Berita (News)PendidikanPengembangan DiriPratama Media News

Smart Parenting pada Era AI: Ketika Anak Tak Cukup Hanya Pintar, tetapi Harus Tetap Punya Rasa

PRATAMA MEDIA NEWS (PMN), Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (23/09/2026) – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang begitu pesat menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan anak dan keluarga. Oleh karena itu, konsep smart parenting pada era AI tidak lagi sekadar berbicara tentang kemampuan orang tua memahami teknologi, tetapi juga bagaimana mereka mendampingi anak agar tetap memiliki rasa, imajinasi, karakter, dan kemampuan berpikir mandiri.

Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam seminar “Smart Parenting, Strong Culture: Mendidik Anak di Era Artificial Intelligence” yang diselenggarakan kelompok Arutala pada 23 September 2026 pukul 09.00 WIB di Silokarupa Bale Pare, Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat.

Seminar tersebut menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai latar belakang. Ir. Budi Rahardjo, M.Sc., Ph.D. tampil sebagai keynote speaker dengan materi “Artificial Intelligence dan Masa Depan Pendidikan Keluarga”. Sementara praktisi seni dan budaya Adit Barli membawakan materi “Membangun Rasa, Lengkapi Jiwa”.

Peserta seminar “Smart Parenting, Strong Culture: Mendidik Anak di Era Artificial Intelligence” yang diselenggarakan kelompok Arutala pada Rabu (23/09/2026) di Silokarupa Bale Pare, Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat - (Sumber: PMN)
Peserta seminar “Smart Parenting, Strong Culture: Mendidik Anak di Era Artificial Intelligence” yang diselenggarakan kelompok Arutala pada Rabu (23/09/2026) di Silokarupa Bale Pare, Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat – (Sumber: PMN)

Adapun Shahnaz Haque mengangkat tema “Orang Tua sebagai Role Model di Era Digital & AI”. Kehadiran orang tua dan guru dalam kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa perubahan teknologi telah memunculkan pertanyaan besar mengenai masa depan pendidikan anak.

Tantangan pendidikan anak pada era kecerdasan buatan ternyata bukan semata-mata bagaimana anak menggunakan AI. Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah: manusia seperti apa yang ingin kita persiapkan ketika mesin semakin mampu berpikir, menulis, menghitung, dan menciptakan gambar. Bahkan, berkomunikasi menyerupai manusia?

Pertanyaan itulah yang membuat konsep smart parenting perlu dilihat dari perspektif yang lebih luas.

Ketika Imajinasi Anak Jangan Sampai Terperangkap

Dalam paparannya, Adit Barli mengingatkan bahwa pendidikan anak terkadang berlangsung seperti menggunakan kacamata kuda. Anak diarahkan menuju jawaban yang dianggap benar, sementara kemungkinan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda justru semakin terbatas. Ia memberikan ilustrasi sederhana melalui aktivitas menggambar.

Ketika anak diminta menggambar pemandangan, misalnya, sebagian besar akan menghasilkan gambaran yang hampir sama: dua gunung, matahari di tengah, jalan yang membentang, sawah di sisi kanan dan kiri, serta sebuah rumah.

Tidak ada yang salah dengan gambar tersebut. Persoalannya muncul ketika imajinasi anak seolah-olah hanya boleh berjalan mengikuti pola yang telah ditentukan orang dewasa, padahal, dunia imajinasi anak jauh lebih luas daripada dua gunung, matahari, sawah, dan sebuah rumah.

Pendidikan seni bagi anak sesungguhnya memiliki peran yang jauh lebih penting daripada sekadar menghasilkan karya yang indah. Seni dapat menjadi ruang bagi anak untuk mengenali dirinya, mengekspresikan perasaan, sekaligus menemukan cara pandang yang mungkin belum mampu ia sampaikan melalui kata-kata. Garis dan warna dapat menjadi bahasa ketika kata-kata belum tersedia.

Seni sebagai Bahasa Jiwa Anak

Dalam perspektif Adit Barli, seni dapat menjadi salah satu jalan untuk membangun rasa dan melengkapi jiwa anak. Menggambar tidak seharusnya hanya dinilai berdasarkan benar atau salah, bagus atau jelek, melainkan juga dilihat sebagai proses anak mengungkapkan sesuatu yang hidup di dalam pikirannya.

Ketika seorang anak diminta menggambar seekor kuda, misalnya, orang tua tidak perlu memaksanya menghasilkan bentuk kuda sesuai standar orang dewasa. Begitu pula ketika anak menggambar manusia.

Setiap anak dapat menghasilkan bentuk yang berbeda. Ada yang menggambar dengan garis sederhana, ada yang menggunakan bentuk yang tidak biasa, dan ada pula yang menghadirkan warna-warna yang mungkin tidak sesuai dengan kenyataan. Justru di situlah terdapat sesuatu yang penting: cara anak melihat dunia.

Perbedaan tersebut semestinya tidak buru-buru dianggap sebagai kesalahan. Sebaliknya, orang tua dapat mengajak anak berbicara tentang apa yang ia gambar, mengapa memilih warna tertentu, serta cerita apa yang ingin disampaikan melalui karyanya. Dengan cara demikian, aktivitas menggambar berubah menjadi percakapan antara orang tua dan anak.

Parenting Bukan Sekadar Mengatur Anak

Pada era digital dan AI, parenting tidak cukup hanya menjadi teknik mengatur perilaku anak. Parenting juga merupakan praktik kebudayaan karena keluarga menjadi lingkungan pertama tempat seorang anak belajar mengenali dirinya, memahami orang lain, sekaligus membangun kepercayaan terhadap kemampuan dirinya.

Kepercayaan diri anak bukan lahir dari pujian yang diberikan secara berlebihan. Kepercayaan diri tumbuh ketika anak merasa aman untuk mencoba, melakukan kesalahan, bertanya, bereksperimen, dan menemukan caranya sendiri. Oleh karena itu, orang tua tidak perlu tergesa-gesa memberikan penilaian terhadap hasil karya anak.

Ada kalanya yang lebih penting bukan gambar yang dihasilkan, melainkan cerita yang berada di balik gambar tersebut. Ketika orang tua bersedia mendengarkan, anak belajar bahwa pikirannya memiliki nilai. Ketika orang tua menghargai perbedaan, anak belajar bahwa menjadi berbeda bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Tantangan Smart Parenting di Tengah Kemajuan AI

Di sinilah muncul sebuah paradoks pendidikan anak di era AI. Mesin semakin mudah menghasilkan sesuatu yang tampak sempurna. Dalam hitungan detik, AI dapat menghasilkan gambar, tulisan, ide, bahkan berbagai bentuk informasi. Namun, manusia tidak diciptakan untuk selalu sempurna.

Narasumber acara seminar “Smart Parenting, Strong Culture: Mendidik Anak di Era Artificial Intelligence” yang diselenggarakan kelompok Arutala pada 23 September 2026 - (Sumber: PMN)
Narasumber acara seminar “Smart Parenting, Strong Culture: Mendidik Anak di Era Artificial Intelligence” yang diselenggarakan kelompok Arutala pada 23 September 2026 – (Sumber: PMN)

Seorang anak membutuhkan waktu untuk mencoba. Ia membutuhkan kesempatan untuk salah. Ia membutuhkan ruang untuk bertanya dan bahkan kebebasan untuk menghasilkan sesuatu yang menurut orang dewasa belum sempurna.

AI mungkin mampu menghasilkan gambar dalam beberapa detik, tetapi teknologi tidak seharusnya membuat orang tua kehilangan kesabaran untuk menunggu seorang anak menemukan garis pertamanya.

Smart parenting pada era AI bukan hanya tentang seberapa mahir orang tua menggunakan teknologi. Lebih dari itu, smart parenting berbicara tentang seberapa jauh orang tua mampu memahami kebutuhan emosional, imajinasi, karakter, dan perkembangan anak. Sebab semakin pintar teknologi, semakin penting pula manusia mempertahankan sisi kemanusiaannya.

Anak bukan sekadar calon tenaga kerja yang harus dipersiapkan menghadapi masa depan. Ia adalah manusia yang sedang tumbuh dengan perasaan, keinginan, imajinasi, keunikan, dan cara pandang yang belum tentu sama dengan orang dewasa.

Ketika Teknologi Makin Pintar, Manusia Harus Tetap Punya Rasa

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan anak pada era AI bukan hanya seberapa cepat seorang anak menyelesaikan tugas atau menghasilkan sesuatu. Hal yang jauh lebih penting adalah apakah anak masih mampu merasakan, berpikir, berimajinasi, berkonsentrasi, menghargai perbedaan, mengendalikan dorongan dirinya, serta memiliki keberanian untuk menjadi dirinya sendiri.

Foto bersama para peserta seminar "Smart Parenting, Strong Culture: Mendidik Anak di Era Artificial Intelligence" yang berlangsung di Silokarupa Bale Pare, Kota Baru Parahyangan - (Sumber: PMN)
Foto bersama para peserta seminar “Smart Parenting, Strong Culture: Mendidik Anak di Era Artificial Intelligence” yang berlangsung di Silokarupa Bale Pare, Kota Baru Parahyangan – (Sumber: PMN)

Di sinilah seni dan budaya menemukan tempatnya dalam pendidikan. Pendidikan tidak seharusnya menjadi mesin pencetak manusia yang seragam. Pendidikan mestinya menjadi ruang yang membantu setiap anak menemukan bentuk terbaik dirinya, tanpa kehilangan kebebasan untuk tumbuh dengan karakter dan keunikannya.

Teknologi akan terus berubah. AI akan semakin pintar. Namun, tugas orang tua tetap memiliki satu hal yang tidak dapat digantikan oleh mesin: menemani anak menjadi manusia.

Mungkin, itulah makna terdalam dari smart parenting: bukan menjadikan anak sekadar pintar menghadapi masa depan, tetapi memastikan ia tetap memiliki hati ketika masa depan itu benar-benar tiba.  (RM/PMN).

***

Judul: Smart Parenting pada Era AI: Ketika Anak Tak Cukup Hanya Pintar, tetapi Harus Tetap Punya Rasa

Jurnalis:  RM/PMN

Editor: JHK

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button