Gedung HOA Hadir sebagai Pusat Pelestarian Budaya Tionghoa di Indonesia
PRATAMA MEDIA NEWS (PMN), Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (29/09/2026) – Dibangunnya Gedung HOA sebagai pusat pelestarian budaya Tionghoa di Indonesia menjadi salah satu upaya untuk menjaga jejak sejarah sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya kepada masyarakat luas. Kehadirannya bukan sekadar menghadirkan sebuah bangunan dengan berbagai koleksi sejarah, tetapi juga membuka ruang pembelajaran agar generasi masa kini dapat memahami perjalanan panjang masyarakat Tionghoa sebagai bagian dari sejarah Indonesia.
Keberadaan masyarakat Tionghoa di Nusantara sendiri memiliki sejarah yang panjang. Interaksi antara masyarakat Tionghoa dengan penduduk Nusantara telah berlangsung selama berabad-abad dan melahirkan proses akulturasi dalam berbagai bidang, mulai dari seni, arsitektur, kuliner, bahasa hingga tradisi. Bahkan, Kementerian Kebudayaan menegaskan bahwa akulturasi Tionghoa dengan berbagai budaya lokal telah memperkaya khazanah kebudayaan Indonesia.

Dalam konteks itulah Gedung HOA menjadi penting. Ruang-ruang di dalamnya diharapkan dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, terutama bagi generasi muda yang mungkin tidak lagi akrab dengan cerita mengenai perjalanan komunitas Tionghoa di Indonesia.
Fam Kiun Fat, selaku tour guide Gedung HOA, menjelaskan bahwa gedung tersebut dibangun untuk melestarikan budaya Tionghoa sekaligus memperkenalkan sejarahnya kepada masyarakat.

“Agar generasi muda mengenal sejarah Tionghoa di Indonesia,” kata Fam Kiun Fat saat menjelaskan tujuan dibangunnya Gedung HOA kepada awak Pratama Media News, Selasa (29/09/2026).
Di dalam gedung terdapat sejumlah fasilitas dan ruang tematik. Pengunjung dapat menemukan auditorium yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan edukasi maupun pertunjukan budaya, ruang musik yang memperkenalkan berbagai alat musik tradisional Tionghoa, serta galeri sejarah yang menyajikan perjalanan masyarakat Tionghoa di Indonesia dari masa ke masa.

Galeri tersebut juga memperlihatkan berbagai informasi visual dan diorama mengenai migrasi masyarakat Tionghoa ke Nusantara, interaksi dengan masyarakat lokal, serta proses akulturasi yang kemudian menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Model semacam ini sejalan dengan upaya pelestarian kebudayaan melalui museum dan ruang edukasi yang memungkinkan generasi muda memahami sejarah secara lebih dekat.

Kehadiran pusat kebudayaan Tionghoa di Bandung juga mendapat perhatian karena dapat menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang masyarakat. ANTARA melaporkan bahwa pusat kebudayaan Indonesia-Tionghoa di Bandung diarahkan untuk mengenalkan seni dan budaya sekaligus menjadi sarana pembelajaran mengenai akulturasi serta toleransi dalam keberagaman.
Selain ruang sejarah dan budaya, Gedung HOA dilengkapi area kafe dan rooftop yang memberikan suasana lebih santai. Dengan demikian, pengunjung tidak hanya datang untuk melihat koleksi, tetapi juga dapat menikmati ruang interaksi bersama keluarga maupun teman.

Sebagai salah satu tamu undangan, Adit Barli mengapresiasi hadirnya Gedung HOA sebagai ruang pelestarian budaya. Menurutnya, keberadaan gedung tersebut dapat menjadi media pembelajaran yang menarik bagi masyarakat untuk mengenal sejarah dan budaya Tionghoa secara lebih dekat.
Hal senada disampaikan budayawan Sunda, Abah Alam. Ia menilai pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama agar warisan sejarah tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi terus dikenali oleh generasi mendatang.
Pada akhirnya, Gedung HOA bukan hanya berbicara tentang budaya Tionghoa. Ia juga berbicara tentang Indonesia yang tumbuh dari perjumpaan berbagai budaya. Sebab, seperti makna Bhinneka Tunggal Ika, keberagaman bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan kekayaan yang membuat Indonesia memiliki wajah yang begitu berwarna. (RM/PMN).
***
Judul: Gedung HOA Hadir sebagai Pusat Pelestarian Budaya Tionghoa di Indonesia
Jurnalis: RM/PMN
Editor: JHK






