ArtikelPratama Media NewsSastra

Dunia Fiksi Bukan Hanya Imajinasi atau Sekadar Mimpi

Tidak semua orang dapat menyadari, bila sebuah khayalan atau imajinasi mampu menciptakan pemikiran-pemikiran hebat yang kemudian menjadi dasar pemikiran selanjutnya dari generasi ke generasi.

Dunia Fiksi Bukan Hanya Imajinasi atau Sekadar Mimpi – Setiap orang pasti memiliki imajinasi atau khayalan pada semua aspek kehidupannya. Namun, tak semua orang mampu memanfaatkan imajinasi tersebut. Imajinasi ada ketika pikiran kita membayangkan atau menciptakan gambar tentang suatu kejadian yang bisa berdasarkan kenyataan, pengalaman hidup atau mungkin sesuatu yang kita inginkan dan cita-citakan.

Tidak semua orang dapat menyadari, bila sebuah khayalan atau imajinasi mampu menciptakan pemikiran-pemikiran hebat yang kemudian menjadi dasar pemikiran selanjutnya dari generasi ke generasi. Dalam basis ilmu pengetahuan kita mengenal Nicolaus Copernicus, Jules Verne, Leonardo Da Vinci, dan para ilmuwan hebat lainnya. Mereka mengawali semua visinya melalui konsep dan tulisan fiksi dengan imajinasi mereka tentunya.

Leonardo Da Vinci setelah melihat elang yang terbang di angkasa, kemudian dia menggambarkan sebuah khayalan ke dalam sebuah sketsa lukisan akan adanya mesin terbang. Lalu Nicolaus Copernicus pada abad ke-16 mengemukakan teori Heliosentris yang menyatakan bahwa matahari adalah pusat jagat raya. Kemudian bagaimana juga seorang Jules Verne menulis sebuah novel fiksi tentang perjalanan ke bulan yang saat itu hanya menjadi fiksi tingkat tinggi karena dianggap mengada-ada dan omong kosong belaka.

Para ilmuwan di zaman setelah mereka, memanfaatkan pemikiran-pemikiran tersebut dan mewujudkan fiksi itu menjadi kenyataan yang menggemparkan. Mesin terbang yang digambarkan oleh Leonardo Da Vinci terwujud menjadi pesawat terbang yang terus berkembang di masa kini. Teori Heliosentris-nya Nicolaus Copernicus yang diperkuat dengan penemuan teleskop oleh Galileo Galilei yang ternyata matahari memang sumbu perputaran dari jagat raya. Lalu pada tahun 1960-an orang sudah dapat menjejakkan kaki di bulan.

Melalui contoh di atas, kita dapat menyimpulkan mulai sekarang sebaiknya jangan pernah menganggap fiksi itu hanyalah khayalan yang sering dianggap cuma sekadar hiburan atau mungkin cerita pengantar tidur saja. Para penulis fiksi terkadang dicap stereotip sebagai orang yang hidup di dunianya sendiri, padahal mereka seringkali mendapatkan sebuah inspirasi yang sesungguhnya adalah visi dari sebuah ilmu pengetahuan.

Banyak para ilmuwan yang tertarik melakukan penelitian terhadap buku-buku fiksi yang kelihatannya aneh dan tak masuk akal. Mereka menjadikan objek dalam buku fiksi sebagai dasar penelitian dan tak jarang apa yang mereka kerjakan menghasilkan terobosan-terobosan baru untuk ilmu pengetahuan yang kemudian menjadi realitas teknologi yang bisa kita gunakan saat ini.

Saya teringat pada salah satu film Avanger. Di film tersebut divisualkan bahwa seorang super hero seperti Iron Man terbang dalam kecanggihan baju robotnya. Awalnya saya menganggap itu hanya hiburan semata. Namun, ketika saya perhatikan perkembangan teknologi saat ini sudah muncul suatu inovasi bernama Jet Suit yang kecanggihannya seperti Iron Man yang terbang.

Satu film lagi yang mengingatkan saya bagaimana sebuah cerita fiksi dapat memengaruhi kita sebagai penontonnya adalah film Jungle Cruise. Pada film tersebut disebutkan bahwa ada tanaman sebagai obat penyembuh berbagai macam penyakit yang berada di pedalaman hutan Amazon. Awalnya Saya lebih terkesan dengan melihat petualangan fantasi dari tim penjelajah yang terdiri dari satu orang kapten dan seorang dokter beserta adiknya.

Setelah beberapa saat, barulah saya menyadari kekurangan otak yang saya miliki dalam mencerna sebuah cerita. Bila memang benar si tanaman bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit yang berada di pedalaman hutan Amazon, jadi kesampingkan aksi petualangan dan fokuslah tanaman yang merupakan kekayaan terpendam di luasnya hutan Amazon. Entah kapan, tetapi saya percaya bahwa hutan Amazon banyak menyimpan bahan baku obat farmasi yang belum ada pada masa sekarang.

Dunia fiksi bagi seseorang adalah dunia imajinasi yang hanya tervisualkan di dalam otak saja. Namun, dunia fiksi bagi yang mampu memanfaatkannya dan menuangkan dalam literasi menjadi satu karya yang besar dan bisa menginspirasi banyak orang. Namun, lain lagi situasi di banyak tempat yang masih menganggap bahwa literasi itu perkara yang melebihi basi, tidak perlu mendapatkan atensi.

Bagi penulis yang mulai memasuki zona fiksi, ibarat menguji keberanian untuk memasuki labirin yang kita tidak tahu di mana pintu keluarnya. Kemungkinan saja kita bisa terjebak di dalamnya dan menjadi manusia yang tersesat atau malah kita menemukan pintu keluar, tetapi energi kita terkuras dengan sangat luar biasa.

Memasuki dunia fiksi bagi seseorang bisa juga diibaratkan ketika kita menjelajahi kerumitan mimpi yang membuat kita terlihat luar biasa, tapi begitu terbangun dan terjaga, kita tak mendapati atau tidak terjadi apa-apa.

Bagi sebagian orang, dunia mimpi adalah sebuah dunia yang menjembatani alam bawah sadar dan keinginan. Bahkan, sering dijadikan suatu petunjuk yang berupa firasat. Oleh sebab itu sampai muncul istilah dengan sebutan tafsir mimpi.

Nah, di sinilah kuncinya, cara bagaimana menerjemahkan bahasa fiksi sebagai acuan dalam menjabarkan visi masa depan. Khayalan menjadi imajinasi  yang coba diterjemahkan atau paling tidak digambarkan supaya kita tidak keliru karena telah mengabaikan sebuah risalah. Bisa saja permasalahan menjadi terpecah karena kita mampu menggambarkan, lalu mencernanya ke sebuah gagasan ide yang baru.

Belajar dari semua itu, bisa disimpulkan bahwa mulai saat ini, jika membaca sebuah novel, cerpen atau karya fiksi lainnya, kita bisa mencoba menganggapnya sebagai sebuah isyarat akan hadirnya hal baru. Mungkin tidak sekarang, tapi sangat mungkin menjadi kenyataan di masa yang akan datang.

***

Dunia Fiksi Bukan Hanya Imajinasi atau Sekadar Mimpi

Penulis: Jiebon Swadjiwa

Profil penulis:

Jiebon Swadjiwa
Suwaji (Sumber: Pratama Media News)

Pemilik nama pena Jiebon Swadjiwa sering kali mendapatkan inspirasi menulisnya dari mendengarkan suara yang bangkit dari dalam jiwa. Suara itu adalah suara kematian (dengan semua firasat), suara cinta, dan suara seni. Mulai menyukai dunia literasi sejak di bangku sekolah dasar. Beberapa tulisannya yang pernah dimuat di media cetak berjudul, “Tertinggalnya Aku” dan “Tik Tak Tik Tak Irama Rinduku” yang terbit di Koran Pikiran Rakyat pada 2018.

Editor: JHK

Artikel Berkaitan

26 Comments

  1. Betul minat baca di Indonesia ini masih sangat jarang dengan alasan sudah banyak kesibukan,membaca lebih susah dipahami tidak seperti menonton film yg mudah divisualisasikan…

    1. Padahal saat membaca sama halnya mengasah kemampuan otak untuk berimajinerkan tulisan fiksi, sehingga imajinasi visualnya lebih main ketibang hanya menonton.

  2. Tulisan yang sangat mengedukasi, membuka pikiran dan pandangan yang baru. Terima kasih untuk penulis, penyajian dan gaya bahasanya mudah dipahami.

  3. Jangan pernah meremehkan kekuatan pikiran seorang penulis fiksi, walaupun pada kenyataannya di Indonesia, pada era sekarang banyak memandang sebelah mata profesi seorang penulis, karena perbandingan penghasilan. Padahal, di luar negeri justru sebaliknya, penulis sangat di hargai karya-karyanya. Mungkin hal itu karena rendahnya minat literasi.

  4. Sebuah pemikiran yang bagus, jarang ada orang yang menyadari hal itu. Karena pada dasarnya sifat manusia adalah konsumtif.

  5. Perkenalkan, saya Sri Rahmita, guru Bahasa Indonesia dari SMA Negeri 78 Jakarta. Tulisan ini mempunyai bobot yang sangat bagus dan menginspirasi. Izinkan saya untuk membagikan tulisan ini sebagai materi bahasan di kelas saya. Terima kasih.

  6. Pagi-pagi nungguin kereta, buka facebook, nemu ada yang share link ini. Alhamdulillah pas buka lalu dibaca, eh dapat ilmu yang bermanfaat. Terima kasih.

  7. Peknelankan nama saya Abimana, mahasiswa sastra Indonesia Trisakti Jakarta, mohon izin untuk mengutip tulisannya untuk skripsi yg akan saya buat. Terima kasih.

  8. Seperti itulah jika otak kiri dan kanan seimbang, kecerdasan dalam mengolah kata dipadukan dengan intuisi dan analisa yang tepat. Jadilah tulisan seperti ini. Mempunyai pemikiran yang tidak semua orang terpikirkan.

  9. Tak bisa disangkal semua isi dari tulisan ini, karena kita bisa melhat dan merasakan bagaimana hasil pemikiran yang berawal dari khayalan. Sip Bro… Sangat menginspirasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button