Paguyuban Bandung Ngariung: Tips Jitu Melesat di Era Digital
Pada 2023 era digital semakin jelas mengubah cara kita berkomunikasi dengan orang lain. Bangsa Indonesia menggunakan 83,2 % media dan teknologi untuk menemukan informasi dalam keseharian
Pratama Media News (PMN), Kota Bandung, Kamis (16/11/2023) – Istilah Era Digital, 4.0, dan 5.0 menjadi kunci perubahan pada era baru kini. Kunci ini hadir dalam diskusi yang digagas secara rutin oleh Paguyuban Bandung Ngariung pada Rabu (15/11/2023) lalu di D’Botanica R. Azelea 2, Lantai P1, Jln. Dr. Junjunan 143-149, Pajajaran, Kota Bandung. Silang pendapat kali ini dibawakan oleh praktisi industri properti, Robby Kumala dengan mengangkat tema “Melesat di Era Digital”.
Era Digital hadir di Indonesia dan diterapkan dalam setiap aspek kehidupan masyarakat karena dipermudah oleh perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Perkembangan cara kita berkomunikasi, berbelanja, bekerja, belajar, hingga mengembangkan produk kini sudah didominasi oleh kerja komputer, internet, dan gawai.
Robby menjelaskan pada riungers Bandung Ngariung Rék Kumaha? Rék Kamana? Rék Kusaha? untuk mengenal siapa saja yang terlibat dalam Era Digital ini. Dunia digital kini sudah sering berputar dalam tech company, startup company, pemerintah, masyarakat sipil, pendidikan, dan media (merujuk sosial media).

Para pengembang teknologi ini membawa kehidupan kini beralih ke The Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), blockchain, Networking (3G, 4G, 5G), Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR), cloud computing, dan perkembangan sistem jual-beli, serta kesehatan. Istilah-istilah tersebut muncul dengan kemudahan, efektivitas, dan kecepatan persebaran informasi.
Robby menunjukkan data penggunaan digital ini menghasikan jumlah pengguna fantastis. Laporan “Digital 2023 Indonesia” menunjukan pada tahun ini data trend digital tech dalam pemasaran dan bisnis berkembang. Di dunia sejumlah 5,16 miliar pengguna internet dengan perubahan lebih dari 1,9 persen (98 juta) tiap tahunnya. Massa pengguna sebanyak itu menampung 4,76 miliar pengguna media sosial aktif.

“276 juta jumlah penduduk di Indonesia. Kemudian pengguna handphone-nya ada 353,8 juta. Kemudian 212,9 juta pengguna internet di Indonesia dan pengguna sosial media itu ada 167 juta. Jadi ini adalah pangsa pasar kita nih (bagi pengguna media sosial),” jelas Robby.

Jumlah pengguna internet lebih dari setengah penduduk Indonesia ini membawa market dan challenge (tantangan) baru di masa kini. Robby menjelaskan ada tiga masalah yang muncul ketika kemajuan teknologi menjadi semakin cepat.
“Digital itu memudahkan kita dalam beraktivitas. Digital itu dapat merubah perilaku-perilaku kita. Digital itu dapat melakukan, kalau kata Prof. Rhenald Kasali itu disruption, disruption-nya itu ke arah inovasi, tetapi kalau tidak diantisipasi dengan baik, point ketiga ini akan menjadi bola liar,” papar Robby.
Robby menambahkan, solusi dari tiga masalah di atas bisa melalui upaya merangkul perubahan dan adaptasi di sosial media.
“Yang kedua kita dapat mengembangkan literasi digital lewat user experience. Pengguna (customer) diharap melek dan mencoba berbagai platform teknologi yang tersedia. Selanjutnya, sebaiknya kita dapat menggunakan teknologi tersebut untuk diri kita,” ujar Robby.
Pemaparan singkat ini berlanjut pada penyampaian opini terbuka dengan mengangkat masalah keamanan digital. Dalam dunia yang serba terbuka ini kejahatan mudah sekali terjadi seperti penjelasan Perry Tristianto, pemilik The Great Asia Afrika, Bandung.


Perry menyatakan bahwa media sosial ini bisa tidak aman, buktinya akun Instagram Farmhouse dan The Great Asia Africa (TGAA) dibajak sampai hari ini. Masalah ini termasuk masalah umum yang terjadi di media sosial. Robby menjawab masalah ini dengan mengembalikan lagi pada sistem pemerintahan setempat.
Terkait masalah tersebut, Robby mencoba memberikan slusinya. Menurutnya, masalah ini bisa dikembalikan ke pemerintah, “Pemerintah bisa lebih intens lagi untuk menyediakan sumber daya manusia, terutama fokus kepada bidang security. Karena security ini akan menjadi satu celah untuk terjadi kriminalisasi terhadapt industry digital itu sendiri.”

Pada akhir acara Robby berpesan agar siapapun yang memilih teknologi baru, sebaiknya dengan proses uji coba yang layak.
“Uji coba yang layak menurutnya memtuhkan proses dan waktu. Jangan sampai kita menjadi pioneer atau kelinci percobaan dari teknologi itu,” pungkas Robby Kumala. (RMD/PMN).
***
Judul: Paguyuban Bandung Ngariung: Tips Jitu Melesat di Era Digital
Jurnalis: Rose Mariadewi
Editor: JHK








