Ngabuburit di Pasar Bedug Kotabumi, Lampung Utara
Pasar Bedug ini hanya ada sekali dalam setahun dan menjadi wisata kuliner favorit pada bulan suci Ramadan
Pratama Media News – Ngabuburit di Pasar Bedug Kotabumi, Lampung Utara – Bulan Suci Ramadan selalu disambut dengan suka cita oleh umat muslim di Indonesia, tidak terkecuali bagi masyarakat Kota Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara. Masyarakat Tanah Lada ini pun menyambut bulan yang mulia dan penuh rahmat tersebut dengan berbagai aktivitasnya.
Tidak hanya mempersiapkan mental dan rohani, masyarakat juga menyambut bulan suci Ramadan dengan menggelar Pasar Bedug. Pasar ini hanya muncul sekali dalam setahun dan merupakan tradisi turun menurun yang sudah ada sejak lama di tengah masyarakat Kotabumi.
Pemerintah Kabupaten Lampung Utara menyediakan lokasi Pasar Bedug pada Ramadan 1444 H kali ini di Halaman Pelabuhan Baru Pasar Atas Kotabumi. Meskipun berada di tempat yang sederhana, tetapi lokasinya cukup strategis untuk menampung lapak pedagang kuliner karena letaknya berada di jantung kota.

Selain Pasar Bedug yang berada di pusat kota, juga terdapat Pasar Bedug lainnya yang berada di Desa Candimas, Kecamatan Abung Selatan, Kabupaten Lampung Utara. Keramaian dan aneka kuliner yang disediakan pun tak kalah menarik dan menggoda dibandingkan dengan Pasar Bedug yang berada di pusat kota.
Pasar Bedug Candimas terletak di jalan protokol yang menghubungkan Kabupaten Lampung Utara dengan Provinsi Lampung sehingga mudah dijangkau, baik oleh motor, mobil, atau pun pejalan kaki. Umumnya pejalan kaki ini merupakan warga di sekitar Desa Candimas. Mereka jalan-jalan ke Pasar Bedug tersebut sambil ngabuburit.

“Pasar Bedug Candimas ini sudah ada sejak lama. Bahkan, jauh sebelum saya menjabat sebagai Kepala Desa disini. Mayoritas para pedagangnya adalah masyakat desa sini dengan kuliner beraneka ragam hasil olahan mereka sendiri. Tentunya kegiatan ini dapat menjadi penghasilan tambahan bagi warga kami selama bulan Ramadan ini,” kata Zainal Abidin, Kepala Desa Candimas yang kini menjabat untuk periode kedua kalinya.
Menurut Zainal, lahan yang digunakan untuk kegiatan Pasar Bedug di desanya merupakan lahan milik salah seorang warga Desa Candimas. Dia menyerahkan kerja sama antara pemilik lahan dan pedagang sepenuhnya kepada mereka.
“Hanya saja kami berpesan untuk tetap menjaga kebersihan dan ketertiban bersama sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas karena letak Pasar Bedug ini berada dipinggir jalan protokol,” tambah Kepada Desa Candimas tersebut kepada penulis.
Zainal pun sempat mengajak penulis berkeliling ke area seputar pasar untuk melihat kondisi lapak-lapak dagang sambil memperkenalkan nama jajanan pasar yang ada di sana. Menurutnya, aneka jajanan pasar yang dijual tersebut kalau pada hari-hari biasa sudah jarang dijumpai.
Ditempat lain, pada Ramadan tahun ini penulis pun menjumpai kesibukan yang tidak biasanya yang dilakukan oleh sekelompok anak-anak muda di Jalan Ahmad Akuan, Sribasuki, tepatnya di halaman Masjid Al-Amin. Mereka adalah anak-anak muda yang tergabung dalam Remaja Islam Masjid (RISMA) “Masjid Al-Amin” yang juga tak ingin melewatkan kebahagiaan Ramadan dengan menggelar Pasar Takzil Masjid Al-Amin.

Ustaz Zaenal Asbullah, selaku Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) ketika dimintai keterangan menjelaskan, “Kegiatan ini diprakarsai dan sekaligus dikelola oleh anak-anak kita yang tergabung dalam RISMA. Para pedagangnya adalah kelompok RISMA itu sendiri juga warga atau jemaah dari masjid ini.”
Ketika disinggung mengenai konstribusi yang diberikan oleh para pedagang, Ustaz Zaenal mengatakan bahwa mereka hanya dikenai biaya sewa tempat sebesar Rp 10.000 per hari dagang sebagai biaya pengganti sewa tarup untuk lapak dagang.
“Sedangkan untuk kebersihan halaman masjid, kami menekankan kepada para pedagang bahwa ini menjadi tanggung jawab mereka untuk menjaganya. Teknis pelaksanaan menjaga kebersihan kami serahkan sepenuhnya kepada mereka, misalnya dengan mengupah jasa petugas kebersihan,” ujar Ustaz Zaenal.
Seperti yang kita ketahui bersama, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, termasuk makanan tradisional. Setiap daerah mempunyai makanan dengan cita rasa yang unik, seperti yang penulis jumpai di berbagai Pasar Bedug yang tersebar di Kotabumi, Lampung Utara. Makanan tersebut jarang dijumpai selain pada bulan suci Ramadan.
Beberapa makanan yang sempat penulis temui di Pasar Bedug di antaranya adalah:
- Kue Kojo
Kue kojo ini termasuk makanan khas Palembang dan tergolong ke dalam jenis bolu atau kue basah yang biasa dibuat dengan loyang cetakan berukuran besar. Meski demikian, terdapat versi mini dari kue kojo yang seukuran serabi dan lebih sering dijajakan secara umum. Kue berwarna hijau ini biasa ditemui dalam acara hajatan atau hari raya.
- Kue Sengkulun
Sengkulun dibuat dengan bahan baku utama tepung ketan, sedangkan warna coklat berasal dari penggunaan gula merah sebagai pemanis. Rasa gurih manis berpadu dengan parutan kelapa di atasnya. Tak hanya itu, kue cantik khas Betawi ini biasa ditemukan pada perayaan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.
- Kue Lupis
Kue lapis sebenarnya termasuk salah satu kue tradisional khas Betawi. Kue ini terbuat dari beras ketan yang dibungkus daun seperti lontong. Saat Ramadan seperti sekarang, kuliner satu ini jadi lebih mudah ditemukan. Kue lupis disajikan dengan taburan kelapa, lalu disiram dengan saus gula merah.

4. Kue Klepon
Jajanan pasar asal daerah Jawa yang juga terkenal di Lampung ini berbentuk bola – bola hijau kecil dan bersalju. Kue ini terbuat dari tebung beras ketan yang dibentuk bulatan kecil-kecil dengan isian gula merah. Sekali gigit, klepon akan pecah dan gula merahnya pun langsung membanjiri mulut.
- Kue Putu
Kue Putu Bambu (Bambu Putu) adalah kue tradisional yang berasal dari Tiongkok. Kue klasik yang cukup terkenal dan disukai karena rasanya yang manis dan gurih ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu di Tiongkok, pada masa Dinasti Ming. Pada awalnya kue ini berbahan tepung beras diisi dengan kacang hijau lembut yang dimasak dalam cetakan bambu, sedangkan masyarakat Indonesia menggantinya dengan gula merah Jawa, disesuaikan dengan bahan yang ada.
- Kue Cucur
Kue Cucur atau juga Cuhcur juga merupakan jajanan khas Betawi. Kue ini terbuat dari tepung beras dan gula Jawa atau gula aren yang digoreng. Apabila kue cucur ini baru matang, aroma gula merahnya pasti akan menguap mengundang selera.

- Kue Jojorong
Kue Jojorong atau Jojongkong ini adalah makanan khas Banten, tepatnya dari Kabupaten Pandeglang. Makanan ini berbahan dasar tepung beras dan santan kelapa yang bagian dalamnya diberi gula aren. Tempat atau mangkuk kuenya berbentuk persegi dan terbuat dari daun pisang yang setiap ujungnya diikat menggunakan tusuk gigi.
- Kue Lumpang
Kue Lumpang atau Lompang merupakan jajanan tradisional khas Palembang yang berasal dari wilayah Sumatra Selatan. Kue ini termasuk kedalam golongan kue basah atau kue kukus yang terbuat dari tepung beras, tepung kanji, santan, daun suji ataupun daun pandan, maupun gula jawa, dan diberi taburan parutan kelapa.
- Kue Sekubal
Kue Sekubal atau Segubal ini adalah cemilan asal Lampung dengan berbahan dasar beras ketan dan santan kelapa yang sajiannya dibungkus dengan daun mirip lontong nasi. Uniknya sekubal bisa dimakan sebagai sajian manis maupun gurih, tergantung makanan pendampingnya.

- Bubur Sumsum
Bubur sumsum atau biasa disebut jenang sumsum terbuat dari rebusan tepung beras dan santan. Ada juga bubur sumsum yang menggunakan daun pandan jadi warnanya hijau. Pelengkap bubur sumsum hijau tentu kuah gula merah. Rasa gurih bubur sumsum berpadu dengan manisnya kuah gula merah. Jika ditilik dari asal-usulnya, berasal dari Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Selain jenis jajanan untuk takjil tersebut, masih banyak lagi aneka jenis makanan yang tersedia di pasar-Pasar Bedug yang tersebar di Kotabumi, seperti: mpek-mpek, rujak tahu, nasi urap, serta aneka minuman diantaranya es buah, dawet hitam, dan lain-lain.
Bagi masyarakat Kotabumi dan sekitarnya yang ingin berburu jajanan takjil, ada beberapa tempat selain Pasar Bedug Candimas, yaitu di Halaman Masjid Al Amin Sribasuki dan Pasar Atas Kotabumi (pelabuhan baru).
Juga ada Pasar Bedug yang berada di Jalan Kesehatan, depan Rumah Sakit Bersalin “Maria Regina” Tanjung Aman; Jalan Ahmad Akuan Ujung, dekat rel kereta api di Taman Santap (TS) Kaliumban Kotabumi, dan; di Jalan Kapten Mustofa, Kebun Empat Kotabumi. (Prie).
***
Judul: Ngabuburit di Pasar Bedug Kotabumi, Lampung Utara
Penulis: Suprianto (Prie), alumni SMPN 1 Kotabumi Angkatan 1982, Kabupaten Lampung Utara
Editor: JHK
Sekilas tentang penulis

Penulis dan pengarang dengan nama lengkap H. Suprianto ini lebih lebih dikenal dengan sapaan Prie. Pria hitam manis kelahiran Lampung, 4 April 1966 asal Jawa Tengah ini menjalani prosesi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung.
Prie menikah dengan Hj. Rodiah Alhusna atau akrab disapa Iyot, seorang wanita asal Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat. Dari hasil pernikahan mereka dikaruniai dua orang anak, masing-masing bernama Ridho Gusti yang kini mengemban tugas sebagai aparat kepolisian di Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung dan Karima Gusti yang kini mengikuti suami tugas di Kodam V Brawijaya, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur.
Dalam menyongsong masa purna tugasnya sebagai ASN, Pria ini kini mulai aktif kembali menulis kembali, meneruskan hobinya semasa remaja.
***









