LiterasiPratama Media NewsPuisiSastra

Selembar Goresan untuk Malaikat Kecilku

Sebuah karya sastra dari Amel Yasin, seorang pengarang dari Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Selembar Goresan untuk Malaikat Kecilku –  Sebuah karya sastra dari Amel Yasin, seorang pengarang dari Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Assalamu’alaikum W. W.

Malaikat kecilku, kugoreskan pena ini di lembaran usang dari Mama dan Etta yang selalu memiliki cinta segenap jiwa, tanpa ada syarat apa pun untukmu. Mama dan Etta coba merenung, menapaki langkah kemasa kecilmu yang mungil, putih, dan begitu membahagiakan.

Kamu tahu malaikat kecilku, sembilan bulan tubuh mungilmu ada dalam rahim mama. Tak sedikit pun mamamu mengeluh untuk membawamu ke sana atau kemari. Tulisan ini pun adalah ungkapan diri mama untuk mengenang masa-masa menakjubkan sejak kamu dalam kandungan dan saat detik-detik melahirkanmu.

Malaikat kecilku, satu goresan surat ini untukmu. Mama dan Etta berharap kamu akan membacanya, saat nama kami telah tertulis di onggokan batu nisan. Satu kekuatan yang kami berikan untukmu dengan jutaan cinta dan kasih sayang yang tak akan pernah terhapus oleh apa pun.

Malaikat kecilku, kehamilan mama saat itu berisiko tinggi. Itulah yang mama dengar dari dokter kandungan. Sejak awal Mama dan Ettamu diberi pilihan oleh dokter untuk dilanjutkan, tetapi dengan risiko si baby lahir dengan kelainan atau si ibu yang tidak selamat. Kamu tahu nanda hebatku, Mama ambil risiko untuk tetap memilikimu, dan Ettamu berperan besar dalam mendampingi dan memberikan cinta, juga semangat.

Malaikat Kecilku
Ilustrasi Gambar (Sumber id.pinterest.com)

Usia mama yang tidak muda lagi, menginjak 46 tahun saat melahirkanmu. Kamu sehat dan hadir dengan segala keistimewaan. Suatu hari nanti, Insya Allah kamu akan paham dan mengerti bahwa hidup itu tak semudah impian. Sesekali kamu akan terjatuh agar kamu bisa belajar bagaimana caranya bangkit dan berjalan lagi.

Tak perlu bersedih dan berlarut diri. Nikmati semua yang akan kamu jalani karena kesedihan itu adalah ujian dari-Nya.  Dia hanya ingin melihat apakah kamu tetap tegar berdiri, mampu bersabar, ikhlas, dan kemudian berlari kembali.

Malaikat kecilku, bukan hanya kesedihan yang Allah beri cobaan untukmu, tetapi kebahagiaan sesungguhnya juga ujian dari-Nya. Dia ingin mengetahui sejauh mana kita tetap bisa bersyukur apa pun yang Dia berikan.

Tumbuhlah malaikat kecilku menjadi anak yang saleh, memiliki akidah yang lurus, akhlak yang mulia, selalu menebar kebaikan, dan bermanfaat untuk semua makhluk  yang ada di sekelilingmu.

Mungkin Mama dan Etta tidak akan selamanya berada di sampingmu, tak selamanya bisa menjagamu, tetapi do’a kami akan selalu menyertai langkah hidupmu yang selalu memohonkan penjagaan untukmu. Semoga Allah selalu memberikan kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk mendampingimu.

Sebuah puisi untuk malaikat kecilku:

Kehadiranmu memecahkan keheningan sepi …
Tawamu adalah nyanyian dalam setiap rasa gundah …
Kau berikan warna di sepanjang hidup kami …
Dan kau tak akan pernah lepas dalam dekapan kami …
Tak akan pernah jauh dari senandung do’a …
Tak akan banyak yang kami pinta darimu …
Hanya kami  titipkan harapan besar …
Agar kau menjadi pribadi kuat …
Dan selalu bersandar di nadi Tuhanmu …

Malaikat kecilku …
Telusuri setiap lembar jejak langkahmu …
Pandanglah harapanmu ke depan …
Jadilah kau bagai batu karang …
Tetap kokoh walaupun diterjang derasnya gelombang …

Duhai malaikat kecilku …
Kupertaruhkan nyawa untukmu …
Dan di tanganmu kami titipkan harapan masa tua …
Maafkan mama dan ayahmu yang tak bisa sempurna seperti yang kau mau …
Menemani tiap detik hari-harimu …
Dan mungkin sering membuatmu kecewa …

Malaikat kecilku …
Impian kami …
Disaat mama ayahmu telah menjadi nama digoresan batu nisan …
Kau mau memaafkan semua kekurangan kami …
Dan terus mencintai di setiap helaan nafasmu …

Malaikat kecilku …
Bukan karena nafsu …
Bukan juga karena keegoan …
Tapi hanya sebatas keyakinan untuk masa depan yang terbaik untukmu …
Wahai jiwa yang dititipkan Tuhan untuk kami …
Ingat akan masa kita bersama …
Di antara gertak amarah dan banyak kata …
Semua untuk kebaikanmu …
Dan kami akan selalu ada untukmu …

Balikpapan, 4 April 2021

Wassalam.
Kami yang mencintaimu.

Mama & Etta

***

Pengarang: Amel Yasin

Profil pengarang:

Amel Yasin
Amalia Nailoe Rahmah, S.Pd., alias Amel Yasin (Sumber: Pratama Media News)

Amalia Nailoe Rahmah, S.Pd., biasa dipanggil Amel Yasin, sehari-harinya bertugas sebagai guru Sekolah Dasar (SD) Negeri 020, Perumnas, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Putri ketiga dari Bapak Ustad H.M. Yasin Suhaimie dan Ibu Masrifah (Almarhumah) ini lahir di Malang, Jawa Timur pada 8 Desember 1968. Ia menikah dengan Andi Ahmad Yani, seorang pria berdarah Belawa-Wajo.

Amelyasin menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Kota Malang, Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Madrasah Mu’allimat Muhammadiyah, Yogyakarta. Kemudian ia melanjutkan pendidikan tingginya pada Program D3, Jurusan Da’wah, di IDIF Jakarta dan PGSD D2 – S1 di Kota Balikpapan.

Sejak duduk di bangku SMP (1983) Amelyasin sudah mulai menulis. Ia pernah mengirim tulisannya ke beberapa media cetak dan sempat dimuat di sana, di antaranya di Koran Yogyakarta, Majalah Kuntum, dan Majalah Ananda.

Sudah banyak hasil karya Amel Yasin berupa buku yang diterbitkan, di antaranya buku kumpulan puisi berjudul “Cinta Dalam Daksaku” dan beberapa buku antologi, seperti antologi cerpen berjudul “Cancer Jangan Bunuh Aku”, “Bersama Merajut Pelangi”, “Layar Impian”, dan “Bidadari Syurga itu, Ibuku”. Juga buku antologi puisi berjudul “Setangkai Bunga Kecewa” dan “Hijrah”.

Siapa saja yang ingin berkomunikasi dengan Amel Yasin terkait karyanya bisa menghubunginya di:
E-mail : amelyasin68@gmail.com
WhatsApp (WA): 085252213968

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button