ArtikelOpiniPratama Media News

Lupa Bahagia

Orang sering lupa diri, bersusah-susah mencari bahagia hingga ke ujung cakrawala, padahal kebahagiaan dekat dan mudah diraih. Dia ada di hati.

Lupa Bahagia oleh Sarkoro Doso Budiatmoko – Ada pesan bagus yang sekarang sedang banyak beredar. Bunyinya: “bahagia itu sederhana”. Sering disertai dengan ilustrasi yang menggambarkan betapa rasa bahagia itu memang bisa bersumber dari hal-hal sederhana. Seperti, anak kecil yang berjingkrakan riang karena diijinkan ibundanya bermain hujan-hujanan atau seorang kakek yang pulang ke rumah dengan bahagia disambut tawa ceria cucu kecilnya. Banyak lagi ilustrasi lainnya dalam berbagai corak ragam situasi.

Pesan tentang bahagia ini menyebar ke segala lapisan masyarakat melalui banyak media, dari media sosial hingga tulisan di pantat bak truk. Sepotong pesan yang pelan, tapi pasti ini akan menggeser persepsi tentang bahagia yang selama ini terlanjur menjadi anggapan umum.

Anggapan umum selama ini menyebut bahagia itu adalah memiliki rumah bagus, makan lezat, minum minuman enak, menyantap buah segar, duduk di kursi empuk dan ongkang-ongkang di pinggir kolam renang. Atau bahagia itu adalah berwisata ke tempat eksklusif, naik pesawat dan mobil mewah.

kapal pesiar
Ilustrasi: Ada orang yang bahagia ketika bisa berwisata naik kapal pesiar mewah (Sumber: news.com.au)

Bisa juga dianggap bahagia karena sering makan di retoran dengan menu yang namanya susah diucapkan dan rasanya aneh di lidah. Bahagia juga sering dipersepsikan berpakaian mahal dengan model mutakhir ditambah cangklongan tas branded harga selangit.

Pesan tentang bagaimana berbahagia secara sederhana ini sangat pas dengan kenyataan bahwa untuk bahagia memang tidak selalu harus kaya dan yang kaya pun belum tentu selalu bahagia dengan kekayaannya. Sebaliknya yang kurang beruntung pun belum tentu tidak bahagia. Bahkan, orang yang berkuasa, memiliki segalanya dan bisa mewujudkan semua keinginannya pun bisa berbahagia. Cukup dengan pergi ke pinggir kota berdiri di pinggir sawah menghirup udara segar dan berbagi senyum dengan sesama.

wanita di tengah sawah
Ilustrasi: Ada orang yang bahagia dengan berada di tengah sawah sambil melihat padi menguning (Sumber: instagram @princessyahrini)

Seorang Presiden juga tampak sangat bahagia ketika bercengkerama dengan cucunya. Kebahagiaan yang melebihi kebahagiaannya ketika memiliki kedudukan paling penting di sebuah negeri.

Kata-kata “bahagia itu sederhana” menjadi mantra mujarab dan bisa berfungsi sebagai katup pengaman keluar dari tekanan berat di masa pandemi. Tekanan dari rasa takut dan panik terpapar. Tekanan karena terpapar dan harus masuk Rumah Sakit. Tekanan karena kehilangan orang-orang tersayang, kehilangan pekerjaan, kehilangan sumber usaha, dan lebih tragis lagi, tekanan karena kehilangan segalanya. Tekanan yang bisa membuat orang lupa bagaimana caranya bisa berbahagia.

Sedih kehilangan job
Ilustrasi: Sedih karena kehilangan jabatan bisa membuat orang lupa bahagia (Sumber: (aha.io)

Ungkapan ampuh itu juga bisa mendinginkan hati orang yang sering dilanda iri dan mudah lupa untuk mensyukuri kebahagiaan yang ada pada dirinya. Orang yang memandang halaman rumah orang lain lebih hijau. Orang yang selalu berpikir dirinya tidak sebahagia yang lain. Sementara di lain pihak, orang lain pun berpikiran sama. Dia tidak sebahagia orang lain. Bahasa Jawa mengungkapan situasi itu dengan singkat, sawang sinawang atau saling memandang.

Sawang sinawang mengajarkan orang untuk tidak terlalu silau dengan gemerlap cahaya, atau terlalu khawatir dengan gelap gulitanya malam kelam. Apa yang menjadi sumber kebahagiaan bagi seseorang belum tentu bisa menjadi sumber yang sama bagi yang lain. Mungkin saja, sumber bahagia bagi orang lain menjadi sumber bencana bagi dirinya.

Dalam sawang sinawang, pandangan seseorang sangat tergantung pada peran dan posisinya saat itu. Seorang pengendara sepeda motor di jalanan yang padat merayap, sering merasa sebal dan kesal saat harus berebut jalan dengan pengguna jalan yang lain. Sesekali mengumpat pengemudi mobil sebagai sombong dan egois karena dianggapnya tidak memberi kesempatan sepeda motor untuk mendahului.

Ketika di hari lain mengendarai mobil, lain lagi perasaan yang muncul. Umpatan meluncur ke pengendaraa sepeda motor sebagai egois, mentang-mentang, dan tidak tahu aturan ketika  disalip dan ditikung seenaknya.

Juga bagi seorang pengatur lalu lintas, tentu akan kesal kalau ada pemakai jalan yang seenaknya sendiri melanggar rambu dan aturan lalu lintas yang membahayakan orang lain. Rasanya ingin menghentikan dan memberinya bukti pelanggaran. Di saat lain, giliran dia menjadi pemakai jalan yang ingin segera sampai ke tujuan, lampu merah pun dilanggarnya.

Anak kecil bermain hujan
Ilustrasi: Anak kecil bisa bahagia hanya dengan bermain hujan-hujanan (Sumber: tribunnews.com)

Di dunia ini tidak ada orang yang selama hidupnya hanya memerankan satu peran. Banyak orang menjalani berbagai macam peran. Bahkan, tidak sedikit orang yang dalam satu waktu membawakan beberapa peran sekaligus. Memandang kebahagiaan atau pun kekurangan orang lain kurang lebih akan sama dengan memandang kebahagiaan dan kekurangan diri sendiri.

Alangkah bahagianya bila seseorang dalam setiap posisi dan perannya mampu menemukan kebahagiaan-kebahagiaan sederhana. Seperti merasa bahagia karena kesehatan pada dirinya sehingga bisa merasakan kenikmatan-kenikmatan yang lain. Seperti juga merasa bahagia karena bisa berbagi harta, ilmu, wawasan, pengalaman, dan perhatian atau sekedar berbagi senyum dengan yang lain.

Sesuatu yang sebenarnya memang sederhana, tetapi ternyata tidak selalu mudah dilakukan. Sebagaimana juga tidak mudah melaksanakan pesan bagus lainnya: “jangan lupa bahagia”. Sebuah pesan sederhana, tetapi orang justru sering lupa.

Orang sering lupa diri, bersusah-susah mencari bahagia hingga ke ujung cakrawala, padahal kebahagiaan dekat dan mudah diraih. Dia ada di hati.

Kampus Dukuhwaluh, 27 September 2021.

(Lupa Bahagia oleh Sarkoro Doso Budiatmoko)

 

Editor: JHK

***

Tentang Penulis:

Sarkoro Doso Budiatmoko, lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Pranoto dan almarhumah Fari’ah. Pendidikan hingga SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di IPB (1984), Bogor dan pasca sarjana di Iowa State University (1996), di Amerika Serikat.

Pengalamannya menjalani berbagai penugasan di Perum Perhutani memperkaya wawasan dan pemikirannya yang sering dituangkan di media massa. Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, budaya, dan sumberdaya manusia. Aktifitasnya menulis tidak surut meski sudah purna-tugas beberapa tahun lalu.

Penkmat buku dan bacaan ini juga dipercaya mengasuh rubrik Kolom di Majalah “Bina Media Berita Kehutanan & Lingkungan” yang diterbitkan oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Tulisan Sarkoro Doso berjudul “Setelah PHL, Lalu?” pernah terbit di Majalah Duta Rimba Edisi 42 (Mar-April 2012) – Penerbit Perum Perhutani, Jakarta, Indonesia.

Kini rimbawan berpengalaman yang berasal dari Perum Perhutani Unit II Jawa Timur aktif menulis blog di Kompasiana. Beberapa tulisannya di platform asuhan Kompas online tersebut di antaranya artikel berjudl “Bijak Memilih: Orang, Pasangan, dan Pemimpin” yang terbit pada 20 Mei 2021 dan artikel berjudul “Hidup Akal Sehat” yang terbit pada 31 Mei 2021.

Menikah dengan Noor Triageng Pakarti, penulis dikaruniai tiga orang anak, Andita Setiarini, Reza Krishnawardana dan Anakiowa Padmandaru. Saat ini dia menetap di Purwokerto dengan kesibukan menjadi staf pengajar di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button