Sepenggal Rindu (Cerpen)
Aku berusaha meredam gejolak perasaanku, tapi kenapa tiba-tiba aku teringat padanya? Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku meratapi rasa kehilangan dirinya?
Sepenggal Rindu – Kenangan itu kembali bergelayut dalam pikiranku. Aku dekap erat-erat satu-satunya kenangan yang tersisa dari masa laluku. Kemudian kupandangi dari bilik jendela, di antara sisa cahaya mentari yang selalu setia menemani sepiku. Kenangan itu begitu saja kembali di pelupuk mataku, tanpa kuundang untuk bisa hadir lagi.
Tetiba senja hadir. Waktu dimana ada sebongkah kerinduan yang kini hanya bisa kunikmati sendiri. Senja kali ini hanya menjadi milikku, bukan lagi milik kita seperti dua tahun lalu.
Bagaimana rasanya ketika tiba-tiba kita kehilangan sosok yang sangat kita sayangi. Kehilangan tanpa berita.
Ada sekelumit rasa sakit yang begitu menyiksa. Namun, dibalik itu semua, ada rasa rindu yang tak bisa hilang dalam pikiran dan hati. Memendam rasa rindu dan rasa cinta yang begitu dalam tak bisa lagi diungkapkan lewat kata-kata.
Dalam kurun waktu yang tak berbatas, kenangan indah dan berjuta rindu serasa akan terkubur dalam sepi. Aku mencoba diam dalam kesendirian, walaupun itu semua teramat menyakitkan. Walaupun diakhir waktu yang panjang aku harus merelakan semua rindu dan cinta berakhir dalam diam. Sementara aku hanya mampu menunggu, kapan pengganti cinta dan rinduku akan datang untuk memberikan ritual rasa.
*** Sepenggal Rindu ***
Assalamu’alaikum.
Mey … maafkan mas karena sudah menyakiti hatimu dan mas benar-benar menyesal. Tiba-tiba gawaiku berbunyi dan nama itu kembali muncul tanpa kuminta.
Kenapa kamu harus hadir lagi di hadapanku? Aku sudah berusaha melupakanmu. Melupakan semua kenangan yang kau hadirkan untukku.
Mey, maafkan Mas.
Jawab WA Mas dong, Mey ….
Apa Mey sudah gak sayang sama Mas lagi?
Aku terus menatap gawaiku. Beruntun kamu kirim kata maaf untukku. Segampang itu kamu mengucapkan dengan tak memahami perasaanku. Perasaan yang terluka akibat keegoisanmu. Perasaan dengan hati yang sakit akibat ketidak jujuranmu padaku.

Untuk sementara WA mas Dony kuabaikan. Aku tak ingin dapat teguran dari atasanku disaat rapat bermain gawai.
Dering gawaiku berbunyi lagi, untung sudah kumatikan nada deringnya. Mas Dony datang-datang bikin masalah.
Tepat jam 15.00 rapat selesai, segera ku buka gawai. Dengan menarik nafas perlahan, kucoba membaca ulang WA Mas Dony dan kucoba untuk membalasnya.
Dengan mudah Mas meminta maaf, tanpa Mey tahu apa alasan Mas meninggalkan Mey selama dua tahun?
Balasku dengan sedikit geram menahan amarah.
Mey, setelah Mas wisuda, tiba-tiba Mas dapat tawaran untuk ambil S2 di Malaysia. Batas cuma 1 hari dan mas berpikir mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk masa depan kita.
Dengan merasa tak bersalah, Mas Dony menerangkan kenapa tiba-tiba pergi tanpa berita. Semudah itu!
Kamu Mas dengan diam-diam meninggalkan aku sendirian, tanpa kabar berita sama sekali, dan jawabmu sekarang karena demi melanjutkan pendidikan.
Jawabku dengan sedikit emosi.
Maafkan Mas … Mey, karena waktu itu begitu mendadak dan satu kesempatan yang langka. Mas sadar, bahwa Mas bersalah padamu.
Dengan entengnya Mas Dony mengatakan itu. Selama ini aku begitu tersiksa menahan rindu. Begitu tersiksa dengan penantian dan meraba apa kesalahanku padamu? Hingga tanpa ucapan apapun kamu menghilang begitu saja.
Mas, aku berusaha melupakanmu, melupakan semua kenangan indah bersamamu.
Balasku. Tanpa terasa air mataku bergulir satu persatu. Aku masih menunggumu Mas, batin hatiku.
Aku amati kabut mulai menampakkan wujudnya, sementara matahari perlahan beranjak dari peraduannya. Kehadiran senja itu mengundang kegalauanku akan kehadiran Mas Dony. Galau antara amarah, kecewa, dan rasa sayang. Juga rindu yang menggebu.
Aku begitu mencintai Mas Dony dan selama dia menghilang tanpa berita, aku berusaha untuk tetap setia. Aku tetap menunggu entah sampai batas mana aku mampu.
Mey …. Mas mohon dengarkan dulu cerita Mas. Selama Mas tidak memberimu kabar.
Mas berharap kamu bisa mempercayai Masmu ini.
Selama Mas jauh darimu, Mas tetap setia dan Mas berharap kamu pun tetap setia.
Tak hentinya gawaiku berbunyi. Mas Dony terus kirim tulisannya untuk meyakinkan aku, sementara aku hanya diam.
*** Sepenggal Rindu ***
Sebenarnya, awal pertemuan dan perkenalanku dengan Mas Dony terjadi begitu saja. Semua terjadi tanpa sengaja. Saat itu Mas Dony adalah salah satu aktivis di kampus, Banyak mahasiswi yang berusaha mendekatinya, tapi mas Dony adalah tripikel pendiam dan selalu mengedepankan perkuliahan dan aktivitas organisasinya.
Sementara aku adalah sosok yang wanita yang suka menyendiri. Kalau di kampus, jika tidak ada perkuliahan, aku lebih suka duduk menyendiri. Bukan karena aku tidak suka bergaul dengan teman-teman di kampus, melainkan karena aku lebih asik dengan dunia menulisku.
“Hai, saya perhatikan suka banget menyendiri di sini?” Tiba-tiba ada yang menyapa.
“Oh….iya Mas. Saya asyik saja disini untuk mencari satu inspirasi buat tulisan saya,” jawabku
“Oh…. penulis rupanya?”
“Bukan Mas. Saya cuma sekedar iseng-iseng saja menulis.”
“Perkenalkan, saya Dony jurusan Bahasa Inggris semester tujuh.”
“Saya Mey Mas, baru semester lima, jurusan Sastra Indonesia.”
Dari awal perkenalan itu aku dan Mas Dony sering duduk berdua. Mas Dony asik dengan tugas-tugasnya, sedangkan aku sendiri asyik dengan coretan-coretan tulisanku. Tak terasa lima bulan aku dan Mas Dony selalu bersama. Getaran halus pun mulai hadir sesaat jika sedang berdua.
Jatuh cinta untuk pertama kalinya memang terasa aneh dan selalu membuat jantung deg-degan. Setiap orang pasti mengalami cinta pertama, tapi entah kapan rasa itu mulai tumbuh. Aku berharap ini hanya getaran biasa saja karena aku tak mau berujung kecewa karena bertepuk sebelah tangan.
Menyatakan perasaan? Rasanya tak mungkin! Sama sekali tidak pernah terpikirkan dalam benakku untuk bilang “suka” pada Mas Dony. Hanya satu yang sangat kusyukuri. Aku dapat melihat sorot matanya, lembut bicaranya, dan terkadang senyum manis terbingkai indah di wajahnya.
“Assalamu’alaikum Mey.”
“Wa’alaikumsalam Mas Dony.”
“Bolehkan Mas lebih dekat lagi denganmu Mey? Dalam beberapa bulan ini Mas merasa nyaman ada disamping Mey,” sapa Mas Dony dengan nada agak bergetar.
Deg…serasa rontok jantungku. Dadaku berdegup lebih cepat dari biasanya. Selama beberapa bulan ini Mas Dony memang sangat dekat denganku. Hampir semua kegiatannya selalu terlewati bersamaku. Namun, mengapa pembicaraannya kali ini berefek besar pada jantungku.
“Mas gak salah? Mey cuma mahasiswa biasa saja,” jawabku merendah.
“Mey, bagi Mas kamu adalah mahasiswa yang super. Jawab pertanyaan Mas tadi, Mey.”
“Insya Allah Mas, kita coba jalani ya?”
Hanya itu jawabanku karena aku tidak mau Mas Dony tahu luapan bahagia karena ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.
Hari demi hari kulalui dengan penuh semangat dan rasa bahagia. Mas Dony bukan sekadar mahasiswa yang pintar, tapi juga seorang yang saleh. Tak pernah terlewatkan ibadahnya walaupun sesibuk apapun aktivitasnya di kampus dan hal itu yang membuatku sangat bersyukur.
*** Sepenggal Rindu ***
Waktu terus bergulir. Mas Dony mulai sibuk menyelesaikan skripsinya. Dengan senang hati aku selalu membantu apapun yang Mas Dony minta hingga tetiba acara wisuda dan aku begitu bangga bisa mendampinginya berdua dengan ibundanya.
Setelah acara wisuda, Mas Dony mengajak untuk foto berdua. Bukan cuma itu, Mas Dony tiba-tiba menyelipkan cincin dijari mungilku.
“Mey, jangan lepas cincin ini dari jari manismu. Tunggu hingga kesuksesan Mas raih dan Mas akan datang melamarmu,” begitu ucapan Mas Dony ketika itu yang membuat anganku melayang jauh entah kemana.
Seminggu, sebulan, dan dua tahun tepat hari ini tak pernah aku mendapat beritamu Mas. Amarah itu ada. Rindu pun tak kalah hebatnya. Kamu telah mempermainkan batinku mas. Kamu telah membuatku terpuruk di antara penantian yang tak pasti.
Aku berusaha meredam gejolak perasaanku, tapi kenapa tiba-tiba aku teringat padanya? Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku meratapi rasa kehilangan dirinya? Persis disaat aku mengingatmu, tiba-tiba kamu kembali hadir menyapaku. Seakan aku terbangun dari mimpi yang berkepanjangan.
“Assalamu’alaikum. Mey, besok hari Ahad jam sepuluh Mas akan datang ke rumahmu.”
“Buat apa Mas? Masihkah Mas mau nyakitin hati Mey?” Jawabku di antara isak tangis yang tak dapat lagi kubendung.
“Mey, tolong jawab dengan jujur. Masihkah cincin dari Mas melekat di jari manismu?”
“Masihkah Mey setia menunggu Mas untuk datang melamar?”
Aku Cuma bisa diam, bingung untuk menjawab. Dua tahun Mas Dony pergi tanpa kabar berita dan tiba-tiba akan datang melamar.
Ya Robb, apakah Mas Dony selama ini sedang mencoba kesetiaanku?
“Mey, kenapa diam? Tolong jawab pertanyaan Mas.”
“Cincin itu masih ada di jari Mey Mas. Mey tidak pernah membukanya. Mey menunggu selama dua tahun. Mengapa Mas menghilang tanpa kabar?”
“Alhamdulillah. Maafkan Mas ya. Mas memang keterlaluan untuk membuktikan rasa setia itu. Besok Mas datang ke rumah untuk melamar dan mas sudah rindu untuk melihat calon bidadari Mas.”
Ya Robb, inikah jawaban kesetiaanku selama ini? Orang yang kucintai ternyata sama setianya denganku.
***
Pengarang: Amel Yasin
Editor: JHK
Profil pengarang:
Amalia Nailoe Rahmah, S.Pd., biasa dipanggil Amel Yasin, sehari-harinya bertugas sebagai guru Sekolah Dasar (SD) Negeri 020, Perumnas, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Putri ketiga dari Bapak Ustad H.M. Yasin Suhaimie dan Ibu Masrifah (Almarhumah) ini lahir di Malang, Jawa Timur pada 8 Desember 1968. Ia menikah dengan Andi Ahmad Yani, seorang pria berdarah Belawa-Wajo.

Amelyasin menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Kota Malang, Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Madrasah Mu’allimat Muhammadiyah, Yogyakarta. Kemudian ia melanjutkan pendidikan tingginya pada Program D3, Jurusan Da’wah, di IDIF Jakarta dan PGSD D2 – S1 di Kota Balikpapan.
Sejak duduk di bangku SMP (1983) Amelyasin sudah mulai menulis. Ia pernah mengirim tulisannya ke beberapa media cetak dan sempat dimuat di sana, di antaranya di Koran Yogyakarta, Majalah Kuntum, dan Majalah Ananda.
Sudah banyak hasil karya Amelyasin berupa buku yang diterbitkan, di antaranya buku kumpulan puisi berjudul “Cinta Dalam Daksaku” dan beberapa buku antologi, seperti antologi cerpen berjudul “Cancer Jangan Bunuh Aku”, “Bersama Merajut Pelangi”, “Layar Impian”, dan “Bidadari Syurga itu, Ibuku”. Juga buku antologi puisi berjudul “Setangkai Bunga Kecewa” dan “Hijrah”.
Siapa saja yang ingin berkomunikasi dengan Amelyasin terkait karyanya bisa menghubunginya di:
E-mail : amelyasin68@gmail.com
WhatsApp (WA): 085252213968









sineklik | Learning about which materials are most durable for Venetian blinds helped me a lot. This article provided really useful information.