Ilmu Kerja Keras
Sebuah nasihat tentang kehidupan dari seorang Ayah kepada Anaknya
Ilmu Kerja Keras – Anak-anakku, Bapakmu ini bukan dilahirkan dari keluarga kaya. Kakekmu adalah pegawai negeri rendahan. Pendidikannya sekolah dasar. Pernah sekolah teknis setingkat SMP, tapi tak selesai. Gajinya pun tak seberapa. Bahkan, untuk menghidupi keluarganya saja, Kakek dan Nenekmu terpaksa bekerja sebagai penggarap tanah orang lain. Hasil panennya dibagi dua antara pemilih sawah dan penggarap.
Selain itu, Nenekmu juga membuka warung makanan di depan rumah. Beliau juga menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari yang dibelinya dari proses lelang di Kantor Pegadaian. Namun, walaupun berpenghasilan pas-pasan, Kakek dan Nenekmu selalu punya impian hebat. Anak-anaknya harus belajar di sekolah yang baik di kota lain, bukan di tempat tinggal kami, Tasikmalaya.
Kakek dan Nenekmu ingin semua anak-anak laki-lakinya harus jadi sarjana. Mereka harus kuliah di Bandung. Untuk mencapai impian itu, Kakek dan Nenekmu berusaha sekuat tenaga. Mereka mengatasi segala masalah dengan satu cara yaitu kerja keras.

Celakanya, Bapakmu bukan tergolong murid pintar. Kategorinya biasa-biasa saja. Saat di sekolah dasar pencapaian maksimal hanya rangking dua. Itu pun bisa dicapai hanya saat kelas 6.
Begitu pula saat Bapakmu ini sekolah di SMP dan SMA pun tergolong murid biasa saja. Walaupun bisa kuliah di Perguran Tinggi Negeri (PTN) ternama di Bandung, jurusan yang dipilih pun yang persaingan masuknya tak ketat. Jurusan yang suka dipandang sebelah mata oleh banyak orang dan sering disebut sebagai jurusan yang “tak punya masa depan”. Bahkan, ada sebagian orang mengatakan bahwa masuknya saja cukup dengan berkata, “Assalammulaikum.”
Tak jauh beda dengan Kakek dan Nenekmu, Bapakmu punya satu ilmu yang diwariskan mereka yaitu: kerja keras.
Dengan modal kerja keras, Bapakmu punya pekerjaan yang baik, punya penghasilan yang baik. Bahkan, bisa mendirikan perusahaan. Jika Kakek dan Nenekmu mampu menyekolahkan Bapakmu ke Bandung maka sudah sewajarnya jika Bapak dan Ibumu juga punya impian yang lebih hebat mereka.
Ayah dan Ibumu menyekolahkan kalian dengan pendidikan yang lebih tinggi dari pendidikan kami. Bapak dan Ibumu ingin kalian semua bisa sekolah sampai ke luar negeri, kuliah di pusat ilmu pengetahuan.

Alhamdulillah impian itu mulai terwujud: Si Sulung mau ambil master setelah lulus Bachelor Matematika Ekonomi di Technische Hochschule Mittelhessen Giessen Jerman. Si Tengah sedang kuliah di Otto-von-Guericke-Universität Magdeburg Jerman, dan Si Bungsu tahun ini berencana kuliah di University of Glasgow Inggris.
Percayalah Anak-Anakku, jika kita punya keterbatasan, kita tidak pintar, kita punya satu ilmu yang sejatinya sudah melekat dalam diri kita. Ilmu warisan Kakek dan Nenekmu: Ilmu kerja keras.
Ingat: Kita memang tak bisa memilih dilahirkan dari orangtua kaya atau miskin. Kita juga tak bisa memilih dilahirkan sebagai orang pintar atau bodoh. Namun, kita bisa memilih apa yang kita bisa lakukan di dunia ini. Kita bisa memilih menjadi generasi rebahan atau menjadi seorang pekerja keras. Kita bisa memilih menjadi kaum pecundang atau kaum pemenang.
***
Judul: Ilmu Kerja Keras
Penulis: Hikmat Kurnia
Editor: JHK
Sekilas tentang Penulis
Hikmat Kurnia lahir di Tasikmalaya pada 23 September 1967. Ia adalah seorang entrepreneur lulusan Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran Bandung dan pendiri sekaligus pemilik perusahaan Agromedia Grup – sebuah kelompok usaha penerbit buku terbesar di Indonesia. Pengusaha sukses ini juga pernah menjadi Ketua IKAPI DKI Jakarta periode 2016-2021 dan Ketua Ikatan Alumni Unpad periode 2016-2020.

Sebagai seorang pengusaha yang tahan banting, Hikmat Kurnia menegaskan dalam berbisnis dibutuhkan mental yang kuat. Hampir tidak ada bisnis yang omzetnya selalu naik. Cepat atau lambat pasti ada saatnya turun.
“Ketika turun itulah kita sedang diuji, seberapa kuat kita punya daya tahan,” ujar Hukmat Kurnia penuh optimis.
Bagi Hikmat Kurnia, setiap pebisnis sebaiknya memiliki prinsip seperti lima jari tangan yang seharusnya menyatu, yaitu mimpi, konsep, kompetensi, koneksi, modal, dan komitmen. Modal itu jangan terlalu dipikirkan dulu.
“Lima jari itu menyatu, mengikat dan diikat, menjadi telapak tangan. Setiap gerak akan memberikan pesan. Prinsip ini yang saya pegang dengan kuat,” ungkap pria yang selau hangat dan ramah kalau berbicara dengan siapa saja ini.
Sampai sekarang, ayah tiga anak ini masih aktif menjadi pembicara publik dalam berbagai acara perbukuan dan menggaungkan pentingnya literasi kepada publik. Hikmat Kurnia juga selalu memperjuangkan antisipasi pembajakan dan penghapusan pajak pada buku agar buku tidak mahal dan terjangkau oleh berbagai kalangan.
***








