Berita (News)Pratama Media NewsPsikologi

Remaja, Pendidikan Seks, dan Seksualitas

Sebuah forum diskusi bertajuk "Berbagai Perspektif Pendidikan Seks dan Seksualitas di Indonesia” yang diprakarsai oleh Letss Talk

Pratama Media News, Binghamton, New York, Minggu (14/08/2022) – Lembaga LETSS Talk (Let’s Talk about Sex n Sexualities) bekerja sama dengan Beranda Perempuan Jambi, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Aceh, dan Flower Aceh menyelenggarakan forum diskusi untuk umum yang membahas seputar remaja, pendidikan seks, dan seksualitas. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada Sabtu (13/08/2022) kemarin dalam rangka merayakan Hari Remaja Internasional yang ditetapkan setiap 13 Agustus.

Acara semula diagendakan selama tiga jam dan dimulai  pada pukul 09.00 WIB dan berakhir sekitar pukul 12.00 WIB. Namun, karena keseruan acara dan antusias peserta, durasi waktu diskusi jadi bertambah panjang dan baru selesai hampir pukul 14.00 WIB.

Di New York sendiri, Diah Irawaty dan Farid Muttaqin, pasangan suami isteri yang mendirikan LETSS Talk mengawal diskusi ini pada malam hari waktu setempat hingga dini hari.  Diskusi yang dilakukan secara daring melalui zoom diikuti oleh 40 peserta rerata usia mulai dari usia Sekolah Dasar dengan kategori belia remaja hingga lansia.

Poster diskusi umum tentang Remaja, Pendidikan Seks, dan Seksualitas
Poster acara diskusi umum bertajuk “Berbagai Perspektif Pendidikan Seks dan Seksualitas di Indonesia” yang diselenggarakan Letss Talk secara online pada Sabtu (13/08/2022) – (Sumber: Letss Talk)

Acara yang berlangsung menggunakan bahasa Indonesia ini diikuti peserta yang berasal dari dari Aceh, Makassar, Jambi, Pekalongan, Yogyakarta, Palu, Jakarta, Lampung, Bulukumba, Cimahi, dan tentunya New York tempat penyelenggara.

Dua juru bahasa isyarat disediakan untuk memfasilitasi peserta yang memiliki keterbatasan mendengar. Ita Mufrita dan Muhammad Muwafiquddin bergantian menyulih suara dengan bahasa isyarat selama tiga jam.

Diskusi kemarin adalah puncak acara atau kelanjutan dari pelatihan pendidikan seks dan seksualitas untuk remaja dan kelompok muda di Indonesia yang berlangsung setiap Sabtu selama sebulan sebelumnya. Tentu pelatihan dilakukan secara daring melibatkan para kaum muda perempuan dan lelaki se Indonesia.

Para pembicara yang hadir adalah para pengajar dalam pelatihan, sangat berkompeten di bidangnya dan memiliki kepedulian tinggi terhadap rendahnya pengetahuan remaja untuk isu seks dan seksualitas di Indonesia.

Acara yang bertajuk Berbagai Perspektif Pendidikan Seks dan Seksualitas di Indonesia menghadirkan pembicara kunci Profesor Nurul Ilmi Idrus, Ph.D., Guru Besar Antropologi Universitas Hasanuddin Makassar dan Rektor Universitas Muslim Maros (UMMA) yang mengupas tentang hubungan antara sesama lelaki secara seksual, di mana itu secara fakta banyak terjadi, tapi karena dianggap bentuk penyimpangan sehingga banyak stigma buruk  padahal secara alamiah dan naluri itu adalah bentuk ekspresi kodrati dari para pelaku sehingga tidak bisa muncul secara wajar ditataran sosial.

Pendidikan seks
Ilustrasi: Sex education word cloud concept (Sumber: stethoscopemagazine.org)

Ini sangat erat terkait dengan kondisi kesehatan mental. Dalam penutupnya Prof. Ilmi menyatakan bahwa di Indonesia mental health atau kesehatan mental tidak dianggap jatuhnya pada kondisi kegilaan. Ekspresi diri yang ditekan bisa menimbulkan penyakit mental yang parahnya ini terakumulasi secara sosial karena kelompok sesama tidak mendapat tempat di negeri ini.

Mental health dianggap tidak ada di sini padahal itu nyata dan banyak terjadi,” ungkap Prof. Ilmi.

Sebagai pengupas atau refleksi dari diskusi dan pelatihan sebelumnya hadir fasilitator Atas Hendartini Habsjah dari Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) dan Danny Irawan Yatim seorang akademisi juga psikolog.

Menarik bagi Atas, karena ini pengalaman pertamanya melakukan pelatihan secara daring. Puluhan tahun di PKBI dimana perempuan cantik lansia ini pernah duduk sebagai wakil ketua PKBI, ia melakukannya secara langsung dan mengakui banyak kendala yang dihadapi.

Pendidikan seks dan seksualitas tidak bisa dilakukan Atas di sekolah negeri karena mendapat banyak penolakan di tingkat kebijakan (DPRD), “Untuk pendidikan kesehatan reproduksi misalnya, itu kami hanya bisa memberikan pada gurunya bukan pelajarnya yang menjadi sasaran utama, justru di sekolah swasta kami bisa masuk dan diterima baik.”

Pendidikan seks
Ilustrasi: Pendidikan seks sejak usia dini – (Sumber: the-star.co.ke)

Sisi lain, Dany banyak mengkritisi program pelatihan sebelumnya. Ia melihat tidak konsistennya peserta yang memang umumnya pelajar SMP hingga SMA. Mulai dari jumlah keikutsertaan yang terus menurun pun keterlambatan peserta pada saat acara berlangsung. Ia menyarankan sebaiknya acara pelatihan tidak dibuat serial dengan kewajiban mengikuti penuh dari awal hingga akhir (empat kali pertemuan dengan rerata durasi diskusi lebih dari dua jam, mungkin menyulitkan para remaja untuk tetap di tempat). Cukup dibuat insidental, sesekali dan langsung selesai dalam satu pertemuan.

Sebagai narasumber dihadirkan tiga pembicara yaitu: Nurul Saadah Andriani, Direktur Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak (SAPDA) dari Yogyakarta, Cintia Indriyani, Ketua Forum Remaja Nasional (Youth Forum) PKBI, dan Khanis Suvianita, Mahasiswa S3, ICRS, UGM; Aktivis Gaya Nusantara.

Acara dipandu oleh moderator Novita Sari  dari Beranda Perempuan, Jambi. Diskusi berlangsung sangat dinamis dan seru. Para peserta tidak ada yang keluar selama berlangsungnya acara. Sesekali moderator menyilakan peserta untuk makan dan minum dengan mematikan kamera.

Pratama Media News (PMN) sendiri yang mengikuti keseluruhan acara bisa melakukan aktifivas akhir pekan bersama anak-anak tanpa terganggu. Karena kamera dimatikan, PMN seorang ortu tunggal dengan dua anak mencuci bersama dan masak hingga makan siang tanpa terganggu. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Ilmu dapat  pekerjaan rumah selesai.

Pendidikan seks
Ilustrasi: Pendidikan seks – (Sumber: Change.org)

Sebagai perayaan Hari Remaja Internasional maka acara diskusi juga dimeriahkan oleh pentas seni yang menghadirkan tujuh penampilan kesemuanya remaja. Mereka adalah: Malika Rose  dan Andhityas  Cintya Widianna dari Jakarta,  Astri Hasan dari Tidore, Moni Hartika Letnabari dan Amalia dari Jambi,, Mahatma Arrayan dari Makassar dan Muhammad Fadhil Ikhsan dari Banda Aceh.

Semua penampilan yang dihadirkan sangat memukau peserta. Para remaja ini berasal dari banyak latar belakang. Selain tempat asal yang berlainan ada yang difabel akustik, tapi sangat mahir dengan flute dalam memainkan irama “Kopi Dangdut”, lagu yang khusus dipesan Ira dari New York. PMN terkesan dengan pantun yang dibacakan dari Jambi juga lagu Kurt Cobain berjudul “Polly” yang dibawakan dengan apik diiringi selentingan gitar yang dimainkan sendiri dari Makasar.

Untuk lagu Polly yang dibawakan Mahatma, pesan Kurt sang vokalis Nirwana yang tewas bunuh diri sangat dalam untuk tindak kejahatan seksual jenis rudapaksa. Kurt menulis lagu ini dari sisi pelaku, ya lagu ini muncul dilatarbelakangi kasus rudapaksa yang dialami seorang gadis usai menonton konser di malam hari di Amerika Serikat oleh seorang pemuda yang melakukannya sambil memegang obor sedangkan korban diikat di tiang.

Kurt berpesan bahwa untuk menghentikan kasus macam ini bukan dengan pelatihan bela diri pada perempuan, tetapi datanglah pada pelaku. Mereka harus diberitahu jika apa yang mereka lakukan adalah salah dan jahat, juga kejam.

Pada akhir acara pada sesi tanya jawab, PMN yang juga pernah mengalami kasus kekerasan seksual berulang masa lalu membagikan pengalamannya.

“Ya mendatangi pelaku, membuka matanya bahwa apa yang dilakukannya salah dan jahat adalah benar,” ujar PMN.

PMN juga menekankan bahwa perempuan bukan objek ia berhak atas tubuh dan pikirannya bagaimana ia mengekspresikan diri itu adalah hak asasi manusia. Cara berpakaian dan bagaimana ia bersikap adalah hak dasar yang tidak perlu diributkan oleh kaum patriarki yang merasa berhak mengatur ranah privasi perempuan. Ini disetujui Atas dalam akhir diskusi.juga peserta lainnya. Dukungan dan simpati.juga PMN dapatkan dalam pertemuan secara maya itu.

Pertanyaan besar disampaikan oleh Khanis dan menjadi PR bersama bagi peserta, negara, juga bangsa ini. Apa yang bisa terjadi pada generasi selanjutnya ketika kasus rudapaksa yang menimpa perempuan dan ia belum bisa keluar dari luka tubuh dan jiwanya meninggalkan trauma sehingga menghasilkan mekanisme pertahanan yang mengeluarkan kebencian pada semua lelaki dan itu ia sampaikan pada anak perempuannya yang menginjak usia remaja yang mungkin sedang jatuh cinta. Apa yang bisa terjadi? (Imas Nurhayati/Pratama Media News)

***

Judul: Remaja, Pendidikan Seks, dan Seksualitas
Penulis: Imas Nurhayati
Editor: JHK

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button