Takbir Hadir di Antara Takdir
Sebuah puisi karya Jiebon Swadjiwa
Takbir Hadir di Antara Takdir by Jiebon Swadjiwa
Di penghujung perpisahan Ramadan, diri ini sejenak singgah menepi. Meratapi setiap waktu yang kembali sepi. Lara mendera laksana rindu yang membara. Menorehkan perih dan pedih, ditinggal pergi bulan penuh rahmat dan berkah tiada tara.
Hati tergetar dijalari rasa keagungan tiada tepi. Berurai air mata menyadari betapa kecilnya diri. Sujud terhujam membelah kesadaran siapa sejatinya diri ini. Persendian terasa lunglai melihat aneka kesombongan yang sering menguasai hati.
Meredam hati, memintal temali dalam Istiqomah. Ikhlas penuhi perintah Illahi, tunaikan perintah tanpa pernah berniat mengingkari. Lihat diri kita, lihat amal perbuatan kita. Mengaku beriman, tapi mendustai. Mengaku adanya Tuhan, tapi perintah-Nya kadang diabaikan.
Gema takbir berkumandang memenuhi langit-langit semesta. Jwa-jiwa saling bersahutan mengagungkan kebesaran sang Maha Pencipta. Semua serentak merasakan hangatnya cinta sebagai tanda keimanan yang menyentuh jiwa.
Satu tarikan napas kompak menyuarakan kalimat kemenangan meski setiap orang merasa pecundang, kalah dengan keadaan hanya karena makhluk tak kasat mata. Semua bersimpuh pada diri yang dirundung nestapa. Irama takbir mengiringi satu keyakinan yang sama bahwa semua duka akan berlalu dan Allah memberikan satu waktu untuk memulihkan keadaan hati dan mental.
Gema takdir masih terus berkumandang. Rasa keagungan yang menyelimuti puncak-puncak kebenaran. Saatnya detik kesadaran menyentuh perasaan. Saatnya kehadiran Sang Maha Pemberi Keadilan membangkitkan nilai sejati arti pengabdian.
Suara takbir masih menyelinap dalam sanubari yang penuh dengan ketakutan dan kerinduan, menjadi suatu padu yang dirasakan, hingga butiran butiran embun ikut serta meramaikan suasana yang penuh dengan syahdu. Suara azan subuh menjeda takbir kemenangan membangunkan jiwa-jiwa lelap akan ketenangan.
Ketika embun pagi telah bersuci diri, dahan bunga cempaka ucapkan pujian pada Illahi, bercucuran air mata mengenang segala dosa yang pernah terjadi. Bagaikan tangisan semesta yang mengiringi, langkah kembali suci di hari nan fitri
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Hancur seketika kesombongan diri, takluk bersimpuh di kebesaran sang Pemberi. Aku bagaikan debu di cakrawala, tertiup angin pagi tanpa tentu arah.
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pemaaf, izinkan aku bersimpuh di ujung penyesalan, mengais kembali segala kesadaran, kumpulkan segenap kesucian yang sempat tercerai berai. Izinkan aku bertakbir mengagungkan nama-Mu. Biarlah air mata jadi saksi penyesalan dosaku.
***
Judul: Takbir Hadir di Antara Takdir
Penulis: Jiebon Swadjiwa
Editor: JHK
Puisi ini telah dibuat versi musikalisasinya, bisa dilihat di link : https://youtu.be/MoVTdn6fuOs
Nikmati karya Jiebon Swadjiwa yang lainnya di link : https://linktr.ee/swadjiebon
Profil penulis:

Pemilik nama pena Jiebon Swadjiwa sering kali mendapatkan inspirasi menulisnya dari mendengarkan suara yang bangkit dari dalam jiwa. Suara itu adalah suara kematian (dengan semua firasat), suara cinta, dan suara seni. Mulai menyukai dunia literasi sejak di bangku sekolah dasar. Beberapa tulisannya yang pernah dimuat di media cetak berjudul, “Tertinggalnya Aku” dan “Tik Tak Tik Tak Irama Rinduku” yang terbit di Koran Pikiran Rakyat pada 2018.
Editor: JHK









Indah sekali puisinya, kata-katanya juga sangat menyentuh qolbu, terharu dibuatnya.
Bait2 puisi yang terangkai dari lubuk hati memang akan sampai ke hati juga….