Empat Tahun Tragedi Kanjuruhan, Mahasiswa UIN SGD Bandung Gelar Long March, Doa Bersama, dan Street Football
PRATAMA MEDIA NEWS (PMN), Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (01/10/2026) – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung bersama Aksi Kamisan UIN SGD Bandung menggelar peringatan empat tahun Tragedi Kanjuruhan bertajuk “Justice for 135+”, di Kampus 1 UIN SGD Bandung. Acara yang dimulai pukul 14.00 WIB di depan Lecture Hall ini berisi kegiatan berupa long march, doa bersama, dan street football.
Presiden Mahasiswa UIN SGD Bandung, Abdurrahman Mohammed menjelaskan, selain memperingati empat tahun Tragedi Kanjuruhan, kegiatan ini juga bertepatan dengan Kamisan dan G30S dengan tujuan untuk merawat ingat agar memupuk rasa kemanusiaan dan kepedulian.
“Yang pertama kita serukan itu adalah peringatan empat tahun Tragedi Kanjuruhan ataupun Kanjuruhan Disaster yang memang itu menumpahkan korban sangat banyak sekali. Jumlah 135 itu bukan angka, tapi korban jiwa yang meninggal dunia dan cacat. Kemudian tidak bisa berkehidupan seperti kawan-kawan yang lainnya,” ungkap Abdurrahman.

Karena kebetulan kegiatan ini bertepatan dengan hari Kamis, sekalian mereka menggelar acara Kamisan. Juga bertepatan dengan G30S yang mana epistimesida pada tahun 1965.
“Saya tidak mengatakan lagi Genosida, tapi saya mengatakan epistimesida karena betul-betul pembantaian tiga juta warga,” tambah Abdurrahman, “Kami memperingati dan menolak lupa. Karena dengan menolak lupa dan merawat ingat, kita senantiasa bisa mumpuk rasa kemanusiaan. Itu sebetulnya poin intinya. Bagaimana rasa kemanusian kita, bagaimana rasa kepedulian kita terhadap sesama.”
Abdurrahman juga mengatakan peringatan ini sengaja dikemas berbeda dari aksi pada umumnya dengan konsep tidak kaku sehingga mendapatkan respon baik.
“Konsepnya tidak lagi kaku. Kami mencoba memformulasikan sesuatu yang baru dan alhamdulillah direspons dengan baik,” ujar Abdurrahman.

Tokoh mahasiswa UIN SGD ini menyebut tuntutan utama yang terus disuarakan adalah evaluasi terhadap aparat penegak hukum yang bertugas pada pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya. Abdurrahman menilai proses hukum memang berjalan, tetapi tidak menyentuh pertanggungjawaban secara menyeluruh.
“Pastinya evaluasi Aparat Penegak Hukum, TNI, Polri, dan sebagainya karena yang melaksanakan ataupun tugas pada 1 Oktober 2022 pertandingan antara Arema FC menghadapi Persebaya itu adalah aparat penegak hukum. Proses hukum memang berjalan, tapi dilupakan begitu saja. Jadi tuntutan yang kami bawa adalah bagaimana sekarang penegakan hukum itu tidak melihat siapapun yang maksanakannya. Tapi ketika memang itu melanggar aturan, dan melanggar undang-undang, ataupun melanggar human rights atau hak asasi manusia, itu harus kami suarakan untuk kemudian bisa ditindak lebih lanjut,” ungkap Abdurrahman .
Abdurrahman juga menyoroti penggunaan gas air mata di dalam stadion yang menurutnya dilarang aturan FIFA.
“Karena berdasarkan aturan FIFA pun, sebetulnya penggunaan gas air mata di dalam stadion itu tidak diperbolehkan. Jadi, ini bukan hanya sebatas permasalahan sepak bola, ini permasalahan hak asasi manusia,” tegas Abdurrahman .
Refleksi dan Solidaritas
Seorang anggota Aksi Kamisan UIN SGD Bandung yang meminta namanya tidak dipublikasikan menyebut kegiatan ini lebih sebagai refleksi daripada perayaan. Menurutnya, tujuan utamanya adalah menyampaikan kepada publik bahwa negara belum memberikan keadilan kepada para korban.
“Kami memberikan solidaritas untuk membersamai korban dan teman-teman yang sampai saat ini belum mendapatkan keadilan,” ujar salah satu anggota Aksi Kamisan tersebut.

Mahasiswa tersebut juga menjelaskan kegiatan ini digelar sebagai respon dari tragedi yang terjadi. Namun, tidak ada keadilan bagi korban jiwa. Merespon kejadian yang sebenarnya enggak harus pakai kacamata filsafat, tidak harus pakai kecamata apapun ketika korban jiwa yang sampai saat ini belum mendapatkan keadilan.
“Kita bisa melihat juga secara langsung visual bagaimana kejadian dan tragedinya, ketika aparat menembakkan gas air mata di stadion, lalu sampai saat ini tidak ada keadilan dan sempat tidak ada yang diadili juga,” kata mahasiswa peserta Aksi Kamisan tersebut.
Mahasiswa itu juga berharap kegiatan ini bisa sebagai pengingat kepada masyarakat luas bahwa kejadian serupa bisa terjadi kepada siapa saja.
“Saya berharap untuk masyarakat luas bisa lebih notice dan lebih aware karena kalau kita berkaca kan ternyata ini bisa saja terjadi kepada kita,” pungkas mahasiswa peserta Aksi Kamisan tersebut penuh harap.
Sementara itu salah seorang mahasiswa peserta Aksi Kamisan lainnya yang bernama Pijar Firmansyah mengatakan bahwa kehadirannya adalah bentuk menagih tanggung jawab atas nyawa yang hilang.
“Pada hari ini sebenarnya kita semua bukan hanya berbicara terkait manusia dan bukan hanya berbicara terkait sepak bola. Kami semua berbicara untuk menagih kemana mereka pergi, kemana mereka semua ketika memang ada nyawa yang hilang,” kata Pijar.
Pijar berharap kegiatan ini dapat membuka mata banyak pihak bahwa keadilan tidak selalu berpihak.
“Membuka mata rekan-rekan semuanya bahwa memang polisi tidak selama-lamanya baik dan polisi tidak selalu ada di pihak kita. Mereka semua membakar ruang-ruang kecil kita dan memanaskan api-api semangat kita bahwa memang keadilan tidak berpihak pada kita,” pungkas Pijar. (RM/PMN).
***
Judul: Empat Tahun Tragedi Kanjuruhan, Mahasiswa UIN SGD Bandung Gelar Long March, Doa Bersama, dan Street Football
Jurnalis: RM/PMN
Editor: JHK








