Disbudparpora Kota Cimahi dan DKKC luncurkan Buku “Diajar Munggaran Aksara Sunda” dan “Permainan Tradisional”
Aksara Sunda dan permainan tradisional termasuk dua dari segenap kebudayaan Sunda yang sudah mulai tergerus zaman
PRATAMA MEDIA NEWS (PMN), Kota Cimahi, Jawa Barat, Kamis (28/12/2023) – Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) mengadakan peluncuran dan bedah buku “Permainan Tradisional” dan “Aksara Sunda” pada Rabu (27/12/2023) kemarin. Kegiatan ini berlangsung di Aula Gedung B komplek perkantoran Pemkot Cimahi, Jalan Rd. Demang Hardjakusumah Blok Jati, Cihanjuang, Kota Cimahi.
Kegiatan kolaborasi antara DKKC dengan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Cimahi ini dihadiri lebih dari 50 penggiat budaya, pengurus MGPM SD/SMP/SMA, dan komunitas penggiat literasi Kota Cimahi. Dalam sambutannya, Kepala Disbudparpora Kota Cimahi, Drs. Achmad Nuryana menyampaikan penghargaan tinggi pada DKKC dan berbagai penggiat seni budaya lainnya.
“Kami berterima kasih, khususnya kepada para penyusun buku ini, juga kepada Abah Ujang Laip (Yudhistira Purana Shakyakirty) yang sudah menerjemahkan dan masukannya. Kemudian umumnya kepada DKKC yang sudah memfasilitasi juga, mudah-mudahan ini terus berlanjut,” ujar Drs. Achmad Nuryana.



Dua buku yang dibedah berjudul “Diajar Munggaran Aksara Sunda Cupat Aksara Baku Unicode” yang ditulis oleh Drs. Yahya Ganda dan “Permainan Tradisional” ditulis oleh Imat Ruhimat dan Mei Suprihatini. Kedua judul ini diangkat dari pengalaman penulis dan kerja sama divisi terkait dalam DKKC.
“DKKC sangat berterima kasih dengan adanya semangat dari para sesepuh dan sudah berkontribusi menyumbangkan pengetahuannya dalam rangka meningkatkan pengetahuan di bidang pendidikan dan kebudayaan, khususnya literasi di bidang pembuatan buku permainan rakyat dan aksara Sunda,” ungkap Pj. Ketua DKKC, Viska Suasana Arum, S.Pd, M.Pd.

Aksara Sunda dan permainan tradisional termasuk dua dari segenap kebudayaan Sunda yang sudah mulai tergerus zaman. Sebelum buku ini hadir, penggiat aksara buhun, Mang Ujang Laip dan kelompoknya Gentra Pamitran giat menyebarkan warisan budaya ini.
Budayawan Yahya Ganda sudah menekuni pelestarian bersama budayawan lain sejak puluhan tahun lalu hingga kini. Kecakapannya menjelaskan aksara kuno Aceh, Lampung, dan Sunda kini dikaryakan bersama Mang Ujang Laip sebagai penerjemah aksara Buhun.
Yahya juga menerangkan di dalam buku itu terdapat dua versi aksara, yaitu Sunda Buhun dan aksara Sunda Unicode. Aksara Sunda Buhun ini yang diharapkan dapat menjadi ikon Kota Cimahi dalam mengembangkan budaya asal Sunda.
“Untuk mengembangkan (Kota) Cimahi, saya terpicu dengan harus ada ciri khas ke Cimahian yaitu Cimahi sebagai puseur (pusat) pangaweruh aksara Sunda. Kumargi hiji-hijina pakar se Jawa Barat, ini mah ayana teh di Cimahi yaitu Mang Ujang Laip,” terang Budayawan Senior tersebut.


Riwayat permainan tradisional laiknya aksara Sunda, sudah mulai ditinggalkan karena perubahan zaman. Imat Ruhimat menceritakan awal karya Permainan Tradisional ini dari alasan yang sama. Baginya kenangan berbagai permainan tradisional di halaman rumahnya dulu penting di sampaikan pada generasi kini. Imat sebagai penggiat Kaulinan Tradisional dibantu oleh Bunda Mei dalam menerangkan filosofi setiap permainan.
“Dina ieu permainan atanapi kaulinan, istilah na akulinan anu biasa diayakeun ku marurangkalih di buruan. Naming Ti pihak Dewan Kebudayaan itu dipiharep utami na tiasa dikembangkeun kanggo murangkalih anu aya di sakola. Di dinya pang nerapkeun contoh-contoh dina kaulinan anu sifatna mendidik. Contohna aya dina kaulinan oray-orayan,” tambah Imat
Kaulinan Barudak atau permainan anak ini juga memiliki beberapa hal positif untuk perkembangan motorik, sosial dan emosional anak. Mei Suprihatini atau biasa disapa Bunda Mei menyampaikan bahwa anak dapat mendapat banyak ilmu dari bermain, misalkan ayak-ayakan.

“Pada setiap permainan tradisional selalu ada nilai-nilai luhur yang kita angkat. Terutama disini bagaimana saya lebih mengedepankan mental, fisik motorik. Saat masuk usia PAUD kita bisa lihat ada permainan papasakan. Di papasakan itu kita belajat apa ternyata, belajar bagaimana kita tu basak bayam itu untuk apa sih manfaatnya. Terus bagaimana saat papasakan itu pasti dikerjakannya berbarengan ya? Mun teu nyalira ya kitu, kerja sama. Jadi semua manfaat dari setiap permainan dan filosofisnya akan disampaikan,” tutur Bunda Mei
Kedua buku ini masih dalam proses percetakan. Namun sudah bisa diakses pemesanannya ke DKKC dengan harga Rp 150.000. Segenap stakeholder dan penulis yang hadir berharap ini tidak berhenti sampai disini.
Acara pembukaan peluncuran dan bedah buku berlangsung dengan lancar dan sukses dipandu oleh pembawa acara kondang yaitu Komarudin atau akrab disapa Dinfiqram. Sosok Dinfigram dikenal sebagai seniman serba bisa dan anggota DKKC. Sementara itu bertindak sebagai moderator bedah buku adalah Sony Sanjaya atau dikenal dengan julukan Sony Vespa yang juga merupakan pimpinan “Cimahi Vintage” sebuah usaha di bidang craft.

Menariknya, acara tersebut juga dimeriahkan dengan penampilan dua seniman Kota Cimahi yang membacakan puisi. Pertama penampilan Achmad Syafei atau biasa disebut Kang Ahmad yang menampilkan puisi berbahasa Sunda. Penampilan Kang Ahmad sempat membuat hadirin terpaku karena dibawakan dengan penuh penghayatan sehingga membuat suasana menjadi hening dan haru.

Penampilan kedua pembacaan puisi dibawakan oleh Hendra Gunawan atau akrab disapa Ki Sastro. Seniman keturunan Jawa yang sudah lama bermukim di Kota Cimahi ini membawakan puisi dengan penuh semangat. Selain sebagai guru sekolah, Ki Sastro juga aktif di DKKC dan ikut menggawangi bidang literasi.


Semua penggiat Budaya dan Tradisi yang hadir pagi itu berharap ada kesinambungan dengan karya lainnya setelah ini. Pesan khusus dari Kadis Disbudparpora terutama, bahwa Cimahi semoga dapat menjadi Kota Pariwisata dengan mengembangkan segenap potensi kebudayan, terutama dalam aksara Sunda dan kaulinan barudak. (RMD/PMN).
***
Judul: Disbudparpora Kota Cimahi dan DKKC luncurkan Buku “Diajar Munggaran Aksara Sunda” dan “Permainan Tradisional”
Jurnalis: Rose Mariadewi
Editor: JHK








