Saya Berasal dari Keluarga Broken Home
Tulisan ini merupakan hasil dari kegiatan Pelatihan Jurnalistik yang diselenggarakan oleh Pratama Media News dan Perpustakaan Umum Daerah Kota Cimahi yang mendapat support dari Dewan Pimpinan Pusat Aliansi Jurnalis Media Independen Indonesia (DPP AJMII)
Pratama Media News ̶ Saya Berasal dari Keluarga Broken Home ̶ Setiap membahas soal kehidupan keluarga, sebenarnya saya enggan mengutarakannya. Masalahnya, hubungan saya dengan keluarga tidak begitu harmonis. Hal ini mungkin saja teradi karena saya berasal dari keluarga broken home.
Ayah dan ibu saya sudah bercerai sejak saya masih kecil. Saya anak bungsu dari empat bersaudara. Semua kakak saya ikut dengan ayah, sedangkan saya sendiri memilih ikut ibu. Saya dan ibu tinggal di rumah bibi sejak saya masih kecil sampai sekarang.
Terus terang, saya tidak begitu dekat dengan kedua orang tua saya. Ibu saya orang yang cuek dan menutup diri, jadi saya tidak begitu terbuka kepadanya. Saya justru lebih dekat dengan kakak perempuan saya (kakak ketiga) yang ikut ayah. Mungkin karena kami sama-sama perempuan dan lebih terbuka, jadi lebih leluasa untuk bercerita tentang segala hal.

Kakak perempuan saya itu sepertinya sangat memahami sifat saya. Saya selalu bercerita dan meminta saran darinya. Bagi saya, dia itu sudah seperti teman sendiri. Mungkin juga kedekatan kami tersebut karena perbedaan usia kami yang tidak begitu jauh.
Terkadang kakak perempuan saya bercerita berbagai hal, seperti masalah kuliah, masalah pekerjaan atau hanya sekadar ngobrol membahas hal sepele. Saya dekat dengannya semenjak saya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Selain kakak perempuan saya tersebut, saya juga punya dua kakak laki-laki. Keduanya merantau ke Yogyakarta sehingga kami jarang bertemu. Oleh sebab itu hubungan kami tidak begitu dekat. Mungkin juga hal ini disebabkan mereka lebih sering berada di luar kota, sementara saya tinggal di Kota Cimahi.
Sesekali saya mengobrol dengan kakak laki-laki saya lewat telefon atau video call. Kakak perempuan saya sekarang tinggal di Jakarta bersama adik ayah saya. Jadi ketika liburan, saya selalu pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan mereka.
Ayah saya meninggal dunia ketika saya duduk di bangku kelas 1 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sejak itu saya mulai dekat dengan kakak-kakak saya yang ikut ayah. Saya tidak memiliki adik, tetapi saya memiliki adik sepupu yang sudah saya anggap seperti adik saya sendiri.
Dalam hubungan fisik maupun batin, saya lebih dekat dengan keluarga ibu saya, terutama nenek dan bibi. Neneklah banyak berjasa terhadap kehidupan saya karena mau mengurus saya, mulai dari urusan sekolah sampai urusan sehari-hari. Namun, pada 2021 saya kembali berduka. Nenek yang sangat saya cintai tersebut meninggal dunia.
Saya dekat dengan semua bibi saya, terutama bibi yang rumahnya saya tinggali. Semua keluh kesah saya tentang berbagai hal saya ceritakan kepada bibi. Beliau pun sangat menyayangi saya, seperti anaknya sendiri.
Suami bibi saya (paman) pun sudah seperti ayah saya sendiri dan sampai sekarang saya memanggilnya dengan sebutan bapak. Mungkin ini kebiasaaan saya sejak masih kecil sudah diajarkan untuk memanggilnya dengan sebutan bapak. (Thia Veranti)
***
Judul: Saya Berasal dari Keluarga Broken Home
Penulis: Thia Veranti
Editor: Jumari Haryadi








