ArtikelOpiniPratama Media News

Haruskah Kita Bersikap Menjadi Orang Tua yang Berlebihan?

Penulis: Yuda Suhada, S.Pd., M.Pd., Dosen STKIP Pasundan dan Pendiri SDIT Cahaya Qur’ani Bandung Barat

PRATAMA MEDIA NEWS (PMN) – Kolom OPINI, Kamis (06/02/2025) – Artikel berjudul Haruskah Kita Bersikap Menjadi Orang Tua yang Berlebihan?” merupakan karya Yuda Suhada, S. Pd., M.Pd., seorang Praktisi Pendidikan, Pegiat Literasi, Dosen STKIP Pasundan Cimahi, dan Pendiri  SDIT Cahaya Qur’ani Bandung Barat.

Anak adalah Buah Hati. Begitulah ungkapan kebanyakan orang pada umumnya. Anak juga merupakan keturunan yang diidam-idamkan. Bahkan, tak sedikit bagi sebagian orang berduit rela melakukan apa saja demi mendapatkan keturunan, misalnya program bayi tabung, induksi ovulasi, inseminasi buatan, dan lain-lain. Intinya banyak orang menggunakan segala cara untuk bisa mendapatkan keturunan atau buah hati.

Yuda Suhada, S. Pd., M.Pd.
Yuda Suhada, S. Pd., M.Pd., penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Setelah anak kita terlahir tentunya sebagai orang tua akan mendapatkan tugas lagi dari Allah untuk membesarkan dan mendidiknya hingga usia dewasa. Membesarkan secara fisik atau memberikan makan mungkin bagi sebagian orang masih dianggap enteng atau mudah, tapi mendidik akhlak, moral, etika, atau sikap, banyak orang beranggapan sebagai tugas yang sangat berat. Bahkan, tidak sedikit banyak orang yang mengalami kegagalan, atau orang tua yang gagal dalam mendidik anak.

Anak merupakan titipan atau amanah dari Allah yang harus dijaga, dibesarkan, dan dididik agar menjadi manusia yang baik. Kelak, suatu saat di alam akhirat, semua orang tua akan diminta pertanggungjawabannya terhadap anak-anak mereka.

Tak sedikit seorang orang tua merasa beruntung di dunia dan di akhirat ketika anaknya berhasil dididik dengan baik dan mendapatkan kesuksesan. Bahkan, mendapatkan kepribadian yang disebut dengan pribadi anak saleh. Namun, sebaliknya banyak juga orang tua yang merugi, bukan hanya di dunia, tapi sampai diakhirat akibat salah mendidik anak, atau yang paling fatal adalah anak yang menjerumuskan kedua orang tuanya menjadi penghuni neraka. Naudzubillah.

Fenomena yang terjadi pada zaman modern seperti sekarang ini adalah banyak orang tua yang berhasil membesarkan anak. Akan tetapi, mereka gagal dalam mendidik anak.

Penulis melihat berbagai kasus dan kejadian yang menimpa berbagai anak atau keluarga. Sebagian orang tua beranggapan menitipkan pendidikan anak tersebut adalah melalui lembaga pendidikan atau sekolah, atau madrasah, atau guru di pengajian. Hal ini bertujuan untuk meringankan tugasnya sebagai orang tua agar pendidikan anaknya dapat berhasil dengan baik, atau menghasilkan kesuksesan, yaitu memiliki anak yang saleh, walaupun harus berbiaya mahal.

Ilustrasi: Seorang ibu muda sedang membantu memasang tas anaknya yang akan berangkat ke sekolah - (Sumber: Arie/PMN)
Ilustrasi: Seorang ibu muda sedang membantu memasang tas anaknya yang akan berangkat ke sekolah – (Sumber: Arie/PMN)

Sebagai seorang guru, penulis memiliki berbagai contoh orang tua yang kebetulan diwawancarai kenapa menitipkan anaknya di SDIT Cahaya Qur’ani Bandung Barat. Kebanyakan orang tua menjawab agar anaknya menjadi anak yang saleh dan pintar mengaji.

Bersekolah di SDIT Cahaya Qur’ani memang memiliki beberapa keunggulan dari sisi kurikulum dibandingkan dengan sekolah lain. Konsep pendidikan akhlak dan penghapalan Al-Qur’an di sekolah ini menekankan hapalan dengan capaian target sampai kelas enam minimal bisa menghapal dua juz hapalan Al-Qur’an.

Bagi sebagian orang tua yang berpikiran tidak mau ribet, mereka akan mencari lembaga pendidikan atau sekolah yang mampu dan memiliki kemampuan untuk menghasilkan peserta didik yang sesuai dengan tujuannya, walaupun harus berbayar mahal.

Keberhasilan dalam mendidik anak, tidak serta merta menjadi tanggung jawab guru di sekolah. Akan tetapi, memerlukan kolaborasi antara guru, anak dan orang tua di rumah. Bahkan, lingkungan tempat tinggal anak pun sangat berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan anak, seperti tidak salah bergaul, tidak salah teman, dan lain-lain.

Kesalahan fatal orang tua Gen Z pada zaman sekarang ini adalah banyak orang tua yang bersikap berlebihan, seperti terlalu memanjakan anak dengan memberikan berbagai fasilitas yang dibutuhkan anaknya. Satu sisi kondisi tersebut sepertinya tidak menjadi masalah. Akan tetapi, di sisi lain menjadikan anak tidak berproses untuk selalu berusaha dalam mendapatkan sesuatu. Dengan kata lain hal itu artinya mendidik anak untuk hidup secara instan.

Kesalahan orang tua lainnya adalah sikap mereka yang over protektif atau terlalu menjaga anak terhadap hal yang negatif yang akan menimpa anaknya, walaupun baru ada dalam bayangan pikirannya. Sikap ini yang terkadang tidak disadari oleh orang tua telah membuat anak tidak bisa hidup mandiri sehingga membuat tidak bisa berkompetisi dengan lawan atau orang lain.

Perlu kita ketahui dan fahami bersama bahwa kerasnya kehidupan di jaman sekarang ini, terkadang membuat orang stress. Bahkan, ada orang yang sampai melakukan bunuh diri. Hal ini terjadi karena mentalnya lemah sehingga menyebabkan depresi atau prustasi yang berlebihan.

Tidak mengajarkan anak hidup susah, juga merupakan kesalahan fatal orang tua Gen Z. Semua orang tua pasti menginginkan anaknya bahagia karena hal tersebut merupakan salah satu bentuk kasih sayang kita kepada anak. Akan tetapi, kita sebagai orang tua tidak bisa memprediksi nasib anak kita ke depan sehingga anak kita harus bisa bertahan hidup dalam kondisi yang terburuk, walaupun kita menyiapkan yang terbaik untuk anak-anak kita tentunya.

***

Judul: Haruskah Kita Bersikap Menjadi Orang Tua yang Berlebihan?
Penulis: Yuda Suhada, S.Pd., M.Pd., Dosen STKIP Pasundan dan Pendiri SDIT Cahaya Qur’ani Bandung Barat
Editor: JHK

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button