CerpenLiterasiPratama Media News
Tren

Senandung Kasih di Sungai Batanghari

Sebuah cerpen karya Poedianto

Senandung Kasih di Sungai Batanghari  –  Sore hari, sinar mentari membayang kuning, menerobos riak air sungai Batanghari. Berduyun-duyun orang menanti sampan penyeberangan. Ada yang pulang dari sekolah, berdagang, bekerja, untuk kembali ke rumah masing-masing. Di belakang Pasar Angso Duo, kota Jambi, membentang sungai yang tenang dan tempat penyeberangan lalu lalang penduduk desa Palayangan, desa Danau Teluk dan sekitar pusat perkotaan Jambi. Tak luput sepasang sejoli saling berdekatan duduk, dan tampak buram wajah keduanya.

“Mas Dwipo, besuk jadi pulang ke Jawo,” suara pelan Mary Lela dengan merajuk.

“Ya, mas kan harus masuk kerja.”

“Tak beraso kito harus berpisah,” kata Lela dengan logat Minang.

“Tapi percayalah, sepulang Mas di Jawa, nanti mas menceritakan pada ibu dan bapak di Jawa. “Insya Allah dalam waktu yang tak lama, mas akan melamar Lela,” kata Dwipo menyakinkan kekasihnya.

Mary Lela semakin merapatkan genggamannya pada jemari lelaki asal Jawa itu.

Sampan penyeberangan sudah mendekat ke tepi. Angin semilir mengusap pelan wajah-wajah remaja yang sedang dirajut asmara. Setelah penuh penumpang sampan berbalik mengantar penduduk dari pasar Angso Duo ke desa Pelayangan.

Pagi yang cerah, ramai seperti biasanya kawasan Pasar Angso Duo, Taman Mayangsari, Dwipo dan Mary Lela sudah menghabiskan segelas es tebu. Setelah dibayar, sepeda motor distater dan melaju ke arah kampung Pecinan dan berputar ke kanan lurus ke jalan Amir Hamzah, jalan Sultan Agung, jalan Sumantri Brojonegoro dan lewat depan halaman SMA Ferdy Ferry, serta SMA Nusantara, kesemuanya di jalan Abunjani, Jambi.

Sepeda motor berkurang lajunya, Dwipo langsung masuk gang kecil dengan petunjuk arah kekasihnya yang dibonceng. Jalan Selamat, Telanai Pura. Dwipo ingat perkampungan di daerah asalnya, kampung Bantaran, Genuk Watu, Blimbing di kota Malang.

Tepat di muka rumah yang besar, punggung Dwipo di senggol Lela tanda berhenti. Sepeda motor dituntun pelan masuk halaman yang sejuk. Di sebelah menyebelah tumbuh pohon sawo yang rindang.

“Assalamualaikum,” suara Mary Lela.

Terdengar sahutan dari dalam, “Walaikumsalam.” Seorang kakek yang masih tegar dan tergopoh-gopoh membuka pintu beranda. Mary Lela langsung meraih tangan kakek dan diciumnya. Dwipo mengikuti saja apa yang dilakukan kekasihnya.

“Datuk, ini Mas Dwipo mau pamit pulang ke Jawo,” kata Mary Lela. Kakek tua yang dipanggil Datuk mengerutkan kening, dipandangnya dengan seksama kedua remaja silih berganti, dan katanya, “Sudah berapo lamo di Jambi, kok mau pulang ke Jawo?”

“Sudah limo hari, Datuk. Besok sudah kerjo pulo,” jawab Mary Lela. Dwipo hanya mengangguk-anggukkan kepala dengan senyum lebar.

“Ayo … ayo silakan masuk. Duduklah dulu sarempak,” suara Datuk mempersilakan.

Datuk masuk ke ruang dalam sebentar dan berbicara pada pembantu. Sesaat kemudian Datuk kembali ke ruang tamu dengan sudah berganti pakaian dan sarung yang masih tampak baru. Dihisapnya rokok dalam-dalam, dan menanyakan hal ikhwal kekasih cucunya. Asal usul, rumah, pekerjaan dan segala tetek mbengek sebagai kekhawatiran orang tua akan nasib cucunya Mary Lela.

Dwipo hanya menjawab sepotong-potong, dan dijelaskan panjang lebar oleh Mary Lela.

Tak lama kemudian Datuk sudah mengumbar senyum tanda puas dan percaya.

Pembantu menyuguhkan Kripik Balado dan secangkir kopi hangat. Hawa panas sudah merambat ke seluruh halaman. Angin semilir masuk lewat pintu yang terbuka lebar. Datuk merenung sejenak dan desisnya, “Sayang nenekmu sudah tiado. Kalau masih ado, bukan main senangnyo melihat cucu di pelaminan besok,” kata Datuk serius.

Hening beranda tamu. Mary Lela menundukkan kepala. Pikiran Datuk menerawang jauh ke depan. Dwipo diam seribu bahasa. Di luar terdengar lamat-lamat lagu-lagu tradisi Jambi. Seperti Gerhano Cinto, Putri Muaro Jambi, Terali Cinto, Salam Rindu, dan Dengang Sayang.

“Kapan Dwipo balik ke Jambi,” tanya Datuk tiba-tiba.

Dwipo agak gusar rupanya kemudian menjawab, “Tak lama, Datuk. Saya bersama ayah, ibu, paman, bibi, akan meminang Mary Lela.”

S e l e s a i

***

Judul: Kapan Kau Katakan “Senandung Kasih di Sungai Batang Hari”
Pengarang: Poedianto
Editor: AN

Profil pengarang:

Poedianto sosok guru inspiratif. Pria kelahiran Surabaya, 18 Oktober 1959 yang akrab disapa Poedi ini selalu punya ide kreatif dalam memanfaatkan waktu luangnya. Terbukti ia mampu menciptakan 207 lagu Jawa di sela-sela kesibukannya mengajar materi Bahasa Jawa di sekolah tempatnya mengajar.

cerpen senandung kasih di sungai batanghari
Poedianto, pengarang (Sumber: koleksi pribadi)

Alumni Program S1 Jurusan Sastra Universitas PGRI Adi Buana Surabaya ini mengungkapkan, ”Semua lagu-lagu yang saya ciptakan ini hanya sebagai karya dasar saja. Namun, jika ada penyanyi yang berminat memakai lagu karya saya, tentu saya sangat senang. Mereka boleh menyanyikan lagu-lagu tersebut. Silahkan saja dilihat, semuanya sudah ada chanel YouTube saya.”

Selain suka menulis lagu, ternyata Poedi juga sangat mencintai tradisi leluhurnya. Ia sangat intens terhadap perkembangan seni tradisi seperti wayang kulit, ludruk, janger, ketoprak, keroncong, langgam, dan campur sari. Bukan hanya itu, ia juga sering menulis berbagai cerita rakyat, legenda, epos,  dan cerpen.

Menurut alumni Program Pascasarjana (S2) Konsentrasi SDM Ekonomi dari Universitas Mahardhika Surabaya ini, seni dan tradisi sebaiknya diajarkan di setiap jenjang pendidikan, mulai dari tingkat dasar, menengah, sampai tingkat atas. Semua bidang seni wajib dipelajari, baik seni tari, seni musik, seni suara, karawitan, pedalangan, dan berbagai bidang seni lainnya.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button