CerpenLiterasiPratama Media News

Kardi Portal

Sebuah cerpen karya Sarkoro Doso Budiatmoko, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat

Pratama Media News, cerita pendek (cerpen) berjudul “Kardi Portal” ini merupakan karya Sarkoro Doso Budiatmoko,  alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat.

Sudah sejak azan Subuh tadi Pak Agus berjalan mondar-mandir dari ruang makan, ruang tamu, dan teras. Entah sudah berapa putaran, tidak dihitungnya. Setiap kali langkahnya sampai di teras, dia melongokkan pandangannya ke pintu pagar rumah. Bunyi langkah kakinya srak-srek-srak-srek di pagi Subuh itu terdengar nyaring.

Langkah Pak Agus kadang tiba-tiba menjadi cepat ketika didengarnya suara mobil atau sepeda motor di depan rumah. Kalau ternyata hanya lewat, langkahnya kembali melambat dan suara srak-srek- srak-srek menyeruak lagi.

Pak Agus memang sedang menunggu seseorang yang berjanji akan datang segera setelah waktu salat Subuh tiba. Subuh sudah lewat, tetapi oang yang ditunggu belum datang juga.

Beberapa kali Pak Agus ngedumel, “Kurang jelas bagaimana sih pesan WA-ku? Alamat lengkap sudah kuberi. Share loc sudah kukirim. Tanda-tanda khusus rumah dan sekitarnya juga sudah aku kirim. Apalagi?”

Bukan hanya mulut, hati Pak Agus juga ikut nggrundel ketika untuk kesekian kalinya mendengar suara istrinya dari kamar, “Gimana Pah, sudah ada tanda-tanda datang belum?”

“Belum Mah,” jawab Pak Agus dari ruang tamu.

“Ngopi dulu saja Pah, mumpung masih panas. Ntar keburu dingin, bisa bikin perut kembung.”

“Ya Mah,” sahut Pak Agus sambil membatin, hati lagi kesel nunggu sesuatu begini kopi manis pun rasanya bakal jadi pahit di mulut.

Istri Pak Agus bersuara lagi setengah teriak, masih dari kamar, “Alamat lengkap kita sudah dikirim ke Jeng Arini kan Pah?”

“Bukan hanya lengkap, tetapi lengkiiip Maaah,” jawabnya membalas dengan setengah teriak juga.

“Pokoknya jangan sampai telat Pah, bisa kacau balau semuanya. Kasihan Pak Hasto,” lanjut si Mamah.

Jeng Arini sudah pasti terlambat. Hampir satu jam juru rias panggilan ini belum kelihatan jempol kakinya.

Dua bulan yang lalu, Pak Hasto meminta Pak Agus dan istrinya menjadi among tamu acara resepsi pernikahan anaknya. Seharusnya jam enam pagi ini sudah siap di balai kelurahan, tempat resepsinya.

Pak Agus merasa was-was, kalau mereka berdua datang terlambat akan merusak rangkaian panjang acara sakral itu. Was-was, deg-degan, kebelet pipis, gelisah, khawatir, takut, dan ciut. Itulah yang dia rasakan sambil menunggu kedatangan Arini.

Rupanya inilah rasanya tersiksa menunggu, campur aduk. Waktu yang satu menit pun terasa seperti sewindu.

Jauh-jauh hari Pak Agus sudah memberitahu alamat rumahnya, ditambah ciri-cirinya, seperti warna pagar dan warna pintu rumahnya. Juga warna dinding pos kamling dan musala di seberang gang. Meski pun sebenarnya pada waktu pagi Subuh, warna-warna seperti itu kurang berguna. Saat seperti itu biru, hijau, putih, dan kuning, tidak begitu terlihat bedanya.

Pak Agus juga tidak lupa telah memberitahu Pak Kardi, pemegang kunci portal yang biasanya ditutup pada pukul 10 malam dan membukanya kembali pada pukul lima pagi. Dia sudah wanti-wanti agar khusus pagi ini portal dibuka saat azan Subuh. Itu artinya jam empat lewat sedikit.

Itu juga yang ditanyakan istrinya lagi, “Papah juga sudah kasih tahu Pak Kardi kan?”

Kali ini Pak Agus diam tidak mau menjawab. Hanya dalam beberapa saat ini saja dia sudah merasa capek hati, apalagi kalau mikirin soal portal.

Tentang portal di mulut gang, Pak Agus tak habis pikir, mengapa Pak Kardi yang dipasrahi memegang kunci. Orangnya memang humble dan ringan tangan, tetapi omongan dan tindak-tanduknya bagai tangan berlumuran sabun hendak menangkap belut. Licin bukan main.

Sebagai juru kunci, Pak Kardi tahu kapan waktunya menutup dan membuka, tetapi lebih sering memakai karep-nya sendiri. Bagi Pak Kardi, pukul 10 malam atau pukul lima pagi itu hanya sekadar angka tanpa arti. Pukul 10 bagi Pak Kardi bisa berarti Pukul sembilan, 11 atau 12 malam, dan pukul lima pagi di tangan Paak Kardi bisa menjadi pukul enam atau tujuh pagi.

Pernah juga suatu pagi, portal belum dibuka oleh Pak Kardi, padahal warga sudah antri menyemut mau lewat untuk menunaikan kewajibannya masing-masing, seperti pergi ke sekolah, kerja atau belanja. Ternyata dia bangun kesiangan karena malam sebelumnya melaksanakan ronda.

“Maaf Pak, Bu, Mba dan Mas, saya kesiangan, habis ronda tadi malam sampai pagi,” kata Pak Kardi berdalih, sambil memasukkan anak kunci ke gembok portal.

Pada kali lain terjadi lagi antrian di belakang portal karena Pak Kardi lupa naruh kunci. Permintaan maaf keluar lagi dari mulutnya. Luar biasa. Oleh karena itu untuk jaga-jaga, Pak Agus memberi informasi sebuah jalan tikus ke Jeng Arini.

“Kalau Jeng Arini pakai sepeda motor, lorong pertama setelah minimarket belok kiri. Itu jalan setapak, tetapi biasa dilalui sepeda motor. Ikuti saja terus lorong itu. Sampai ketemu tiang listrik yang tinggi menjulang, nah rumah di samping tiang itu rumah saya,” ujar Pak Agus.

“Oh baik Pak Agus,” balas Arini dari seberang hape.

“Tapi hati-hati, kalau habis hujan jalan setapak itu agak licin,” tambah Pak Agus, “Moga-moga sih portal sudah dibuka saat azan Subuh, jadi tidak perlu lewat jalan tikus,” tambahnya.

“Siaaap Pak,” jawab Arini lagi.

Portal itu dipasang pada saat wabah covid-19 masih melanda Indonesia. Sebatang pipa besi bergaris tengah 10 cm, panjangnya menutup lebar gang tanpa celah. Pipa kokoh ini ditopang oleh tiang-tiang besi di ke dua ujungnya. Pada era itu, portal sangat ampuh untuk membatasi lalu lintas manusia dan kendaraan dalam rangka mengurangi risiko menyebarnya wabah mematikan itu.

Pada saat wabah merebak, Pak Kardi memang termasuk yang paling merasakan dampaknya. Merasakan kesedihan yang tak terperi karena ditinggalkan orang-orang dekat yang menjadi korban wabah.

Belajar dari pengalaman kehilangan, Pak Kardi paling ngotot mengusulkan agar mulut gang dipasangi portal. Dia juga bersedia memegang kunci portal dengan segala konsekwensinya.

Dengan alasan demi keselamatan warga, Pak Kardi mengatakan, “Kalau portal itu dibangun, saya siap untuk membuka dan menutup jam berapa pun. Kalau sudah terlanjur malam, saya siap dibangunkan.”

Saking ngototnya, warga di sekitar memberinya nama tambahan menjadi “Kardi Portal”. Pak Kardi ternyata juga menangkap kekhawatiran warga, jangan-jangan portal nantinya akan menjadi sumber pungli.

Menepis kekhawatiran ini Pak Kardi menyampaikan, “Tidak usah was-was kalau nantinya saya akan menengadahkan tangan atau menyorongkan kaleng untuk pelintas portal. Tidak! Saya hanya mau ikut menjaga lingkungan dari penyebaran wabah.”

Kardi Portal yang sudah masuk lansia, kini hidup sendiri dan mencari nafkah dengan bekerja serabutan. Apa saja dilakukannya asal halal. Kondisi seadanya seperti itu wajar saja mengundang kecurigaan, jangan-jangan portal menjadi sumber pungli.

Akhirnya warga setuju membuat portal dan setuju juga Kardi Portal sebagai pemegang kuncinya. Sejuh ini dia tidak pernah meminta-minta dari membuka dan menutup portal. Dia juga tidak mau menengadahkan tangannya. Hanya saja sayangnya dia tidak selalu bisa membuka dan menutup portal sesuai janjinya.

Portal sebenarnya sudah menjadi bagian dari masa lalu. Wabah sudah berlalu dan ekonomi mulai kembali bangkit. Keadaan di mana-mana sudah kembali normal.

Penghuni sepanjang gang juga bukan golongan elite yang dengan sengaja menutup diri dari dunia luar. Bukan warga yang eksklusif menutup lingkungannya dengan pagar tembok dan sepasukan Satpam yang selalu siap siaga menjaga. Namun, entah mengapa portal masih tetap bertahan.

***

Pak Agus sudah boleh tenang sekarang. Jeng Arini beberapa saat lalu sampai rumah dan langsung merias. Dia lewat jalan tikus karena portal masih menutup.

“Maaf sekali Pak, saya datang terlambat karena portal belum dibuka. Saya balik lagi mengganti mobil dengan sepeda motor. Ini tadi saya masuk lewat jalan tikus,” ujar Jeng Arini.

Mendengar portal masih ditutup, padahal sudah lewat jauh dari pukul lima, kekesaalan hati Pak Agus langsung sampai ujung rambut ubun-ubun kepala.

“Oooh awas Pak Kardi,” Pak Agus siap-siap memarahi Kardi Portal.

Selesai berias, dengan pakaian pesta pengantin, Pak Agus berangkat menggunakan mobil dan menyiapkan sepotong besi kunci roda, siapa tahu diperlukan untuk membongkar paksa portal.

Ternyata sudah banyak waarga yang antri di mulut gang. Mereka menunggu Pak Kardi membuka portal. Mereka hanya bisa menunggu karena tidak tahu rumah Pak Kardi.

Pak Agus yang sudah memakai beskap dan istrinya yang sudah cantik berpakaian kebaya masuk ke rumah Kardi Portal. Didapatinya juru kunci portal ini berbaring tidak berdaya di atas dipan kayu. Sepertinya dia beberapa hari kurang makan, minum, dan istirahat.  Tidak ada piring, gelas, dan makanan di rumah sempit itu. Kopi pun tidak.

Menyaksikan kondisi Kardi Portal, Pak Agus lemas seketika. Betapa egoisnya dia mengharap banyak dari Pak Kardi, tetapi tidak peduli dengan hidup dan kebutuhannya.

Melihat fisik Kardi Portal yang sudah parah, sepasang suami istri itu memutuskan untuk langsung membawanya ke rumah sakit terdekat. Pak Agus dan istrinya lupa dengan “among tamu”. Pikirnya, urusan nyawa jauh lebih penting dari urusan resepsi pengantin.

Pesta pengantin bisa terjadi lebih dari sekali, tetapi sekali nyawa melayang, tidak bisa kembali.

Purwokerto, 24 Maret 2023.

Sarkoro Doso Budiatmoko.

***

Judul: Kardi Portal
Penulis: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: JHK

Tentang Pengarang:

Sarkoro Doso Budiatmoko, lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak Pranoto dan almarhumah Ibu Fari’ah. Pendidikan hingga SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini,  sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di IPB (1984), Bogor dan pascasarjana di Iowa State University (1996),  Amerika Serikat.

Sarkosro Doso
Sarkoro Doso Budiatmoko, penulis dan pengarang (Sumber: Pratama Media News)

Pengalamannya menjalani berbagai penugasan di Perum Perhutani memperkaya wawasan dan pemikirannya yang sering dituangkan di media massa. Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, budaya, dan sumberdaya manusia. Aktifitasnya menulis tidak surut meski sudah purna-tugas beberapa tahun lalu.

Penikmat buku dan bacaan ini juga dipercaya mengasuh rubrik Kolom di Majalah “Bina Media Berita Kehutanan & Lingkungan” yang diterbitkan oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Tulisan Sarkoro Doso berjudul “Setelah PHL, Lalu?” pernah terbit di Majalah Duta Rimba Edisi 42 (Mar-April 2012) – Penerbit Perum Perhutani, Jakarta, Indonesia.

Kini rimbawan berpengalaman yang berasal dari Perum Perhutani Unit II Jawa Timur aktif menulis blog di Kompasiana. Beberapa tulisannya di platform asuhan Kompas online tersebut di antaranya artikel berjudl “Bijak Memilih: Orang, Pasangan, dan Pemimpin” yang terbit pada 20 Mei 2021 dan artikel berjudul “Hidup Akal Sehat” yang terbit pada 31 Mei 2021.

Penulis dikaruniai tiga orang anak. Saat ini dia menetap di Purwokerto dengan kesibukan menulis dan menjadi staf pengajar di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

***

Artikel Berkaitan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button