Cinta Terpendam, Bahasa Kalbu
Sebuah kisah cinta terpendam yang berakhir bahagia, buah karya Heni Anggraeni.
“Cinta Terpendam, Bahasa Kalbu” – sebuah cerita pendek karya Heni Anggraeni.
“Ratna, aku kasihan sama Mas Gilang,” ujar Cindy suatu pagi.
“Emangnya kenapa Mas Gilang?” tanya Ratna pada Gilang yang sudah dikenal bagai kakaknya sendiri.
“Mamah papahku mau jodohin Dia sama anak rekan bisnisnya,” jawab Cindy dengan suara lembut setengah berbisik.
“Tapi Mas Gilang mau enggak?” tanya Ratna lagi.
“Maulah … di bawah ancaman tentunya!” jawab Cindy dengan nada kasihan.
“Maksudnya?” Ratna kembali bertanya dengan tatapan tak mengerti.
“Kalau Mas Gilang menolak, semua fasilitas mamah papahku akan diambil, sekaligus ia disuruh angkat kaki dari rumah,” papar Cindy dengan wajah yang sedih.

“Mamah papah Kamu kok tega sih!” gerutu Ratna.
“Kayak Kamu enggak tahu saja watak orang tuaku Rat,” jawab Cindy dengan muka cemberut.
Suasana kelas yang mulai ramai membuat keduanya mengalihkan pembicaraan.
“Lihat tuh si Hanum, makin kayak anak kampung saja Dia!” ejek Cindy sambil menoleh ke arah temannya yang bernama Hanum.
“Kayak ibu-ibu mau kondangan,” bisik Nita sambil tertawa.
Sementara Hanum duduk dengan cueknya, ejekan Cindy dan teman-temannya sudah dianggapnya biasa. Lagi pula apa untungnya mendengar hinaan mereka. Belajar lebih utama baginya.
Hanum adalah siswi yang pintar disekolahnya. Ia sudah terbiasa peringkat satu di kelasnya. Oleh karena itulah Cindy sering merasa cemburu padanya.
“Pagi anak-anak,” sapa Bu Ratih dengan senyumnya yang khas menyapa murid-muridnya yang sedang asyik merumpi.
“Hanum! Selamat ya. Nilai ulangan kamu paling tinggi,” puji Bu Ratih sambil memberikan hasil ulangan kepada murid-muridnya satu persatu.
Tepuk tangan kelas biologi pun terdengar riuh.
Lagi lagi Hanum yang dapat nilai tertinggi, gerutu Cindy.
Sementara dari bangku belakang sepasang mata menatap Hanum dengan begitu bahagianya. Kamu memang pantas untuk dikagumi. Kalimat itu ditulis Heri dalam bukunya. Sayang kalimat itu tak diungkapkannya dengan lantang. Rasa kasihnya itu masih ia sembunyikan buat teman sekelasnya yang juga merupakan saingan terberatnya, Hanum Lailatussyifa
*** Cinta Terpendam Bahasa Kalbu ***
“Tumben Kamu datang pagi pagi Ri?” tanya Hanum dengan penuh heran ketika didapati Heri sudah berada di kelasnya.
“Aku mengantar Bapakku dulu berangkat kerja. Maaf ya, aku ninggalin Kamu,” jawab Heri yang sudah biasa membonceng Hanum dengan sepeda motornya.
Bukan hanya karena letak rumah Hanum yang berdekatan dengan Heri, tapi ini merupakan salah satu trik jitu Heri untuk bisa lebih dekat dengan Hanum. Bahkan, ia sering tak bisa tidur semalaman hanya karena menanti pagi yang terasa begitu lama.
“Gak apa apa Ri, kebetulan enggak macet, jadi aku bisa datang lebih awal,” ungkap Hanum sambil membersihkan tempat duduknya.
Setelah itu keduanya terlibat percakapan sambil menunggu bel masuk berbunyi. Hanum juga mengucapkan banyak terima kasih pada Heri yang selalu menyempatkan waktu untuk berangkat sekolah bersamanya hingga Hanum bisa menyisihkan uang jatah naik angkotnya untuk membantu orang tuanya yang hanya berjualan gorengan di depan rumahnya.

Bahagia bisa tertawa barsamamu. Andai kamu tahu. Heri kembali menulis kalimat itu disela tawanya tanpa sepetahuan Hanum yang saat itu berada tak jauh dari tempat duduknya. Rasa asing yang dia miliki selama ini membuat jantungnya berdegup kencang jika berada didekat Hanum.
“Pinjam buku PR-nya dong!” pinta Cindy pada Hanum.
Hanum hanya menatapnya sebentar. Selebihnya ia tak mempedulikan permintaan Cindy.
“Hei! Kamu dengar enggak!” Teriak Cindy di telinga Hanum.
Wajah Cindy terlihat kesal.
Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Cindy. Tangan Cindy yang hendak melepas kerudung Hanum pun ditangkasnya.
“Heri! Berani benar Kamu menampar aku,” teriak Cindy sambil memegang pipi kanannya yang memerah.
“Sudah lama aku kesal dengan tingkah Kamu! Apa salah Dia, hah?” Balas Heri dengan berteriak juga.
“Mulai saat ini, Dia atau siapa pun yang Kamu injak injak harga dirinya, aku tidak akan tinggal diam!” Ancam Heri sambil menunjuk muka Cindy.
Cindy yang tak menerima perlakuan Heri berhambur keluar sambil menangis. Suasana kelas yang sepi kembali ramai. Banyak orang yang memuji keberanian Heri.
“Hebat Kau teman!” Ujar Deni sambil menepuk bahu Heri.
Wajah Deni terlihat puas atas sikap Heri yang begitu berani, setelah sekian lama tak ada seorang pun yang bisa membuat jera gadis tomboi itu.
Saat itu Heri hanya terdiam mendengar pujian dari Deni yang merupakan teman sebangkunya. Bukan hanya Deni, tapi seisi kelas pun ikut berteriak dan menyerukan namanya sambil memukul-mukul meja hingga lengkaplah kegaduhan di pagi itu.
*** Cinta Terpendam Bahasa Kalbu ***
“Heri! Hanum! Kalian dipanggil Pak Soni,” terdengar suara Bu Imas sehingga mengubah suasana kelas menjadi hening.
Mereka semua tahu kejadian barusan yang menyebabkan Heri dan Hanum harus menghadap Pak Soni, Wali Kelasnya.
“Rasain lu!” Hardik Teti ketika Heri dan Hanum lewat di depannya.
Teti adalah teman satu geng Cindy. Mereka menyebutnya “Geng Cinta” yang anggotanya terdiri dari Cindy, Teti, Nita, dan Ratna.
Heri dan Hanum tak menggubris hardikan Teti. Keduanya sudah siap dengan risiko yang akan dihadapi.
“Ceritakan awal mula Kamu bisa menampar Cindy,” ujar Pak Soni, setibanya Heri dan Hanum di ruangannya.
Rupanya Cindy sudah berada di situ dengan drama tangisnya, seolah-olah Hanum dan Heri yang menjadi biang keladinya. Heri lalu menceritakan apa yang dilakukan Cindy pada Hanum pagi tadi.
“Sikap Cindy kali ini sudah keterlaluan Pak,” bela Heri pada Pak Soni yang menatapnya tajam.
“Tapi cara Kamu memperlakukannya sangatlah berani!” Ujar Pak Soni, masih dengan tatapan tajamnya.
Tidak ada sedikit pun pembelaan terhadap diri Heri, padahal Cindy bukan hanya sekali berbuat ulah di sekolah ini.
“Cindy, Hanum, Kalian boleh meninggalkan tempat ini,” pinta Pak Soni pada Cindy dan Hanum yang saat itu masih duduk terdiam.
“Kamu tahu siapa yang memiliki dana terbesar atas sekolah ini?” Tanya Pak Soni setelah Hanum dan Cindy meninggalkan ruangan.
“Pak Galih, Bapaknya Cindy! Kamu akan tahu sanksi apa yang akan kamu terima!” Ancam Pak Soni pada Heri.
“Saya tidak takut Pak! Bagi saya keadilan harus ditegakkan di sekolah ini!” Bentak Heri seraya bangkit dari tempat duduknya dan berlalu pergi meninggalkan Pak Soni yang masih tak percaya atas apa yang di dengarnya.
Pak Soni tak menyangka Heri yang sopan dan pintar itu berani membentaknya. Namun, hati kecilnya mengakui kalau yang telah dilakukan Heri sangatlah benar hingga ia acungi jempol sambil tersenyum sesaat setelah Heri meninggalkan ruangannya.
*** Cinta Terpendam Bahasa Kalbu ***
“Aku dihukum satu bulan tidak boleh sekolah,” ujar Heri pada Hanum ketika Hanum datang ke rumahnya setelah beberapa hari Heri tidak masuk sekolah.
Hanum hanya terdiam mendengar pernyataan Heri saat itu.
“Sudahlah, tak usah dipikirkan. Aku hanya membela kebenaran yang selama ini diabaikan,” ujar Heri seakan tahu isi hati Hanum yang hanya terdiam.

“Kamu ingat si Gilang, kakaknya Cindy? Hampir setiap hari Dia berbuat ulah, tapi tak pernah ada yang berani mencegahnya,” kenang Heri sambil mengepalkan tangannya.
“Aku juga masih ingat ketika Dia menarik kerah bajuku hanya karna aku seorang junior tanpa tahu apa salahku,” kenang Heri lagi dengan geram.
“Dan sekarang adiknya si Cindy! Jika kita terus diam, bagaimana kelangsungan sekolah kita jika selalu melindungi orang yang bersalah,” ujar Heri lagi sembari menatap Hanum.
“Walaupun kamu tak pernah tahu, aku akan rela berkorban untukmu,” ucap Heri sambil menatap Hanum di balik tirai ketika gadis itu pamit pulang meninggalkannya.
*** Cinta Terpendam Bahasa Kalbu ***
“Kalian harus datang pada hari ulang tahunku ya?” Pinta Cindy sambil memberikan undangan pada Hanum dan menyimpannya di atas meja, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
“Tumben sikapnya ramah Han,” bisik Nuri pada Hanum.
“Hus!” Ujar Hanum sambil mencubit paha Nuri.
“Kalian pada datang nanti ya,” teriak Cindy pada semua teman sekelasnya dengan wajah berseri-seri.
“Si Heri mau diajak enggak Han?” Tanya Nuri.
“Jangan ah. Aku enggak mau ada keributan,” pinta Hanum setengah berbisik.
*** Cinta Terpendam Bahasa Kalbu ***
Bunyi musik yang menggema serta pernak-pernik dan balon warna-warni yang menghiasi rumah Cindy, juga para tamu VIP yang mulai berdatangan menambah meriahnya pesta ulang tahun Cindy. Terlihat dari kejauhan Cindy mengenakan gaun warna pink memberi kesan anggun seperti seorang putri, lengkap dengan geng cintanya yang berpakaian sexy dengan accesories yang menghiasi rambutnya.
“Daripada bengong, mending kita minum yuk,” ajak seorang pria yang berpakaian rapi, sambil menawarkan segelas minuman hingga membuat Hanum dan Nuri tertegun karna kagum.
“Gilang, kakaknya Cindy,” ujar laki laki itu sambil mengulurkan tangannya pada Hanum.
“Gilang Han… Gilang…,” ujar Nuri terlihat salah tingkah, tetapi ia segera menyadarinya kalau mantan kakak kelasnya itu tengah mengincar sahabatnya itu.
Sementara itu terlihat Hanum hanya terdiam, sambil mencoba mengingat Gilang yang sudah dua tahun tidak dijumpainya itu.
“Aku kesana dulu ya Han, gabung sama teman-teman kita,” kata Nuri sambil berlalu, tanpa menunggu persetujuan Hanum.
“Kamu masih mengingat aku kan? Si Ganteng Sedunia!” Canda Gilang sehingga membuat suasana hati Hanum sedikit tenang.
“Ayo minum,” tawar Gilang sambil mengangkat gelas yang dipegangnya.
Hanum yang masih terlihat kaku hanya bisa tersenyum seraya menyeruput air yang diberikan Gilang. Sejenak tak ada yang berarti. Namun, tiba tiba pandangan Hanum mendadak kabur dan kepalanya terasa pusing. Gilang segera membopong Hanum dan membawanya ke sebuah kamar, lalu ditidurkannya gadis yang sudah tak berdaya itu. Gilang memandangi wajah Hanum dengan tatapan sinis.
“Kasihan Kamu! Sebentar lagi akan menanggung malu hei gadis lugu!” Hardik Gilang sambil tertawa puas. Namun, tiba tiba saja. Brak! Terdengar suara pintu didobrak dengan disertai sebuah teriakan.
“Dasar laki laki bejat! ” Heri muncul dengan wajah yang beringas.
Perkelahian pun tak bisa dielakkan lagi. Kedua pria tersebut terlibat baku hantam dan baru berhenti setelah Nuri masuk, diikuti oleh Pak Galih, papahnya Gilang. Tidak cukup sampai disitu, Pak Galih langsung memberikan bogem mentahnya pada Gilang.
“Dasar anak tak tahu diri,” sekali lagi Pak Galih melayangkan pukulannya pada Gilang dengan amarah yang meluap luap.
Andai saja saat itu Bu Rosi, istrinya Pak Galih tak menahannya, mungkin saja Gilang sudah habis dipukuli suaminya tersebut.
“Sudah Pah! Sudah!” Teriak Bu Rosi sambil menangis.
Bagaimanapun naluri seorang ibu tetaplah seorang ibu. Dirinya tak tega melihat anaknya menjadi amukan sang suami.
*** Cinta Terpendam Bahasa Kalbu ***
“Bikin malu saja!” Teriak Pak Galih sambil menggebrak meja yang ada di hadapannya.
“Siapa yang mengajari Kamu hah!” Bentak Pak Galih pada Gilang yang tertunduk malu.
“Maafkan aku Pah. Mas Gilang disuruh sama aku Pah!” Jawab Cindy yang tiba tiba bersimpuh di kaki papahnya.
“Papah sudah mengira sebelumnya, kalau kalian telah bekerja sama!” Ujar Pak Galih sambil menghindari kakinya dari sentuhan Cindy.
“Kesalahan apa yang telah dilakukan anak itu hingga kalian mau berbuat nista!” Teriak Pak Galih.
Kemarahan Pak Galih ditumpahkan dengan menendang kursi yang ada depannya hingga terbalik. Bapak paruh baya itu menangis dihadapan kedua anaknya. Ia merasa telah gagal mendidik keduanya. Bu Rosi pun ikut menangis sambil memeluk suaminya yang tersungkur di lantai sambil menangis.
Siapa pun yang melihat Pak Galih dan istrinya saat itu mungkin akan merasa iba dan akan ikut larut bersamanya. Sejak kecil sampai usia mereka dewasa, Cindy dan Gilang belum pernah melihat papah dan mamahnya serapuh itu hingga Cindy dan Gilang merasa berdosa dan menyesali perbuatannya.
*** Cinta Terpendam Bahasa Kalbu ***
“Sebelumnya kami minta maaf atas kedatangan kami yang tiba tiba,” ujar Pak Galih membuka pembicaraan, setelah Pak Husni dan Bu Halimah mempersilakannya duduk.
“Hanumnya mana Bu?” Tanya Cindy sambil memperhatikan keadaan rumah yang nampak sepi.
“Kalian ini siapa?” Tanya Pak Husni dengan tatapan penuh tanya.
“Kami ke sini ingin meminta maaf atas perlakuan anak kami, Gilang, terhadap Hanum, anak Ibu dan Bapak,” ujar Pak Galih dengan nada haru.
Raut muka Pak Husni dan Bu Halimah mendadak memerah.
“Mana yang namanya Gilang? Mana?” Tiba-tiba Bu Halimah berteriak histeris.
Pak Husni segera mendekap tubuh istrinya.
“Walaupun kami orang tak mampu, tapi kami masih punya harga diri,” ujar Pak Husni.
“Sebaiknya kalian segera pergi dari rumah ini,” ujar Pak Husni lagi seraya bangkit untuk membawa Bu Halimah pergi.
“Kami datang dengan niat baik. Kami berencana menikahkan Gilang dengan Hanum, anak Bapak,” pinta Pak Galih.
“Setelah kelulusan diumumkan, saya ingin pernikahan itu dilangsungkan,” pinta Pak Galih lagi, “Tapi kami mau minta persetujuan Bapak dan Ibu dulu, juga persetujuan Hanum.”
“Tidak perlu dijawab sekarang, tapi kami minta jawabannya secepatnya,” Pak Galih segera bangkit untuk pamit diikuti Gilang dan Cindy, sedangkan Bu Rosi, istrinya tak bisa ikut karena merasa tak enak badan.
Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari Pak Husni dan Bu Halimah. Keduanya membiarkan keluarga Pak Galih pulang. Pak Galih dan istrinya berharap keluarga Pak Husni mau menyetujui apa yang telah menjadi niat baiknya itu.
*** Cinta Terpendam Bahasa Kalbu ***
“Sebaiknya kamu terima lamaran mereka Han,” pinta Nuri yang sore itu datang bersama Heri.
Hanum yang masih syok dengan kejadian itu, membuatnya harus terbaring sakit.
“Aku tak bisa melupakan kejadian itu. Yang membuat aku tak mengerti, mengapa aku tak bisa membencinya,” keluh Hanum dengan mata berkaca-kaca.
“Aku mencintainya, walau Dia mau berbuat tak senonoh padaku,” ujar Hanum mulai terisak.
Nuri hanya mengusap-usap tangan sahabatnya itu sambil menoleh ke arah Heri.
“Kalau begitu, terima lamaran Dia,” ujar Heri singkat.
Nuri yang menyaksikan semua itu merasa terenyuh. Betapa tidak, walaupun Heri tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara gamblang, tetapi ia tahu betapa besarnya cinta Heri terhadap sahabatnya Hanum. Nuri bisa melihat segurat kesedihan tersirat di wajah Heri saat itu.
*** Cinta Terpendam Bahasa Kalbu ***
“Maafkan aku Ri,” ujar Cindy dengan penyesalan yang tampak di wajahnya.
“Maaf untuk apa?” tanya Heri masih belum mengerti.
“Aku dan Mas Gilang sangat menyesal. Bahkan, kami sempat memutuskan untuk pindah ketempat kelahiran papah mamahku di Surabaya,” jawab Cindy, “Tapi akhirnya kami menemukan titik temu. Papah menyuruh Mas Gilang untuk menikahi Hanum.”
“Hanum dan keluarganya pun telah menyetujuinya. Lalu Papah memutuskan perjodohan Mas Gilang dengan anak temannya yang hanya tinggal menghitung hari,” papar Cindy sambil menghela napas panjang.
“Jika kamu tahu, aku sebenarnya cemburu atas perhatian kamu pada Hanum, karena aku mencintaimu,” ujar Cindy sambil menatap Heri yang seakan terkejut dengan pengakuan Cindy.
“Papahku sudah mencabut hukuman yang diberikan sekolah kepadamu. Jadi mulai besok Kamu sudah bisa sekolah lagi. Itu alasan aku membawamu ke tempat ini, setidaknya Kamu tahu bahwa cinta telah membuat aku buta hingga bersikap semena-mena pada orang yang tak berdosa,” ujar Cindy seraya pergi meninggalkan Heri.
Gadis itu terlihat mengusap airmatanya yang terjatuh dengan sendirinya. Hatinya yang sakit saat melihat Heri begitu datar mendengar pengakuannya, membuatnya tak sanggup bertahan untuk terus berada didekat Heri. Namun, hatinya merasa lega karena sudah mengungkap kejujuran dari sebuah rahasia perasaan yang selama ini telah lama bersemayam dalam hatinya.
*** Cinta Terpendam Bahasa Kalbu ***
Pernikahan Hanum dan Gilang berlangsung lancar setelah Hanum menerima kelulusan sekolahnya. Tak ada pesta atau pun undangan, hanya dihadiri oleh beberapa orang saja. Heri pun tak menghadiri pernikahan itu. Ia lebih memilih pergi jauh dan tinggal bersama neneknya. Sementara hikmah yang didapat oleh keluarga Pak Galih adalah perubahan sikap Gilang dan Cindy yang menjadi baik, walau pun ia harus kehilangan beberapa bisnis yang dijalaninya atas kasus Gilang yang tersebar di media sosial hingga menjatuhkan reputasinya sebagai pengusaha sukses. Namun, apa artinya jabatan dan kekayaan bila Pak Galih harus kehilangan kedua anaknya yang sangat dicintainya.
*** Cinta Terpendam Bahasa Kalbu ***
Gilang mengelus-elus perut Hanum yang sudah membuncit. Hanum yang tertidur lelap tak mengetahui kalau suaminya tengah memandanginya dengan tangan yang tak berhenti-henti mengelus perutnya.
Aku kagum padamu, walaupun aku sering mengacuhkanmu. Bahkan, Kau selalu bersikap baik padaku dan tak pernah menuntut apapun dariku, gumam Gilang sambil sesekali mencium perut istrinya yang masih terlelap.
Jika saja Hanum tahu, dia pasti akan bahagia karna suaminya mulai menyadari pengorbanan dirinya yang tulus mencintai walau sempat hendak dinodai.
*** Cinta Terpendam Bahasa Kalbu ***
Keesokan paginya, nampak Gilang berpakaian rapi dan seperti terburu buru, “Aku harus pergi ke Surabaya pagi ini juga.”
“Ada urusan apa Mas?” tanya Hanum sambil membetulkan kerah baju suaminya.
“Papah menelponku untuk datang ke Surabaya. Ada urusan bisnis yang harus kuselesaikan. Papah perlu bantuanku. Nanti aku kabari jika urusannya sudah selesai,” jawab Gilang sambil mencium perut Hanum.
“Jaga mamahnya ya sayang, papah mau pergi kerja dulu,” ujar Gilang lagi.
Sikap Gilang yang tak seperti biasanya membuat Hanum terharu. Hati Hanum terasa bahagia. Kini suaminya telah membuka hati untuknya. Bahkan, saat Gilang melambaikan tangan padanya, Hanum melihat ada senyum yang tulus terlihat dari wajahnya.
*** Cinta Terpendam Bahasa Kalbu ***
Tok … tok… tok … Terdengar suara pintu diketuk. Hanum segera membukanya.
“Ibu Hanum?” Sapa seorang polisi mengejutkan Hanum.
“Saya menemukan ini dimobil korban,” ujar seorang petugas Polisi bernama Ramli, sambil memberikan laptop dan sebuah kartu yang terikat pita merah.
“Itu laptop suami saya. Apa yang terjadi pada suami saya?” Tanya Hanum dengan nada cemas.
“Suami ibu korban tabrak lari saat ia hendak membeli bunga dan meninggal di tempat kejadian,” ujar Pak Ramli dengan tenang.
Seketika itu pula tubuh Hanum menjadi lemas. Pandangannya pun menjadi gelap. Ia jatuh pingsan.
“Kak Hanum!” Panggil Cindy ketika Hanum mulai sadar.
Tanpa banyak bicara, Hanum memeluk Cindy yang kini sudah menjadi adik iparnya.
“Maafkan papah Hanum. Seandainya papah tidak menyuruh Gilang ke surabaya, mungkin kecelakaan itu tak akan terjadi,” ratap Pak Galih dengan penuh penyesalan, “Sebelum kepulangannya kesini, Gilang sempat meminta maaf dan bersimpuh dikaki papah. Dia juga sempat mengutarakan ingin merayakan anniversary setahun pernikahannya yang jatuh hari ini.”
Suara Pak Galih terdegar begitu parau dan nyaris tak terdengar. Bapak paruh baya itu tak bisa menahan tangisnya. Namun, Bu Rosi dan Cindy segera menenangkannya.
“Mana kartu itu Cin?” Tanya Hanum yang baru ingat pada kartu yang ditemukan di mobil Gilang.
Cindy memberikan kartu itu dengan gemetar. Hanum segera membukanya.
Selamat anniversary. Satu tahun sudah pernikahan kita, aku sempat ragu menjalani rumah tangga yang hanya beralaskan penyesalan atas dosa yang telah kuperbuat padamu. Namun, tanpa kusadari cinta itu datang menghampiri hingga aku harus memberimu sesuatu yang berarti, walau hanya sebentuk bunga, tapi aku yakin kau akan bahagia. Aku mencintaimu Hanum. Untuk calon anakku,tunggu papah ya.
“Aku tahu kau tengah ada didekatku. Berikan bunga itu padaku Mas!” Teriak Hanum sambil menangis sejadi-jadinya.
Cindy segera memeluk kakak iparnya. Hatinya pun hancur karena kakak yang dicintainya begitu cepat meninggalkannya.
*** Cinta Terpendam Bahasa Kalbu ***
Tak ada yang tahu kalau kepulangan Heri saat ini adalah untuk yang kesekian kalinya. Bahkan, Deni sekali pun, Heri tak mau melihat atau mendengar apapun tentang masa lalunya. Namun, kerinduan pada teman sebangkunya itu membuat Heri datang menemuinya.
“Apa kamu masih menjomblo Den?” Canda Heri sambil memeluk Deni setiba di rumahnya.
“Apa yang bicara juga masih menjomblo?” Balas Deni sambil mengucek-ucek rambut Heri.
Keduanya terlihat begitu bahagia.
“Apa Hanum masih suka menghubungimu Ri?” tanya Deni sambil menyulut rokoknya.
“Aku sudah menguburnya dalam dalam Den!” Jawab Heri sambil memetik bunga yang berjejer dekat tempat duduknya, “Cinta dalam seragam putih abu-abu adalah cinta pertama dan cinta sejatiku. Aku menyimpannya dalam bahasa kalbu walau dia tak pernah tahu.”
Nampak kesedihan tergambar dari raut wajah Heri.
“Aku belum sempat memberikan buku itu Ri,” ujar Deni sambil beranjak pergi untuk mengambil buku yang sempat dititipkan Heri untuk diberikan kepada Hanum.
“Setelah menikah, Hanum dibawa suaminya hingga aku tak sempat bertemu dengannya,” papar Deni sambil duduk kembali.
“Buku ini masih terlihat utuh, padahal tiga tahun sudah berlalu. Hanya debu tipis yang membuatnya terlihat lusuh,” ujar Heri sambil mengelus buku kenangannya itu.
“Maaf ya om,” tiba tiba seorang gadis kecil menghampirinya, karena bola yang di tendangnya hampir mengenai wajah Heri.
“Hei Kamu siapa anak cantik?” Tanya Heri sambil mencubit pipinya dengan gemas.
“Siapa namamu? Anak cewek kok mainannya bola!” Tanya Heri sambil kembali mencubit gadis kecil itu.
“Namanya Aisyah. Dia adalah anakku,” tiba tiba Hanum muncul mengagetkan Heri, “Aku datang atas undangan Deni. Kebetulan aku sedang berada di rumah orang tuaku.”
“Hanum…,” hampir saja Heri memeluk ibu satu anak ini, hingga membuat keduanya tersipu malu.
Tiba-tiba semua berubah kaku ketika Hanum mengambil buku yang tergeletak bertuliskan namanya dengan huruf yang begitu besar. Dengan perlahan Hanum membukanya. Setetes demi setetes air matanya terjatuh. Betapa tidak, tak ada selembar pun kalimat yang tak bertuliskan namamya, pertanda begitu spesial ia dihatinya. Tanpa sadar Hanum langsung memeluk Heri. Ia sudah tak peduli pada dua pasang mata yang sedang menyaksikannya.
“Maafkan aku! Maafkan aku Ri,” ujar Hanum sambil menangis, “Aku bahkan tak sempat berterima kasih saat kau tolong aku di pestanya Cindy. Aku juga tak pernah tahu bagaimana kau bisa muncul dan menyelamatkan aku. Mengapa Kamu hanya diam Ri?”
Heri hanya terdiam. Namun, tangannya memeluk erat Hanum. Sudut matanya yang berkaca-kaca, ia seka dengan tangannya agar tak terjatuh. Rasa cinta yang telah dikuburnya dalam-dalam itu tak bisa lagi disembunyikannya.
“Walau waktu terlambat memberitahumu, bahasa kalbu ini tetap tersimpan hanya untukmu,” ujar Heri sambil melepaskan pelukannya.
“Jika aku masih bisa menterjemahkan bahasa kalbumu, apa kau masih mau menerimaku? Karena kini aku bukan lagi Hanum yang dulu,” ujar Hanum dengan wajah tertunduk.
“Bacalah buku ini sampai akhir agar kau tak perlu bertanya lagi,” ujar Heri sambil menghapus air mata Hanum yang terus terjatuh.
Sekalipun Tuhan memanggilku lebih dulu, bahasa kalbu ini akan tetap datang padamu. Dia akan tetap menunggu, meski pun telah terkubur bersama jasadku karena hanya Kau penerjemah terbaikku.
Hanum menutup wajahnya dengan buku itu sambil menangis. Ia kembali memeluk Heri dengan erat.
“Maafkan aku Ri,” ucap Hanum dengan lirih.
“Mah….!” Aisyah memanggil Hanum dan memeluknya.
Gadis kecil itu seakan tahu apa yang tengah dirasakan mamahnya. Heri pun memeluknya dengan begitu hangatnya dan meraih tangan sahabatnya dengan senyum bahagia di bibirnya. Bahasa kalbu itu akhirnya menyatukan Heri dan Hanum pada janji suci pernikahan. Akhirnya mereka bisa hidup dengan bahagia.
***
Penulis: Heni Anggraeni
Profil penulis:
Heni Anggraeni saat ini bekerja sebagai karyawan di PT Perdana Firsta Garment. Sudah lama dia memiliki keinginan kuat untuk menjadi seorang pengarang. Meskipun usianya sudah bukan remaja, tetapi semangat berkaryanya luar biasa. Sudah beberapa cerita pendek lahir dari tangan dinginnya.
Editor: JHK








