CerpenLiterasiPratama Media News
Tren

Kado Terindah di Hari Ibu

Sebuah cerpen karya Heni Anggraeni

Kado Terindah di Hari Ibu – Bukan pertama kalinya Bu Dewi menangis di sela-sela doanya, ibu dua anak ini begitu sering memohon hidayah dan petunjuk atas anak sulungnya, Ihsan.

Ihsan pemuda tanggung yang dulu begitu penyayang pada ibu dan adiknya. Ia juga sangat hormat pada bapaknya, rajin salat dan rajin membantu kedua orang tuanya. Bahkan, Ihsan selalu menjadi juara kelas di sekolahnya,

Kini, Ihsan menjadi anak yang nakal, suka melawan orang tuanya, sering bolos sekolah, suka mencuri uang milik ibunya. Bahkan, akhir-akhir ini baru ketahuan kalau dia sudah tidak sekolah lagi. Padahal, untuk sampai pada sekolah menengah pertama saja, Pak Dian dan Bu Dewi harus bekerja keras sampai harus tertatih-tatih berjuang demi masa depan anak-anaknya.

Pergaulan telah membuat Ihsan berubah drastis. Kemiskinan membuat dirinya merasa hina, rasa gengsi dalam dirinya membuat Ihsan lupa diri, berberfoya-foya berlagak orang kaya sehingga membuatnya menjadi anak yang durhaka.

Pak Dian yang hanya seorang petani, itupun bukan tanah miliknya sendiri, melainkan tanah orang lain yang sengaja digarapnya, dan Bu Dewi hanya penjual gorengan yang penghasilannya tak seberapa, namun tak membuat Ihsan kasihan pada keduanya.berkali kali dinasihati, namun tak pernah didengarnya.

Puncaknya, pada suatu hari, Ihsan merajuk pada ibunya minta dibelikan sepatu futsal yang mahal harganya.

“Aku mau pas pulang sepatu itu sudah ada!”ancam Ihsan pada ibunya.

“Ibu punya uang dari mana nak,” jawab Bu Dewi dengan raut muka yang memelas.

“Terus, aku harus apa Bu? Teman-teman aku sudah punya semua!” bentak Ihsan dengan suara keras.

“Begitu cara kamu memperlakukan ibu yang sudah melahirkan kamu?” tiba-tiba Pak Dian muncul dengan badan yang masih kotor. Mendengar suara keras Ihsan pada ibunya, membuatnya buru-buru masuk tanpa membersihkan badannya terlebih dahulu.

“Saya menyesal terlahir di keluarga miskin pak!” teriak Ihsan dengan suara lantang.

Plaaak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Ihsan, membuat Ihsan terhuyung jatuh karena kerasnya tamparan itu.

“Sudah berulang kali kamu bapak nasihati, tetapi kamu tidak pernah dengar! Sudah berulang kali juga kamu sakiti ibu dan bapakmu atau dengan cara ini agar membuat kamu menjadi jera!” Pak Dian melayangkan kembali tangannya untuk kembali menampar Ihsan.

“Tahan emosi pak! Bagaimanapun Ihsan adalah anak kita!” ujar Bu Dewi sembari menangis.
Mendengar istrinya berteriak sambil menangis, Pak Dian mengurungkan niatnya dan berusaha menahan emosinya untuk tetap tenang.

“Ibu dan bapakmu memang orang miskin ….” Pak Dian tak meneruskan kalimatnya, bapak dua anak itu tertunduk menangis sambil menghenyakkan pantatnya di kursi reyotnya. Dengan wajah lesu sambil mencoba menahan emosinya yang seakan meluap-luap. Betapa sakit hatinya, padahal tak pernah dirinya maupun istrinya menyakiti perasaan Ihsan anaknya atau melalaikan kewajibannya sebagai orang tua walaupun hidupnya dalam kondisi serba kekurangan.

Baik Bu Dewi maupun Pak Dian, tak pernah mengeluh atau menyalahkan hidupnya yang serba pas-pasan. Keduanya selalu bersyukur atas rezeki yang Allah berikan. Seberat apa pun beban hidup yang dialaminya, belum pernah suami-istri ini menyesali apalagi sampai menangisinya. Namun, saat mendengar anaknya begitu lantang dan keras membentak istri dan dirinya, membuat Pak Dian tak bisa menahan tangis. Dirinya merasa telah gagal mendidik anaknya.

Sementara Ihsan yang melihat ibu bapaknya menangis, tanpa rasa iba sedikitpun lantas berlalu pergi entah ke mana.

***

Sehari, dua hari sampai seminggu lamanya, Ihsan tak kunjung pulang. Bu Dewi sering kali berdiri di depan pintu berharap anaknya akan pulang. Dalam dirinya, tak ada rasa benci atau marah kepada anaknya itu, melainkan ia merasa khawatir takut terjadi apa-apa pada putranya itu. Namun, sekalinya pulang Ihsan kembali mengambil uang yang disimpan Bu Dewi dalam lemarinya, untunglah Bu Dewi mengetahuinya.

“Jangan ambil uang itu nak!”ujar Bu Dewi memelas.

“Nanti saya ganti Bu!, itung itungan amat sama anak!”bentak Ihsan.

Bu Dewi mencoba merebut tas kecil yang berisi uang dari tangan Ihsan.

“Alaaaah! Nanti saya ganti Bu, berapa sih uang Ibu!” Bentak Ihsan tak menggubris omongan ibunya. Namun, Bu Dewi berusaha kembali merebut uangnya hingga hampir terjatuh.

Niat hati ingin memeluk anaknya yang sudah dirindukannya, Bu Dewi malah mendapat perlakuan tidak baik dari anaknya itu. Ihsan kembali pergi tanpa menoleh sedikit pun pada ibunya.

Dengan begitu sedih Bu Dewi memeluk Rizal, anak keduanya sambil menangis.

“Kamu harus menjadi anak yang Sholeh ya nak!”ujar Bu Dewi sambil membelai bocah Lima tahun itu yang ikut ikutan menangis saat melihat ibunya menangis .

Tiba-tiba Bu Dewi teringat cincin kawin yang sengaja disimpan dekat uang yang diambil Ihsan tadi dan ternyata benar, cincin itu pun telah raib dari tempatnya.

Pak Dian yang baru pulang dari sawah dan mendapati istrinya tengah menangis, segera menghampirinya dan bertanya apa yang telah terjadi.

Bu dewi pun menceritakan semuanya, air mata Bu Dewipun semakin deras mengalir di pipinya.

“Dasar anak durhaka!” ujar Pak Dian dengan wajah geram.

Sungguh bukan karena kehilangan cincin kawin dan uang simpanannya yang membuat Bu Dewi menangis atau membuat Pak Dian geram, melainkan seakan pupusnya harapan yang dimilikinya untuk membuat anaknya sadar.

Harapannya begitu kecil untuk membuat anaknya kembali seperti dulu. Namun, dalam Isak tangisnya Bu Dewi dan diam termenungnya Pak Dian saat itu, keduanya percaya bahwa tak ada yang tak mungkin bagi Allah Swt., sang pembolak balik hati hambanya dan tak ada yang tak mungkin bagi-NYA untuk mengembalikan anaknya ke dalam pelukannya dalam keadaan saleh dan kaya hati seperti dulu lagi.

Dalam setiap sujudnya keduanya selalu berdoa, tak ada rencana yang sempurna selain rencana Allah yang Maha Bijaksana. Namun, jika kekhilafan anaknya kini adalah bagian dari rencana-Nya, mereka selalu meminta agar diberi kesabaran dalam menjalani cobaan dan ujian ini. Keduanya percaya, hari bahagia itu akan tiba pada mereka suatu saat nanti.

***

Sementara di luar sana, Ihsan tengah mabuk akibat banyak menenggak minuman keras. Uang yang ia ambil dari lemari ibunya serta hasil penjualan cincin milik ibunya, Ihsan gunakan untuk berfoya-foya bersama teman-temannya.

Itulah Ihsan sekarang. Sehari-harinya pekerjaannya hanya mabuk-mabukan dan kadang kala memalak mobil yang lewat, jika sudah tidak memiliki uang lagi.

Ihsan tak pernah menyadari kalau teman-temannya hanya memanfaatkan dirinya karena setelah Ihsan kehabisan uangnya, mereka akan pergi tanpa menghiraukannya.

Seringkali mereka membiarkan Ihsan terkapar sendirian hingga saat Ihsan tersadar, dia akan mencari cari ke mana teman-temannya pergi.

Dan itu terjadi lagi di pagi ini,Ihsan celengak celenguk mencari teman temannya, dan tak ada satupun dari mereka yang ada didekatnya.

“Dasar bajingan!” Ihsan mendesis kesal.

Tak jauh dari tempat duduknya, terdengar ada suara orang membentak-bentak. Tanpa disuruh Ihsan pun langsung melangkahkan kakinya ke arah sumber suara itu.

Benar saja, sebuah mobil sedan merah tengah berhenti dan sopirnya dipaksa turun oleh seorang preman dan diminta untuk menyerahkan barang berharganya.

Ihsan yang saat itu hanya memerhatikannya tergerak hatinya untuk menolong orang itu. Ia pun segera bangkit dari tempat duduknya.

“Ayo serahkan semua barang barang berhargamu, atau kalau tidak saya bunuh!” ancam preman itu sambil memegang sebilah pisau ditangannya.

Sopir yang dari tadi mencoba melindungi majikannya, terlihat begitu ketakutan dengan mengangkat kedua tangannya, sang sopir pun akhirnya keluar dari dalam mobilnya.

“Apa yang kamu lakukan hah!” tanya Ihsan sambil merebut pisau yang tengah dipegang preman itu dan membuangnya.

“Heh,apa urusan kamu!” bentak si preman sambil mendorong dan memukul Ihsan.

Tak lama kemudian mereka berdua duel hebat, tak ada yang melerai karena saat itu suasana jalan nampak sepi. Si preman walaupun berbadan besar, ternyata masih kalah oleh Ihsan yang bertubuh kecil hingga preman itu lari tunggang langgang ketakutan.

“Terima kasih, kalau tidak ada kamu, apa jadinya saya dan sopir saya,” ujar seseorang keluar dari mobilnya. Penampilannya yang perlente, menandakan orang itu bukanlah orang sembarangan.

“Kenalkan saya Robby,” ujar lelaki itu lagi.

Bapak berjas abu-abu itu mengeluarkan dompetnya dan hendak memberikan lembaran uang seratus ribuan pada Ihsan.Namun, Ihsan menolaknya dan pergi tanpa menghiraukannya.

Mobil sedan itupun berusaha mengejarnya, tetapi Ihsan segera berbelok ke arah gang kecil sehingga mobil sedan merah itu tak bisa lagi mengejarnya.

“Siapa anak itu, mudah-mudahan suatu hari nanti saya bisa menemukannya,” ujar Pak Robby pada sopirnya saat itu.

Sementara Ihsan yang berjalan menyusuri gang itu tak menyadari kalau preman yang tadi dikalahkannya tengah mencegatnya dari arah yang lain bersama teman-temannya. Saat itu juga Ihsan dihajarnya hingga babak belur dan tak sadarkan diri tanpa ada yang menolong.

Sesaat tersadar, bayangan ibu dan bapaknya serta adiknya yang selalu membuatnya tertawa terbayang dibenaknya. Tiba-tiba saja ia ingin pulang, tetapi sangat malu dengan segala kelakuannya yang selalu membuat orangtuanya sedih.

Dengan berjalan terhuyung kesakitan Ihsan berjalan menuju suara azan. Tak lama kemudian ia sampai di sebuah mesjid, tempat ia sering salat Zuhur atau salat Jumat saat ia masih sekolah dulu.

Selain dekat dengan sekolahnya, letak masjid itu strategis dan tak jauh dari jalan raya hingga banyak yang menepikan kendaraannya bukan hanya untuk melaksanakan salat, tetapi juga sekadar istirahat untuk menghilangkan lelah.

Ternyata tak jauh dari sekolahnya juga, ada tempat pelarian Ihsan di kala ia pergi dari rumahnya. Bukan sebuah rumah atau tempat yang mewah melainkan sebuah pos ronda tempat berkumpul bersama teman-temannya walaupun sering diusir oleh warga setempat.

***

Ihsan yang tubuhnya penuh luka mendadak pingsan hingga membuat panik Pak Deni, seorang marbot dicmesjid itu. Pak Deni yang mengetahui itu adalah Ihsan segera membawanya ke rumahnya yang tak jauh dari mesjid itu.

“Aku di mana?” tanya Ihsan sambil melihat sekeliling. Dalam bayangannya terlihat bapaknya tengah memandanginya.

“Maafkan aku pak, maafkan aku pak ..,” ujar Ihsan sambil menangis dan berusaha untuk bangun.

“Nak,ini Pak Deni,” jawab Pak Deni sambil menepuk nepuk pipi Ihsan.

“Maafkan aku pak,maafkan aku ….” Ihsan menangis sesenggukan sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

“Ini Pak Deni, Ihsan,” ujar Pak Deni yang memang sudah mengenal Ihsan karena mereka sering bertemu saat Ihsan masih sekolah dulu.

Melihat Ihsan yang begitu ketakutan, akhirnya Pak Denipun membiarkan Ihsan benar-benar tenang.

“Sudah, sekarang kamu istirahat dulu ya,” ujar Pak Deni menenangkan Ihsan seraya bangkit untuk mengambil air minum.

Setelah Ihsan benar benar tenang,Pak Deni kembali menghampiri Ihsan.

“Bapak tidak memiliki pakaian bagus,tapi baju masih layak untuk dipakai kok,” ujar Pak Deni sambil memberikan satu setel baju untuk dipakai Ihsan,sebagai pengganti bajunya yang begitu kotor.

“Terima kasih pak,” jawab Ihsan.

“Mandilah dulu, kebetulan ada air hangat jika kamu mau mandi,” jawab Pak Deni lagi.

Ihsan hanya mengangguk, tetapi untuk berdiri saja Ihsan meringis kesakitan.

“Kalau begitu, biarkan bapak menyeka tubuh kamu,” ujar Pak Deni sambil membuka baju Ihsan perlahan tanpa menunggu persetujuannya.

“Kenapa kamu bisa babak belur seperti ini ?” tanya Pak Deni sambil menyeka tubuh Ihsan dengan air hangat.

Ihsan pun menceritakan yang terjadi sesungguhnya. Bahkan, dari petualangan hidupnya yang tak karuan pada Pak Deni.

“Saya anak tak tau diri pak,” ujar Ihsan sambil memalingkan kepalanya karena malu jika Pak Deni melihat air matanya yang kembali mengalir di pipinya.

“Saya malu pada kedua orang tua saya pak,” isak Ihsan.

“Orang tuamu pasti akan memaafkanmu kalau kamu mau bertaubat,” jawab Pak Deni.

“Apa yang harus saya lakukan untuk menebus semua kesalahan saya pak,” jawab Ihsan masih terisak.

“Kalau boleh, bisakah saya untuk sementara tinggal di sini dulu pak?” pinta Ihsan sambil menatap Pak Deni.

“Boleh, tetapi kamu harus mau membantu bapak membersihkan mesjid, juga mau salat dan mengaji,” jawab Pak Deni sembari mengajukan persyaratan pada Ihsan.

Marbot baik hati itu dengan senang hati menerima Ihsan di rumahnya, apalagi beliau hidup sebatang kara tanpa sanak dan saudara.

“Saya janji pak,” jawab Ihsan dengan pasti.

“Alhamdulillah,” jawab Pak Deni,dengan ucapan syukurnya pertanda bahagia di hatinya.

***

Hampir satu minggu Ihsan baru bisa memulihkan tenaganya. Dengan sabar Pak Deni merawat Ihsan yang seringkali merintih jika tubuhnya digerakkan terutama di bagian perutnya akibat berkali-kali mendapat pukulan dari para preman itu. Namun, yang membuat Pak Deni terharu, Ihsan benar-benar berusaha untuk bertaubat.

“Sudah lama saya tidak melaksanakan salat pak, saya ingin memulainya lagi,” ujar Ihsan suatu hari dengan wajah tampak malu malu.

“Allah akan menerima taubat hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Jangan malu salat nak,” ujar Pak Deni dengan wajah bahagia.

Dengan bantuan Pak Deni, Ihsan perlahan melangkahkan kakinya menuju mesjid.

“Allahu Akbar.” Ihsan mulai mengangkat tangannya dengan suara gemetar.

“Ampuni dosa-dosaku ya Allah,” pinta Ihsan dalam hatinya.

Air matanya tak bisa dibendungnya, pemuda itu tersungkur menangis diatas sajadah. Pak Deni yang baru selesai wudu segera menghampirinya. Pak Deni ikut terharu dan hanya mengusap-usap punggung Ilham dengan lembut. Tak ada yang terucap dari mulutnya hanya matanya yang terlihat berkaca-kaca.

“Saya malu pak.” Ihsan menangis dipangkuan Pak Deni.

Penyesalan Ihsan begitu besar, apalagi ketika Pak Deni membelainya. Ihsan merasakan seakan tengah berada dalam pelukan bapaknya.

“Saya anak yang durhaka pak,” ujar Ihsan sambil terisak.

“Apakah ibu bapakku akan memaafkanku pak?” tanya Ihsan menatap Pak Deni.

“Maaf ibu dan bapakmu akan selalu terbuka nak, insyaallah.”

“Tapi jika kamu takut dan malu,dekatilah orang tuamu perlahan lahan.”usul Pak Deni lagi sambil memberikan beberapa saran dan nasihat pada Ihsan. Ada secercah sinar bahagia di wajah Ihsan setelah mendengar saran dan nasihat Pak Deni.

Semangat hidupnya terlihat kembali bangkit,jelas terlihat dari senyuman yang menghiasi bibirnya.

***

Esoknya dengan menaiki angkutan kota Ihsan berhenti di tempat biasa ibunya istirahat bila sudah berkeliling menjajakan jualannya, yaitu sebuah toko kelontong yang terletak ditengah perkampungan. Ihsan menyamar menjadi seorang pengamen dengan kecrekan di tangannya, lengkap dengan aksesoris topi dan sedikit kumis agar Bu Dewi tak mengetahui kalau dia adalah Ihsan anaknya. Semuanya tak lain adalah idenya Pak Deni setelah mengobrol kemarin.

Ihsan mengipas tubuhnya dengan tangan kanannya sembari duduk di sebelah Bu Dewi, ada Rizal di sampingnya.

Ihsan begitu rindu hampir saja memeluk keduanya sambil sujud dan meminta maaf padanya.

Air matanya menetes. Namun, segera di sekanya takut ibunya melihatnya.

“Capek nak?” tanya Bu Dewi sambil menoleh ke arah Ihsan.

Tanpa menoleh Ihsan hanya mengangguk sambil membenahi topinya agar wajahnya tak terlihat.

“Ini masih ada buras, sama bakwannya kalau mau,” tawar Bu Dewi pada Ihsan.

Ibu … aku Ihsan Bu. Jerit Ihsan dalam hati sambil menatap ibunya.

Ihsan hanya bisa menjerit dalam hatinya,dosanya yang terlalu besar pada sosok ibu didepannya itu,membuatnya lebih menahan dirinya dari kerinduan yang sangat menyiksanya itu.

“Sudah banyak yang laku Bu?” tanya Ihsan sambil mengambil buras dan bakwan yang ditawarkan ibunya.

“Alhamdulillah sedikit lagi nak.” Terlihat Bu Dewi tersenyum ke arah Ihsan.

“Kalau begitu saya bantu jajakan ya Bu, “pinta Ihsan sambil membawa keranjang yang berisi gorengan.

“Jangan, jangan nak, sebentar lagi juga habis kok!” tahan Bu Dewi sembari mengambil keranjangnya kembali.

“Nggak apa apa Bu. Ayo dek ikut bareng kakak!” ajak Ihsan sambil menarik tangan Rizal.

Rizal yang tidak tahu itu kakaknya, menuruti apa saja kata Ihsan.

“Tunggu sebentar ya Bu, biar cepat habis,” ujar Ihsan sambil memegang tangan Rizal.

Tangan kecil mungil Rizal digenggam erat oleh Ihsan dan setelah agak jauh dari Bu Dewi, pemuda itu memeluk dan langsung menggendong Rizal penuh kerinduan.

“Adek capek ya,” ujar Ihsan sambil mencium pipi adiknya itu.

Rizal hanya tersenyum kecil, wajahnya yang polos terus memandangi kumis Ihsan. Merasa kumis palsunya dilihat terus oleh adiknya, Ihsan pun segera membetulkan letak kumisnya yang sedikit membuatnya tak nyaman dan yang paling ditakutinya, adiknya bisa saja mencopot kumis palsunya itu sehingga penyamarannya bisa terbongkar dengan cepat.

Ihsan mulai menjajakan gorengan milik Bu Dewi ke kerumunan orang yang tengah santai dan ngobrol di pos ronda atau ke rumah rumah sambil mengamen. Siapa yang memberinya uang, berapa pun besarnya, Ihsan akan menggantinya dengan satu buah gorengan milik ibunya.

Dalam sekejap gorengan itu telah habis terjual.

“Alhamdulillah, gorengannya habis. Kita samperin ibu yuk!” ajak Ihsan pada adiknya dengan gemas, sambil kembali menggendong adik kecilnya itu.

“Hore!, Dagangannya habis Bu!” teriak Ihsan dengan girang ketika sampai di tempat ibunya istirahat.

“Alhamdulillah …,”ucap Bu Dewi sambil tersenyum.

“Ini buat kamu,” Bu Dewi menyodorkan uang sepuluh ribu pada Ihsan.

“Jangan Bu saya ikhlas kok,” ujar Ihsan menolak pemberian Bu Dewi dengan halus.

“Nggak apa-apa,ambil saja buat ongkos naik angkot,” ujar Bu Dewi sedikit memaksa, tetapi Ihsan tetap bersikeras menolaknya.

“Kalau begitu terima kasih ya nak sudah repot-repot bantu ibu,” ujar Bu Dewi sambil bangkit dari tempat duduknya dan pamit untuk pulang pada Ihsan.

Sambil menatap ibunya pergi, Ihsan bergumam dalam hati.

Betapa besarnya pengorbananmu bu. Gumam Ihsan mengingat betapa ibunya berjuang keras selama ini, sementara dia tak pernah sedikit pun menghargai perjuangan ibunya saat itu.

Sebenarnya aku sudah tak ingin mengulur waktu untuk bisa memeluk dan meminta maafmu ibu. Gumam Ihsan lagi sambil mengusap airmatanya. Ihsan belum beranjak pergi, sebelum ibu dan adiknya menghilang dari pandangannya.

***

Berhari hari Ihsan seperti itu, masih tetap dalam penyamarannya untuk membantu ibunya menjajakan gorengan sambil mengamen, bermain, dan bersenda gurau bersama adiknya. Kebetulan kalau week end, Bu Dewi menjajakan dagangannya di sebuah lapangan karena kalau hari Minggu lapangan tersebut dijadikan pasar rakyat warga setempat.

Terlihat pancar bahagia dari wajah Bu Dewi, seringkali matanya berkaca kaca bila mengingat anaknya Ihsan.

“Kenapa ibu menangis?” tanya Ihsan.

“Ibu teringat Ihsan anak ibu ,entah di mana dia kini,” jawab Bu Dewi. Terlihat air matanya mengalir lewat pipinya .

“Memangnya anak ibu ke mana?” kembali Ihsan bertanya,berpura-pura tidak tahu.

Bu Dewi menceritakan Ihsan dengan derai airmata.

“Ibu tidak berusaha mencarinya?” tanya Ihsan lagi.

Bu Dewi hanya menggelengkan kepalanya sambil mengusap air mata di pipinya.

“Usia anak ibu mungkin sama dengan kamu, hanya saja dia sedikit putih,” ujar Bu Dewi pada Ihsan yang kini memang tak seputih dulu,hidupnya di jalanan membuatnya terlihat tak terurus.

“Apa yang membuat bapak dan ibu tidak mencarinya?” tanya Ihsan mencoba mencari tahu.

“Bapak dan Ibu begitu sedih ketika Ihsan mengambil cincin kawin ibu, serta uang tabungan yang sengaja ibu simpan,” ujar Bu Dewi.

“Ibu begitu bercita-cita ingin berangkat umroh suatu saat nanti,” jawab Bu Dewi lagi.

“Bapak tak pernah tau kalau ibu selalu menyisihkan sedikit dari hasil jualan gorengan ibu. Bahkan, keinginan ibu untuk berangkat umroh ke tanah suci masih ibu sembunyikan dari bapak,” ujar Bu Dewi mengusap air matanya.

“Dan setelah ibu cerita semuanya, ketika uang itu di bawa pergi oleh Ihsan, bapak marah besar dan tak peduli anak itu akan pulang atau tidak. Baginya perbuatan Ihsan sudah melampaui batas karena sudah sangat menyakiti hati ibu,” ujar Bu Dewi. Isak tangisnya semakin menjadi-jadi.

Mendengar semua itu, Ihsan begitu malu dan ingin segera meminta maaf pada ibunya dan memeluknya, tetapi setelah mendengar cerita ibunya, Ihsan semakin merasa tak akan mendapat tempat lagi di hati ibu bapaknya untuk bisa memaafkan dirinya.

Aku harus segera pergi dari sini. Gumam Ihsan dalam hatinya sambil menahan air mata yang siap meluncur, perasaan berdosa yang teramat besar, membuatnya malu dan ingin segera pergi dari hadapan ibunya.

“Adek, kakak pulang dulu ya,besok kita ketemu lagi,” pamit Ihsan pada adiknya Rizal sambil merangkul bocah kecil itu.

“Saya pamit dulu ya Bu,” ujar Ihsan pada Bu Dewi.

“Mampirlah ke gubuk ibu, kapan pun kamu mau. Apalagi bapak begitu ingin berkenalan dengan anak baik seperti kamu,” ujar Bu dewi yang selalu menceritakan kebaikan seorang pengamen yang tak pernah mau menyebut namanya itu pada suaminya hingga membuat Pak Dian begitu penasaran ingin berjumpa dengannya.

Andai saja kamu anakku, ibu ingin memelukmu nak. Gumam Bu Dewi dalam hati saat Ihsan mencium tangannya dan memeluk serta mencium anaknya Rizal.

Begitupun Ihsan, berat hatinya untuk pergi. Ia ingin jujur pada ibu dan adiknya kalau dia adalah Ihsan yang selalu dirindukannya

Dalam langkahnya yang semakin menjauh, Bu Dewi pun menangis menatap kepergian Ihsan yang dikenalnya sebagai pengamen itu, tetapi hatinya merasa kalau dia adalah anaknya yang hilang selama ini.

***

Ihsan menangis dipelukan Pak Deni sepulangnya bertemu Bu Dewi dan adiknya.

Pak Deni yang tengah membersihkan mesjid ,sempat terkejut saat Ihsan tiba-tiba memeluknya.

“Saya anak durhaka pak,” ujar Ihsan.

“Apa yang membuat kamu menangis?” tanya Pak Deni.

Ihsan pun menceritakan apa yang diceritakan Bu Dewi tadi pagi padanya.

Sementara tak jauh dari tempat mereka berdua,terlihat sepasang mata tengah memperhatikan Ihsan dengan seksama.

Sosok bapak paruh baya itu,sengaja mampir kemesjid itu untuk melaksanakan salat Dhuha.

Suasana mesjid yang saat itu sedang sepi, membuat apa yang diceritakan Ihsan terdengar jelas.

“Kalau begitu,minta maaflah kepada kedua orang tuamu. Temui kembali mereka tanpa harus berpura-pura lagi,” ujar Pak Deni sambil mengelus-elus punggung Ihsan.

“Saya sudah menyakiti ibu dan bapakku juga menghancurkan harapan ibuku,” ujar Ihsan dengan begitu menyesal.

“Bagaimana saya harus mengganti semua yang sudah saya ambil dari mereka pak?” tanya Ihsan pada Pak Deni.

“Minta maaflah sekarang sebelum segalanya terlambat,” ujar Pak Deni.

“Bapak yakin mereka tak akan meminta apa yang telah kamu ambil,tapi melihatmu kembali menjadi anak yang baik, mereka akan sangat bahagia,” ujar Pak Deni lagi.

“Untuk hadiah ibumu besok, biar bapak yang urus semuanya, kembalilah ke sini lagi nanti sore,” ujar Pak Deni mengingat Ihsan yang begitu ingin mengembalikan cincin kawinnya ibunya besok, tepat di hari ibu.

Ihsan pun menyetujuinya dan langsung bangkit dari tempat duduknya,tetapi rasa sakit di perutnya membuatnya harus berjalan tergopoh-gopoh. Namun, pemuda itu berusaha untuk terus berjalan, karena ingin segera menemui kedua orang tuanya.

Melihat Ihsan yang meringis kesakitan, Pak Deni sempat mencegahnya untuk jangan dulu pergi sampai rasa sakitnya hilang, tetapi Ihsan menolaknya.

Sementara sepasang mata masih terus memperhatikan Ihsan, sampai pemuda itu pergi dan menghilang dari pandangannya.

***

“Entah mengapa, ibu merasa kalau pengamen itu adalah anak kita pak,” ujar Bu Dewi pada Pak Dian yang sedang terbaring, sepulangnya dari jualan.

Pak Dian yang saat itu merasa nggak enak badan mengurungkan niatnya untuk pergi ke sawah.

“Ibu selalu berharap kalau itu adalah Ihsan,” ujar Bu Dewi sambil membuatkan teh hangat buat suaminya.

“Benar tidaknya dia anak kita, bapak ingin sekali bertemu untuk mengucapkan terima kasih padanya,” jawab Pak Dian sambil bangkit dari tidurnya.

“Dan jika dia benar anak kita Ihsan, bapak ingin minta maaf padanya karena telah menamparnya dan berkata kasar padanya,” ujar Pak Dian dengan mata menerawang ke depan.

Tanpa mereka ketahui Ihsan dari tadi sudah berdiri dibalik pintu dan begitu mendengar ucapan bapaknya,Ihsan tak sanggup menahan air matanya, pemuda itu menangis dengan kepala telungkup dibalik pintu,betapa orang tua yang selama ini dia sakiti,malah berniat meminta maaf padanya.

“Jika saja hari ini dia ada di sini, ibu juga begitu ingin memeluknya. Kapan kamu pulang nak,” ujar Bu Dewi terdengar begitu sedih.

Mendengar ucapan Ibunya, Ihsan tak lagi bisa menahan dan langsung menghambur masuk dan bersimpuh dikaki ibunya.

“Maafkan Ihsan Bu, maafkan Ihsan Pak,” ujar Ihsan sambil bergantian mencium kaki kedua orang tuanya.

Pak Dian dan Bu Dewi yang sempat tak percaya hanya terdiam. Namun, setelah bu Dewi tersadar bahwa itu adalah anaknya, ia langsung memeluk Ihsan dengan eratnya.

“Ibu sudah maafkan kamu nak,” tangis Bu Dewi begitu keras.

Begitupun dengan Pak Dian, bapak dan anak itu saling melepas rindu dan saling berpelukan.

“Alhamdulillah.” Tiba-tiba muncul Pak Deni diikuti oleh seseorang yang membuat Ihsan kaget.

“Bapak yang waktu itu …” Ihsan tak melanjutkan ucapannya keburu dipotong oleh laki laki itu.

“Ya,bapak adalah Pak Robby, orang yang pernah kamu tolong waktu itu.”

Ternyata laki-laki itu adalah Pak Robby yang pernah Ihsan tolong saat dihadang preman.

“Bapak tidak sengaja mendengar percakapan kamu sama Pak Deni tadi pagi di masjid, kebetulan bapak sedang mampir ke masjid itu,” ujar Pak Robby lagi.

“Sejak kejadian itu, bapak selalu mencari keberadaan kamu dan Alhamdulillah Allah membantu menemukanmu di sebuah masjid walau kita tak saling sapa,” ujar Pak Robby sambil tersenyum.

“Kedatangan bapak kesini untuk kembali mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya sama kamu,” ujar Pak Robby sambil menepuk bahu Ihsan.

“Sebagai ungkapan terima kasih bapak buat kamu, bapak ingin mengabulkan cita-cita ibumu untuk pergi umroh ke tanah suci,” ujar Pak Robby lagi.

Ihsan yang masih tak percaya dan menganggap itu adalah mimpi, tak ada yang bisa diucapkan dari mulutnya, dia hanya bersujud mengucap syukur pada Yang Maha Kuasa.

“Bapak juga membelikan ibumu sebuah cincin untuk mengganti cincin yang pernah kamu jual,” lanjut Pak Robby pada Ihsan yang masih belum bangun dari sujudnya.

Bu Dewi yang begitu terharu langsung memeluk Ihsan yang sedang bersujud dan membangunkannya. Namun, tak ada reaksi dari tubuh anaknya itu dan begitu terkejutnya Bu Dewi dan yang lainnya saat dari mulut Ihsan keluar darah segar yang begitu banyak.

Ihsan terkulai tak berdaya,tetapi denyut jantungnya masih ada walau terasa lemah. Dari mulutnya terucap maaf pada ibunya dan melirik pelan ke arah Pak Dian bapaknya yang segera memeluk anaknya itu sambil menangis.

“Maafkan Ihsan Bu … Pak.” Terdengar suara Ihsan begitu lirih.

“Kamu juga harus memaafkan bapak dan ibu nak,” ujar bu Dewi sambil terus menangis.

Ihsan hanya mengangguk sambil tersenyum, tangannya melambai lemah ke arah adiknya. Rizal pun segera mendekat, begitupun Pak Deni yang diikuti oleh Pak Robby.

“Kamu harus kuat biar kamu bisa melanjutkan sekolah lagi, lagipula kamu berjanji untuk memasangkan cincin ibumu sebagai hadiahmu besok dihari ibu,” ujar Pak Robby sambil mengusap darah yang mengalir dari mulut Ihsan tanpa merasa jijik sedikitpun.

“Bolehkah saya memakaikannya sekarang pak,” ujar Ihsan hampir tak terdengar.

Tanpa menolaknya, Pak Robby segera merogoh saku jasnya dan memberikan cincin itu pada Ihsan.

Ihsan pun meraih tangan ibunya dan memakaikan cincin itu dijari ibunya dengan tangan gemetar.

“Maafkan aku Bu, hari esok terlalu lama untuk ditunggu. Ihsan harus pergi sekarang.” Perlahan mata Ihsan terpejam dari mulutnya terdengar dengan jelas.

“Laa ilaha illallah, muhammadur rosuulullaah ….” Ihsan menghembuskan napas terakhirnya dalam pangkuan ibunya.

Bu Dewi menangis histeris,begitupun Pak Dian.

Baik Pak Deni maupun Pak Robby tak percaya dan tak pernah menyangka kalau Ihsan akan pergi secepat itu.

Pak Deni yakin meninggalnya sahabat kecilnya itu sangatlah mulia karena dalam keadaan taubat yang sebenar-benarnya, Ihsan tak pernah meninggalkan salat lima waktu lagi dan sedang mencoba memperbaiki dirinya untuk menebus dosa-dosa yang pernah dilakukannya, terutama pada kedua orang tuanya.

Sementara dalam kesedihannya yang sangat mendalam Bu Dewi dan Pak Dian,mencoba ikhlas akan kepergian anaknya itu. Mereka hanya kehilangan raganya,tetapi kesalehan hatinya yang pernah hilang, telah kembali lagi sebagai kado terindah di hari ibu, ya untuk ibu yang sangat dicintainya.

Selamat tinggal Ihsan anakku, terima kasih telah memberikan ibu kado terindah. Selamat jalan anakku … surga Allah insyaallah akan menjadi tempatmu di sana. Amin ….

Itulah kata-kata terakhir Bu Dewi saat melepas kepergian anaknya di pemakaman sehingga membuat semua hadirin yang mendengar dan menyaksikan begitu terharu dan mengamini doanya secara serempak. Amin, amin, amin Yaa Rabbal ‘Alamin ….

*****

Judul: Kado Terindah di Hari Ibu
Penulis: Heni Anggraeni
Editor: AN

Profil penulis:

Heni Anggraeni saat ini bekerja sebagai karyawan di PT. Perdana Firsta Garment. Sudah lama dia memiliki keinginan kuat untuk menjadi seorang pengarang. Meskipun usianya sudah bukan remaja, tetapi semangat berkaryanya luar biasa. Sudah beberapa cerita pendek lahir dari tangan dinginnya.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button