Tour de Bandoeng Tempo Doeloe
Merekam jejak wisata pada zaman Belanda yang digagas “Bandoeng Vooruit”
Tour De Bandoeng Tempo Doeloe – Sejak zaman baheula (bahasa Sunda yang artinya “dahulu”), Kota Bandung terkenal dengan keindahan alamnya. Pantas sekali kota ini diberi julukan sebagai Paris van Java karena selain indah dan sejuk, juga masyarakatnya yang someah (bahasa Sunda yang artinya “ramah”) menjadi daya tarik tersendiri.
Jadi, tak heran kalau sejak zaman dulu Kota Bandung menjadi salah satu daerah tujuan wisata. Bukti otentik tentang hal ini saya temukan dalam sebuah brosur kuno berjudul “PROGRAMMA voor 1 WEEK te Bandoeng” yang diterbitkan oleh “Bandoeng Vooruit” (bahasa Belanda yang artinya “Bandung Maju”).
Bandoeng Vooruit adalah sebuah komunitas pariwisata yang didirikan oleh orang-orang Belanda pada 1920. Komunitas ini menjadi mitra pemerintah Belanda dalam menata dan membenahi gemeente khususnya dalam bidang pariwisata di Kota Bandung.

Gemeente atau Guminta dalam bahasa Jawa adalah sebuah istilah dalam bahasa Belanda dan merupakan sebuah nama pembagian administratif. Kata gemeente merupakan istilah ilmu tata negara. Dalam bahasa Indonesia kata ini kurang lebih bisa diterjemahkan sebagai “kotamadya” (Sumber: tantrum.suara.com).

Pada bagian sampul depan brosur tersebut terbitan “Bandoeng Vooruit” terdapat foto “Jubileum Park” (bahasa Belanda yang artinya “Taman Ulang Tahun” adalah sebuah taman yang didirikan oleh gemeente pada 1923 dan areanya membentang dari ujung paling Utara daerah Lebak Gede Barat sampai dengan Cikapundung Timur). Taman ini berisi aneka tanaman keras dan tanaman hias dan didirikan dalam rangka memperingati 50 tahun Ratu Wilhelmina memerintah.

Persis di atas foto “Jubileum Park” tersebut terdapat sebuah tulisan dalam bahasa Belanda “De tuinstaat van de orient met haar onvolprezent omstreken en zuid europeesch klimaat” yang maknanya kira-kira begini: “Keadaan taman di sebelah Timur dengan lingkungannya yang sejuk dan tak kalah dengan iklim di Eropa Selatan”.
Paket wisata hari pertama yang ditawarkan “Bandoeng Vooruit” adalah berwisata ke Gunung Tangkuban Perahu. Gunung berapi ini berada di wilayah Provinsi Jawa Barat, tepatnya berada Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Jaraknya sekitar 30 Km di sebelah Utara Kota Bandung dan memiliki ketinggian hingga 2.084 meter dari atas permukaan laut.

Turis ditawarkan menuju Gunung Tangkuban Perahu tersebut dengan menggunakan mobil, sepeda motor atau kuda. Daya tarik wisata alam ini adalah menikmati udara pegunungan yang sejuk dan pemandangannya yang indah.
Wisata hari kedua, para turis diajak jalan-jalan melihat pendopo kediaman Bupati Bandung yang terletak di sekitar alun-alun Bandung. Kemudian lanjut wisata belanja ke “Pasar Bandoeng” (sekarang “Pasar Baru”). Lalu melihat Sekolah Tekstil di Jalan Cibeunying dan kunjungan sore ke pemandian Kolam Renang “Tjihampelas”.



Malamnya para turis diajak makan di Cafe Restoran “Panorama” yang terletak di jalan menuju arah Lembang atau jalan-jalan ke Dago sambil menikmati udara malam Kota Bandung yang indah.
Wisata hari ketiga, pagi hari para turis berangkat menuju ke Gunung Papandayan yang terletak di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut. Gunung ini memiliki ketinggian 2665 meter di atas permukaan laut dan terletak sekitar 70 Km sebelah tenggara Kota Bandung.
Salah satu hal yang menjadi daya tarik dari Gunung Papandayan adalah terdapat beberapa kawah yang terkenal yaitu Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk. Kawah-kawah tersebut mengeluarkan uap dari sisi dalamnya.


Saat kembali ke Bandung melalui perkebunan teh “Malabar” yang merupakan perkebunan teh terbesar ketiga di dunia. Lokasi perkebunan ini berada di di Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Perkebunan ini berada pada ketinggian 1550 meter di atas permukaan laut dan suhunya berkisar antara 16-26 derajat celcius.
Wisata hari keempat, para turis diajak menunjungi Museum Geologi yang terletak di Jalan Diponegoro, Kota Bandung selama sekitar 1 ½ jam. Lalu ke Museum Pos selama ½ jam. Kebun Binatang Bandung selama 1 jam. Kemudian ke “Jubileum Park” selama ½ jam. Pemukiman elit zaman Belanda “Misigit Tjipaganti” selama 1 ½ jam. Lalu sorenya mengunjungi air terjun “Tjisarua” (sekarang namanya adalah “Curug Cimahi”).


Wisata hari kelima, para turis diajak menuju “Danau Leles” (mungkin sekarang yang dikenal dengan nama “Danau Cangkuang”) dan “Danau Bagendit” (sekarang dikenal dengan julukan “Situ Bagendit”). Danau Cangkuang ini terletak di Kampung Lolohan, RT 002, RW 013, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut.
Persis di tengah danau tersebut juga terdapat sebuah pulau kecil yang di atasnya berdiri sebuah candi yang dikenal dengan nama Candi Cangkuang. Akses utama menuju pulau tersebut dapat ditempuh dalam waktu sekitar 10 menit dengan menggunakan rakit tradisional. Selain candi, di pulau kecil tersebut terdapat juga ada makam keramat dan kampung adat.

Setelah mengunjungi Danau Leles, para turis diajak mengunjungi Situ Bagendit. Kata “situ” adalah bahasa Sunda, dalam bahasa Indonesia kata tersebut artinya “danau”, sedangkan kata “Bagendit” adalah nama sebuah desa. Jadi, “Situ Bagendit” artinya nama sebuah danau yang terletak di Desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut.
Situ Bagendit memiliki lahan seluas 125 hektar dan berada pada ketinggian sekitar 700-800 meter dari permukaan laut. Lokasi tersebut berjarak sekitar 4 Km dari Kota Garut dan bisa ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit perjalanan dengan kendaraan roda dua atau roda empat.
Pada zaman baheula, para turis yang berwisata kedua danau tersebut disuguhi hiburan berupa pagelaran musik angklung. Saat ini alat musik angklung sudah menjadi warisan dunia. Pada sidang kelima Inter-Governmental Committe Unesco di Nairobi, Kenya, 16 November 2010, pukul 16.20 waktu setempat, musik angklung ditetapkan sebagai The Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.
Setelah berkunjung ke Danau Leles (Danau Cangkuang) dan Danau Bagendit (Situ Bagendit), para turis dibawa ke Hacks Radium Hotel, milik A. Hacks Sr untuk makan siang. Kemudian mereka bergerak kembali menuju Gunung Kamojang yang dikenal luas dengan sebutan “Kawah Kamojang”.


Kawah Kamojang merupakan sumber panas bumi yang terletak di Jawa Barat, tepatnya berada di perbatasan dua wilayah yaitu Kabupaten Garut dan kabupaten Bandung. Di Kawah Kamojang ini dulu (1910-1940) terdapat sebuah taman yang indah dan digunakan sebagai salah satu destinasi wisata yang disebut dengan “Lebak Inggris” atau “Taman Inggris”. Kemudian para turis langsung kembali ke Bandung atau mampir dulu ke Garut sebelum kembali ke Bandung sebagai alternatif pilihannya.

Wisata hari keenam, para turis dibawa berwisata ke Curug Jompong melalui Cimindi. Menurut catatan dalam laman malikarrahiem.com, pada zaman Belanda, di aliran Sungai Citarum yang berada di sekitar Leuwigajah terdapat Curug Jompong. Selain itu, terdapat pula deretan air terjun, di antaranya terdapat dua air terjun lainnya ke hilir dari Curug Jompong.
Pada 1854, Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn (seorang naturalis, doktor, botanikus, geolog, dan pengarang berkebangsaan Jerman) dalam bukunya berjudul “Java, Zijne Gedaante, Zijn Plantentooi En Inwendige Bouw” volume ke-4, halaman 384 yang diterbitkan pada 1854) melaporkan keberadaan Curug Jompong dan deretan air terjun lainnya di Bandung. Air terjun lainnya adalah Curug Lanang dan Curug Kapek.

Dua air terjun tersebut kini tidak ada lagi karena sejak 1985 ikut tenggelam dalam genangan Waduk Saguling setelah struktur bendungan dibangun antara Pasir Saguling dan Gunung Pancalikan yang membendung Sungai Citarum pada elevasi 650 meter di atas permukaan laut.
Setelah menikmati keindahan air terjun Curug Jompong, para turis diajak ke Batujajar dan Cimahi yang merupakan basis militer tentara Belanda pada saat itu. Lalu mereka kembali ke Bandung.
Wisata hari ketujuh (terakhir), para turis diajak jalan-jalan menuju ke Kawah Putih yang berada di Gunung Patuha, daerah Bandung Selatan. Perjalanan ke objek wisata ini melalui Soreang, Ciwidey, dan pabrik belerang. Tempat ini merupakan kawasan perbukitan yang berudara sejuk dan indah.

Kemudian mereka dibawa menuju Telaga Patengan atau lebih dikenal dengan sebutan “Situ Patengan”. Ini merupakan sebuah danau alami yang berada di kaki Gunung Patuha. Sesekali muncul kabut di kawasan ini yang membuat suasana terasa semakin eksotis.
Seperti dikutip dari laman ksdae.menlhk.go.id, di kawasan Situ Patengan ini terdapat beraneka ragam flora dengan tipe vegetasi yang digolongkan ke dalam hutan hujan tropis pegunungan. Berbagai tumbuhan khas pegunungan yang terdapat di sini di antaranya tumbuhan saninten (Castanopsis argantea) dan puspa (Schima walichii).

Selain itu, terdapat pula tumbuhan lain seperti jamuju (Podocarpus imbricatus), huru (Litsea angulata), dan kihiur (Castanopsis javanica). Kemudian dari golongan liana dan epifit terdapat juga tumbuhan rotan (Callamus sp), kasungka (Gnetum neglatum), dan anggrek bulan (Phalaenopsis ambilis).

Sementara itu dari jenis fauna terdapat satwa langka khas Jawa Barat yang keberadaannya perlu kita lestarikan, seperti surili (Presbytis comata). Satwa lainnya adalah kucing hutan (Felis bengalensis), trenggiling (Manis javanica), bajing (Callosciurus notatus), ayam hutan (Gallus gallus varius), burung tulung tumpuk (Megalaema carvina), dan beberapa jenis ikan yang hidup di danau.
Demikian sekilas informasi tentang “Tour de Bandoeng Tempo Doeloe” yang bersumber dari brosur peninggalan zaman baheula. Mudah mudahan tulisan ini bermanfaat dan membuat kita semakin bangga, serta menyadari tentang potensi pariwisata di Jawa barat, khususnya di Kota Cimahi dan sekitarnya. (Sony Vespa)
***
Judul: Tour de Bandoeng Tempo Doeloe
Penulis: Sony Vespa
Editor: JHK
Info Penulis:
Sony Vespa adalah nama pena dari Sony Sanjaya. Nama Vespa yang melekat erat di belakang namanya merupakan hadiah dari teman-temannya sesama penggila Vespa. Ia memang salah satu anggota komunitas “Vespa Antique Club” VAC Cimahi.
Penulis adalah seorang pengusaha muda yang bergerak di bidang handycraft (kerajinan tangan) dengan nama bendera “Tjimahi Vintage Ethnic Art”. Pria yang memiliki hobi jalan-jalan ini juga menyukai sejarah, heritage, seni, dan budaya. Sony juga tercatat sebagai salah seorang pengurus Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) di Komite Sejarah, Heritage, dan Pariwisata.








