Bram Terbelenggu Rasa
Sebuah cerpen karya Sarkoro Doso Budiatmoko, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat
Pratama Media News, cerita pendek (cerpen) berjudul “Bram Terbelenggu Rasa” ini merupakan karya Sarkoro Doso Budiatmoko, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat.
Bram tidak pernah bosan memutar ulang lagu-lagu lawas. Isi kepalanya dipenuhi lagu-lagu yang popular kala itu, kala masih di SMP, SMA, dan awal kuliah.
Kini saat ia sudah punya istri, anak, dan cucu, lagu-lagu yang ia dengarkan sebagian menjadi kenangan manis yang susah hilang dari ingatan. Sebagian lagi biasa-biasa saja dan sisanya malah menjadi kenangan buruk yang juga susah dihapus dari memorinya.
Sambil menikmati lagu, pikirannya terbang melayang kesana-kemari berseliweran bersama kenangan masa lalunya. Di antara yang berseliweran ada nama-nama kawan sekolah, teman bermain gundu, layang-layang, dan sepak bola. Ada juga teman belajar bersama. Sebagian masih hidup dan sebagian lagi sudah dipanggil Tuhan yang Maha Kuasa.
Dari banyak kawannya, nama Tina menempati urutan yang istimewa. Ia adalah teman sekolah cewek yang paling cantik di mata Bram, paling luwes, paling manis, paling baik, dan tentu saja paling menarik hatinya. Hampir semua lagu yang didengarnya langsung membawa kenangan ke Tina.

Ketika didengarnya lagu “Bis Sekolah” karya Grup Band Koes Bersaudara, langsung mengingatkan Bram ketika hampir tidap pagi ia berdiri di depan rumah menunggu Tina lewat naik sepeda motor bebek. Bram ingat sapaan pertamanya, “Hai, Tina.”
“Hai juga,” jawab Tina sambil tersenyum simpul tipis.
Kala itu Bram gembira bukan main mendengar suara jawaban Tina. Besoknya Bram megulang lagi sapaannya. Begitu terus setiap hari. Senyum simpul Tina yang menyembulkan sedikit ujung gigi gingsulnya itu membuat Bram tidak sabar menunggu datangnya esok pagi.
Setiap pagi lagu manis karya lain dari Koes Bersaudara berjudul “Pagi yang Indah” terngiang-ngiang di gendang telinganya.
Sapaan Bram tiap pagi di depan rumah menjelang sekolah tidak sia-sia. Dalam beberapa waktu, kedekatan mereka berangsur berkembang menjadi kedekatan teman istimewa. Sebenarnya banyak kawan laki-laki yang juga mengagumi Tina, tetapi hanya Bram yang berani beraksi menapak mendekat.
Alam juga seperti menggiring mereka menjadi dua sejoli yang serasi. Bram melangkah jauh di depan meninggalkan kawan-kawan lain yang hanya bisa menyukai Tina sebatas khayal dan imajinasinya sendiri-sendiri. Bram dan Tina pun sudah tidak ragu dan malu lagi untuk jalan bareng.
Pria yang kini sudah menjadi kakek beberapa cucu ini belum lupa, meski ketika itu sudah begitu lengket, ia belum juga secara jelas menyampaikan rasa sukanya. Suatu hari dicobanya untuk ngomong langsung, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan. Tidak satu pun kata suka keluar dari mulutnya.
Bram sebenarnya juga sudah mencoba ngomong saat mentraktir Tina makan bakso, tetapi yang terjadi, baksonya masuk mulut, lidahnya tetap kelu dan kata “aku suka kamu” tak kunjung keluar.
Tidak ada pilihan lain, akhirnya Bram menyatakan rasa sukanya melalui selembar kertas putih yang ditulisi “I Do Love You Tina”. Kertas itu lalu ditandatangani dan dimasukkan ke amplop coklat bertepi strip merah-putih-biru.
Ingat sekali, amplopnya ditempeli selembar prangko kilat bergambar bunga Anggrek Bulan. Bram tidak lupa menulis kata “kilat”, sebuah pesan untuk Pak Pos agar surat itu segera diantar ke alamat Tina. Tidak seperti jaman sekarang, saat itu hanya Pak Pos satu-satunya yang bisa dimintai tolong mengantar pesan.
Bram dan Tina tinggal dalam satu kota dan jaraknya tidak lebih dari satu kilometer. Namun, lelaki muda ini tidak sabar, ingin agar perasaan sukanya kepada Tina yang tidak tertahan lagi itu segera sampai.
Hari-hari berikutnya adalah hari yang sangat membosankan dan melelahkan bagi Bram, mulai dari bangun tidur hingga saat tidur, hanya surat balasan dari Tina yang dipikirnya. Otaknya memproduksi banyak sekali kalimat tanya:
Suratku sudah sampai belum ya?
Kok belum dibalas ya?
Masa lama banget sih?
Apa rasa sukaku ditolak ya?
Apa sudah ada lelaki lain ya?
Namun, semua pertanyaan itu dijawabnya sendiri dalam hati, rasaku pasti dirasakannya juga dan ungkapan perasaanku pasti diterimanya, sabar saja dulu.
Sabar. Iya, sabar memang satu kata enak diucapkan dan merdu didengar, tetapi sungguh sulit dilaksanakan. Ia lalu ingat lagu The Beatles berjudul “Please Mr. Postman” pada potongan syair:
“Please Mister Postman, look and see. Is there a letter, a letter for me…”
Lalu doa pun ia panjatkan siang dan malam, Ya Allah, lembutkanlah hati Tina dan terimalah rasa sukaku.
Rupanya doanya didengar Tuhan. Sepekan kemudian di tengah terik panas siang hari datang Pak Pos ke rumahnya, “Pos-pos, ada surat untuk Bramastyo.”
Bram lari mendekat ke Pak Pos, “Iya saya Bramastyo Pak, mana-mana suratnya?”
“Sebentar, sabar Mas. Niiih …, ” jawab Pak Pos.
Bram segera meraih surat dari Pak Pos, “Terima kasiiiih Pak, sudah saya tunggu setahun lebih, ha … ha … ha …, becanda Pak.”
Bram melihat surat balasan dari Tina yang amplopnya berwarna putih bertepian strip merah-biru-putih dengan tempelan perangko bergambar Pahlawan Diponegoro. Gemetar tangan Bram menerimanya dari Pak Pos.
Kini kepalanya berpikir keras menduga-duga isinya, ditolak atau diterima. Buru-buru Bram membawa suratnya masuk kamar lalu mengunci pintu dan duduk di tubir kasur. Dengan sangat hati-hati disobeknya tepian ujung amplop dan ditariknya ujung kertas suratnya.
Sambil membaca bismillah, Bram membuka kertas putih bersih yang ada di tangannya, lalu terbaca tulisan, singkat saja: “So Do I Bram…”. Bram gembira bukan alang kepalang.
“Yiiiihhaaaaa,…. Dia suka aku jugaaa…!!!” teriak Bram di kamarnya.
Lalu dari stereonya berkumandanglah berdebam-debam lagunya James Brown, penyanyi berkulit hitam, berjudul “I Feel Good”.
Bagi Bram hingga hari ini, tidak ada hari seindah hari itu. Tidak ada tulisan sebagus tulisan “So Do I Bram…” dari Tina. Hari itu Bram menjadi tidak bisa diam. Tubuhnya terus bergerak dan seisi bumi ini seakan menari-nari mengikuti irama riang tubuhnya.
Bram masih ingat sekali, saat itu dunia ini pun seperti menjadi miliknya dan Tina berdua. Hebatnya lagi, penghuni bumi yang lain seakan juga maklum-maklum saja dan ikut merasa senang dan mempersilahkan mereka berdua menjadi pemilik dunia ini.
Harum dan indahnya bunga-bunga seolah melingkupi asmara dua muda-mudi ini. Alunan ombak di pantai juga menyambut mereka. Langit yang biasa berwarna biru bersih, kali ini tampak bernuansa pink.
Sekian lama menjalin asmara cinta, kemana pun pergi mereka selalu berdua, ke pantai, ke bukit, ke gunung, ke gedung bioskop, ke angkringan, ke perpustakaan, dan ke pasar. Tangan mereka seakan tidak pernah lepas dari gandengan. Kemesaraan mereka mengalahkan kemesraan gandengan gerbong-gerbong Kereta Api.
Namun, kata-kata bijak berkata bahwa “tidak ada yang langgeng di dunia ini” terbukti,.
Sampai di bagian sini Bram enggan untuk meneruskan rangkaian kenangan masa mudanya. Berkali-kali rangkaian ceritanya selalu berhenti di sini. Ia tidak kuasa menahan pahitnya sepotong perjalanan hidupnya. Ia dengan keras berusaha untuk melupakan dan mengikhlaskan, tetapi sulit sekali. Rasa itu membelenggunya.
Bram yang kini menekuni pekerjaan, hobi, dan memperbanyak ibadah sebenarnya ingin hidup tenang. Namun, keinginan itu sering tergoda ketika dia mendengar suara-suara musik cadas yang bernada perlawanan.
Lagu dan musik cadas itu adalah ekspresi Bram yang tidak berdaya melawan dan tidak kuasa membantah. Orang-orang yang ia segani dan ia hormati mengeluarkan titah tak terbantahkan yang memisahkan Bram dan Tina dari mimpi-mimpi indahnya.
Setelah itu mereka terpisah. Bram dan Tina terpisah seperti selembar kertas yang terkoyak menjadi dua dan tak mungkin bersatu kembali.
Lagu The Deep Purple berjudul “Highway Star”, mengingatkan pada perlawanannya terhadap ketajaman kata-kata dan keangkuhan tangan-tangan perkasa yang telah merenggut mimpinya.
Tertanam dalam ingatan, dengan iringan lagu di kepalanya, Bram turun ke jalan raya dan menjalankan mesin sepeda-motornya pada malam hari dalam kecepatan maksimal tanpa tujuan. Berdebum-debum musik dan suara syairnya:
Nobody gonna take my girl
I’m gonna keep her to the end
Nobody gonna have my girl
She stays close on every bend
Ooh she’s a killing machine
She’s got everything
Like a moving mouth body control
And everything
I love her I need her
I seed her
Bram tidak peduli lagi dengan rambutnya yang kelimis dan bajunya yang rapi. Bahkan, keselamatan jiwanya pun tidak dia hiraukan. Kenekatannya di jalan raya akhirnya dihentikan oleh tangki bensinnya yang kehabisan isi.
Bram benar-benar belum bisa lupa kata-kata tak terbantahkan dan tangan-tangan tak terkalahkan yang memisahkan dan menghancurkan mimpi-mimpi indahnya.
Bram terseok-seok menapaki hari-harinya. Ia ingin tetap bisa maju dan suatu hari akan membuktikan pada diri sendiri bahwa ia juga kuat, perkasa, dan tidak sepantasnya diremehkan.
Bram juga sadar bahwa ujian hidup bukan hanya soal asmara, banyak hal lain akan ditempuhnya sebagai ujian. Ia yakin akan mampu melaluinya, tumbuh kuat, tangguh, dan perkasa.
Purwokerto, 1 Juni 2023
Sarkoro Doso Budiatmoko
***
Judul: Bram Terbelenggu Rasa
Penulis: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: JHK
Tentang Pengarang:
Sarkoro Doso Budiatmoko, lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak Pranoto dan almarhumah Ibu Fari’ah. Pendidikan hingga SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di IPB (1984), Bogor dan pascasarjana di Iowa State University (1996), Amerika Serikat.

Pengalamannya menjalani berbagai penugasan di Perum Perhutani memperkaya wawasan dan pemikirannya yang sering dituangkan di media massa. Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, budaya, dan sumberdaya manusia. Aktifitasnya menulis tidak surut meski sudah purna-tugas beberapa tahun lalu.
Penikmat buku dan bacaan ini juga dipercaya mengasuh rubrik Kolom di Majalah “Bina Media Berita Kehutanan & Lingkungan” yang diterbitkan oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Tulisan Sarkoro Doso berjudul “Setelah PHL, Lalu?” pernah terbit di Majalah Duta Rimba Edisi 42 (Mar-April 2012) – Penerbit Perum Perhutani, Jakarta, Indonesia.
Kini rimbawan berpengalaman yang berasal dari Perum Perhutani Unit II Jawa Timur aktif menulis blog di Kompasiana. Beberapa tulisannya di platform asuhan Kompas online tersebut di antaranya artikel berjudl “Bijak Memilih: Orang, Pasangan, dan Pemimpin” yang terbit pada 20 Mei 2021 dan artikel berjudul “Hidup Akal Sehat” yang terbit pada 31 Mei 2021.
Penulis dikaruniai tiga orang anak. Saat ini dia menetap di Purwokerto dengan kesibukan menulis dan menjadi staf pengajar di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).
***








