ArtikelOpiniPratama Media News

Aku Berpikir maka Aku Ada

Aku Berpikir maka Aku Ada – Kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan kalimat “aku berpikir maka aku ada” atau dalam bahasa  Descartes “cogito ergo sum” sebagai sebuah penalaran atas realitas yang bisa diindrai.

Jika dilihat sepintas, kalimat tersebut seolah-olah meniadakan hal-hal yang tidak terpikirkan. Sesuatu yang tidak terpikirkan maka sesuatu itu tidak ada, meskipun faktanya sesuatu itu ada, hanya karena pikirannya saja yang belum mampu menjangkaunya maka sesuatu itu menjadi tidak ada. Sementara pikiran seringkali menolak entitas yang tidak bisa terindrai, meski pada kenyataannya pikiran itu sendiri tidak bisadi indrai.

Namun, penulis tidak bermasuk untuk membahas filsuf dan menafsirkan kalimatnya tersebut. Penulis hendak membicarakan diri kita sendiri, setiap kita yang dianugerahi akal sebagai alat untuk berpikir. Sebab berpikir bukan hanya milik seorang Descarter, tetapi berpikir merupakan aktivitas dasar setiap manusia sebagai ejawantah dari keberadaan akal dalam dirinya.

Setiap manusia dianugerahi modal untuk berpikir sebagai optimalisasi fungsi dari akal yang telah diberikan kepadanya. Bagi seorang muslim, berpikir merupakan bagian dari ibadah dan cara untuk menentukan pandangan dan tujuan hidup, sebagaimana kalimat-kalimat di dalam Al-Qur’an yang mengindikasikan kehadiran pikiran dalam dirinya, seperti “afalaa ta’qilun, afalaa ta’lamun”.

Berpikir
Ilustrasi orang berpikir (Sumber: vecteezy.com)

Pikiran dianugerahkan sebagai alat dalam mempersefsi dan melakukan sebuah tindakan. Namun, bukan alat legitimasi yang absolut. Sebab akal harus senantiasa dibentengi oleh wahyu. Sebagaimana Imam Ghazali menganalogikan akal dan wahyu umpama mata dan cahaya matahari. Di mana akal ibarat mata yang difungsikan untuk menangkap cahaya matahari (wahyu).

Mata tanpa cahaya membuat kita berjalan dalam kegelapan dan cahaya tanpa mata membuat kita buta dalam menjalani kehidupan. Jika kita tidak bisa melihat maka matalah yang harus diperbaiki, bukan cahayanya yang dikritisi.

Respon terhadap problema kehidupan yang ada merupakan salah satu bagian dari fungsi akal. Hal tersebut menunjukan bahwa pikiran menerima sebuah impuls yang kemudian diolah untuk kemudian direspon. Dalam merespon, adakalanya  bertindak cepat. Namun, tidak tepat.  Adakala bertindak tepat. Namun, lambat. Kadang pula lambat dan tidak tepat. Namun, sebaik-baik respon adalah respon yang cepat sekaligus tepat.

Respon yang cepat dan tepat tidak terbentuk begitu saja. Namun, terbentuk dari pendalaman terhadap tsaqofah, penggalian terhadap informasi serta penggalian fakta secara kontinu dan analisa yang terus dipertajam. Hanya saja dewasa ini, selain faktor internal yang membuat seseorang lemah dalam merespon, juga dibentuk secara sistemik dan terus menerus.

Sebagai generasi muslim yang semestinya memiliki sikap kritis terhadap fenomena yang terjadi untuk ikut berkontribusi memberikan solusi, kita justru terlalu enggan untuk membahas hal-hal yang menurut pikiran kita terlalu berat untuk dicerna dan lebih menikmati hal-hal yang sifatnya kesenangan saja.

Kecepatan dan ketepatan dalam merespon ditentukan oleh apa yang kita konsumsi. Jika kita lebih banyak mengkonsumsi hal-hal yang kurang produktif maka daya analisa dan ketajaman berpikir pun akan melemah dengan sendirinya yang menyebabkan lemah juga dalam merespon sesuatu.

Informasi
Ilustrasi konsumsi informasi (Sumber: elsevier.com)

Dunia digital hari ini menyuguhkan berbagai macam informasi yang bisa kita serap sebanyak-banyaknya. Namun, jika tidak disikapi dengan bijak, setiap apa yang disuguhkan media tidak difilter apa yang harus diserap dan apa yang tidak perlu maka akan berpengaruh terhadap daya berpikir.  Sebagaimana tubuh, jika terlalu banyak  mengonsumsi makanan tidak bergizi maka akan sulit mencerna hal-hal yang baik. Metabolismenya akan menjadi lamban dan banyak organ-organ yang mudah rusak.

Sebagaimana seorang ulama pernah mengatakan, “Orang yang cerdas adalah ia yang mampu membaca keadaan zamannya dan menghadirkan solusi yang solutif.” Jika Taqiyudin An- Nabhani dalam salah satu karyanya mengklasifikasi bahwa berpikir terbagi menjadi tiga jenis: berpikir dangkal – yang hanya melihat permukaan secara selintas, berpikir mendalam – dengan berusaha memahami, dan berpikir cemerlang – yaitu dengan memahami fakta dan segala hal yang berkaitan dengannya sehingga lahirlah solusi-solusi – maka sebagai seorang muslim, apalagi juru dakwah, ketajaman berpikir mesti dipelihara dengan baik.

Mungkin di sanalah pengertian “aku berpikir maka aku ada” ditempatkan, yaitu ketika kita bisa mengoptimalkan akal yang diberikan oleh Maha Pencipta dengan sebaik-baiknya untuk menangkap pesan-pesan wahyu dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan sebagai jawaban-jawaban dari problematika yang ada.

***

Judul: “Aku Berpikir maka Aku Ada
Penulis: Nurulife
Editor: JHK

Sekilas Penulis:

Nurul Hikmah
Nurul Hikmah, penulis (Sumber: koleksi pribadi)

Pemilik nama asli Nurul Hikmah ini merupakan salah satu tasykil Himpunan Mahasiswi Persatuan Islam bidang Kajian Keilmuan. Penulis yang sering menggunakan nama pena Nurulife ini sekarang berdomisili di Kabupaten Tasikmalaya.

Kesibukan anak bungsu dari tiga bersaudara ini, selain sebagai seorang aktivis mahasiswa,  ia juga aktif di dunia pendidikan dan literasi. Ia juga tercatat sebagai pendiri dari Rumah Qur’an Karamel.

Penulis dapat dikunjungi di lama instagram-nya @nurulight1711.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button