ArtikelCerpenPratama Media News

Sophie Martin van Tjimahi

Tulisan ini diilhami kisah Sophie dan Martin yang dulu pernah sedekat Magrib ke Isya hingga akhirnya sejauh Isya ke Subuh

Sophie Martin van Tjimahi – Semalam,  sambil menunggu kantuk, saya iseng-iseng melihat katalog fashion dari Sophie Martin – kini dikenal dengan sebutan Sophie Paris adalah sebuah online to offline social shopping platform, berdiri di Jakarta pada 1995 yang menawarkan produk eksklusif berdesain Prancis. Perusahaan ini mendistribusikan tas, aksesori mode, dan kosmetik dengan metode penjualan langsung.

Setiap melihat atau teringat brand Sophie Martin,  pikiran saya menerawang dan teringat kisah seorang rekan saya bernama Taufik Martin dan istrinya,  Sophie. Selanjutnya dalam kisah ini kita sebut mereka Sophie dan Martin.

Martin adalah seorang pria sederhana,  kalem, dan tidak neko-neko. Sangat berbeda sekali dengan Sophie yang berwajah ayu, terlihat cerdas, dan sangat ambisius. Entah dari mana awalnya, mereka berdua bisa bertemu hingga memadu kasih dan akhirnya menikah menjadi sepasang suami-istri.

Sejak menikah, keduanya tinggal bersama orang tua Martin. Kemudian mereka dikaruniai seorang putri cantik yang lahir bertepatan dengan perayaan Hari Raya Iedul Fitri.

Ilustrasi keluarga Sophie dan Martin (Sumber: id.depositphotos.com)

Kesederhanaan ternyata membuat Sophie bosan  hingga akhirnya suatu ketika Sophie memutuskan berangkat kerja ke negeri dan meninggalkan keluarga kecilnya di Cimahi. Tahun pertama di perantauan, ia masih menjalin komunikasi dengan keluarganya. Tahun kedua, mulai hilang kontak hingga menginjak tahun ketiga, Sophie pulang ke Cimahi.

Sophie yang dulu penampilannya sangat bersahaja,  kini tampak modis dan kebarat-baratan. Bertolak belakang dengan Martin yang tetap bersahaja seperti dulu. Perbedaan sikap di antara mereka membuat rumah tangga pecah berantakan. Akhirnya mereka memutuskan bercerai dan hak asuh putri tunggalnya jatuh ke tangan Martin.

Ilustrasi Martin dan anak gadisnya (Sumber: Shutterstock.com)

Usai bercerai,  pergilah Sophie meninggalkan Cimahi, kota yang dicintainya demi mengejar asa dan meninggalkan sang buah hati yang saat itu masih berusia balita – bawah lima tahun.

Setiap kali saya bertemu Martin, kondisinya cukup memprihatinkan. Kalau dilihat dari penampilan fisiknya, ia tampak begitu lelah sehingga wajahnya terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya.  Ketika saya melihat putri semata wayangnya, terlihat betapa cantik parasnyanya, mewarisi kecantikan sang ibu dengan mata sayu seperti ayahnya.

Saya seperti tersadar dengan keunikan cinta. Kata Raditya Dika, “Cinta tak butuh alasan”. Seseorang bisa bersatu karena alasan ekonomi,  tapi bisa juga bercerai karena alasan ekonomi juga. Perbedaan bisa menyatukan pasangan,  tapi di pasangan lain justru perbedaan yang menjadi alasan berpisah.

Apapun itu,  kalau cinta sudah hilang  maka hati manusia adalah tempat yang paling sepi.

***

Penulis: Sony Vespa

Keterangan:
Sony Vespa adalah nama pena dari Sony Sanjaya. Penulis adalah seorang pengusaha muda yang bergerak di bidang handycraft (kerajinan tangan) dengan nama bendera “Tjimahi Vintage Ethnic Art”.  Pria yang memiliki hobi mengendarai Vespa ini juga menyukai sejarah, heritage, seni, dan budaya.

Editor: JHK

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button