Mendaki dan Menghikmahi Gunung
Oleh: Yusuf Iskandar
Aku menjalani “swab rapid test antigen” sehari sebelum berangkat dari Jakarta menuju Wonosobo untuk mendaki Gunung Sumbing. Ini adalah rapid test kesembilan selama musim pandemi dan rapid test antigen kedua. Hasilnya non reaktif.
Antara rapid test dan mendaki gunung ini sebenarnya dua kegiatan yang tak berhubungan. Melainkan kebetulan saja terjadinya. Namun, tentu menambah rasa percaya diri untuk melakukan perjalanan jauh dengan transportasi umum di musim pandemi, meninggalkan Jakarta yang sedang memberlakukan PSBB ketat.
Soal moda transportasi yang akan digunakan, aku mempercayakan sepenuhnya kepada teman seperjalanan dari Jakarta. Ternyata naik bis menjadi pilihannya. Teman seperjalanan kami tujuh orang dari Jakarta. Kami berdelapan berencana melakukan pendakian ke Gunung Sumbing (3.371 mdpl) di Jawa Tengah.

Dipilihnya Gunung Sumbing ini karena di musim pandemi ini tidak banyak pilihan gunung yang dibuka untuk pendakian. Sementara pendakian Gunung Sumbing masih dibuka, tapi hanya untuk lintasan via Kaliangkrik. Seiring dengan viralnya Dusun Butuh, Kaliangkrik yang sedang naik daun sebagai Nepal van Java – padahal Nepal juga nggak sebegitunya menyerupai Kaliangkrik.
Namun, biarkan saja. Suka-suka yang ngomong. Faktanya Dusun Butuh memang unik, asyik, dan menarik. Hal yang lebih penting dari itu adalah instagramable, mampu mendatangkan wisatawan. Akibatnya ekonomi masyarakat tetap menggeliat disaat hasil bertani sayur nyaris sekarat.
Kami berdelapan memang pegiat mendaki gunung, terkompori oleh seorang di antara kami yang katanya, “Sudah lama nggak mendaki ini kaki mulai pegal-pegal”. Kalimat provokatif beraroma hoax itu cukup menjadi alasan untuk kami sepakat menyusun rencana pendakian ke Gunung Sumbing.
Tak perlu diverifikasi dan dicek-ricek kebenaran ucapan itu. Sebab, tanpa itu pun kami tetap ingin mendaki. Jadi bisa dibayangkan, betapa di luar sana banyak orang mudah terprovokasi oleh berita hoax. Ya, itu karena tidak bisa menahan diri untuk melakukan cek dan ricek.
Namun, bagi kami kalimat provokasi itu kami ubah menjadi motivasi. Semakin bernada hoax, semakin membangkitkan adrenalin. Yang penting mendaki happy, walau dimusim pandemi. Tentu saja kami paham bahwa ada protokol kesehatan yang harus kami jaga dan patuhi.

Perlu diketahui bahwa kami ini bukan pendaki muda. Apalagi milenial yang seringkali hanya berbekal merasa kuat dan berani. Secara profesional kami siap lahir-batin. Enam dari delapan orang dari tim kami rata-rata sudah lewat usia pensiun. Cukup ditebak saja soal rentang usianya. Juga tak perlu diterangkan siapa yang paling tidak muda – menghindari kata tua. Nanti malah bisa membuat iri.
Sebenarnya tidak logis juga kalau mau mencemburui orang tua – terpaksa kata “tua” kupakai juga. Kalaupun mau mencemburui juga, cemburuilah semangat dan kesungguh-sungguhan kami dalam mempersiapkan kegiatan beresiko tinggi. Ya, persiapan lahir dan batin itu tadi. Tak semata-mata kami ingin, kami mampu, kami berani, lalu kami nekat. Tak sesederhana itu.
Mendaki gunung itu bukan soal tinggi atau rendah gunungnya. Melainkan ini aktivitas berisiko tinggi. Sebab setiap gunung, bagi setiap orang, pada setiap waktu, tak pernah sama kondisinya. Walaupun sudah berkali-kali mendaki gunung yang sama. Maka keindahan dan kenikmatan yang diraih pun berbeda-beda. “Ibrah” (pembelajaran) dan hikmahnya pun tak sama antara satu dan lain orang. Namun, muaranya tetap satu. Menuju keharibaan Sang Maha Pencipa gunung itu sendiri.
Hanya ada satu alasan mendasari bahwa semua yang diciptakan Tuhan itu tak ada yang sia-sia*). Tak juga gunung, sungai, dunia, bumi, dan langit, dalam rentang masa antara hidup dan mati, melewati waktu siang dan malam.
Ketika kubuka aplikasi Al-Qur’an Bahasa Indonesia di dawaiku, aku agak terperangah. Kutemukan ayat-ayat yang membicarakan tentang gunung, sungai, dunia, bumi, langit, hidup, mati, masa, waktu, siang, dan malam, masing-masing ada dalam 50 ayat tersebar dalam kitab suci itu.
Masya Allah! Untuk alasan apa pula Allah “mengepas-paskan” jumlah “kalimah” (kata) dalam jumlah ayat?
Abaikan soal angka 50. Nanti jadi mistis. Selain itu juga karena itu kata-kata terjemahan Arab-Indonesia yang bisa tak sepenuhnya tepat dan akurat sesuai konteks. Bisa jadi kurang atau lebih dari 50 atau sebut saja ada puluhan ayat.
Namun, ada hal yang pasti benar. Ketahuilah bahwa Allah sangat bersungguh-sungguh tentang hal-hal itu. Bagaimana mungkin jika Allah seserius itu lalu manusia – termasuk pendaki gunung – menjadikannya sebagai perkara yang sepele dan sia-sia belaka?
Maka, kami pun akan bersungguh-sungguh menghikmahi gunung dalam setiap pendakian kami. Tak setiap orang suka, mampu, atau sempat mendaki gunung. Namun, jika kemudian dapat melakukannya maka mendakilah lalu hikmahilah.
*) “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” – (QS.3:189-191).
***
Profil penulis:
Yusuf Iskandar adalah seorang Independent Mining Consultant yang pernah bekerja di Mining Company dan Minimarket. Alumni SMA Negeri 1 Kendal ini tinggal di Yogyakarya dan mempunyai hobi traveling, blusukan, petualangan, dan menulis apa saja yang bermanfaat. Dalam tagline halaman akun Facebook-nya, dia menulis “Selalu ada cerita dan inspirasi tiap hari”.
Editor: JHK








