ArtikelOpiniPratama Media NewsPsikologi

Bipolar dan Saya: Sebuah Pengalaman Perempuan tentang Kesehatan Mental

Sebuah kisah nyata tentang gangguan bipolar yang saya alami dan mencoba berdamai dengannya

Bipolar dan Saya: Sebuah Pengalaman Perempuan tentang Kesehatan MentalSaya memberanikan diri untuk berbagi cerita tentang bagian hidup saya bersama bipolar.

Saya perempuan yang cerdas, aktif, dan bahagia. Saya lahir dari keluarga muslim yang taat beragama. Saya anak tengah dari lima bersaudara. Salat tahajud sudah rutin saya lakukan sejak masih belajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP), mengikuti jejak orang tua yang juga rutin melakukannya.

Sewaktu kecil, saya mengalami pelecehan seksual dari anggota keluarga lain. Pengalaman ini terus berlanjut hingga saya dewasa. Permasalahan ini baru berhenti karena pelaku akan menikah. Saya pun memberanikan diri untuk membicarakan hal ini pada orang tua.

Ya, saya memendam banyak cerita pilu pada diri saya sendiri dan mengalihkannya pada segudang aktivitas yang saya sukai, seperti membaca, melukis, menari, mendengarkan musik, menonton film, dan lainnya.

Ilustrasi perempuan dengan gangguan bipolar – (Sumber: vectorstock.com)

Saya sangat suka olahraga karena saya sangat senang mengolah tubuh saya dari kecil. Hampir semua permainan olahraga saya kuasai, mulai dari tenis meja, bulu tangkis, basket, sepak bola, kasti, bola voli hingga catur. Saat masih bekerja di Jakarta, saya juga suka menyelam.

Masalah sulit tidur atau bisa tidak tidur sama sekali mulai datang waktu saya duduk di bangku Sekolah menengah Atas (SMA). Saya mengatasinya dengan membaca dan salat tahajud. Akibat insomnia ini saya sering tertidur di kelas pada saat mata pelajaran berlangsung. Beruntung saya tidak pernah ketinggalan pelajaran.

Alhamdulillah prestasi akademik saya selalu baik sehingga bisa belajar di sekolah favorit sampai perguruan tinggi. Saya juga bisa menyelesaikan semua jenjang pendidikan dengan baik.

Hingga sebelum menikah, saya merasa diri saya dalam kondisi baik-baik saja. Hanya terkadang saya merasa sedih yang teramat sangat. Saya tidak tahu apa sebabnya. Namun, kemungkinan hal ini tidak lepas dari pengalaman pelecehan seksual itu dan abainya orang tua saya terhadap kondisi jiwa saya –mereka selalu menganggap saya baik-baik saja.

Sejak kecil, jika saya bercerita sesuatu pada ibu maka dia akan lebih banyak menimpali dan mengambil alih pembicaraan. Akhirnya, sayalah yang justru mendengarkan semua kisah dan penderitaannya. Satu hal lagi, ibu juga seorang perfeksionis; dialah yang terhebat dalam semua hal. Dia merasa sebagai sosok paling sempurna dan paling hebat. Akibatnya, sedari kecil saya tidak pernah merasa bangga dengan prestasi yang saya raih karena ibu saya yang selalu lebih hebat.

Saya merasa biasa saja. Kondisi ini fatal bagi saya. Saya tidak bisa menghargai diri saya sendiri. Bahkan, juga tubuh saya; saya tidak pernah merasa mendapat apresiasi yang layak dari orang tua. Namun, saya menyimpannya rapat-rapat dalam dada ini.

Unek-unek ini sering keluar saat tahajud. Saya merasa senang dan beruntung, saat kini menjadi seorang ibu, saya tidak menerapkan pengalaman pola asuh buruk yang pernah saya alami pada anak saya dengan menghargai semua capaian mereka.

Pada usia 32 tahun, saya memutuskan untuk menikah. Sembilan tahun saya menjalani pernikahan yang tidak sesuai dengan harapan. Saya, juga kedua anak saya, mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Efeknya, saya kembali mengalami gangguan tidur.

KDRT
Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) – (Sumber: gilavalleycentral.net)

Saya sudah mengalami kekerasan yang dilakukan suami sejak anak pertama lahir. Keinginan bunuh diri mulai muncul. Kekerasan berbentuk verbal dan psikis itu membuat kami berdua – saya dan anak saya – sangat tersiksa. Anak pertama saya yang saat itu masih balita pernah menyuruh saya lari dari bapaknya ketika bapaknya memarahi saya.

Saya lebih sering diam ketika kekerasan berlangsung karena bingung dengan apa yang sedang terjadi. Memang tidak selamanya kehidupan pernikahan saya dipenuhi KDRT. Ketika anak kedua lahir dan pernikahan menginjak tahun ketujuh, kekerasan semakin menjadi. Kami bertiga – saya dan anak-anak – sering diperlakukan kasar. Terakhir, anak pertama saya dicekik bapaknya sendiri ketika berusia tujuh tahun.

Suami saya bertanya dengan nada mengancam pada anak saya sambil mencengkeram lehernya, “Mau ikut siapa?”

Sewaktu saya mengutarakan keinginan bercerai maka dengan penuh ketakutan anak saya menjawab, “Saya ikut bapak.”

Lalu, anak saya mengadu pada saya sambil menangis.

Pernah lebih dari tiga malam saya tidak tidur, menjerit melolong di tengah malam karena sedih dengan kejadian itu.  Awal anak saya sekolah, hampir setiap hari kami dimarahi hingga anak saya mengalami psikosomatis. Kemudian saya bawa ke dokter. Di situlah saya disadarkan oleh dokter yang memeluk lutut saya dan mengatakan, “Apa lagi yang ibu tunggu, nanti ada yang mati.”

Saya terhenyak. Sejak itu, keputusan saya untuk bercerai bulat.

Orang tua dan anggota keluarga lain tidak pernah tahu tentang apa yang saya dan anak-anak alami. Kami menutupinya dengan sangat rapat dan baik. Setiap lebaran kami bertemu orang tua, semuanya baik baik saja. Bahkan, anak-anak tidak mengadukan hal ini pada siapa pun.

Dua tahun terakhir pernikahan kami, giliran saya yang sering mengamuk. Saya tidak kuat, saya merusak barang, berteriak marah padanya. Saya berusaha keras melindungi anak-anak saya. Saat itu, giliran suami saya yang tidak melawan karena takut akan diceraikan.

Ketika anak kedua saya masih bayi, sekitar tujuh bulan usianya, saya dan dua anak saya pulang ke kampung untuk menghadiri pernikahan adik yang kedua kali (istri pertamanya meninggal). Di sinilah timbul kejadian luar biasa yang dipicu oleh adik saya tersebut yang memperlakukan ibu saya seperti pekerja rumah tangga (PRT).

Tentu saja saya tidak bisa menerima perlakuan adik saya tersebut. Saya marah luar biasa dan berkata kasar pada hampir semua orang. Berteriak-teriak hingga ibu saya shocked. Bahkan, tidak bisa datang pada pernikahan anaknya karena jatuh sakit. Saat itu, kami bertiga menginap di rumah orang tua. Suami saya tidak di tempat karena dia kembali ke Jakarta dan akan datang sehari sebelum pernikahan.

Usai pesta pernikahan, saya disidang oleh semua anggota keluarga, disaksikan oleh suami. Saya sudah lebih tenang dan menerima semua kemarahan saudara dan ayah pada saya karena kelakuan saya sebelumnya.

Kembali ke Jakarta, suami membawa saya ke seorang psikiater, dr. Erwin Kusuma, Sp.Kj. yang berpraktik di Rumas Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), tapi kami berkonsultasi di rumahnya di daerah Menteng, Jakarta. Saat itu, usia saya 38 tahun dan masih menyusui bayi. Hasilnya, terungkaplah jika saya mengidap bipolar.

Mengetahui saya bisa mengelola diri dengan baik (soal KDRT tidak saya bicarakan saat itu), dokter pun tidak memberi saya obat sama sekali karena saya sedang menyusui. Namun, terapi yang diterapkan dr. Erwin sangat berhasil.

Kurang lebih tiga atau empat kali saya menemui dokter tersebut selalu dengan keluarga lengkap – anak-anak dibiarkan bermain, sementara saya diterapi. Dr. Erwin Kusuma memberikan metode dengan analogi sakelar lampu.

Saya mulai tahu jika bipolar tidak bisa dihilangkan karena sudah menjadi bagian dari diri. Dia memberi tahu, seperti menyalakan atau mematikan lampu, kita juga bisa melakukan hal sama pada bipolar. Ketika lampu mati maka lampu dan daya listriknya tetap ada meskipun tidak bekerja/menyala. Begitu juga dengan bipolar. Saya diminta banyak berdoa memohon kuasa Tuhan untuk memadamkan bipolar yang saya alami seperti mematikan lampu. Itulah yang terjadi. Saya merasa ringan dan tahu bagaimana menanganinya.

Saya kadang merasakan gangguan bipolar muncul di saat-saat tertentu, misalnya di masa menstruasi. Namun, saya bisa mengalihkannya dengan melakukan berbagai hal yang saya ingin kerjakan, seperti menyanyi. Saat menyanyi, semua emosi saya bisa ikut larut dengan lagu yang saya bawakan. Saya juga melakukan aktivitas menggambar.

Pernikahan kami memang akhirnya tidak bertahan. Pada masa sidang perceraian, suami mengajak saya kembali mengunjungi dr. Erwin Kusuma. Kali ini kami berdua yang menjadi pasiennya. Suami menuduh saya gila karena sering mengamuk (dua tahun terakhir saya yang sering marah). Sebaliknya, saya menuduh suami saya psikopat dan sadomasokis karena KDRT yang dilakukannya.

Kami berdua akhirnya memutuskan untuk melakukan tes kejiwaan. Proses perceraian berlangsung lumayan lama, hampir setahun masa sidang kami alami. Dua anak kami titipkan pada orang tua saya di kampung. Akhirnya jatuh talak satu. Saya lega bisa lepas dari KDRT.

Rupanya mantan suami mau belajar. Dia bersedia terus membiayai kebutuhan anak-anak. Dia berusaha memperbaiki diri dengan mengikuti banyak terapi, di antaranya dengan melalui komunitas Abdi Hening. Saya sendiri melanjutkan hidup yang lebih tenang dengan anak-anak di kampung, bertiga saja. Sesekali bapaknya berkunjung dan anak-anak menerimanya dengan baik.

Pada masa liburan sekolah, kami ditawari untuk berlibur di Jakarta. Ya, kami menerimanya. Jadi walaupun sudah bercerai, kami bisa tinggal bersama dengan baik-baik saja. Anak-anak bahagia dengan kehadiran bapaknya.

Tiga tahun sudah masa perceraian kami lewati, kami berdua sama-sama belajar. Berdamai dengan diri, menenangkan jiwa. Hasilnya, kami merasa menjadi diri yang lebih baik. Anak-anak semakin baik kondisi kejiwaannya. Sebagai orang tua, kami juga turut merasakan kondisi yang lebih baik pada anak-anak.

Hingga saat ini, saya masih melakukan salat tahajud – itu mungkin penolong saya hingga kini bisa berdamai dengan bipolar. Meskipun, ketika serangan emosi dua kutub menyerang, saya bisa menangis dan tertawa secara bergantian. Jika serangan usai, saya bisa kembali tenang.

Keluarga besar akhirnya tahu saya mengidap bipolar sejak saya memberitahunya usai bertemu dr. Erwin. Mereka pun paham dan mengerti kondisi yang saya alami. Saya masih terus menata hidup untuk menjadi lebih baik.

Sekarang keluarga kecil kami bisa kembali dihiasi tawa lepas dan kebahagiaan dengan situasi yang lebih sehat. Anak-anak tumbuh bebas tanpa ancaman, kekerasan, ataupun intimidasi dari bapaknya. Mereka sehari-hari bersama saya dan mereka paham saya mempunyai bipolar. Mereka tahu kondisi saya dan bisa menerimanya dengan baik.

Pernah terbersit niat akan rujuk karena dorongan mantan suami sekitar dua tahun lalu, tetapi tahun lalu saya batalkan rencana ini. Saya berdiskusi dengan banyak kawan yang memberi saya kesimpulan jika KDRT adalah pola yang selalu berulang. Saya ingin menyelamatkan diri dan anak-anak, itulah alasan saya bercerai. Jika pun akan menikah lagi maka saya harus memastikan bahwa kami akan mendapatkan keluarga yang dirahmati kasih dan sayang.

Saya ikut prihatin dan berempati pada teman-teman yang mengalami bipolar dan gangguan kesehatan mental lainnya serta masih kesulitan bagaimana mengatasinya. Saya akui, tidak mudah menghadapi bipolar, tapi saya bisa dan terus berusaha berdamai dengannya.

Jika teman-teman khususnya yang berdomisili di Jakarta berkenan untuk konsultasi, silahkan berkunjung ke dr. Erwin Kusuma. Bagi saya, metode dan pendekatan yang diterapkan dr. Erwin sangat bagus dan berhasil untuk situasi saya. Bahkan, tanpa obat-obatan. Semoga informasi ini bermanfaat.

Sekian cerita saya dan berharap ada hikmah yang bisa diambil.

***

Judul: Bipolar dan Saya: Sebuah Pengalaman Perempuan tentang Kesehatan Mental
Penulis: Imas Nurhayati
Editor: JHK

Sekilas Penulis

Imas Nurhayati
Imas Nurhayati, penulis – (Sumber: Pratama Media News)

Imas Nurhayati (45) penulis dengan dua anak. Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) Bandung. Dia pernah dua tahun menjadi wartawan, terakhir di TEMPO. Juga aktif sebagai anggota Perhimpunan Amatir Foto (PAF) Bandung.

Penulis yang memiliki hobi mengambil menggambar ini cukup lama berkecimpung di dunia aktivis lingkungan. Terakhir dia bekerja sebagai editor publikasi Greenpeace Indonesia. Usai bercerai dengan mantan suaminya, saat ini ia tinggal dengan dua anaknya di Kota Cimahi.

Catatan:

Artikel ini sebelumnya pernah dimuat di website http://letss-talk pada Kamis, 26 Mei 2022 dan diterbitkan di Pratama Media News atas seizin penulisnya.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button