CerpenLiterasiPratama Media News

Sebilah Pisau dan Sekeping Wungkal Kang Mukhari

Sebuah cerpen karya Sarkoro Doso Budiatmoko, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat

Pratama Media News, cerita pendek (cerpen) berjudul “Sebilah Pisau dan Sekeping Wungkal Kang Mukhari”  ini merupakan karya Sarkoro Doso Budiatmoko,  alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat.

Pada pagi Hari Raya Idhul Adha itu, seusai salat di lapangan, seruan takbir terus berkumandang. Sejak semalam corong-corong pelantang suara dari masjid seakan berlomba bertakbir: Allahu Akbar, Allahu Akbar, la ilaha illa Allah wa Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil-hamd.

Gaung suara memuji dan mengagungkan nama Allah menggema seantero kampung, saling bersahut-sahutan, “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah“. Takbir di tengah kesejukan dan kesegaran pagi menggetarkan kalbu pendengarnya.

Pagi itu, sebagian orang di kampung itu tergerak dan mulai bersiap-siap melakukan penyembelihan hewan-hewan kurban. Sebagian yang lain bersiaga ikut membantu pengelolaan dagingnya, mulai dari penimbangan, pengemasan, dan pembagian daging ke masyarakat sekitar. Anak-anak dan remaja ramai datang ke halaman masjid menonton persitiwa setahun sekali ini.

hewan kurban
Ilustrasi: Hewan kurban – (Sumber: nytimes.com)

Demikian juga dengan Kang Mukhari, seorang warga yang rajin salat berjemaah dan aktif di kegiatan lingkungan. Hari ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, dia akan membantu mengiris-iris daging hewan kurban sebelum ditimbang dan dikemas untuk kemudian didistribusikan ke warga sekitar.

Kang Mukhari sudah rutin masuk dalam kepanitiaan kurban di kampung tempat tinggalnya. Sudah biasa pula, sepulang dari tugas kepanitiaan dia membawa beberapa bungkus daging kurban. Di rumah, istrinya sudah menyiapkan bumbu dapur untuk mengolahnya menjadi menu istimewa makan malam.

Demikian juga pagi itu. Selesai merapikan rumah, istri Kang Mukhari pamit pergi belanja bumbu-bumbu dapur, sedangkan anak satu-satunya, Buyung yang sedang beranjak remaja sudah lebih dulu pergi keluar rumah entah ke mana. Buyung mungkin juga pergi ke masjid.

“Aku pergi ke warung sebelah dulu Kang, cari bumbu gulai,” kata istrinya berpamitan.

“Iya Mak, hati-hati yaaa,” jawab Kang Mukhari dengan nada girang.

Kang Mukhari sendiri bersiap-siap berangkat ke area penyembelihan. Dia siapkan topi, masker, dan sarung tangan. Demikian juga sepatu boot dan handuk kecil. Tinggal pisau dan wungkal yang belum dia siapkan.

Wungkal adalah batu asah untuk menajamkan pisau ketika mata pisau mulai terasa tumpul saat dipakai mengiris daging.

Kang Mukhari  bergumam, Alhamdulillah…., tinggal pisau dan wungkalnya. Mudah-mudahan gak kemana-mana. Gak terbayang capeknya kalau mengiris dengan pisau tumpul, apalagi pisau tumpul juga merusak daging yang diiris.

Pisau memang harus selalu terjaga ketajamannya supaya siap digunakan setiap saat. Sama dengan otak manusia harus selalu diasah dan jangan dibiarkan menganggur lalu berkarat supaya selalu siap menghadapi masalah yang bisa datang setiap saat.

Kang Mukhari sering mencontohkan ketajaman pisau ke anaknya, “Nak, seperti pisau, otakmu juga harus selalu diasah supaya terjaga ketajaman, kecerdasan, dan kecepatan analisanya. Dengan demikian kalau ketemu masalah, kamu akan segera bisa menemukan jalan keluarnya.”

Dia juga sering mengingatkan anak lelaki satu-satunya, “Jangan meniru bapakmu ini Nak, sekolah enggak tinggi, wawasan enggak luas, daya ingatnya rendah, mudah lupa, susah mengingat. Pokoknya jadilah kayak orang-orang yang sukses tuuuh …”.

“Okey Pak,” jawab anaknya sekenanya.

Nasihat itu sering dia lanjutkan dengan kata-kata, “Aku merasakan sendiri Nak, otak tumpul dan pelupa tuh capek dan tersiksa.”

“Okey Pak,” jawab anaknya, lagi-lagi sekenanya tanpa semangat.

Sekarang Kang Mukhari sedang mengalaminya, capek mencari pisau dan wungkal batu pengasah. Dia lupa di mana tempat menyimpannya. Maklum, sudah hampir satu tahun yang lalu. Perkakas penting andalannya itu nyaris hanya dia pakai setahun sekali saja. Harusnya awet dan terjaga dari kerusakan atau hilang.

Kang Mukhari merasa perkakas itu harus ketemu. Pria setengah umur itu merasa malu pergi ke area penyembelihan hewan kurban tanpa membawa alat andalannya itu. Dia mengharuskan dirinya membawa alat untuk membantu mengelola daging kurban. Harga dirinya menolak menerima pemberian daging kurban tanpa terlebih dulu berkeringat.

Pagi hari itu menjadi pagi yang sangat berbeda bagi Kang Mukhari. Dia mondar-mandir di dapur, membuka pintu-pintu lemari lalu melongok isinya, siapa tahu pisau dan wungkal ada di sana. Dia berusaha keras menemukannya.

Dia juga menyingkap segala macam penutup, siapa tahu pisau dan wungkal ada di situ.  Semua barang-barang dapur yang tengkurap maupun telentang dia balik. Namun hasilnya nihil, padahal hari sudah semakin meninggalkan pagi nan sejuk.

Sambil bolak-balik seperti setrikaan, otak Kang Mukhari terus berputar mencoba mengingat tempat dia menyimpan benda tajam dan pasangannya itu. Pusing dan galau mulai menghampiri.

Ketika di seputaran dapur tidak ditemukan, Kang Mukhari bertambah risau. Mundar-mandirnya merambah ke ruang makan. Diaduk-aduknya semua benda. Meja dan lemari makan tidak luput dari sasarannya. Semua kolong ditengok, keranjang pakaian diaduk-aduk. Namun, dua benda itu tidak juga ketemu.

Di rumah tidak ada yang bisa ditanya. Istri dan anaknya belum pulang.

Yaa Tuhaaan…., di mana siiihhh barang sialan itu? Keluh Kang Mukhari dalam hati.

Sasaran pencarian terus meluas. Tangan dan kakinya menjalar ke kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dan teras depan. Disingkap dan ditendang semua yang dicurigainya menjadi tempat sembunyi pisau dan wungkalnya

Rumah ini kecil dan tidak punya teras belakang, tetapi pisau dan wungkal tidak juga ketemu. Hari semakin siang dan rumah berubah seperti kapal pecah.

Dua benda yang pada hari itu menjadi sangat penting belum ketemu juga. Namun, Kang Mukhari belum menyerah meski keringatnya mulai mebasahi tubuh. Dia tidak peduli dan terus mencari.

Istri Kang Mukhari yang baru pulang dari belanja di warung sebelah terperanjat bukan main melihat keadaan rumahnya. Dia tidak kuat menahan rasa kesal, lalu nyemprot setengah teriak.

“Wah, wah, wah, Kaaang, ini rumah apa bengkel odong-odong? Enggak tahu capeknya bersih-bersih rumah yaaa!”

“Iya, maaf Mak, aku lagi cari pisau dan wungkal. Harusnya ada di dapur, tapi aku cari-cari enggak ketemu. Siapa sih yang mindahin Mak?” Ujar Kang Mukhari.

Agak kesal hati, istri Kang Mukhari tersebut menjawab sambil melotot, “Dingat-ingat Kang, nyimpannya dulu di mana, wong rumah cuma segini kecil, masak iya pisau dan wungkalnya pindah ke Hongkong.”

Kang Mukhari agak merasa enggak enak hati mendengar nada bicara istrinya, ditambah omongan rumah cuma segini kecil.

“Rumah cuma segini kecil katamu? Jadi orang tuh yang banyak syukurnya Mak. Lihat itu Pak Udin, sudah anaknya banyak, tapi rumah masih ngontrak,” ujar Kang Mukhari setengah mengingatkan istrinya, “Lha kita? Meskipun cuma segini, tapi kan ini rumah milik sendiri Mak. Hargai sedikit jerih payah orang dong. Siang malam enggak kenal lelah aku kerja demi kamu.”

“Halaaah, enggak usah memulai ribut-ribut Kang.  Baperan banget sih jadi orang, nyatanya rumah memang cuma segini, mau bilang seperti istana?” Kata istri Kang Mukhari ketus, “Lagian tahu enggak Kang, walaupun anak banyak dan rumah masih ngontrak, tapi Pak Udin tahun ini ikut berkurban.”

“Yaaah syukur, istrinya tidak boros kali yaa….” kata Kang Mukhari nyindir istrinya.

Istrinya tidak tinggal diam, membalas sambil menyindir, “Pak Udin juga tidak merokok dan tidak ngopi.”

“Iya..iyaaa, Pak Udin mungkin lagi dapat banyak rizki, berdoa saja semoga kita diberi kemampuan untuk berkurban tahun depan,” kata Kang Mukhari mencoba mengakhiri ngomongin Pak Udin.

Namun, istri Mukhari masih terus nyerocos, “Kita mah tiap kali datang Idhul Adha cukup bawa pisau dan wungkal. Bertahun-tahun cuma mampu membantu ngiris-ngiris daging hewan kurban, pulangnya bawa bungkusan, iya kan Pak?”

“Iya Mak, mudah-mudahan tahun depan kita diberi kemampuan berkurban,” kata Kang Mukhari setengah berharap, “Tapi sekarang pisau dan wungkal masih jadi andalanku Mak, apalagi nyembelih juga aku gak berani,” tambahnya dengan nada serius, “Lagian tadi pak Zainal juga pesan, katanya pisau dan wungkal jangan sampai ketinggalan.”

Istri Kang Mukhari tidak menjawab, tapi dia hanya ngedumel keras, “Ya dicari terus sampai ketemu, carinya pakai mata Kang!”

“Okay-okay…  Mak!” Kang Mukhari mencoba tenang dan kembali sibuk mencari pisau dan wungkal yang belum ketemu juga.

“Apa ada yang pinjem ya Mak?” Tanya Kang Mukhari kepada Istrinya.

“Siapa yang mau pinjam Kang? Itu barang semua orang juga punya,” jawab si istri sambil meneruskan, “Yang nyimpan saja yang teledor!”

“Huaadeuuh kena aku,” keluh Kang Mukhari, sambil minta tolong, “Coba tanya anakmu Mak, mungkin dia tahu.”

Istri Kang Mukhari ke depan rumah mencari dan memangil-manggil anaknya, tapi tidak ada jawaban.

“Gak ada Kang, entah kemana si Buyung. Dia kan kalau pergi kemana-mana enggak pernah pamit, meniru bapaknya,” saut istrinya.

“Huaadeuuh kena lagi aku,” lenguh Kang Mukhari.

Matahari sudah meninggi lebih dari sepenggalah. Kang Mukhari telah melewatkan banyak waktu begitu saja untuk mondar-mandir mencari sebilah pisau dan sebongkah wungkal. Istrinya tentu sangat tidak suka.

“Ayoooo Kang, berangkat saja sana,” desak istri Kang Mukhari.

“Malu lah Mak, masak enggak bawa alat,” ujar Kang Mukhari berdalih.

“Bawa saja karung tuhh Kang buat tempat bawa pulang dagingnya. Isinya pasti lebih banyak dari kantong kresek,” kata istri Kang Mukhari rada sinis.

“Haahh, karung? Kantong kresek saja aku enggak mau bawa, apalagi karung. Aku tuh sudah kadung dikenal setiap kurban selalu bawa pisau dan wungkal Mak,” jawab Kang Mukhari dengan nada bangga.

Istri Kang Mukhari menjadi semakin bertambah kesal, sudah semakin siang, tetapi dilihatnya suaminya malah sibuk tidak karuan tanpa tujuan.

“Oalaaaah Kang, terkenal tiap tahun bawa pisau dan wungkal kok bangga. Bangga tuh kalau kemana-mana bawa otak,” sergah istri Kang Mukhari.

“Heh… hati-hati bicara Mak! Itu sama saja dengan penghinaan. Aku memang bodoh, dungu, leled, loading, atau apapun namanya Mak, tapi aku ini lelaki yang bertanggungjawab,” balas Kang Mukhari tidak terima dibilang tidak bawa otak.

Kang Mukhari melanjutkannya dengan nada tinggi dan suara bergetar, “Sudah aku bikinkan rumah, aku sediakan pakaian, aku jamin selalu makan kenyang kan? Kurang tanggung jawab apa aku ini sebagai suamimu?”

“Iyaa maaf Pak,” kata istrinya berusaha tulus.

Diam-diam istri Kang Mukhari merasa sangat menyesal telah mengeluarkan kata-kata kurang pantas kepada suaminya yang seharusnya dia hormati.

Kang Mukhari juga heran dan kaget, istrinya bisa ngomong sekasar itu. Rasanya selama bertahun-tahun bersama, suka dan duka dalam satu biduk rumah tangga, baru kali ini terjadi. Dia tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi.

Beberapa saat kemudian kedua pasangan suami istri itu terdiam membisu. Tak ada suara. Keheningan di rumah itu membuat hembusan dan helaan napas mereka menjadi jelas terdengar.

Mereka tenggelam dalam rasa sesal.  Hanya karena sebilah pisau  dan sebongkah wungkal mereka telah bersitegang sejak pagi. Mereka gelagapan dalam telaga lamunannya masing-masing. Untungnya mereka tidak terbiasa mengumbar beda pendapatnya dalam teriakan dan umpatan-umpatan terbuka.

Kang Mukhari dan istrinya bukan pasangan kemarin sore. Mereka tidak muda lagi. Tahun depan usia perkawinan mereka menginjak 20 tahun. Lima tahun lagi, kata orang, menginjak masa kawin perak. Mereka sering merasa harus bersyukur, tidak sedikit mahligai rumah tangga yang hancur sebelum usia perak.

Gelombang badai yang mereka lalui tidak selalu ringan, tetapi selalu berhasil mereka lewati. Masa-masa kritis mereka alami saat harus menunggu delapan tahun lahirnya si Buyung. Susah payah mereka berobat , memohon dan berdoa. Maka wajar kalau anak semata wayang ini agak dimanja.

Mereka berdua masih diam. Rasa mangkel, bosan, pusing dan galaunya membuat mereka tidak mampu membuka mulut. Mereka lelah dan capek. Kang Mukhari duduk di ruang tamu, sedangkan istrinya duduk di kursi dapur sambil merenung, lalu tertidur.

***

Entah berapa lama mereka tertidur lelap. Begitu lelapnya sampai-sampai suara azan panggilan salat Zuhur pun tidak mereka dengar. Demikian pun suara Ikamah tidak terdengar. Telinganya seakan tertutup bedug.

Mereka baru terbangun ketika si Buyung pulang membuka pintu dengan kasar dan menyuarakan salam keras-keras. Tidak biasanya dia berbuat seperti itu.

“Assalamualaikum Maaak…. Paaak,” ucap Buyung takut tak terdengar.

Buyung lalu menaruh beberapa bungkus kantong kresek ke atas meja dapur. Rupanya beberapa bungkus itu berisi daging kurban dan satu bungkus berisi sebilah pisau dan wungkal.

“Waalaikumsalam,” jawab Kang Mukhari dan emak si Buyung hampir berbarengan menjawab salam sambil melangkah mendatangi sumber suara.

Kedua suami sitri yang baru saja bertengkar itu mendapati anaknya, si Buyung berdiri tegak di dapur.

“Dari mana saja kamu Buyung, pergi enggak pernah pamit,” kata emaknya.

Si Buyung hanya memoncongkan mulut dan mengisyaratkan dengan matanya agar Emak dan Bapaknya menengok ke meja dapur.

Kang Mukhari dan istrinya tidak mampu berkata-kata lagi.

Tanjung, 17 Juli 2023.

Sarkoro Doso Budiatmoko

***

Judul: Sebilah Pisau dan Sekeping Wungkal Kang Mukhari

Penulis: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: JHK

Tentang Pengarang:

Sarkoro Doso Budiatmoko lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak dan Ibu Pranoto. Pendidikan formal hingga tingkat SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di IPB, Bogor dan Iowa State University, Ames, Iowa, Amerika Serikat.

Sarkoro Doso Budiatmoko
Sarkoro Doso Budiatmoko – (Sumber: koleksi pribadi)

Pengalamannya menjalani berbagai penugasan selama bekerja di Perum Perhutani memperkaya wawasan dan pemikirannya yang sering dituangkan dalam tulisan. Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, dan humaniora.

Atas dorongan Jumari Haryadi, Pemimpin Redaksi Pratama Media News, penulis pada 2023 mulai menulis cerita pendek (cerpen). Belasan cerpen sudah ditulis, antara lain berjudul: “Samsuri, Muazin yang Menghilang” lalu  “Fadhil, Dunia ini Tak Seindah Rembulan” dan “Bram Terbelenggu Rasa”.

Sebagian dari tulisan-tulisannya telah dibukukan dengan judul: “NAH…mengambil makna dari hal-hal kecil”, diterbitkan oleh SIP Publishing, Purwokerto, 2021. Tulisan-tulisan lainnya juga sedang disiapkan untuk dibukukan, termasuk kumpulan cerita pendeknya.

Pengalaman, pergaulan, dan wawasannya bertambah luas semenjak menjalani profesi sebagai staf pengajar dari 2016 di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto, UMP.

Penulis dikaruniai tiga orang anak dan beberapa cucu saat ini menetap di Purwokerto. Aktivitasnya, selain menulis dan mengajar, juga mengikuti berbagai seminar dan webinar, serta memenuhi undangan sebagai narasumber di beberapa event, termasuk dari RRI Pro-satu Purwokerto 14 Juli 2023 lalu.

***

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button