Berita (News)KomunitasPratama Media NewsSeni dan Budaya

Dewan Kebudayaan Kota Cimahi Meriahkan HUT RI ke-77 dengan Menggelar Pertunjukan Tari Kolosal Kasunyatan

Hermana HMT, "Kariaan Agustusan bukan semata-mata pesta. Namun, renungan dan pengungkapan rasa syukur yang dituangkan dalam bentuk budaya."

Pratama Media News, Kota Cimahi, Kamis (18/08/2022) – Komite Tari Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) rencana akan menggelar pertunjukan Tari Kolosal Kasunyatan Kariaan Agustusan 2022 dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-77 di Kota Cimahi. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada Minggu, 21 Agustus 2022, pukul 07.00 – 10.00 WIB bertempat di sepanjang Jalan Raden Demang Hardjakusumah dan kawasan Plaza Rakyat, Kompleks Pemerintahan Kota Cimahi.

Seperti yang dilakukan pada 2019 silam, kegiatan ini siap digelar dan diapresiasi langsung oleh masyarakat. Menurut Ketua Komite Tari DKKC, Dewi Rengganis, sebanyak 503 orang penari turut andil dalam Tari Kolosal Kasunyatan. Mereka merupakan gabungan dari berbagai sanggar tari yang ada di Kota Cimahi,  di antaranya Ratasya Traditional Dance, Raisya Fitria, Rengganis, Dapur Seni Fitria, Mones, GAP, Sakatalu, RKMB, Paramadina, Wangi Sundana, Jalinger, dan Paksi Pajajaran.

Tari Kolosal Kasunyatan dengan penata gending dan pencipta lagu Sopiyan Riyana (Iyan) menggambarkan keprihatinan masa pandemi covid-19. Namun demikian, kita tidak boleh larut terus dalam kepedihan. Segala yang sudah terjadi harus menjadi pelajaran berharga dan sebagai titik balik membangun kesadaran bersama untuk bangkit menata masa depan yang lebih gemilang,” ujar Dewi.

Hermana HMT
Hermana HMT, Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) – (Sumber: Pratama Media News)

Pernyataan senada juga diungkapkan Ketua DKKC, Hermana HMT yang menyatakan bahwa Kariaan Agustusan atau pesta rakyat di bulan Agustus adalah upaya DKKC untuk melakukan silaturahmi antara pelaku budaya dengan masyarakat dalam menyemarakan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Momen peringatan kemerdekaan RI harus menjadi pendorong untuk bangkit dari kerterpurukan bagi para pelaku seni dan budaya yang selama dua tahun ke belakang kesulitan mendapatkan ruang untuk mengekspresikan diri dan sosialisasikan hasil karyanya pada publik.

“Spirit dan semangat juang para pahlawan harus tertanam pada jiwa masyarakat Kota Cimahi. Berjuang untuk bangkit kembali memulihkan sendi-sendi ekonomi dan kehidupan, juga secara bersamaan berjuang menjaga, memelihara, mewariskan, dan memajukan kebudayaan Indonesia, khususnya di Kota Cimahi,” jelas Hermana.

Ketua DKKC tersebut menambahkan, Kariaan Agustusan bukan semata-mata pesta. Namun, renungan dan pengungkapan rasa syukur yang dituangkan dalam bentuk budaya. Konsep kegiatan ini  bukan hanya menyuguhkan tari kolosal, juga menyuguhkan musik modern, teater, reog, durcing, melukis bersama, pencak silat, fashion show, permainan tradisional, kirab, dan kuliner.

Kegiatan tersebut sepenuhnya dilakukan secara gotong royong, urunan tenaga, harta, dan benda dari para relawan pegiat kebudayaan. Juga dukungan dari pemerintah Kota Cimahi. Tahun depan  Karian Agustusan diharapkan bisa lebih meriah. Selain pertunjukan seni, setelah melakukan upacara HUT RI pada 17 Agustus, berlangsung pula karnaval budaya yang melibatkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan kelurahan-kelurahan sehingga menjadi hajat bersama pemerintah dan masyarakat Kota Cimahi.

Flyer acara pertunjukan Tari Kolosal Kasunyatan Kariaan Agustusan 2022
Flyer acara pertunjukan Tari Kolosal Kasunyatan Kariaan Agustusan 2022 yang diselenggarakan oleh Komite Tari DKKC – (Sumber: DKKC)

“DKKC ingin tiap bulan Agustus, satu tahun sekali, Jalan Raden Demang Hardjakusumah dalam setengah hari, dari jam 7 pagi hinggga jam 12 siang menjadi area Car Free Day, terutama pada hari Minggu atau tanggal 17 Agustus. Setengah hari itu, di sana kita ciptakan suasana yang semarak oleh berbagai suguhan ekspresi budaya. Kita bergembira bersama dan melakukuan syukuran atas anugerah kemerdekaan yang telah ditetapkan Tuhan Yang Maha Kuasa melalui tangan-tangan para pejuang bangsa Indonesia,” jelas Hermana.

Kariaan Agustusan, tandas Hermana, bukan saja menampilkan ragam budaya, tapi harus menjadi bagian dari pemajuan pariwisata Kota Cimahi berbasis sumber daya manusia dan kebudayaan.

“Karena Kota Cimahi tidak punya sumber daya alam yang bisa dijual untuk kunjungan wisata maka menjadi penting pemerintah bersama masyarakat meningkatkan pendapatan dari sektor pariwisata melalui bidang kebudayaan, termasuk di dalamnya ada kuliler tradisonal,” ungkap Hermana.

Bentuk ekspresi dan pelaku budaya di Kota Cimah terbilang cukup banyak. Oleh karena itu DKKC perlu bersama-sama dengan pemerintah Kota meningkatkan kualitas sumber daya kebudayaan yang dimiliki.

“Juga mendorong pelaku budaya lebih kreatif sehingga bisa menghasilkan karya yang layak di jual, kembangkan ekonomi kreatif, dan lebih penting adalah tumbuhkan rasa cinta masyarakat pada budaya lokal yang dimilik,” pungkas Hermana. (Humas DKKC).

***

Sumber: Humas DKKC

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button