CerpenLiterasiPratama Media News

Jumadi dan Si Wanita Misterius

Sebuah cerpen karya Sarkoro Doso Budiatmoko, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat

Pratama Media News, cerita pendek (cerpen) berjudul “Jumadi dan Si Wanita Misterius”  ini merupakan karya Sarkoro Doso Budiatmoko,  alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat.

Jumadi adalah ayah dari dua anak laki-laki, Darman dan Barto. Usianya masih sekitar limapuluhan, tetapi tubuhnya melaju menua lebih cepat dari umurnya. Lebih tampak tua lagi karena resam tubuhnya kurus dan wajahnya tirus. Kekurusannya itu karena apa pun yang dia makan sepertinya sedikit saja yang nyangkut menjadi daging. Lebih banyak yang terbuang.

Beberapa hari ini nasib kurang beruntung sedang menyambangi Jumadi. Dia harus masuk dan dirawat di Rumah Sakit (RS) karena badannya lemah dan lemas tak bertenaga. Mulutnya tidak mampu mengunyah, menelan makanan, dan meneguk minuman dengan sempurna.

Kondisi itu diketahui Darman sepulang kerja. Anak sulung Jumadi itu mendapati ayahnya tergelatak lemas di kursi panjang di ruang tengah rumahnya. Di sekitarnya tampak berceceran bekas muntahan dengan bau yang kurang sedap.

alat medis rumah sakit
Ilustrasi: alat medis rumah sakit – (Sumber: pixabay.com)

Darman pun terkaget-kaget dan dengan gugup mendekati ayahnya, sambil berlutut dia bertanya, “Kenapa Pak? Kok muntah-muntah? Apanya yang sakit Pak?”

Lalu Darman memgang tangan, kaki, dan tubuh ayahnya. Semua terasa dingin. Tubuhnya keluar banyak keringat. Keringatnya juga dingin.

Ayahnya hanya diam terbaring lemas. Darman bergegas ke meja makan dan membuatkan minuman teh manis hangat, lalu diminumkan sesendok demi sesendok. Sebagian bisa ditelan, sebagian lagi berceceran di bibir.

Tentu saja Darman panik dan takut terjadi sesuatu yang gawat pada orang tua satu-satunya ini. Tanpa pikir panjang Darman bergegas membawanya ke RS. Tidak lupa dikabarinya Barto, adiknya.

Petugas RS dengan cepat menangani Jumadi. Beberapa perawat mencoba memasang infus. Namun, rupanya jarum infus tidak bisa dengan mudah menembus kulit keringnya, padahal ada indikasi kuat tubuhnya kurang nutrisi dan gizi.

Dari sanalah “penderitaan baru” mulai menimpa Jumadi ketika perawat meminta izin ke Darman memasang “sonde” untuk menyuplai makanan dan obat langsung ke lambung ayahnya. Demi kesembuhan ayahnya, Darman mengizinkan, walaupun dia tahu itu sakit. Bahkan, sakitnya itu menambah penderitaan yang selama ini akrab disandang Jumadi.

Sonde berupa selang seukuran jari kelingking anak-anak itu didorong-paksa oleh perawat masuk melalui mulut. Selang sepanjang beberapa jengkal itu merambat pelahan menerjang segala penghalang di kerongkongan dan berujung di lambung.

Jumadi mengerang kesakitan, “Haaauuuh…, yaa amuuun… ya Aiiiah ya Ustiiii…, sa’iiit Maaaan.

Erangan Jumadi tidak begitu jelas, tetapi menyayat hati dan mengharu biru bagi telinga siapa pun yang mendengarnya. Erangan kesakitan sambil memanggil-manggil nama anak sulungnya itu terus terngiang-ngiang di telinga Darman.

Darman, lelaki berbadan kekar ini tak kuasa melihat seringai kesakitan wajah tua ayahnya. Dia memilih keluar kamar rawat karena tidak bisa berbuat banyak selain malah merasa sedih.

Di luar kamar rawat, Darman ketemu adiknya, Barto yang langsung datang dari tempat kerjanya.

“Apa yang terjadi Kak? Kemarin masih ngobrol bareng sambil makan gorengan,” sergah Darman.

Darman hanya memberi isyarat agar Barto melihat saja lewat kaca jendela.

Berdua mereka hanya bisa memandang dengan rasa iba seraya berdoa dan memohon, “Ya Allah, kuatkan dan sabarkanlah Ayahku. Ampunilah dosanya.“

Sambil terus mengerang, tangan Jumadi tampak menggapai-gapai sesuatu untuk pegangan. Melihat itu, Barto bergegas masuk dan meraih tangan ayahnya, lalu meremas erat-erat, mencoba memberinya rasa tenang.

Bibir Barto berkomat kamit seolah bilang, Ini Barto, aku di sini bersamamu Pak. Sementara Jumadi mengangguk pelan sambil matanya merem-melek menahan sakit.

Barto merespon balik dengan berkata, “Sabar ya Pak, nanti juga sembuh. Yang kuat ya Pak.”

Ayahnya mencoba senyum, tapi yang terlihat malah seperti bibir yang sedang mencibir.

Beberapa waktu kemudian Jumadi tampak tenang, tubuhnya sudah bisa menyerap nutrisi dan obat. Juga mulai menyesuaikan diri dengan benda asing bernama “sonde”.

Hari-hari berikutnya Darman dan Barto bergiliran menunggui ayahnya di RS. Keadaannya belum stabil. Kadang semalaman tidak tidur dan tidak memejamkan mata barang sekejap. Kadang tenang dan tidur. Dua lelaki yang masih hidup membujang ini sabar bergantian mendampingi.

Darman dan Barto tentu saja lelah, tetapi mereka beranggapan inilah saatnya berganti peran. Dulu, ketika mereka kecil dan tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis, ayahnya yang berjaga sepanjang malam.

Hanya peran seperti ini yang bisa mereka perbuat. Terlalu kecil dan sama sekali tidak sebanding dengan apa yang sudah mereka terima dari ayahnya selama ini.

Darman dan Barto patut bersyukur punya ayah Jumadi, seorang ayah yang sendirian membesarkan mereka sejak kecil. Mulai dari bangun tidur, mandi, cuci, memasak, menyuapi hingga menyekolahkan dan menidurkan mereka pada waktu malam.

Jumadi mulai memetik hasil jerih payahnya. Dua anaknya sudah bekerja di sebuah pabrik pengolahan kayu. Darman bekerja sebagai Satpam, sedangkan Barto menjadi teknisi mesin di pabrik yang sama.

Suatu hari Jumadi ngomong ke anak-anaknya, “Kamu kan sudah pada kerja, sudah punya penghasilan sendiri, kapan menikah?”

Darman dan Barto menjawab nyaris bersamaan, “Aku belum mikir ke sana Pak.”

Darman dan Barto memang belum memikirkan kawin. Mereka agak trauma merasakan keruwetan keluarganya sendiri. Emaknya meninggalkan mereka saat kecil dan membiarkan ayahnya pontang-panting mengurus segalanya sendirian.

Mereka berdua sering merasa iri saat melihat teman-teman sebayanya dimanja dan bersenda-gurau dengan emak mereka. Sementara emaknya sendiri entah ada di mana.

Istri Jumadi sudah bertahun-tahun lalu pergi kerja ke luar negeri sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) dan hingga hari ini tidak pulang-pulang. Kabar angin mengatakan, istrinya kecantol lelaki lain sesama tenaga kerja migran.

Jumadi beberapa kali disalahkan dua anaknya, kenapa dulu mengijinkan Emak pergi. Untuk itu Jumadi sering mengulang-ulang cerita tentang emak mereka.

Kepada dua anaknya Jumadi bercerita bahwa sebelum pergi menjadi TKW, emak pernah ngomong, “Kang, aku mau kerja ke luar ya, biar ekonomi kita ada perbaikan.”

Sebagai lelaki sebenarnya Jumadi agak tersinggung.

“Memangnya kita kurang apa? Tiap hari kita bisa makan dan anak-anak juga bisa berpakaian meski sederhana,” jawab Jumadi dengan nada kesal.

Istrinya bilang, “Iya Kang, tapi aku juga ingin rumah kita lebih bagus dari ini. Ada TV yang besar, ada kulkas, syukur-syukur ada sepeda motor.”

Terus Jumadi sampaikan kepada istrinya, “Aku itu bukannya tidak kepengin barang-barang itu, tapi itu untuk apa? Kulkas? Mau nyimpan makanan apa sih? Tanpa kulkas, apa yang kita makan selama ini malah makanan-makanan segar. Lebih sehat kan?”

Suasana sontak menjadi tidak kondusif. Istri Jumadi terdiam beberapa saat.

“Persiapan anak-anak masuk sekolah jauh lebih penting. Rumah kita kecil, tapi tidak pernah bocor. TV besar untuk apa juga, yang ada saja sudah cukup. Yang penting bisa ditonton kan?” Lanjut Jumadi dengan nada meninggi.

Istri Jumadi memang beberapa kali minta dibelikan sepeda motor, tetapi Jumadi selalu menentangnya.

“Kalau ada sepeda motor malah membuat kamu nanti kelayapan,” sanggah Jumadi.

Istrinya diam tanpa reaksi. Setelah istrinya tidak merespon dan tetap diam seribu bahasa.

“Coba dipikir lagilah niatmu itu, apalagi anak-anak juga lagi sangat membutuhkan perhatian seorang emak,” ujar Jumadi dengan kalimat sakti.

Kemudian dengan panjang lebar Jumadi menyampaikan kepada anak-anaknya tentang sikapnya memilih hidup seadanya, tetapi anak lebih terurus, hati lebih nyaman dan hidup lebih tentram.

Setiap kali mendengar cerita ini, Darman dan Barto selalu diam sambil merasa kasihan kepada ayahnya yang bersusah payah membesarkan mereka berdua. Di sisi lain juga berpikir, betapa bahagianya memiliki orang tua yang lengkap.

Darman dan Barto ingat cerita ayahnya tentang kebiasaan emaknya, apabila keinginan emaknya tidak tercukupi, memilih diam. Emaknya bisa mengatupkan bibirnya yang tipis tanpa suara sepanjang hari, atau beberapa hari.

Mereka berdua juga ingat benar tentang kekhawatiran ayahnya, “Lhaah emakmu saat itu masih muda, cantik, dan tubuhnya bahenol. Suami mana sih yang rela melepas istrinya seperti itu ke negeri orang, negeri entah berantah?”

wanita misterius
Ilustrasi wanita misterius – (Sumber: pixabay.com

Godaan hidup glamour memang besar. Keluarga Jumadi hidup di lingkungan yang banyak penduduk perempuannya bekerja sebagai TKW. Hasil yang mencolok mata adalah pajangan simbol-simbol kemakmuran berupa rumah-rumah bagus, kendaraan, dan barang-barang elektronik.

Adalah pemandangan biasa kalau ada rumah sederhana berubah menjadi bagus, kendaraan bermotor parkir di halaman rumah. Antena TV dipasang menghadap jalan dan kulkas bercokol di dapur.

Ada juga yang semula buruh tani sekarang sudah memiliki sawah sendiri. Ada lagi yang semula pedagang keliling, sekarang punya kios mandiri. Namun, kisah-kisah pilu juga tidak sedikit.

Ada keluarga yang rumah tangganya hancur gegara suami kawin lagi. Ada juga keluarga yang anak-anaknya menjadi kurang perhatian dan liar, susah diatur. Ada suami atau istri yang selingkuh dengan sesama pekerja migran.

Lalu ada juga TKW yang pulang, bukan ke rumah, tetapi ikut lelaki barunya. Ada lagi yang pulang membawa anak dari majikannya.

Istri Jumadi tergiur dan lapar mata atas pemandangan glamour di sekitarnya. Sampai-sampai pada suatu siang istrinya pulang menyodorkan selembar kertas.

“Kang, tekadku sudah bulat mau jadi TKW, tolong surat ini ditandatangani,” ujar istrinya dengan wajah dingin.

Jumadi beberapa saat terdiam. Lidahnya kelu. Kepalanya nyut-nyutan. Setelah beberapa gelas kopi diminumnya, akhirnya keluar juga kata-kata dari mulutnya.

“Ya sudah kalau itu maumu, meskipun aku kurang ridho, tapi yaa terserah kamu,” jawab Jumadi dengan nada pasrah tanpa daya.

Sejak itu Jumadi merawat sendiri dua anaknya. Sekuat tenaga dia merawat dan membesarkan anak-anaknya. Di kepalanya hanya ada keinginan membesarkan anak-anaknya agar kelak menjadi manusia berguna.

Demi dua anaknya, Jumadi mau bekerja apa saja asal halal. Dia pernah menjadi kuli bangunan, penjaga malam, penarik becak, dan membantu bersih-bersih pekarangan tetangga.

Pernah juga Jumadi menarik ojek motor sewaan. Tanpa mengenal lelah, tidak pandang siang maupun malam. Tak peduli jauh ataupun dekat, dia rajin menarik ojek.

Jumadi tidak mau anak-anaknya mengalami nasib yang sama. Disekolahkan semampunya, jangan sampai mentok sampai SMP. Namun sekuat-kuatnya, dua anaknya hanya bisa tamat SMK.

Ya, begitulah kondisi kehidupan Jumadi. Semangat untuk memperbaiki hidup membuatnya lupa diri. Dia lupa memperhatikan kesehatan. Angin malam diterjang. Makan seadanya. Tidur tidak teratur. Minum juga seingatnya dan kurang menghibur diri.

Akumulasi kerapuhan raga berujung pada tubuh yang ringkih. Himpunan, timbunan, dan berlapis-lapis beban pikiran telah melampaui daya tahan tubuhnya. Akhirnya jatuh sakit seperti yang sedang dialaminya kini.

Untung ada Darman dan Barto yang sudah berhari-hari di RS. Namun, kondisi kesehatan Jumadi tak kunjung membaik. Malah cenderung memburuk. Tubuhnya semakin melemah dan tak berdaya.

Ketidakberdayaan Jumadi menimbulkan rasa iba, haru, dan sedih yang mengaduk-aduk hati dan perasaan Darman dan Barto. Dalam beberapa hari ini sudah beberapa kali mereka meminta bantuan perawat karena ayahnya tidak sadar dan tersengal-sengal seperti susah bernapas.

Darman dan Barto bergantian membacakan ayat-ayat suci Al Qur’an. Mereka berpasrah diri ke khadirat Illahi. Mereka sudah berusaha sekuatnya untuk mengembalikan kesehatan Ayahnya. Selebihnya berserah diri kepada Allah.

Pada saat-saat kritis beginilah mereka berdua sangat berterima kasih kepada orang-orang dekat yang ikut berempati dan medoakan kesembuhan ayahnya. Mereka juga amat menghargai dan berhutang budi kepada orang-orang yang telah membesarkan dan menguatkan hati mereka dalam menghadapi masa-masa berat seperti ini. Mereka tak putus-putus memanjatkan doa memohon yang terbaik untuk ayahnya.

Mungkin doanya didengar langit. Tetiba ayahnya menggerakkan tangan dan mengarahkan pandangan matanya pada mereka berdua seakan mau berbicara banyak, tetapi tak satu patah kata pun keluar.

Pada saat bersamaan dari arah belakang, terdengar langkah-langkah kaki mendekat. Secara bersamaan Darman dan Barto menengok ke belakang. Terbelalak mata dua lelaki ini. Dilihatnya sesosok wanita setengah umur memandang lurus ke arah ayahnya. Bibirnya tipis, tubuhnya bahenol dan masih terlihat cantik.

Belum tuntas mereka memandang wanita itu, terdengar suara keras ayahnya seperti tersedak. Seketika Darman dan Barto kembali ke ayahnya dan didapatinya sudah tak bergerak lagi.

Rupanya sedakan itu adalah hembusan napas terakhir Jumadi. Ayah mereka meninggal beberapa saat setelah beradu pandang dengan wanita yang baru datang. Itulah pandangan terakhir ayah Darman dan Barto di dunia.

Dua laki-laki sangat sedih ditinggal seorang ayah yang selama ini menjadi sahabat dalam mengarungi kehidupan. Namun, mereka ikhlas, seperti keikhlasan ayahnya menjalani hidup dengan segala manisnya gula dan pahitnya kopi.

Dalam kesedihan dan kepasrahan, Darman dan Barto masih bertanya-tanya, siapa Si Wanita Misterius yang kedatangannya persis seperti pencabut nyawa ayahnya. Dia itu gula atau kopi dalam kehidupan ayahnya.

Darman dan Barto ingin menyapa, tetapi belum sempat.

Banyumas, Tepi Kali Logawa, 28  Agustus 2023.

Sarkoro Doso Budiatmoko.

.***

Judul: Jumadi dan Si Wanita Misterius
Penulis: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: JHK

Tentang Pengarang:

Sarkoro Doso Budiatmoko lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak dan Ibu Pranoto. Pendidikan formal hingga tingkat SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di IPB, Bogor dan Iowa State University, Ames, Iowa, Amerika Serikat.

Sarkoro Doso Budiatmoko
Sarkoro Doso Budiatmoko – (Sumber: koleksi pribadi)

Pengalamannya menjalani berbagai penugasan selama bekerja di Perum Perhutani memperkaya wawasan dan pemikirannya yang sering dituangkan dalam tulisan. Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, dan humaniora.

Atas dorongan Jumari Haryadi, Pemimpin Redaksi Pratama Media News, penulis pada 2023 mulai menulis cerita pendek (cerpen). Belasan cerpen sudah ditulis, antara lain berjudul: “Samsuri, Muazin yang Menghilang” lalu  “Fadhil, Dunia ini Tak Seindah Rembulan” dan “Bram Terbelenggu Rasa”.

Sebagian dari tulisan-tulisannya telah dibukukan dengan judul: “NAH…mengambil makna dari hal-hal kecil”, diterbitkan oleh SIP Publishing, Purwokerto, 2021. Tulisan-tulisan lainnya juga sedang disiapkan untuk dibukukan, termasuk kumpulan cerita pendeknya.

Pengalaman, pergaulan, dan wawasannya bertambah luas semenjak menjalani profesi sebagai staf pengajar dari 2016 di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto, UMP.

Penulis dikaruniai tiga orang anak dan beberapa cucu saat ini menetap di Purwokerto. Aktivitasnya, selain menulis dan mengajar, juga mengikuti berbagai seminar dan webinar, serta memenuhi undangan sebagai narasumber di beberapa event, termasuk dari RRI Pro-satu Purwokerto 14 Juli 2023 lalu.

***

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button