terbaring lemas.
“Aku tidak mungkin mempertahankan orang yang sudah tidak punya rasa sama aku Des,” jawab Mayang sambil beralih menatap Andre setelah keduanya berada dihadapannya.
“Katanya aku selalu dirindukannya dan akan bertahan mencintaiku, tetapi aku sadar kalau kata-kata itu bukan untukku, betul kan Ndre?” tanya Mayang membuat Andre begitu malu.
“Aku juga tidak tahu, sudah berapa lama kamu bertahan untuknya.”ujar Mayang sambil mengarahkan pandangannya pada Desi.
“Aku sudah tahu segalanya Ndre,” ujar Mayang dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi aku bersyukur, waktu telah memberitahuku lebih cepat hingga aku terbebas dari kecemasan, juga terbebas dari kekecewaan,” jawab Mayang terbata -bata.
“Hingga aku bisa ikhlas dan memaafkan kalian bahkan, aku sangat ingin jadi saksi pernikahan kalian, jika kalian mengizinkan,” ujar Mayang dengan tenang, tetapi air matanya pun ikut berbicara, mengalir deras tanpa henti. Sangat manusiawi, sakit hatinya sungguh tak bisa disembunyikannya walau sudah berusaha untuk mengikhlaskan kekasihnya buat Desi.
Desi yang begitu malu kemudian memeluk sahabatnya sambil meminta maaf berkali-kali.
Begitupun dengan Andre, pemuda itu pun duduk tertunduk, tak berbeda dengan Desi, dia pun begitu malu bahkan, untuk sekadar menatap Mayang sekali pun.
“Apa pun yang kamu minta, untuk menebus kesalahanku, aku siap melakukannya. Biar setelah ini, kami bisa pergi dengan tenang,” ujar Andre masih dengan kepala tertunduk.
“Aku hanya minta, kamu tetap bertahan menjaga Desi, sahabatku,” ujar Mayang sambil bangkit dari atas pembaringannya dan memeluk keduanya.
Bertiga mereka mengucap janji untuk tetep menjadi sahabat sampai maut memisahkan.
Isak tangis Desi memecah ruangan kamar Mayang saat itu, ia begitu haru atas sikap legowo Mayang yang tetap masih menganggapnya sahabat dan ikhlas menerima maaf dari segala pengkhianatan yang telah keduanya lakukan.
***
Walaupun kepalanya terasa pusing dan tubuhnya terasa lemas,
Mayang mengantar Andre dan Desi sampai teras depan.
Terlihat lambaian dan senyuman keduanya setelah memasuki mobil.
Tiba-tiba tak lama kemudian, terdengar benturan keras mengagetkan Mayang yang baru saja membalikkan badannya.
Tabrakan keras terjadi, antara mobil truk dan mobil yang ditumpangi Andre dan Desi.
Mayang berlari menjerit, tak menunggu lama, warga sekitar pun berdatangan. Namun setelah terlihat percikan api, mobil yang ditumpangi Andre dan Desi pun terbakar, sempat terlihat oleh Mayang saat Andre melambaikan tangannya seakan meminta pertolongannya sehingga membuat Mayang berlari untuk mendekatinya, tetapi ditahan oleh beberapa warga, apalagi setelah ledakan terjadi,
Mayang yang terus berusaha menghampiri sahabatnya itu, terus meronta-ronta dari cengkraman warga sambil menjerit histeris. Hatinya seakan tak rela harus kehilangan Andre dan Desi yang baru saja mengucap maaf atas kekhilafannya.
“Waktu tak memberiku izin untuk berlama-lama menikmati persahabatan kami. Andre dan Desi terpanggang di dalam mobil,” ujar Mayang menceritakan kejadian tragis itu pada suaminya, Fadlan, laki-laki yang baru menikahinya juga laki laki yang dijodohkan ayahnya.
“Aku sadar semua, sudah jalannya Tuhan, untuk aku menerima seseorang yang lebih baik, yaitu kamu,” ujar Mayang mengakhiri ceritanya karena ternyata laki-laki yang dijodohkan ayahnya, bukan hanya tampan dan baik,te tapi juga sangat mapan.
“Selamat tinggal sahabatku …, selamat tinggal 2021, … ternyata kita tak sanggup bertahan ya Ndre. Bahkan, untuk bertahan sebagai teman karena mungkin untuk saling menjaga hati, Allah tahu, kita tak akan mampu untuk menjalaninya,” ucap Mayang sambil kembali berlinang air mata.
TAMAT
*****
Judul: Selamat Tinggal 2021
Penulis: Heni Anggraeni
Editor: AN
Profil penulis:
Heni Anggraeni saat ini bekerja sebagai karyawan di PT Perdana Firsta Garment. Sudah lama dia memiliki keinginan kuat untuk menjadi seorang pengarang. Meskipun usianya sudah bukan remaja, tetapi semangat berkaryanya luar biasa. Sudah beberapa cerita pendek lahir dari tangan dinginnya.








