ArtikelOpiniPratama Media News

Bahaya Keinginan Pengakuan Sosial di Kalangan Muda

Artikel ini ditulis oleh: Didin Kamayana Tulus

PRATAMA MEDIA NEWS (PMN)Kolom OPINI, Sabtu (12/10/2024) – Artikel “Bahaya Keinginan Pengakuan Sosial di Kalangan Muda” karya Didin Kamayana Tulus yang merupakan seorang penulis, penggiat buku. Kini ia  tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Padazaman sekarang, banyak anak muda, baik dari kalangan keturunan raja maupun rakyat biasa yang memiliki keinginan kuat untuk diakui secara sosial. Mereka ingin dianggap sebagai bagian dari kelompok yang terhormat, dihargai, dan dekat dengan status sosial yang tinggi, termasuk keinginan untuk diakui sebagai anggota keluarga kerajaan.

Fenomena ini semakin marak dan sayangnya, banyak dari mereka yang tampaknya hanya mengejar pengakuan dari orang lain. Hal ini berpotensi menimbulkan bahaya sosial dan merugikan perkembangan diri individu.

Didin Kamayana Tulus
Didin Kamayana Tulus, penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Mengapa fenomena ini berbahaya? Karena keinginan untuk diakui seringkali membuat individu terlalu fokus pada bagaimana mereka dilihat oleh orang lain, alih-alih mengembangkan kemampuan dan prestasi nyata yang dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Pada era media sosial seperti saat ini, di mana “like“, “comment“, dan “share” menjadi tolok ukur popularitas dan penerimaan sosial, banyak anak muda yang terjebak dalam perlombaan tanpa akhir untuk mendapatkan validasi eksternal. Hal ini seringkali membuat mereka mengorbankan nilai-nilai penting seperti kerja keras, kejujuran, dan kreativitas.

Salah satu contoh fenomena ini adalah banyaknya anak muda yang berusaha menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari keluarga besar kerajaan atau keturunan bangsawan. Mereka berusaha keras untuk dilihat sebagai orang yang “berbeda” dan istimewa karena status kelahiran mereka, bukan karena prestasi atau kontribusi yang mereka buat.

Saya merasa kasihan melihat fenomena ini karena alih-alih fokus pada hal-hal yang lebih penting, mereka justru terjebak dalam pencarian pengakuan yang dangkal.

Sebaliknya, contoh yang patut diteladani datang dari seorang sastrawan besar Indonesia, AA Panji Tisna. Beliau adalah keturunan bangsawan, berasal dari keluarga kerajaan, tetapi memilih jalan yang berbeda. Alih-alih bergantung pada status sosial keluarganya, AA Panji Tisna memutuskan untuk hidup sebagai rakyat biasa dan menunjukkan kebesarannya melalui karya nyata.

AA Panji Tisna, Sastrawan Indonesia – (Sumber: tatkala.co)

AA Panji Tisna menulis banyak buku yang memberikan pengaruh besar dalam dunia sastra Indonesia. Salah satu karyanya yang terkenal adalah “Nyi Ceti Rawit, Penjual Orang” yang menggambarkan perjuangan dan kehidupan rakyat kecil. Melalui karyanya, beliau menunjukkan bahwa seseorang tidak perlu bergantung pada status keluarga atau latar belakang bangsawan untuk mendapatkan pengakuan. Karya yang bermanfaat dan berdampak bagi masyarakat adalah cara terbaik untuk mendapatkan penghargaan yang sejati.

AA Panji Tisna adalah contoh nyata bagaimana seorang keturunan bangsawan bisa memilih jalan yang berbeda. Beliau tidak merasa perlu untuk menonjolkan status kebangsawanannya. Sebaliknya, beliau memilih untuk memberikan kontribusi nyata melalui tulisan-tulisannya yang penuh dengan pesan sosial dan kritik terhadap ketidakadilan.

Hal tersebut merupakan contoh yang seharusnya diikuti oleh generasi muda saat ini. Pengakuan sejati tidak datang dari status sosial atau latar belakang keluarga, melainkan dari karya dan kontribusi nyata yang dapat memberikan dampak positif bagi orang lain.

Namun, mengapa banyak anak muda saat ini justru lebih tertarik pada pengakuan yang dangkal? Salah satu penyebabnya adalah budaya konsumerisme dan hedonisme yang kian marak. Media sosial memperkuat kecenderungan ini dengan mempromosikan gaya hidup glamor dan kemewahan, di mana banyak orang merasa perlu untuk tampil kaya, terkenal, dan dihormati hanya berdasarkan penampilan luar.

Anak muda sering kali merasa bahwa untuk diterima dalam pergaulan, mereka harus menunjukkan status sosial mereka, entah itu melalui barang-barang mewah, koneksi dengan tokoh penting, atau mengklaim dirinya sebagai bagian dari keluarga bangsawan, padahal fokus yang berlebihan pada pengakuan sosial dapat membawa dampak negatif. Salah satunya adalah hilangnya motivasi untuk berkarya.

Ketika seseorang terlalu fokus pada bagaimana ia dilihat oleh orang lain, ia cenderung mengabaikan pentingnya mengembangkan kemampuan diri dan memberikan kontribusi yang bermakna. Alih-alih berusaha menjadi individu yang berprestasi, mereka hanya ingin terlihat istimewa di mata orang lain.

Selain itu, keinginan untuk diakui sebagai bagian dari kelompok tertentu juga dapat menyebabkan terjadinya segregasi sosial. Anak muda yang terlalu mengejar pengakuan sosial cenderung membatasi pergaulan mereka hanya pada kelompok-kelompok tertentu yang dianggap “elit”, dan menjauhkan diri dari kelompok lain yang dianggap tidak setara. Hal ini tentu saja dapat memperburuk kesenjangan sosial di masyarakat.

Terkait dengan hal tersebut, penting bagi generasi muda untuk menyadari bahwa pengakuan sejati tidak datang dari status sosial atau pengakuan dari orang lain. Pengakuan sejati hanya bisa didapatkan melalui karya nyata, kontribusi positif, dan dedikasi untuk terus belajar dan berkembang, seperti yang dicontohkan oleh AA Panji Tisna.

Kita tidak perlu bergantung pada status keluarga atau latar belakang untuk mendapatkan penghargaan. Karya yang bermanfaat bagi masyarakat adalah kunci untuk meraih pengakuan yang sejati. (Didin Tulus/BJN)

***

Judul: Bahaya Keinginan Pengakuan Sosial di Kalangan Muda
Penulis: Didin Kamayana Tulus, Penggiat Buku tinggal di Kota Cimahi.
Editor: JHK

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button