CerpenPratama Media News

Penumpang Motor Misterius

Sebuah Cerpen karya Diantike IE yang diilhami dari kisah nyata

Penumpang Motor Misterius – Lilis tampaknya sudah mulai mengantuk. Rasa lelah tergambar dari wajahnya yang kuyu. Beberapa kali kulihat mulutnya menguap. Matanya pun terlihat sayu. Namun, sepertinya ia mencoba untuk menahan kantuknya. Maklum saja sejak tadi siang ia seharian berjualan di pasar.

“Mah, Abah berangkat dulu ya,” kataku pada Lilis, istriku.

“Iya Bah,” jawab Lilis singkat seraya cepat-cepat masuk ke dalam bilik kami.

Ya, itulah kamar satu-satunya, tempat kami beristirahat jika sedang berjualan. Tak lama kemudian suasana jadi sepi, lalu berganti dengkuran halus dari bilik tersebut.  Kini ia sudah berada di alam mimpi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 23:30 WIB, mendekati tengah malam. Kini giliranku yang berjaga di warung kami. Beberapa stok dagangan kami kebetulan ada yang habis, padahal ini kan akhir pekan, biasanya banyak orang yang melakukan perjalanan jauh dan suka beristirahat di sisi jalan. Mereka terkadang  mampir sambil istirahat dan minum kopi di warung kami. Kalau menjelang akhir pekan begini  kemungkinan barang jualan kami banyak yang laku.

Malam gelap
Ilustrasi rumah di pinggir jalan (sumber: Dianatr.com)

Tempat usaha kami kecil, hanya berukuran 4 x 4 meter saja. Letaknya persis  di pinggir jalan provinsi antara Tasik dan Cirebon. Saat siang, jalanan ini ramai sekali. Berbagai kendaraan antar kota berseliweran melewati depan warung kami. Namun, ketika waktu mulai senja beranjak malam, suasananya menjadi sunyi. Hanya sesekali terdengar deru kendaraan yang melintas.

Kemudian aku mengenakan jaket dan helm, bergegas berangkat ke pasar membeli beberapa jenis barang yang stoknya habis. Lalu aku minta anakku Rahmat yang sedang duduk di kursi menonton televisi untuk menjaga warung sementara waktu.

“Rahmat, Abah ke pasar dulu. Titip warung sebentar. Jangan keman-mana ya,” pintaku pada Rahmat.

Anak sulungku itu menoleh sebentar sambil mengangguk tanda setuju. Aku pun menyambar kunci motor yang disimpan di meja warung dan segera menyalakan motor bututku.

pengendara motor
Aku mengambil kunci motor dan bergegas menuju pasar (sumber: J.Haryadi)

Aku harus segera sampai di pasar sesegera mungkin agar calon pembeli di warungku nanti tidak kecewa, pikirku dalam hati.

Dalam waktu yang tak terlalu lama, aku sudah sampai di pasar. Pikiranku agak berkecamuk mengingat Rahmat masih kecil. Dia baru kelas enam SD sehingga belum bisa kuandalkan. Aku khawatir dia tak bisa melayani pembeli dengan baik. Maklum, setahuku dia kurang telaten.

Selama di pasar malam yang cukup ramaia itu, aku membeli berbagai kebutuhan warung seperti kopi sascet, mie instan, kue, roti, minuman ringan dan rokok. Barang tersebut sering dibeli para pengendara ketika mereka mampir untuk pengganjal perutnya yang lapar.

Barang belanjaanku cukup banyak dan berat. Aku membawanya dengan langkah tertatih. Maklum usiaku memang tidak muda lagi dan kini terasa agak lemah.

Saat aku berjalan mendekati motor bututku, terlihat ada seseorang yang berdiri di sampingnya dengan wajah membelakangiku. Namun, dari bentuk tubuh dan pakaian yang dikenakannya, aku tahu kalau itu Rahmat, anak semata wayangku.

Kenapa anak ini ada di sini? Bukankah tadi sudah aku pinta padanya untuk tidak kemana-mana? Ah, sudahlah, namanya juga anak-anak, suka gak nurut kalau diomongin orang tua, pikirku penuh tanda tanya.

“Mat, kamu kok kamu ke sini? Tadi kan bapak minta kamu jaga warung,” tanyaku pada anakku yang segera menoleh ketika mendengar kedatanganku.

Rahmat memandangku dengan wajah datar, tanpa ekspresi. Tangannya segera meraih barang belanjaan yang kubawa dan segera menaruhnya ke kantong kain yang kupasang di jok motor bagian belakang. Semua barang disusunnya dengan rapi, tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya yang terbungkam rapat.

Usai membereskan barang belanjaan, motor kunyalakan dan bergegas pulang. Entah bagaimana caranya, kok tiba-tiba saja Rahmat sudah duduk di jok belakang. Perasaan saat aku menyalakan motor, dia masih berdiri sambil menggulung tali bekas mengikat barang belanjaan.

Ah, sudahlah … mungkin aku lupa saat dia naik ke motorku, pikirku lagi sambil menghalau keraguannku.

Jalanan begitu gelap. Tidak ada lampu penerangan di sepanjang jalan kampung yang kulalui. Apalagi rute perjalanan kami melewati jalan berliku, melewati persawahan, perkebunan penduduk,  dan kawasan hutan lindung. Sesekali terlihat satu atau dua rumah penduduk kampung dengan penerangan seadanya. Hanya cahaya bulan purnama yang ikut menemani kami sepanjang perjalanan pulang.

lorong gelap
Suasana jalan yang gelap melintasi hutan lindung, hanya sinar rembulan yang menemani perjalanan kami (sumber: pinterest.com)

Anehnya, saat kami melewati kawasan hutan lindung yang begitu gelap dan sunyi, aku merasa motor yang kukendarai terasa berat. Jalannya begitu pelan dan agak tersendat. Aku merasa sedang membawa beban yang begitu berat. Perasaanku pun mulai tidak karuan.

“Mat, badan kamu kok bertambah berat ya? Anak Abah sudah bertambah besar rupanya,” kataku menyapa Rahmat dengan maksud sekadar ingin mengusir kesunyian.

Aku merasa semakin lama semakin berat beban yang kubawa saat berboncengan dengan Rahmat (sumber: pixbay.com)

Rahmat terus diam tidak menjawab. Namun, aku merasa ada yang aneh ditengkukku, seperti ada tangan yang sedang meraba-raba. Rasanya sangat dingin sekali bagaikan air dari dalam kulkas. Sontak bulu kudukku jadi berdiri.

“Tanganmu dingin banget, Nak. Kenapa? Mau pakai jaket Abah?” tanyaku lagi dengan tetap berusaha fokus mengemudikan sepeda motor yang jalannya mulai terasa bagaikan siput.

Anakku tidak menjawab. Dia tetap diam saja.

Ah, jangan-jangan suaraku tak didengarnya, pikirku dalam hati.

“Maaat ….,” sapaku lagi agak keras.

Rahmat tetap tak menjawab. Justru tangan dinginnya semakin terasa sekali. Bahkan, kini jari-jarinya mulai menggeranyangi leherku sehingga membuatku kaget bukan kepalang. Saking kagetnya, motor yang kukendarai mulai oleng dan akhirnya terjatuh. Sementara tubuhku terlempar dan terjerembab ke bibir tebing yang cukup dalam.

Untung saja motor yang kukendarai tidak sampai masuk ke dalam jurang. Wajahku terbenam ke dalam rerumputan yang lembab bercampur air, sementara kakiku terjuntai ke sisi tebing yang curam. Saat badanku yang agak tambun ini mulai bergerak ke bawah, secepat kilat tanganku menyambar sebuah pohon kecil yang ada di sana.

Tubuhku semakin bergetar, kaget campur takut. Dalam posisi yang serba tak karuan tersebut, tiba-tiba ada bayangan hitam menghampiriku. Tubuhnya tersorot sinar rembulan dengan perawakannya yang kurus.

Alhamdulillah, untung ada Rahmat, pikirku dalam hati.

Tangan anak kecil itu menyentuh tangan kiriku, sementara tangan kananku masih tetap memegang pohon kecil yang tadi telah menyelamatkanku jatuh ke jurang.

Aku sama sekali tak melihat wajah Rahmat karena suasana begitu gelap. Lagian cahaya bulan itu membelakangi tubuhnya sehingga yang terlihat hanya sosoknya yang kurus dengan jaket berkupluk.

Saat tangan Rahmat menyentuh tanganku, rasanya seperti ada aliran es yang terus bergerak memasuki urat nadiku dan terus bergerak dengan cepat ke dalam sekujur tubuhku. Meskipun aku penuh ketakukan, tapi tangan itu tak kulepaskan. Bahkan, hanya dengan sekali tarikan, tubuhku sudah berada di sisi yang aman, sambil terlentang menahan rasa sakit dan penasaran.

Menolong
Rahmat berusaha menolongku agar tak jatuh ke tebing jurang (sumber: J.Haryadi)

“Maaat, terima kasih ya Nak,” kataku pelan kepada rahmat.

Aku lalu mencoba berdiri dan mendekati Rahmat yang kulihat sedang mengangkat motor yang tadi terjatuh dan mendirikannya dengan tubuh membelakangiku.

“Maaaat …,” sapaku lagi yang tetap tak dijawab oleh anakku.

Lalu aku mendekati Rahmat dan memegang pundaknya yang ringkih.

Tiba-tiba pria yang ada di depanku berbalik dan terlihatlah sesosok wajah yang hancur berantakan dengan mata melotot seakan-akan mau keluar. Pipinya melepuh penuh dengan belatung yang keluar dari kulit pipinya.

Mendadak dunia ini terasa berputar kencang. Pandanganku perlahan-lahan menjadi kabur. Kesadaranku pun semakin hilang. Hanya dalam hitungan detik tubuhku sudah terjerembab ke tanah dan tak ingat apa-apa lagi.

***

Judul: Penumpang Motor Misterius
Penulis: Diantika IE
Editor: JHK

Keterangan:
Penulis adalah seorang guru dan kepala sekolah di sebuah yayasan pendidikan di Kabupaten Bandung. Selain mengajar, kesibukan lainnya adalah mengurus komunitas menulis. Ia tercatat sebagai Ketua Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) Indonesia yang berpusat di Kota Bandung.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button