CerpenLiterasiPratama Media News

Santet

Sebuah cerpen hasil karya Satria Wijaya

Pratama Media News – Santet – Malam semakin larut, hujan deras masih mengguyur bumi dengan diiringi suara petir yang menggelegar. Tak seperti biasanya, Mas Anton, suami Parti, belum juga pulang ke rumah. Biasanya dia selalu pulang tepat waktu setelah jam kerja selesai.

Parti merasa khawatir dan gelisah. Dia mencoba menghubungi Mas Anton. Namun, tak ada jawaban dari ponselnya. Setelah beberapa lama menunggu, Parti memutuskan untuk keluar rumah dan mencari suaminya.

Parti berjalan menyusuri jalan yang penuh genangan air hingga tiba di kantor suaminya. Namun, kantor itu sepi dan gelap gulita. Tidak ada satu orang pun yang terlihat di sana.

Perempuan itu kembali berjalan menuju ke rumah sambil menggigil karena hujan semakin deras. Ketika Parti lewat di depan kuburan tua di pinggir jalan, dia mendengar suara gemerisik daun dan ranting pohon.

Istri Mas Anton tersebut mencoba mengabaikan suara itu dan melanjutkan perjalanannya. Namun, Parti merasa ada sesuatu yang mengikuti dan memperhatikannya dari belakang. Dia berbalik dan melihat bayangan hitam misterius di kejauhan yang terus mendekatinya.

Santet
Ilustrasi santet – (Sumber: Satria Wijaya)

Parti semakin ketakutan dan berlari secepat mungkin. Dia mencoba masuk ke sebuah jalan kecil yang terdapat di dekatnya. Namun, ternyata jalan itu buntu. Parti merasa terjebak dan tak bisa melarikan diri.

Tiba-tiba Parti merinding. Dia merasakan ada sentuhan dingin di seputar punggungnya. Ketika perempuan itu berbalik, dia melihat sosok misterius dengan mata merah menyala menatapnya tajam. Sosok itu meluncur cepat menuju Parti dan mencengkeramnya dengan kuat.

Parti berteriak minta tolong, tetapi tak ada seorang pun yang datang membantunya. Dia merasa dirinya mulai kehilangan kesadaran. Tiba-tiba, dia terbangun di tempat tidurnya dengan tubuh masih menggigil dan berkeringat dingin.

Parti merasa lega bahwa itu hanya mimpi buruk. Namun, dia melihat bekas cakaran di lengannya dan rasa sakit di tubuhnya. Dia merenung dan bertanya-tanya dalam hatinya, apakah ini kejadian di dunia nyata ataukah cuma sekadar mimpi kosong belaka?

***

Parti bangun dari tempat tidurnya. Dia masih dalam keadaan shock dan ketakutan setelah mengalami mimpi buruk. Dia berusaha merenungkan apa yang terjadi dan mencoba menenangkan diri. Namun, ketika dia melihat bekas cakaran di lengannya, dia yakin bahwa kejadian itu bukanlah mimpi semata.

Parti mulai mengumpulkan keberaniannya dan memutuskan untuk mencari tahu apa yang terjadi pada suaminya yang belum juga pulang ke rumah. Lantas dia memutuskan untuk mendatangi kedai kopi Pak Udin, tempat Mas Anton biasa kumpul dengan teman-temannya, sambil minum kopi.

Setelah mencapai kedai kopi Pak Udin, Parti tidak melihat mas Anton. Justru yang ada hanya Pak Udin seorang diri.

“Maaf Pak Udin, apakah tadi Mas Anton ada kesini?” Tanya Parti dengan suara gemetar.

Pak Udin mengangkat kepala dan melirik ke arah Parti, “Tidak Parti, hari ini Mas Anton belum ke sini. Ada apa dengan Mas Anton, sampai Parti harus hujan-hujanan datang ke tempat ini untuk mencarinya?”

“Maaf mengganggu, Pak Udin. Saya mencari Mas Anton. Beliau belum pulang dari kerja dan saya khawatir ada sesuatu yang terjadi dengannya,” kata Parti.

Pak Udin mengangguk mengerti, “Baiklah, saya akan membantu mencarinya. Saya akan coba menghubungi teman-temannya, mungkin mereka tahu di mana Mas Anton berada.”

Parti merasa sedikit lega mendengar bahwa Pak Udin akan membantunya mencari Mas Anton. Dia berterima kasih kepada Pak Udin, lalu keluar untuk segera kembali ke rumahnya.

Parti berjalan pulang dengan cemas. Namun, saat melewati kuburan tua di pinggir jalan, dia melihat bayangan hitam misterius yang sama seperti yang dilihatnya dalam mimpi. Parti merasa ada yang mengikuti dan memperhatikannya dari belakang. Spontan dia berbalik dan melihat bayangan hitam itu semakin mendekat.

Parti mulai berlari secepat mungkin. Namun, bayangan hitam itu terus mengejarnya. Akhirnya, bayangan itu menyerang Parti dengan membabi buta. Parti merasakan sentuhan dingin di punggungnya yang membuatnya ketakukan dan segera berteriak minta tolong. Namun, sayangnya tak ada seorang pun yang datang membantunya.

Ketika Parti hampir kehabisan tenaga, tiba-tiba Mas Anton muncul dan menghentikan bayangan misterius itu. Parti merasa lega dan bersyukur bahwa suaminya telah menyelamatkan dirinya.

Namun, sejak kejadian itu, Parti dan Mas Anton selalu merasa ada sesuatu yang aneh dan tak seperti biasanya. Mereka merasa ada sosok tak kasat mata yang bersemayam dalam rumah mereka. Hal ini membuat pasangan suami istri itu  merasa ketakutan dan tidak nyaman.

Suatu hari, Parti menemukan sebuah benda misterius di dalam rumah mereka. Benda tersebut mengandung kekuatan magis yang membuat mereka selalu merasa terganggu oleh kehadiran makhluk halus yang mengerikan.

Parti dan Mas Anton pun memutuskan untuk mencari bantuan kepada paranormal. Mereka mencari tahu bagaimana cara untuk mengatasi kekuatan misterius yang mengganggu kehidupan mereka. Akhirnya, setelah beberapa waktu mencari, mereka menemukan seseorang yang bisa membantu mengusir kekuatan tersebut dari rumah mereka.

Setelah melewati pematang sawah dan jalan setapak sejauh tiga km dengan berjalan kaki, pasangan suami istri itu pun merasa lega karena sudah tiba di rumah seorang paranormal bernama Aki Mamat. Mas Anton dan Parti disuruh masuk kedalam ruangan yang sedikit gelap, ruangan tempat praktisi supranatural itu menerima orang-orang yang meminta batuan kepadanya.

santet
Ilustrasi Santet – (Sumber: Satria Wiajaya)

Parti dan Mas Anton segera duduk dihadapan Aki Mamat untuk membahas tentang cara mengusir kekuatan misterius yang ada dalam rumah mereka.

“Jadi, bagaimana caranya mengusir kekuatan misterius ini dari rumah kami?” Tanya Mas Anton dengan wajah khawatir.

Aki Mamat tersenyum dan berkata, “Kalian tidak perlu khawatir, saya sudah menyiapkan segalanya. Kita akan melakukan sebuah ritual untuk mengusir kekuatan misterius tersebut dari rumah kalian.”

Aki Mamat mulai melakukan ritual. Dia menyalakan beberapa lilin dan membakar dupa, mengucapkan mantra-mantra kuno dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh Mas Anton dan Parti.

Sementara itu, kedua pasangan suami istri tersebut hanya bisa terdiam dan menyaksikan ritual tersebut dengan penuh keheranan. Mereka merasa takut dan khawatir dengan keberadaan mahluk halus di rumah mereka. Namun, mereka yakin Aki Mamat mampu mengusir mahluk halus pengganggu tersebut.

Setelah beberapa saat, ritual itu selesai. Mas Anton dan Parti merasa lega. Mereka merasa seolah-olah telah melepaskan beban berat yang selama ini bertengger di bahu mereka dan berterima kasih kepada Aki Mamat. Keduanya berharap Aki Mamat benar-benar berhasil mengusir mahluk halus yang selalu mengganggu mereka.

“Terima kasih banyak atas bantuan Aki. Kami benar-benar tidak tahu harus bagaimana jika tidak ada bantuan Aki,” ucap Mas Anton dengan penuh rasa terima kasih.

Aki Mamat tersenyum dan menjawab, “Tidak usah berterima kasih, ini adalah tugas saya untuk membantu orang yang membutuhkan bantuan. Hanya saja, kalian harus tetap waspada dan jangan membiarkan energi negatif masuk ke dalam rumah kalian lagi.”

Parti dan Mas Anton pun mengangguk setuju. Mereka berjanji akan tetap waspada dan berusaha untuk tidak membiarkan kekuatan misterius itu kembali masuk ke dalam rumah mereka.

Sejak saat itu, Parti dan Mas Anton merasa lebih aman dan tenang berada di rumah mereka. Mereka bisa kembali menjalani kehidupan mereka tanpa rasa takut dan cemas yang menghantui mereka sebelumnya.

***

Dua bulan, kejadian aneh mulai terjadi lagi di rumah Parti dan Mas Anton. Mereka kembali merasakan adanya kekuatan misterius di sana. Suara-suara aneh terdengar di sekitar rumah dan benda-benda pun bergerak sendiri tanpa sebab yang jelas.

Parti mulai merasa tidak nyaman dan sering mengalami sakit kepala yang membuat Mas Anton semakin panik dan merasa terusik. Mas Anton pun lalu memutuskan untuk memeriksa rumah mereka sendiri dan mencari tahu apakah ada yang mencurigakan.

Saat Mas Anton sedang mencari-cari tanda-tanda kekuatan misterius di sekitar rumahnya, dia melihat sesosok bayangan hitam yang mencurigakan. Dia merasa yakin bahwa ini adalah perbuatan orang yang mencoba mengirimkan ilmu santet ke rumah mereka.

Tanpa pikir panjang, Mas Anton mulai berusaha untuk melacak identitas siapa yang melakukan hal tersebut. Mereka kembali mendatangi Aki Mamat. Setelah melalui serangkaian meditasi dan ritual, Aki Mamat akhirnya menemukan bahwa ada seseorang yang memang sengaja melakukan ilmu santet ke rumah mereka.

Dengan bantuan Aki Mamat, Mas Anton berhasil mengetahui siapa pelaku yang melakukan ilmu santet tersebut. Pelaku ternyata adalah mantan sahabatnya yang merasa iri dan dengki pada kebahagiaan yang Parti dan Mas Anton rasakan. Pelaku merasa tidak senang melihat Parti dan Mas Anton hidup bahagia sementara dirinya tidak.

Mas Anton sangat marah dan merasa dikhianati oleh sahabatnya yang bernama Yudi. Dia merasa kesal dan ingin melakukan sesuatu untuk membalas dendam. Namun, Aki Mamat menasihati Mas Anton untuk tidak melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

***

Mas Anton dan Parti merasa sangat penasaran dengan alasan mengapa Yudi tega melakukan perbuatan jahat seperti itu. Selama ini mereka merasa tidak pernah terlibat masalah dengan Yudi. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Yudi memiliki dendam atau kebencian pada mereka.

Akhirnya, Mas Anton memutuskan untuk melakukan penyelidikan sendiri. Dia berbicara dengan beberapa orang di lingkungan mereka dan mencari tahu tentang jati diri Yudi yang sebenarnya.

Beberapa hari kemudian, Mas Anton akhirnya menemukan fakta yang mengejutkan. Yudi ternyata mencintai Parti selama bertahun-tahun dan pernah mencoba untuk mengungkapkan perasaannya, tetapi Parti menolaknya secara halus.

Setelah mengetahui alasan mengapa Yudi tega melakukan perbuatan jahat, Mas Anton sangat marah dan kecewa. Dia merasa kepercayaan yang selama ini diberikan kepada sahabatnya itu telah disalahgunakan sehingga membuat Mas Anton sedih karena perbuatan Yudi yang telah menyakiti Parti.

“Parti, aku tidak percaya sahabat kita, Yudi,  melakukan hal seperti ini. Betulkah ia mencintai kamu? Kapan hal itu terjadi?” tanya Mas Anton, mencoba untuk mencerna semua informasi yang baru saja dia dapatkan.

Parti menjawab dengan suara lembut, “Yudi memang pernah menyatakan cintanya kepadaku sebelum aku bertemu denganmu. Aku menolaknya karena aku memang tidak mempunyai rasa kepadanya. Selama ini aku pikir dia sudah paham.”

Mas Anton merasa sedikit lega mendengar penjelasan Parti, tetapi dia masih merasa kesal dan terganggu oleh perbuatan Yudi.

“Tapi mengapa kamu tidak memberitahuku tentang hal itu sebelumnya? Aku tidak suka mengetahui sesuatu setelah terjadi,” kata Mas Anton, mencoba untuk menjelaskan perasaannya pada Parti.

Parti merasa sedih melihat suaminya marah, tetapi perempuan ramah itu mencoba menjelaskan situasinya dengan tenang.

“Aku tidak bercerita tentang hal itu karena itu tidak pernah menjadi masalah bagi kita, Anton. Kamu adalah orang yang aku cintai dan aku memilih untuk hidup bersamamu. Aku pikir Yudi sudah mengerti dan menerima itu,” jawab Parti memberi alasan.

Mas Anton merenung sejenak atas kata-kata Parti dan mulai menyadari bahwa dia tidak boleh marah pada istrinya karena itu bukanlah kesalahannya. Namun, ia masih merasa kesal pada Yudi dan ingin mencari tahu lebih lanjut tentang situasi ini.

“Aku mengerti, Parti. Terima kasih telah menjelaskannya padaku. Tapi aku ingin tahu lebih lanjut tentang sahabat kita itu. Apakah kamu tahu apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya Mas Anton, mencoba untuk memfokuskan dirinya pada cara mengatasi masalah tersebut.

Parti mengangguk dan menjawab, “Aku pikir kita harus berbicara dengan Yudi. Kita perlu menjelaskan bagaimana perbuatan itu telah menyakiti kita dan membuatnya memahami bahwa dia harus bertanggung jawab atas tindakannya.”

Mas Anton merasa lega mendengar saran dari Parti. Dia merasa lebih tenang setelah berbicara dengan istrinya dan merencanakan cara untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dia berjanji untuk membantu Parti menyelesaikan masalah tersebut dan memastikan bahwa mereka dapat kembali hidup damai dan bahagia seperti sebelumnya.

**

Seminggu kemudian.

Mas Anton duduk di samping Parti dan berkata, “Aku sudah mencoba menghubungi Yudi yang tega melakukan hal jahat itu, tapi dia tidak pernah menjawab teleponku atau membalas pesanku. Bahkan, nomornya sudah tidak bisa dihubungi lagi.”

Parti mengangguk dan berkata, “Mungkin dia memang ingin menghindari pertanggungjawaban atas perbuatannya. Namun, itu bukan alasan untuk kita menyerah begitu saja. Kita harus tetap mencari tahu siapa yang berada di balik semua ini.”

Mas Anton menggaruk kepalanya sambil berpikir. “Tapi bagaimana cara kita mencarinya? Sudah aku datangi tempat tinggalnya, tapi dia sudah pindah.”

Parti berusaha menenangkan suaminya, “Tenang, sayang. Kita bisa mencari tahu informasi lain yang bisa membantu kita menemukan keberadaannya. Mungkin ada teman-temannya yang tahu di mana dia sekarang atau apa yang sedang dilakukannya.”

Mas Anton mengangguk setuju, “Iya, mungkin kita harus bertanya kepada orang-orang terdekatnya. Siapa tahu mereka bisa memberikan petunjuk yang berguna.”

Parti tersenyum dan memeluk suaminya erat-erat, “Ayo, jangan menyerah. Kita pasti bisa menyelesaikan masalah ini bersama-sama.”

Mas Anton merasa lebih tenang setelah berbicara dengan istrinya. Mereka berdua berjanji untuk terus mencari tahu siapa yang berada di balik semua ini dan memastikan bahwa tidak ada yang bisa mengganggu kedamaian dan kebahagiaan keluarga mereka lagi.

Keesokan harinya, Mas Anton mulai bergerak mencari tahu informasi dari teman-temannya. Dia mengunjungi satu per satu temannya yang dulu sering bersama dengan sahabatnya yang berbuat jahat itu. Namun, sayangnya usaha Mas Anton tidak membuahkan hasil. Tidak ada satu orang pun yang tahu di mana sahabatnya itu pergi.

Mas Anton merasa putus asa dan hampir menyerah. Namun, dia ingat dengan tekadnya dan bersama Parti, mereka berdoa memohon pertolongan kepada Allah setiap malam sebelum tidur. Mereka berdua memohon kepada Allah agar diberi petunjuk untuk menyelesaikan masalah ini.

Seiring berjalannya waktu, mereka merasakan perubahan yang terjadi. Gangguan tersebut semakin lama semakin berkurang dan akhirnya hilang sama sekali. Mereka bersyukur dan menganggap bahwa doa mereka terkabul. Mereka berdua merasa lebih kuat dan siap menghadapi segala hal yang mungkin terjadi pada masa depan.

Kini, Mas Anton dan Parti hidup dengan tenang dan damai. Mereka telah melewati masa-masa sulit itu dan berjanji untuk selalu saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Mereka juga belajar bahwa dalam menghadapi masalah, berserah diri dan memohon pertolongan Allah adalah kuncinya.

***

Enam bulan kemudian.

Pada hari Minggu, ketika Mas Anton dan Parti sedang sarapan, tiba-tiba telepon Mas Anton berbunyi. Mas Anton mengangkat teleponnya dan terdengar suara perempuan yang tidak dikenalnya.

“Permisi, ini siapa ya?” Tanya Mas Anton.

“Halo Mas Anton, ini Tuti, kakaknya Yudi,” jawab perempuan di seberang sana.

“Oh Mbak Tuti, apa kabar?” Tanya Mas Anton sambil terdengar khawatir.

“Tidak baik, Mas. Yudi meninggal hari Sabtu kemarin dan sudah dimakamkan. Dia meninggal karena sakit stroke yang dideritanya selama lima bulan terakhir,” tutur Tuti dengan nada sedih.

Mas Anton dan Parti terkejut mendengar kabar tersebut. Mereka merasa sedih dan kehilangan sosok Yudi yang selama ini mereka cari.

“Ya Allah, sungguh kabar yang tidak mengenakan. Kami mendoakan Yudi agar mendapatkan tempat yang baik di sisi-Mu,” ucap Mas Anton dengan suara serak.

“Mbak, ada apa sebenarnya?” Tanya Mas Anton setelah merasa sedikit tenang.

“Sebelum meninggal, Yudi berpesan kepada keluarganya untuk menyampaikan permohonan maafnya kepada kamu dan Parti. Dia ingin kamu tahu bahwa dia sangat menyesal atas semua kesalahannya dan ingin meminta maaf,” jawab Tuti dengan lirih.

Mas Anton terdiam sejenak. Dia merasa terharu dan sedih mendengar permintaan maaf dari Yudi meskipun Yudi pernah berbuat jahat dan ingin mencelakakan mereka.

“Tidak apa-apa, Mbak. Saya dan Parti sudah memaafkan Yudi,” ucap Mas Anton dengan hati-hati.

“Tapi, Mas Anton… Yudi sebenarnya meninggal sambil menahan beban rasa bersalahnya. Dia merasa sangat menyesal atas semua kesalahannya dan ingin meminta maaf secara langsung,” ujar Tuti dengan suara terbata-bata.

Mas Anton merasa tersentuh dan berterima kasih atas keinginan Yudi untuk meminta maaf secara langsung.

“Tidak perlu merasa bersalah lagi, Tuti. Kami sudah memaafkan Yudi dan selalu mengingatnya sebagai sosok sahabat kami,” ucap Mas Anton.

Tuti merasa terharu dan berterima kasih atas pemahaman Mas Anton dan Parti. Dia tahu bahwa Yudi akan senang mendengar bahwa mereka telah memaafkannya.

“Terima kasih, Mas Anton. Saya tahu bahwa Yudi akan senang mendengar bahwa kamu dan Parti telah memaafkannya. Dia selalu merasa bersalah atas kesalahannya dan berharap agar kalian dapat memaafkannya,” ujar Tuti dengan suara terisak-isak.

Mas Anton dan Parti merasa sedih mendengar kabar tersebut. Namun, mereka juga merasa lega karena telah memaafkan Yudi dan memberikan kedamaian bagi hati Yudi yang telah berpulang. (Satria Wijaya).

***

Judul: Santet
Pengarang: Satria Wiajaya
Editor: JHK

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button