Anak-anak Karung
Sebuah kisah nyata anak-anak jalanan yang terjadi di Kota Cimahi, hasil investigasi jurnalis senior, Imas Nurhayati
Anak-anak Karung – Pratama Media News, Rabu (5/10/2022) – Kenalkan saya Asri, usia 11 tahun, biasa berjalan bersama Iren (4), adik saya di sekitar area komplek perumahan Angkatan Darat Sriwijaya Cimahi. Tinggi tubuh saya sekitar satu meter dan Iren se-dada saya tingginya.
Saya juga punya kakak laki, Rizki (12) tingginya hanya beda satu kepala lebih tinggi dengan saya, serta si bungsu perempuan bernama Nda yang masih suka digendong ibu yang bernama Ai. Bapak kadang memancing kadang pergi entah kemana.
Berenam kami tinggal di sebuah kamar satu kotak yang hanya berisi satu kasur busa tebal dan besar dengan banyak baju bergantungan. Ada satu boneka, banyak kain dan pakaian bertumpuk, tidak layak disebut rumah, tapi kami berenam setiap malam tidur di situ. Di luar rumah ada alat masak dan kompor, juga kamar mandi.
Setiap pagi keluar dari rumah yang tak jauh dari Stasiun KA Cimahi, tepat di samping kanan rel bawah yang sejajar dengan underpass Dustira Cimahi dan harus melewati kali yang mengalirkan air sangat deras jika kebetulan hujan besar sedang mengguyur bumi. Tentu saja ini sangat berbahaya untuk anak usia kami tinggal di situ, tapi kami sudah terbiasa.

Persis dua meter di atas rumah. Kami di sisi kiri maka banyak tumpukan sampah plus rongsokan, juga jadi tempat tukang penjual bawang putih restan (sisa) memilih bawang yang masih bisa dijual dari tumpukan bawang busuk. Sedangkan di sisi kanan rumah kami setelah menyeberangi jembatan kecil di atas kali akan ditemui belakang warung-warung kecil berdempet menghadap Jalan Warung Contong, tak jauh dari Dmart, tempat Aa Rizki biasa mengemis di area ATM Dustira.
Saya berkenalan dengan Tante Imas (46) di dekat sekolah SMP Negeri 3 Cimahi saat sedang duduk dengan Iren sebulan yang lalu. Tante ini sudah lebih dulu kenal dengan Aa Rizki yang menyapanya usai menarik uang tunai di ATM kurang lebih dua bulan yang lalu.
Saat itu Aa tengah mengemis duduk di depan ATM BRI dan Tante Imas keluar dari ATM BNI. Ia sedang sakit, batuk tidak berhenti, kedua matanya merah, kulit biasanya hitam kotor. Ia mengenakan celana panjang berjaket kupluk.
“Kamu sakit?”
Tanya Tante itu yang langsung dijawab iya oleh Aa. Saat itu perempuan yang selalu bersepeda jika bepergian memberinya saran untuk duduk pindah ke tempat hangat terkena sinar matahari. Tante tidak memberinya uang, tapi malah menyarankannya untuk lebih baik memulung dibanding mengemis. Ya, Aa berbincang banyak dengan Tante Imas.
Saya dan Iren pun pernah mampir ke rumah Tante yang tidak jauh dari komplek Sriwijaya, tempat kami biasa berkeliaran. Saat tiba di sebuah rumah besar di Jalan Warung Contong No. 92, kami ditawari sarapan di sana. Pernah kami diberi banyak pakaian dan beras yang ikut dibawakan Tante ke rumah kami. Pakaian yang diberi dimasukkan ke karung besar di punggung saya. Tante hanya membawa beras mengikuti kami sampai ke rumah tepi kali.
Aa Rizki pernah sekolah, tapi dikeluarkan, cerita saya pada Tante. Saya juga ingin sekolah pun Iren. Usia Iren sebenarnya cocok untuk masuk di PAUD dan saya seharusnya kelas empat, sedangkan Aa jika naik kelas maka mungkin ia sudah duduk di kelas enam SD.
Namun, setiap hari saya dan Iren dari pagi sejak keluar rumah hanya berkeliling di sekitar SD Negeri Setiamanah Mandiri I, SMP Nengeri 3 Cimahi, dan SMA Negeri 2 Cimahi dengan karung di punggung saya mencari gelas atau botol plastik. Kadang ada orang kasihan memberi kami makanan atau uang dua ribu rupiah yang kami terima sambil berucap terimakasih.
Jika waktu istirahat sekolah, saya hanya bisa menyaksikan anak-anak sekolah berlarian keluar jajan dan bermain bersama temannya. Hati kecil saya berbisik, saya juga ingin seperti mereka.
Berbeda dengan Aa, pada Tante ia menolak sekolah ketika ditawari jika ada bantuan untuk sekolah. Ada hal yang membuatnya tidak mau kembali duduk di bangku, tapi kemampuannya berbohong sudah terasah. Untung saja Tante bisa mengetahuinya lewat cerita saya.
Misalnya Aa pernah mengaku kalau bapaknya sudah empat tahun tidak pulang dari Kalimantan, tapi ketika Tante mengantar saya dan Iren ke rumah, ternyata bapak sedang pergi memancing.
Ya, Aa Rizki juga memanggul karung mencari barang bekas untuk dipulung. Sesekali ia juga masih mengemis. Kami empat bersaudara dan tiga dari kami sudah menjadi anak jalanan sejak usia dini.
Jika malam tiba, saya tidak betah di rumah, sama seperti Aa. Kami keluar sambil memanggul karung plastik. Pernah Tante Imas memanggil saya saat lewat depan rumahnya dan itu pukul 20.00 WIB. Saya diajak makan malam seadanya. Duduk di bangku plastik di halaman depan berlantai marmer putih di rumah besar dengan pekarangan yang hijau ditumbuhi oleh banyak tanaman. Saat itu Tante terlihat khawatir pada saya.
“Jam sembilan sudah harus ada di rumah,” kata saya.
“Bagaimana tahu jam sembilan?” balas Tante sembari balik bertanya.
“Dari Alfa,” jawab saya merujuk pada mini market arah Gunung Bohong yang berjarak sekitar tiga ratus meter dari rumah besar ini.
Sebelum makan di rumah Tante, saya dibiasakan mencuci tangan dari keran yang ada di bawah tangga luar. Saya cukup berterima kasih karena selain makan, Tante yang juga sudah memilah sampah ini memberikan sampah plastik untuk daur ulang pada saya.
Entah sampai kapan Aa Rizki, saya, dan Iren menjadi anak-anak karung di jalanan Kota Cimahi yang semakin melesat lewat pembangunan fisiknya, tapi belum bisa menyentuh kami yang terdesak melesak ke bawah, terhimpit oleh situasi ekonomi dan sosial yang sama sekali abai pada kami. (Imas Nurhayati/Pratama Media News)
***
Judul: Anak-anak Karung
Penulis: Imas Nurhayati
Editor: JHK
Sekilas tentang Penulis

Imas Nurhayati (45) penulis dengan dua anak. Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) Bandung. Dia pernah dua tahun menjadi wartawan, terakhir di TEMPO. Juga aktif sebagai anggota Perhimpunan Amatir Foto (PAF) Bandung.
Penulis yang memiliki hobi mengambil menggambar ini cukup lama berkecimpung di dunia aktivis lingkungan. Terakhir dia bekerja sebagai editor publikasi Greenpeace Indonesia. Usai bercerai dengan mantan suaminya, saat ini ia tinggal dengan dua anaknya di Kota Cimahi.










