Orang Tangguh yang Tetap di Kampung
Mereka orang-orang tangguh yang tetap di kampung yang setahun sekali akan menyambut kedatangan para pemudik dengan cerita suksesnya masing-masing.
Orang Tangguh yang Tetap di Kampung – Akhirnya arus balik Lebaran 1443 Hijriah perlahan sepi dan para pemudik pun sudah beraktivitas kembali di rantau masing-masing. Tentu banyak kisah mudik dan arus balik yang menarik dan terbawa kembali ke kota atau tertinggal di kampung.
Salah satunya kisah tentang seorang lelaki berumur belum 40 tahun, Darwin namanya. Lebaran kali ini dia merasa bahagia bukan kepalang bisa mudik ke kampung halaman, berkumpul kembali dengan anak-anak dan istrinya. Kangennya yang sudah menggunung terobati setelah berjauhan berbilang bulan karena pergi merantau tanpa sempat pulang.
Ayah dua orang anak ini awalnya bekerja di sebuah kapal penangkap ikan laut. Pekerjaan ini memaksanya berhari-hari kadang berminggu-minggu hingga bulan berada di tengah laut. Sesuatu yang tidak dia duga sebelumnya, pekerjaan itu begitu menyita waktunya dan mendatangkan cukup derita.

Deritanya antara lain, saat di tengah laut sinyal untuk berkomunikasi dengan keluarga tidak sebagus dan semudah di daratan. Rasa kangennya menjadi tidak terobati secara tuntas dan ini membuat hati dan perasaannya sering uring-uringan.
Lelaki yang dilahirkan dan dibesarkan di kawasan kaki Gunung Slamet ini sehari-hari dalam hidupnya memang lebih mengenal sawah, kebun, dan rumah-rumah se kampungnya. Telinganya juga lebih akrab mendengar suara burung, kokok ayam, desiran angin, gesekan dedaunan, dan pepohonan yang bergoyang-goyang ditimpa guyuran hujan.
Langkah kakinya di kampung biasa panjang dan leluasa ke sana kemari. Matanya lebih biasa memandang aneka warna pemandangan alam yang jauh lebih beraneka dari pemandangan birunya laut. Indahnya sinar matahari di laut lebih dirasakannya sebagai menyilaukan dan panas.
Demikian pun biru putihnya pecahan ombak laut yang dimata orang sangat indah, baginya hanya menambah sendu saja. Bintang dan rembulan yang gemerlipan di malam hari baginya jauh kalah indah dengan nyala lampu senthir di dapur rumahnya. Ayunan ombak laut yang menggoyang dan mengayun-ayun kapalnya jauh kalah nikmat dari empuknya dipan bambu di emperan rumahnya.
Apapun kata orang, menggeluti pekerjaan yang tidak sepenuhnya disukai memang tidak enak. Tidak heran, begitu Darwin mendengar ada peluang pulang, buru-buru mengurus tiket. Mahalnya ongkos tidak dipikirnya lagi, yang penting pulang dansecepatnya kumpul kembali bersama keluarga.
Pikirannya sederhana saja, segera pulang dan ketemu anak istri. Itu sudah cukup membuatnya sangat bahagia. Mimpinya untuk membawa pulang segepok uang apalagi sebongkah intan tidak dipedulikannya lagi.
Saat ini dia sedang menikmati kebersamaan dengan keluarganya sambil mencoba untuk mengembalikan kulitnya yang telah menjadi gelap terbakar panasnya sengatan matahari di tengah laut. Nikmatnya minum kopi hitam buatan istrinya dan canda ria dengan anak-anaknya tidak dilewatkannya sedetikpun.
Darwin sekarang menjadi paham bahwa kebahagiaan itu bukanlah soal memiliki rumah besar, mewah, dan sebaris kendaraan mengkilap nongkrong di pelataran. Kebahagiaan itu ada di hati. Dia pun meyakini bahwa kebahagiaan akan datang sekalipun harus kembali menggeluti pekerjaan serabutan, tanpa keahlian dan lebih mengandalkan otot.
Kisah yang mirip juga dialami oleh Sidney, seorang muda bertubuh kekar yang tidak berhasil mengadu keberuntungan ke Jakarta. Awalnya, terinspirasi cerita heroik tentang bagaimana orang berjuang, membanting tulang, memeras keringat, dan sesekali meneteskan air mata membangun diri menjadi “orang”. Cerita ini sering didengarnya pada saat musim “orang” kota sekampungnya mudik lebaran.
Lalu, Sidney pun melamar dan diterima bekerja di sebuah kawasan industri sekitar ibu kota. Dia merasa mimpinya seolah sudah dekat. Mimpi sebagaimana orang-orang muda lainnya dari segala penjuru yang dengan penuh semangat pergi ke ibu kota. Mimpi mendapat peluang mencari nafkah untuk nanti pada saatnya pulang kampung dengan gagah sebagai “orang”.

Mimpi indah sering menjadi sebuah motivasi kuat untuk memperbaiki nasib. Namun, untuk mewujudkannya memang tidak semudah membalik tangan.Memasuki dunia kerja dengan lingkungan yang sangat berbeda, bisa sangat menantang untuk ditaklukkan, tetapi juga bisa sangat menakutkan untuk dihadapi. Sebagian orang berhasil mengatasi tantangan. Namun, sebagian lagi kandas dan memilih pulang.
Sidney termasuk yang memilih pulang. Kehidupan kerja yang dijalaninya hanya beberapa waktu itu terasa begitu keras sehingga membuatnya tidak betah. Pulang dan menjalani kehidupan di kampung menjadi pilhannya. Kampung yang berhawa segar, bersahaja, dan bersahabat sebagaimana dari kecil sudah dia jalani.
Darwin dan Sidney bukan kalah dan juga bukan menyerah. Bukan juga karena salah tempat lahir. Banyak orang gunung menjadi pelaut dan banyak orang pantai menjadi petani. Banyak orang kampung sukses di kota besar.
Mereka berdua memang bukan Valentino Rossi ̶ si legenda juara dunia balap motor. Juara balap yang terlatih sedari muda membalap dan berkompetisi dengan pembalap yang lain. Pembalap yang berkali-kali jatuh dan bangun. Jatuh bangun yang mengantarnya menjadi pembalap tangguh.
Mereka berdua juga bukan petinju Mike Tyson yang dalam usia muda sudah menjadi juara dunia. Petinju yang sudah terlatih dalam kehidupan keras yang mengandalkan kekuatan otot untuk sekedar bertahan “hidup”. Tubuh, tangan dan kakinya akrab baku pukul. Kekuatan dan nyalinya tersalurkan menjadi petinju profesional yang menerima bayaran tidak sedikit.
Mereka juga bukan diaspora yang mengharumkan nama negara dan bangsa. Juga bukan penulis ulung, penyanyi top, bintang film, pelawak lucu, atau pendaki gunung yang pastinya juga bukan ilmuwan mumpuni yang mengkaji segala sesuatu dengan mendalam.
Setiap orang memiliki keberuntungannya masing-masing. Tetap tinggal di kampung juga sebuah keberuntungan. Hidup di kampung pun tetap harus bermental kuat. Mereka hanya akan merasa hidup nyaman dalam lingkungan yang guyub, rukun, dan penuh dengan budaya gotong royong.
Kenyamanan kehidupan merekalah yang akan dengan alami menjaga dan memelihara budaya dan nilai-nilai luhur daerah. Menjaga dari gempuran budaya asing yang gencar dan terus menerus melalui berbagai media, termasuk media cetak, elektronik, dan media sosial.
Merekalah yang akan tetap nyaman dengan pekerjaan penting meskipun sudah tidak diminati dan sering dilihat sebelah mata seperti petani sawah, petani kebun, petani hutan, para pesanggem yang menanam tanaman hutan, dan blandong yang memanen hasil-hasil hutan. Mereka jugalah yang akan menjaga dan memelihara seni budaya daerah.
Mereka orang-orang tangguh yang tetap di kampung yang setahun sekali akan menyambut kedatangan para pemudik dengan cerita suksesnya masing-masing. Karena keberadaan merekalah para pemudik akan benar-benar merasa pulang ke kampung halaman dengan gagah.
***
Judul: Orang Tangguh yang Tetap di Kampung
Penulis: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: JHK
Tentang Penulis:
Sarkoro Doso Budiatmoko, lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak Pranoto dan almarhumah Ibu Fari’ah. Pendidikan hingga SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di IPB (1984), Bogor dan pascasarjana di Iowa State University (1996), Amerika Serikat.
Pengalamannya menjalani berbagai penugasan di Perum Perhutani memperkaya wawasan dan pemikirannya yang sering dituangkan di media massa. Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, budaya, dan sumberdaya manusia. Aktifitasnya menulis tidak surut meski sudah purna-tugas beberapa tahun lalu.
Penikmat buku dan bacaan ini juga dipercaya mengasuh rubrik Kolom di Majalah “Bina Media Berita Kehutanan & Lingkungan” yang diterbitkan oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Tulisan Sarkoro Doso berjudul “Setelah PHL, Lalu?” pernah terbit di Majalah Duta Rimba Edisi 42 (Mar-April 2012) – Penerbit Perum Perhutani, Jakarta, Indonesia.
Kini rimbawan berpengalaman yang berasal dari Perum Perhutani Unit II Jawa Timur aktif menulis blog di Kompasiana. Beberapa tulisannya di platform asuhan Kompas online tersebut di antaranya artikel berjudl “Bijak Memilih: Orang, Pasangan, dan Pemimpin” yang terbit pada 20 Mei 2021 dan artikel berjudul “Hidup Akal Sehat” yang terbit pada 31 Mei 2021.
Penulis dikaruniai tiga orang anak. Saat ini dia menetap di Purwokerto dengan kesibukan menulis dan menjadi staf pengajar di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).








