CerpenPratama Media NewsSastra

Muhasabah Diri, Terbebas dari Maut

Sebuah cerpen karya Sony Vespa

Muhasabah Diri, Terbebas dari Maut Hari itu aku benar-benar lagi happy. Kupacu sepeda motor spor yang ber-cc besar itu dengan kecepatan tinggi . Entah setan apa yang sedang merasukiku, aku tak tahu. Tak ada rasa takut sama sekali dalam benakku.

Motor keluaran terbaru pabrikan Negeri Paman Sam itu kian menderu. Suara knalpot racing-nya kian menggema menghiasi jagat raya, terus memacu adrenalinku.

Kendaraan kaum borjuis yang kutunggangi itu terus bermanuver lincah menembus belantara kota. Semua kendaraan yang ada di depanku tersalip habis tak tersisa. Saat itu aku merasa menjadi sang penguasa jalan raya hingga tiba-tiba sekelebat bayangan hitam melintas di hadapanku.

Aku pun sontak terkejut. Lamunanku buyar tak karuan. Mendadak kuinjak rem dengan cepat dan motor pun oleng disertai bunyi keras. Lalu, pandanganku tiba-tiba menjadi gelap. Suasanan jadi hening.

Motor terjatuh
Ilustrasi: Motor jatuh akibat kecelakaan (Sumber: hmelawfirm.com)

Aku mulai sadar. Secara perlahan mulai kubuka mataku. Aku tergagap, ternyata aku sudah berada di suatu tepat yang sangat asing. Sepanjang mata memandang, hanya terlihat hamparan pasir putih tak bertepi.

Aku sendiri. Ya, tak ada makhluk lain yang kulihat. Bahkan, tak tampak satu tumbuhan atau binatang pun yang ada di sini.

Tiba-tiba di kejauhan terlihat sebuah titik hitam menderu cepat, mendekatiku, lalu berhenti dalam jarak beberapa meter di hadapanku. Wujudnya tak jelas, seakan diselimuti kabut hitam dan berpendar-pendar. Hanya tampak dua bola mata yang merah laksana bara menatap tajam ke arahku. Langit seketika memerah dan berjelaga.

“Siapa Engkau ?” tanyaku dengan gugup.

“Akulah sang pemutus kenikmatan dunia,” jawan makhluk itu dengan suara parau dan mendesis.

“Apa mau mu?”

“Aku ingin menjemput mu!”

“Apa maksud mu?”

“Akulah pengagummu. Setiap hari ratusan kali aku mengunjungimu hanya untuk memastikan kapan saat aku harus menjemputmu,” jawab makhluk itu dengan aksen yang menyeramkan.

Aku mundur beberapa tapak ke belakang dengan perasaan takut.

Makhluk itu kembali berkata,”Kamu takut? Kamu selama ini terperdaya oleh kenikmatan yang menipu padahal akulah masa depanmu yang nyata walau menyakitkan. Kamu bisa lari, tapi tak mungkin menghindariku.”

Makhluk itu semakin mendekatku dengan hembusan napasnya yang memburu, “Dulu dunia itu nyata dan akhirat hanya cerita. Denganku akhirat itu nyata dan dunia hanya cerita.”

Kembali lagi makhluk itu mendekatiku hingga sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci Al Quran. Semakin jelas dan semakin keras. Makhluk itu tiba-tiba berhenti.

orang sakit
Ilustrasi: orang sakit di opname di rumah sakit (Sumber: vatikannews.va)

“Belum waktunya. Tapi, aku pasti datang,” katanya dengan penuh ancaman yang membuat bulu kudukku berdiri.

Aku tersadar. Tubuhk terasa remuk. Perban dan selang infus menempel di sekujur tubuhku. Tampak keluargaku tengah mengelilingi,  tertunduk takzim sambil mengaji bersama sama.

Aah, sesungguhnya setiap tarikan napas adalah perjalanan menuju kematian, ujarku dalam hati. Semoga akhir hembusan nafasku husnulkhatimah, harapku dengan bibir terkunci dan terus melantunkan zikir tanpa henti. (Sony Vespa)

***

Judul cerpen: Muhasabah Diri, Terbebas dari Maut
Penulis: Sony Vespa
Editor: JHK

Info Penulis:

Sony Vespa adalah nama pena dari Sony Sanjaya. Nama Vespa yang melekat erat di belakang namanya merupakan hadiah dari teman-temannya sesama penggila Vespa. Ia memang salah satu anggota komunitas “Vespa Antique Club” VAC Cimahi.

Penulis adalah seorang pengusaha muda yang bergerak di bidang handycraft (kerajinan tangan) dengan nama bendera “Tjimahi Vintage Ethnic Art”.  Pria yang memiliki hobi jalan-jalan ini juga menyukai sejarah, heritage, seni, dan budaya. Sony juga tercatat sebagai salah seorang pengurus Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) di Komite Sejarah, Heritage, dan Pariwisata.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button