LiterasiPratama Media NewsSastraSosial

Kediaman Kata Beralamat di Kota

Sebuah karya sastra dari Jiebon Swadjiwa yang mengungkapkan kondisi sosial kehidupan di perkotaan zaman now

Kediaman Kata Beralamat di Kota oleh Jiebon Swadjiwa – Kota sedang direbahkan, para pemandu kehabisan sasaran, para pecandu kekurangan barang dagangan, para penghibur kehilangan pelanggan, sedangkan aku tak habis melamun sendirian.

Kota-kota kembali ditidurkan. Menggunakan obat bius dengan dosis yang cukup mencengangkan. Katanya, pagi tidak lagi berniat menyinggahi kota terakhir. Hanya pekat dan remah-remah gelap yang akan hadir. Lalu bicarakan tentang takdir.

Pontang-panting, hingar-bingar, hiruk-pikuk, semua perihal menjadi seolah dikutuk. Tak apa, biarkan saja. Biarkan kota menikmati udara yang sesungguhnya.  Selama ini pundaknya penat. Hatinya terkubur lama dalam karat. Ada saatnya tidak mendengar kalimat keparat bangsat.

Kota Dubai
Ilustrasi: Kota Dubai yang diselimuti awan (Sumber: 9gag.com)

Kereta, bus kota, halte, dan romantisme, semua adalah sekumpulan elemen yang terperangkap dalam skeptisme. Besok lusa atau berlalunya waktu kemudian, tak pelak akan kembali dalam irama. Memainkan banyak drama dari berjuta kepala.  Peran-peran hilang berdatangan. Para pelakonnya terbang bertumbangan. Berputar tak habis-habis. Layaknya gerimis di musim tangis. Dari kata-kata yang hilang tragis.

Gemerlap lampu, binatu, detak ramai hak sepatu, semuanya bersuara dalam bisu. Ya, kota memang dilahirkan dari keributan.  Dirawat oleh kericuhan. Dibesarkan secara berantakan.  Dewasa seperti siluman. Mati dalam keadaan teracuhkan. Bangkit lagi menjadi mayat hidup. Bersama cahaya yang semakin redup. Dibunuh mati oleh para penyelundup.

Kota-kota menjadi desa-desa zaman dahulu. Sepi dan ngilu. Dalam pongahnya peradaban yang mendadak gagu. Biarlah kota diam sejenak dan menata. Dengan kata-kata yang tak serumit ibukota, yang haus akan semarak pesta. Dari ribuan mata-mata dan juga sepasang mata. Atau ratusan jiwa menjejak mata pencaharian dahaga semata. Isi dengan hiruk pikuk isi kepala, juga isi perut dengan metafora yang nyata.

Sedangkan aku ada di situ. Sebagai potongan kecil masa lalu. Di kediaman kata yang beralamat di kota yang kini menutup matanya.

***

Kediaman Kata Beralamat di Kota oleh Jiebon Swadjiwa

Profil penulis:

Suwaji
Suwaji (Sumber: Pratama Media News)

Pemilik nama pena Jiebon Swadjiwa sering kali mendapatkan inspirasi menulisnya dari mendengarkan suara yang bangkit dari dalam jiwa. Suara itu adalah suara kematian (dengan semua firasat), suara cinta, dan suara seni. Mulai menyukai dunia literasi sejak di bangku sekolah dasar. Beberapa tulisannya yang pernah dimuat di media cetak berjudul, “Tertinggalnya Aku” dan “Tik Tak Tik Tak Irama Rinduku” yang terbit di Koran Pikiran Rakyat pada 2018.

Editor: JHK

Artikel Berkaitan

17 Comments

  1. Karya yang luar biasa. Banyak diksi yang keren, termasuk judulnya juga, kediaman bisa berarti diam atau tempat tinggal. Btw penulisnya ganteng juga, hehe

  2. Uwwaahhh.. setiap kali baca tulisan Jiebon Swadjiwa pasti bikin kagum. Racikan kata-katanya selalu pas da tepat. Daannnn.. baru kali ini liat wajah penulisnya yang ternyata ganteenngg dan maniss.. unchh bangeettt.. makin love love akuu tuuhh

  3. Pebanyakin lagi dong author tulisan fiksi seperti ini. Permainan diksinya sangat keren, bikin si pembaca jadi kaya akan perbendaharaan kata.

  4. Kediaman kata beralamat di kota, suatu judul yang punya makna dalam dan sangat relate dengan keadaan sekarang. Semoga semua pesan dapat tersampaikan saat kota menampung kata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button