ArtikelLiterasiOpiniPratama Media NewsSastra

Hujan Cerpen di Rempah Kehidupan

Sebuah catatan kecil seorang juri dalam menilai karya peserta lomba menulis cerpen

PRATAMA MEDIA NEWS (PMN)Kolom OPINI, Minggu (20/10/2024) – Artikel berjudul Hujan Cerpen di Rempah Kehidupan ini adalah sebuah esai karya Didin Kamayana Tulus yang merupakan seorang penulis produktif dan penggiat perbukuan yang sarat pengalaman. Kini ia  tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Sore itu, hujan menyapa Kota Cimahi dengan rintik-rintik lembut, seolah membisikkan rasa syukur di hati. Di tengah dinginnya suasana, aku berjalan pulang dengan perasaan lega, mengakhiri perjalanan panjang sebagai juri lomba mengarang cerpen tingkat pelajar yang diselenggarakan oleh Dinas Arsip Daerah (Disarda) Kota Cimahi. Tugas yang penuh dengan warna dan cerita ini baru saja selesai, sementara bayangan karya-karya yang telah kubaca masih berputar-putar di pikiranku.

Sejak tanggal 4 November, aku bersama dua juri lainnya tenggelam dalam dunia yang diciptakan oleh anak-anak berbakat ini. Naskah demi naskah kami bedah dengan seksama, membaca setiap kalimat yang penuh dengan harapan, kesedihan, dan kegembiraan, serta mimpi yang dituang para siswa dengan pena mereka.

Didin Kamayana Tulus
Didin Kamayana Tulus, penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Melalui tulisan-tulisan itu, aku dapat melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda, penuh imajinasi dan cita-cita. Ada rasa haru ketika aku menyadari bahwa di balik setiap cerita, ada jiwa-jiwa muda yang mencoba mengukir dunia mereka sendiri, mengajak kami masuk ke dalam petualangan batin mereka yang terkadang sederhana, tetapi menyentuh hati.

Puncak dari penjurian itu tiba pada 8 November 2024. Sejak pukul 13.00, kami, para juri, duduk berhadapan, berdiskusi panjang tentang setiap karya yang sudah kami baca. Diskusi ini tidak mudah; kami sempat terlibat dalam perdebatan sengit karena setiap karya memiliki keunikan tersendiri yang tak dapat diabaikan.

Ada cerita yang membuat kami tertawa, terdiam, dan merenung dalam-dalam. Pada akhirnya, setelah berjam-jam, kami berhasil menyepakati siapa yang layak menyandang gelar juara.

Lapar sempat menghampiri kami di tengah-tengah diskusi. Untungnya, panitia menyediakan makanan ringan—roti, pizza, dan teh kotak. Namun, saking larutnya dalam perdebatan, kami lupa untuk makan.

Setiap kali aku hendak meraih makanan, diskusi baru dimulai lagi, membuatku kembali tenggelam dalam pembicaraan. Hingga akhirnya, saat keputusan akhir telah dibuat, aku membawa pulang makanan ringan itu sebagai oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Sederhana, tetapi terasa istimewa, seperti membawa pulang serpihan kecil dari kenangan hari itu.

Sebelum beranjak pulang, panitia memberikan map berisi berkas yang harus kutandatangani. Saat kulihat nominal honorarium yang tertulis di situ, sekejap semangatku kembali membara. Lelah yang sempat mendera, serta dinginnya ruangan karena AC, hilang begitu saja.

Honor yang kuterima ini menjadi anugerah tersendiri, seperti rezeki yang datang di tengah hujan. Aku membayangkan uang itu bisa kupergunakan untuk mengajak keluarga makan malam, menikmati ayam penyet kesukaan anakku, serta sebagian lagi akan kupergunakan untuk membayar biaya sekolah mereka. Dalam hati, aku bersyukur dan berjanji akan memberikan yang terbaik untuk keluargaku.

Saat aku melangkah keluar ruangan, hujan masih mengguyur deras. Kami bertiga—aku dan dua juri lainnya—berjalan pelan menuju pintu keluar sambil berbincang santai. Obrolan mengalir ringan dari cerita seputar lomba cerpen tadi hingga ke topik-topik menarik lainnya. Salah satunya tentang bahasa dan budaya Sunda yang selama ini menjadi bagian dari keseharian kami.

Kami bertiga membahas betapa indahnya bahasa Sunda dengan segala kelembutannya, serta keunikan karakter orang Sunda yang ramah dan suka bergurau. Obrolan kami yang awalnya ringan perlahan menjadi perenungan, mengingatkan kami pada keindahan tradisi yang kami bawa sejak kecil.

Hujan sore itu seperti membawa aroma kenangan, aroma yang mengingatkanku pada banyak hal: pada usaha, pengorbanan, dan rasa syukur. Sebuah pengalaman yang tak hanya mempertemukan aku dengan kisah-kisah dari generasi muda, tetapi juga menyadarkanku betapa berharganya setiap momen yang kulewati.

Hari itu, aku pulang dengan rasa hangat di hati, meski basah oleh hujan. Hujan yang bagi banyak orang mungkin sekadar rintik air yang turun dari langit, tetapi bagiku, hujan kali ini terasa seperti cerpen yang ditulis oleh alam, membasahi kota dan memberi harapan baru di setiap tetesnya.

Di perjalanan pulang, pikiranku kembali pada karya-karya yang tadi kami nilai. Di dalam setiap kata yang ditulis oleh anak-anak itu, ada mimpi-mimpi kecil yang mungkin suatu hari akan menjadi nyata. Siapa yang tahu, mungkin salah satu dari mereka akan menjadi penulis besar suatu saat nanti, menginspirasi banyak orang melalui kata-katanya.

Mungkin, dalam beberapa tahun ke depan, aku akan melihat nama-nama mereka terpajang di rak buku toko besar dan aku akan mengingat bahwa aku pernah menjadi saksi dari awal perjalanan mereka.

Di penghujung hari, ketika aku akhirnya tiba di rumah. Rasa syukur memenuhi dadaku. Sore itu, bukan hanya aku yang membawa pulang kenangan, tetapi juga harapan dan kebanggaan. Hujan, cerpen, dan semua pengalaman hari itu seolah-olah menjadi rempah yang menambah cita rasa dalam kehidupanku. (Didin Tulus/PMN)

***

Judul: Hujan Cerpen di Rempah Kehidupan
Penulis: Didin Kamayana Tulus, Penggiat Buku tinggal di Kota Cimahi.
Editor: JHK

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button