Puisi: Nyali Tak Boleh Banci karya J.Haryadi
Dunia ini tak pernah berhenti bergerak.
Begitu juga dengan pikiranku.
Selalu ada saja yang menari-nari di kepalaku ini.
Sesuatu yang tak bisa kuajak kompromi.
Entah mengapa, hatiku kerap meradang dan tak pernah tenang.
Ketika melihat kemaksiatan berlalu-lalang.
Apalagi itu bukan cuma dalam khayalan.
Tapi persis terjadi di sepanjang mata memandang.
Haruskah aku cuma terpana dan tak berbuat apa-apa?
Sementara dadaku bergemuruh dan berguncang kencang.
Bagaikan naik kendaaraan di jalan berlubang.
Ingin rasanya kakiku ini menendang.
Agar dadaku ini kembali bisa kembali tenang.
Dan batin ini tak terus meradang.
Aku bukanlah termasuk makhluk pengecut.
Yang sering berlari kalang kabut.
Saat ada masalah menjemput.
Aku tak mau pergi atau pun bersembunyi.
Ketika badai datang menerjang.
Ketika sang angkara murka menguasai singgasana raja.
Karena takdirku bukan untuk menjadi banci.
Pasti kan kulibas sampai kandas.
Ketika sang durjana mulai merajalela.
Ketika penguasa membungkam kebenaran.
Karena takdirku untuk menjadi lelaki sejati.
Kan kuhempaskan noda yang menghiasi dunia.
Kan kulumatkan pemangsa yang semakin menggila.
Sampai tak ada lagi pendosa untuk berpesta dosa.
***
Puisi: Nyali Tak Boleh banci
Editor: JHK
Sumber: Kompasiana.com
Penulis: J.Haryadi
Profil penulis:
J. Haryadi adalah nama pena dari Jumari Haryadi. Pria kelahiran Kotabumi, Lampung Utara yang akrab disapa Edi Kohar atau Arie ini memiliki darah Kediri, Jawa Timur (ayah) dan Baturaja, Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan (ibu) dari kedua orang tuanya. Ia serius menekuni dunia tulis menulis sejak 2007. Selain sebagai penulis, jurnalis, dan blogger, ia juga kini tengah belajar fotografi dan sebagai pegiat pariwisata, seni, dan budaya.
Editor: JHK








