PRATAMA MEDIA NEWS (PMN), Kota Cimahi, Senin (27/05/2024) – Freemason adalah sebuah organisasi persaudaraan yang asal usulnya tidak jelas. Freemason diperkirakan berdiri semenjak abad ke-16 hingga awal abad ke-17.

Jejak Freemason sebagai organisasi rahasia selama berabad-abad, seringkali dipandang oleh penduduk dunia sebagai dalang di balik dari peristiwa-peristiwa besar dunia. Istilah Freemasonry dalam bahasa Inggris, terdiri dari dua kata yaitu Free yang artinya bebas, dan masonry yang artinya membangun.
Freemasonry dalam Bahasa Belanda disebut Vrijmetselarij yang memiliki arti Vrij yaitu bebas, dan metselarij berarti membangun. Begitupula dalam Bahasa Prancis dikenal dengan Franc-maçonnerie.
Orang-orang Belanda yang berada di Nusantara pada saat itu masih bernama negeri “Hindia Belanda” adalah awal dari mulanya Freemason masuk kemudian berkembang sangat pesat. Sebut saja tokoh Freemason Hindia Belanda bernama Jacob Cornelis Radermacher menjadi salah satu tokoh yang membawa pengaruh Freemason di Indonesia.
Pada tahun 1950, Presiden Soekarno memanggil para tokoh Freemason Tertinggi Hindia Belanda, saat itu lokasi bernama Lodge Aduchstat atau yang sekarang menjadi Gedung Bappenas – Menteng, Jakarta. Para tokoh Freemasonry itu seolah mengelak dan menyatakan istilah “setan” mungkin berasal dari pengucapan kaum pribumi terhadap “Sin Jan” (Saint Jean) adalah salah satu tokoh suci kaum Freemasonry. Meski mereka mengelak, namun Presiden Soekarno tetap tidak percaya begitu saja.
Akhirnya, pada Februari 1961, lewat Lembaran Negara nomor 18/1961 bahwa Presiden Sukarno membubarkan sekaligus melarang keberadaan Freemasonry di Indonesia. Karena, tidak sesuai dengan asas atau bersumber budaya timur melainkan dari barat. Lembaran Negara ini kemudian dikuatkan oleh Keppres Nomor 264 tahun 1962 yang membubarkan dan melarang Freemasonry dan segala derivatnya seperti Lions Club, Rotary Blub, dan Baha’isme.
Pada saat itu, banyak loji Freemason di seluruh Indonesia disita oleh negara. Salah satu jejak freemason yang berupa makam dengan lambang ciri khas freemason seperti jangka & mistar pada nisan bernama Ben Strasters.

“Kuburan sosok Freemason ini masih dikunjungi dan terawat hingga saat ini,” ucap penjaga makam yang beralamat di Jl. Pandu No 32 Bandung. Sedangkan, Ben Strasters itu sendiri adalah seorang suami kedua dari istri bernama Nyi Raden Fatimah Singawinata asal Cimahi. Sosok Nyi Raden Fatimah Singawinata adalah pendiri Hotel Tjimahi atau Hotel Tua Cimahi.
Penelitian lebih lanjut mengenao freemason dan freemansory dunia memang belum banyak terbuka bebas. ini mulai banyak dikaji banyak komunitas sejarah di Indonesia. Beberapa komunitas sejarah sudah menelusuri seputar situs sejarah freemason di Indonesia khususnya di Kota Bandung.
Meskiipun demikian, literatur/bahan bacaan lokal (berbahasa indonesia) masih terbatas karena kerahasiaan organisasi tersebut. Sumber kajian untuk freemason sendiri masih berakar pada sumber luar, khususnya Amerika Serikat. (Ilham MS)
***
Judul: Peninggalan Freemason, Organisasi Rahasia yang Dituding Dalang Dibalik Kekacauan Dunia, Di Kota Bandung
Jurnalis: Ilham MS
Editor: Rose Mariadewi
Sumber: Wawancara langsung dengan Penjaga Ereveeld Pandu








