Samsuri Ogah Mudik Sekarang
Sebuah cerpen karya Sarkoro Doso Budiatmoko, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat
Pratama Media News, cerita pendek (cerpen) berjudul “Samsuri Ogah Mudik Sekarang” ini merupakan karya Sarkoro Doso Budiatmoko, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat.
Samsuri awalnya begitu antusias menyambut mudik lebaran. Disiapkannya baik-baik semua bekal yang mau dibawanya ke kampung halaman. Ada sarung, sajadah baru, mukena baru ukuran kecil dan besar, satu mushaf Al-Quran dan kopiah baru model anyar. Semuanya untuk oleh-oleh lebaran.
Pria berperawakan sederhana itu membungkus barang-barang yang akan dibawanya ke dalam satu kardus bekas Air Minum Dalam Kemasan. Kardus diikat menggunakan irisan karet bekas ban dalam sepeda motor. Dibanding tali rafia, ikatan karet lebih kuat dan tidak mudah mudah kendor.

Beberapa barang lainnya masuk ke sebuah tas punggung hitam yang warnanya sudah lusuh, tetapi kondisinya masih bagus. Tas praktis ini digunakan untuk wadah air minum, makanan kecil dan kaos oblong sehari-hari, buku, dan alat tulis.
Hanya dua bungkusan itu yang akan Samsuri bawa mudik. Dia tidak akan lama mudik karena hanya mendapat izin selama satu pekan saja.
“Pokoknya jangan lebih dari sepekan. Masjid ini harus tetap terus dihidupkan dan dimakmurkan. Kalau ditinggal terlalu lama, nanti melempem lagi. Itu tugasmu Samsuri,” pesan Ketua DKM (Dewan Kesejahteraan Masjid) memberinya izin.
“Insya Allah, siap Pak,” Samsuri girang bukan kepalang, “Yiiihaaaa…., alhamdulillah.”

Samsuri berencana naik bus. Alat transportasi itulah yang dia paling pahami, apalagi bisa minta turun di dekat rumahnya di kampung. Dia optimis akan memperoleh tiket, sekalian saja belinya sehari atau dua hari menjelang keberangkatannya.
Setelah mendapat izin dan kepastian bisa pulang, hawa dan pikirannya sudah menerawang jauh di kampung halaman. Bahkan, mimpinya tentang kampung halaman, istri, dan anaknya sudah mulai muncul dalam tidurnya, padahal baru bilangan bulan saja dia pergi dari rumah. Dia mulai menghitung mundur hari-harinya menjelang mudik. Tujuh hari, enam hari, lima hari….
Samsuri memang baru beberapa bulan silam menapaki hidup di kota besar. Pada awal musim penghujan yang lalu dia mulai “bertugas“ menjadi muazin di sebuah masjid milik instansi pemerintah di pinggir jalan raya. Hujan juga yang menuntunnya ke masjid itu.
Ceritanya, suatu siang menjelang sore, saat jalan kaki menuju halte bus, Samsuri berteduh dari hujan di emperan sebuah masjid. Banyak pegawai, pekerja, dan karyawan yang juga ngiyub di situ menunggu hujan reda.
Menjelang Asar, hujan belum juga reda. Sudah saatnya dikumandangkan azan salat Asar, tapi belum ada tanda-tanda ada orang yang mau mengumandangkan azan. Biasanya yang melantunkan azan siapa saja yang sempat dan bersedia, kadang marbot, kadang juga jemaah.
Sore itu marbot menawarkan pada para pria yang berteduh, “Punten…, kalau ada bapak-bapak yang bersedia azan, silahkan maju ke pelantang suara.”
Beberapa saat bergeming, tidak ada yang maju. Lalu Samsuri memberanikan diri masuk masjid dan mendekati pelantang untuk menyuarakan azan, panggilan melaksanakan salat Asar. Dalam hitungan detik berkumandanglah suara merdu Samsuri melantunkan azan.
Suara merdu Samsuri menembus pintu, menerobos tangga-tangga gedung, dan menelusup lift, serta dinding ruang kerja karyawan maupun para pejabat di dalamnya. Salah seorang pejabat tergerak turun dan rela menembus gerimis, berjalan dari teras kantor menuju masjid.
Ternyata pejabat tersebut yang menjadi imam salat dan ternyata dia pula Ketua DKM-nya. Selesai salat, pejabat tadi menemui dan ngobrol panjang dengan Samsuri. Dia merasa senang dengan suara azannya. Kemudian ditanyakannya asal usul Samsuri dengan panjang lebar.
“Pak Samsuri, sambil mencari pekerjaan, saya sangat senang kalau besok Bapak bersedia azan saat salat Zuhur dan Asar,“ pinta Ketua DKM pada Samsuri.
Tentu saja tawaran tersebut langsung disambut hangat oleh Samsuri karena saat itu dia memang belum ada ikatan kerja dengan siapa pun. Sejak dia sering melantunkan azan, dalam beberapa hari masjid menjadi tampak berdenyut hangat, tanda ada dinamika aktivitas masjid.
Suara Samsuri memang enak didengar, apalagi perilakunya juga sopan dan santun. Hal ini membuat Ketua DKM tak bisa menahan diri untuk menawari Samsuri menjadi muazin tetap di masjid tersebut. Samsuri pun menerimanya dengan perasaan bahagia.
Samsuri diberi fasilitas kamar di salah satu ruang di masjid dan dipersilahkan meneruskan usaha kios yang pernah dirintis oleh muazin sebelumnya yaitu berjualan barang-barang keperluan kantor dan sekolah, serta perlengkapan ibadah.
Rezeki memang tidak pernah salah alamat. Sejauh ini, ke manapun Samsuri pergi, seringkali diikuti dengan kemudahan-kemudahan memperoleh rezeki halal.
Samsuri tidak melihat berapa besar atau kecil rezeki yang diterimanya, tetapi baginya bisa memperoleh hasil usaha yang bersih dan halal itu merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri yang tiada ternilai harganya, apalagi selama bulan suci Ramadan, dagangannya lebih ramai dan lebih laris dari biasanya. Banyak anak sekolah, mahasiswa, dan jemaah berbelanja di kiosnya.
Menjelang Ramadan usai, Samsuri bermaksud pulang kampung, seperti para perantau lain asal kampungnya, mudik lebaran. Keinginannya untuk mudik itu sampai terbawa mimpi. Dalam impiannya, Samsuri tengah asik makan opor ayam, ketupat, dan kacang goreng.
Sayangnya, mimpi indah Samsuri jadi berantakan ketika dia menonton video di hape-nya. Kepalanya tertunduk, hatinya luluh, perutnya mules. Video kiriman temannya itu bercerita tentang orang yang hendak mudik.
Dalam video tersebut diceritakan, setiap orang yang mau naik bus di sebuah terminal bus ditanya oleh crew bus, “Mau mudik Mas?”
“Iya Bang,” jawab calon pemudik.
“Sudah sukses belum?” crew bus kembali bertanya.
“Belum,” jawab calon pemudik dengan nada kurang bersemangat.
Mendengar jawaban “belum” itu, si crew melihat calon penumpang tersebut dari ujung rumbut sampai ke ujung kaki, lalu menasehatinya.
“Kalau belum sukses, ya jangan mudik dulu Mas. Kalau kamu mudik terus, apa yang akan keluargamu banggakan? Lha wong kamu belum sukses,” ujar crew bus.
Calon pemudik itu cuma bisa melongo, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
“Nanti anak istrimu mau dikasih apa? Ponakanmu dikasih angpauw berapa?” tambah crew bus tersebut, “Kerja lagi saja sana Mas! Jadi orang sukses dulu. Lebaran sekarang cukup video call saja.”
Samsuri terhenyak dengan tontonan video ini. Dia lalu melihat dengan seksama pada dirinya sendiri. Dia memang merasa belum sukses.
Aku hanya mampu mengumpulkan penghasilan rupiah demi rupiah. Betul juga kata video itu, gak ada sedikit pun yang akan membuat keluargaku menjadi bangga, ujar Samsuri dalam hatinya.
Selama ini memang masyarakat merayakan lebaran setahun sekali dengan caranya masing-masing. Banyak di antara mereka pulang kampung menembus kemacetan, kegelapan malam, dan terik matahari demi memamerkan kesuksesannya.
Pakaian baru dan mahal, membawa anak dan istri yang bening-bening, dan mengendarai mobil bagus. Lalu berwisata ke tempat plesiran dan makan di rumah makan mahal. Itulah yang disebut banyak orang sebagai sukses.
Lhah aku…, aku ini apa? Hati kecil Samsuri berbisik. Aku hanya penghuni masjid, mangais rupiah demi rupiah jualan kertas. Apalagi baju baru, sarung, celanaku dan sendalku saja sudah lama dan tua. Ada benarnya kata crew bus di video, sebaiknya aku menunda kepulangan dan mengumpulkan duit lagi dan lagi.
Samsuri mulai ragu pada dirinya sendiri. Dia telah meredam semangatnya sendiri. Dia pun lalu tahu diri.
Pria alim ini sadar kalau era sekarang pengaruh pola hidup konsumtif memang besar sekali. Gempuran berbagai jenis iklan dengan tawaran dan visualisasi menarik, tontonan hidup penuh kemewahan selalu hadir di depan mata.
Kini orang sudah terlanjur mengukur kesuksesan dari banyaknya materi yang dimiliki. Orang lebih menghargai kekayaan materi dibanding kekayaan moral, akhlak, dan budi pekerti. Pendidikan tinggi, pangkat tinggi, karir di puncak, kalau tidak disertai dengan kelimpahan materi, belum disebut sukses.
Samsuri lalu berpikir, kalau memamerkan materi sebagai tanda sukses itu termasuk perbuatan ria, bagaimana dengan perilaku memamerkan ketidakmampuan, ketidakpunyaan, kemiskinan? Apakah juga termasuk kategori ria?
Samsuri terus berpikir dalam-dalam, Kalau dulu aku pergi dari rumah karena takut ria, apakah kalau sekarang aku mudik juga membawa ria? Kalau begitu, lebih baik lebaran sekarang ini aku tidak mudik. Ditahannya kuat-kuat keinginan untuk ketemu anak istri, kerabat dan handai taulan. Samsuri ingin menata hati dan pikiran dulu.
Samsuri yakin kebahagiaan tidak datang dari kepura-puraan dan memaksakan diri. Kebahagiaan hakiki datang dari kemampuan untuk selalu berjalan di jalan yang lurus.
Purwokerto, 25 April 2023.
Sarkoro Doso Budiatmoko
***
Judul: Samsuri Ogah Mudik Sekarang
Penulis: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: JHK
Tentang Pengarang:
Sarkoro Doso Budiatmoko, lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak Pranoto dan almarhumah Ibu Fari’ah. Pendidikan hingga SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di IPB (1984), Bogor dan pascasarjana di Iowa State University (1996), Amerika Serikat.

Pengalamannya menjalani berbagai penugasan di Perum Perhutani memperkaya wawasan dan pemikirannya yang sering dituangkan di media massa. Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, budaya, dan sumberdaya manusia. Aktifitasnya menulis tidak surut meski sudah purna-tugas beberapa tahun lalu.
Penikmat buku dan bacaan ini juga dipercaya mengasuh rubrik Kolom di Majalah “Bina Media Berita Kehutanan & Lingkungan” yang diterbitkan oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Tulisan Sarkoro Doso berjudul “Setelah PHL, Lalu?” pernah terbit di Majalah Duta Rimba Edisi 42 (Mar-April 2012) – Penerbit Perum Perhutani, Jakarta, Indonesia.
Kini rimbawan berpengalaman yang berasal dari Perum Perhutani Unit II Jawa Timur aktif menulis blog di Kompasiana. Beberapa tulisannya di platform asuhan Kompas online tersebut di antaranya artikel berjudl “Bijak Memilih: Orang, Pasangan, dan Pemimpin” yang terbit pada 20 Mei 2021 dan artikel berjudul “Hidup Akal Sehat” yang terbit pada 31 Mei 2021.
Penulis dikaruniai tiga orang anak. Saat ini dia menetap di Purwokerto dengan kesibukan menulis dan menjadi staf pengajar di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).
***





DKM = Dewan Kemakmuran Masjid.
Ada iklan pertamina tentang mudik lebaran thn 2018. Yg mudik bawa kardus besar kosong. Namun si anak begitu rindu pd ibunya nekat tetap mudik. Kata si ibu: rasa rindu si anak itu sdh oleh-oleh terbaik baginya. Kemudian secara ajaib kardus kosong bawaan si anak ternyata penuh berisi penganan khas lebaran.
Mudik bukan sekedar pamer kesuksesan. Rasa rindu bertemu keluarga secara langsung jauh lebih bernilai.
Terimakasih komentarnya p. Budhi.
DKM ada juga yg berasal dari kepanjangan Dewan Kesejahteraan Masjid. Sy memilih Kesejahteraan karena alasan selera diksi saja.
Begitulah mudik yg dimsknai oleh Samsuri. Tentu banyak sisi pandang orang terhadap “mudik” termasuk iklan Pert…na
Bagi saya tolak ukur kesuksesan bukan dari segi materi. Tapi tingkat kesuksesan hidupmu adalah ketika kamu bahagia. Tapi bahagia juga kadang perlu uang hehehe