Euforia Massal Selepas Pandemi, Bikin Masyarakat Jadi Happy
Setidaknya terdapat dua event besar pasca pandemi Covid-19 yang berhasil menghadirkan banyak massa yaitu Vespa World Day 2020/22 di Bali dan festival musik bertajuk “Now Playing Festival 2022” di Kota Cimahi
Euforia Massal Selepas pandemi, Bikin Masyarakat Jadi Happy – Pandemi mulai berlalu. Semua orang bergembira menyambutnya. Aktivitas masyarakat pun mulai terlihat menggeliat, seperti kegiatan kantor, sekolah, kuliah, dan dunia usaha, termasuk industri hiburan yang dulu sempat “teraniaya” selama pandemi covid-19.
Dalam benak saya setidaknya terdapat dua event besar yang saya ketahui dan dirasakan berhasil menghadirkan massa yang luar biasa banyak. Event pertama adalah “Vespa World Day 2020/22” (VWD 2020/22) yang diikuti sedikitnya 8.500 peserta dari 16 negara. Ajang pertemuan penggemar Vespa sedunia yang di laksanakan di Pulau Peninsula, Nusa Dua, Bali, Indonesia ini di gelar dari 9 – 12 Juni 2022 lalu dan berhasil mendatangkan pengunjung sampai lebih dari 20 ribu motor Vespa dari dalam dan luar negeri.
Seperti dikutip dari laman kompas.com, acara tahunan yang selalu dilaksanakan di wilayah Eropa ini mengejutkan banyak pihak, termasuk Martin Stift selaku Vespa World Club Former President (2012-2021).


“Ini pertama kali VWD dilaksanakan di luar Eropa karena komunitas Vespa di Indonesia sangat besar dan aktif. Lihat aja di sekeliling kalian sekarang, ini jauh lebih besar daripada di Eropa. Sangat well prepared,” ungkap Martin pada Jumat (10/6/2022).
Pendapat lain datang dari Alex, salah seorang pengunjung bule yang sengaja datang jau-jauh dari Jerman. Dia begitu kagum dengan acara VWD 2020/22 di Indonesia.

“Saya datang bersama teman saya khusus untuk menghadiri VWD. Salut karena sangat besar dan antusias dari Vespa Indonesia positif sekali. Tapi saya tidak bisa bawa Vespa saya karena mahal,” ujar Alex dengan nada gembira karena bisa hadir dalam event akbar tersebut.
Acara VWD 2020/22 tersebut diselenggarakan di Pulau Peninsula yang dikelola dan dikembangkan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC). Tentunya kegiatan ini seakan menjadi proklamasi pariwisata pulau Bali yang sebelumnya mati suri akibat adanya wabah pandemi covid-19.
Event ke dua adalah festival musik bertajuk “Now Playing Festival 2022” yang di laksanakan di Lapangan Brigif 15 Kujang II Siliwangi, Kota Cimahi yang dilaksanakan selama tiga hari pada 10 sampai 12 Juni 2022. Kendati tiket dibandrol dengan harga yang lumayan mahal yaitu mulai dari Rp 300 ribu sampai dengan Rp 2 juta, tapi terbukti tidak menyurutkan minat penonton. Bahkan, tiket sold out sebelum acara berlangsung.
Sederet artis dan musisi papan atas Indonesia turut hadir memeriahkan acara festival musik tersebut, seperti Raisa, Bunga Citra Lestari (BCL), Yura Yunita, Dewa19, Noah, Tulus, Maliq & D’Essentials, Fiersa Bersari, Kahitna, dan lain-lain. Terdapat dua stage berbeda untuk penampilan para musisi tersebut yaitu stage Telkomsel dan stage Bank BJB.


Selama acara berlangsung daerah sekitar Lapangan Brigif 15 Kujang II Siliwangi macet parah oleh lautan kendaraan, bak suasana mudik lebaran di jalur pantura. Suasananya benar-benar krodit dan menjadi lautan manusia. Para pedagang makanan/minuman mendulang untung, dagangannya laris manis diserbu pembeli. Begitu juga pedagang jas hujan, dagangannya ludes diborong pembeli. Bahkan, demi memanfaatkan momen untuk meraup pundi-pundi rezeki, pekarangan rumah warga sekitar pun disulap menjadi lahan parkir dadakan.
Menariknya, dalam ajang musik akbar tersebut adalah kehadiran Rara Istiati Wulandari , sang pawang hujan fenomenal. Kehadiran Rara menjadi sorotan publik karena hujan tetap mengiringi selama acara pagelaran berlangsung. Bahkan, para netizen di jagad dunia maya banyak yang mengeritik Rara di media sosial. Wanita kelahiran Papua, 22 Oktober 1983 tersebut dianggap gagal menghentikan hujan pada event festival musik bertajuk “Now Playing Festival 2022” tersebut.
Menghadapi kritikan pedas dari netizen tersebut membuat Rara meradang. Melalui akun Instagram (IG) pribadinya @rara_cahayatarotindigo dia pun angkat bicara.

“Coba Anda semua para wartawan buka mata lebar-lebar. Apakah konser @nowplayingfest gagal acaranya digelar? Kan tidak. Apakah ada musik yang tertunda tampilnya karena hujan deras sehingga susah dinyalakan audionya? Kan tidak,” tulis Rara dalam akun IG-nya tersebut.
Rara pun menambahkan, “Aku selalu bilang ke semua yang hire aku bahwa aku Rara bisa pakai kekuatan anugerah Allah, energi indigo buat doa pawang hujan, kawal cuaca saat event agar lebih happy, berjalan baik.”
Selaku pawang hujan, Rara mengaku bahwa ia memohon cerah. Walau begitu, ada kemungkinan bisa terjadi hujan.
“Bisa saja ada kemungkinan hujan, tapi saat hujan bisa digeser atau dikecilkan intensitas curah hujannya. Aku tidak pernah kasih kepastian tidak mungkin turun hujan karena aku menyadari kesempurnaan hanya milik Allah Tuhan YME,” ungkap Rara membela diri.
Dua event yang dijelaskan di atas merupakan bukti nyata bahwa masyarakat rindu kebebasan dan haus hiburan. Setelah segala aktivitas terbatasi oleh pandemi covid-19, saat ini seakan-akan ada euforia massal dari masyarakat. Semua gembira dan aktivitas masyarakat pun mulai normal kembali. Dunia pariwisata mulai menggeliat, perekonomian pun turut meningkat walau masih diiringi dengan naiknya harga kebutuhan pokok.
Sabtu besok (18/06/2022) adalah puncak acara peringatan Hari Ulang Tahun Kota Cimahi ke-21. Berbagai acara hiburan di kemas dan semuanya bisa ditonton secara gratis. Apakah akan sukses menjaring pengunjung? Apakah akan terjadi euforia massal seperti sebelumnya? Kita lihat saja nanti! (Sony Vespa)
***
Judul artikel: Euforia Massal Selepas pandemi, Bikin Masyarakat Jadi Happy
Penulis: Sony Vespa
Editor: JHK
Info Penulis:
Sony Vespa adalah nama pena dari Sony Sanjaya. Nama Vespa yang melekat erat di belakang namanya merupakan hadiah dari teman-temannya sesama penggila Vespa. Ia memang salah satu anggota komunitas “Vespa Antique Club” VAC Cimahi.
Penulis adalah seorang pengusaha muda yang bergerak di bidang handycraft (kerajinan tangan) dengan nama bendera “Tjimahi Vintage Ethnic Art”. Pria yang memiliki hobi jalan-jalan ini juga menyukai sejarah, heritage, seni, dan budaya. Sony juga tercatat sebagai salah seorang pengurus Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) di Komite Sejarah, Heritage, dan Pariwisata.








