Pilih Benar atau Selamat (Bagian 2)
Sebuah kisah menarik dan inspiratif dari Manjaro Pai
Pilih Benar atau Selamat – Keesokan harinya Roy langsung diantarkan oleh Pak Rustam ke tempat kerjanya. Roy diperkenalkan sebagai staf baru di perusahaan tersebut. Ia sangat senang dan tampak begitu menikmati suasananya.
Roy mulai menjalankan kehidupan barunya. Selama bertahun-tahun ia bekerja di perusahaan tersebut. Bahkan, beberapa kali ia berhasil menjadi karyawan terbaik di sana. Karirnya semakin melejit, mulai dari staf biasa, berlanjut menjadi seorang supervisor. Menginjak tahun kelima bekerja, ia mendapat promosi hingga dipercaya atasannya untuk menjadi Junior Manajer Project.
Tugas pertama Roy adalah melakukan presentasi untuk menjebol sebuah project baru yang nantinya akan mengganti project lama yang sudah hampir habis kontrak. Di project itulah nanti ia akan ditempatkan sebagai manajer menggantikan Pak Broto, seniornya yang akan pensiun.

Dengan semagat yang tinggi Roy berusaha keras mendapatkan project itu. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk 500 orang staf dan karyawan di bawahnya. Bahkan, sebagian dari mereka adalah kawan-kawannya saat ia mulai meniti karier.
Roy sudah memaparkan semua yang harus dijelaskan tanpa cacat sedikit pun. Namun, jawaban “ya” belum keluar dari mulut mereka yang memberikan project. Keesokan harinya ia diajak meeting oleh direktur dan komisaris, sertai beberapa manajer senior, termasuk atasannya langsung, Pak Broto yang selama ini sangat dekat dengannya dan mengajarkan banyak hal.
Hasil dari meeting tersebut, para manajer senior menyarankan untuk dilakukan “entertain” kepada para pengambil keputusan pemberi project. Direktur dan komisaris pun menyetujuinya. Bahkan, untuk mendukung misi tersebut, sang komisaris langsung meminta bagian finansial untuk mentransfer uang ratusan juta ke rekening Roy.
Sebagai orang yang paling muda di ruangan itu, Roy kebingungan atas saran dan tindakan para seniornya sehingga ia pun bertanya, “Abang-abang sekalian, mohon penjelasan mengenai apa yang di maksud dengan ‘entertain’ ini? Semua prosedur sebagai perusahaan yang hendak mengambil project sudah kita lakukan. Sekarang kita hanya menunggu kata “ya” dari mereka untuk menandatangani MOU. Kenapa pula harus ada hal seperti ini? Saya yakin dengan proposal yang kita sodorkan akan menguntungkan kedua belah pihak,” papar Roy dengan mimik serius.

Para manajer senior tersenyum dan meminta Pak Broto menjelaskan kepada anak didiknya.
“Begini Roy, ini sudah jadi kebiasaan. Perusahaan mereka jelas diuntungkan jika bekerja sama dengan kita, tapi mereka berempat kan harus dapat untung juga. Ini sekedar untuk mengikat komitmen agar mereka membatu proposal kita,” jelas Pak Broto.
Roy sudah menyiapkan jawaban, “Tapi itu kan tidak benar Pak!”
Pak Broto menyambung kembali kata-katanya, “Ingat Roy, di belakang kamu ada 500 orang kepala keluarga yang membutuhkan peoject ini untuk anak istri mereka. Roy pun mengurungkan niatnya untuk mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.”
Roy hanya mengangguk pasrah dan meeting pun selesai. Sambil merapikan peralatannya, ia mengajukan satu pertanyaan pada Pak Broto, “Maaf Pak, kalau boleh tahu nanti, biaya yang ratusan juta ini bagaimana perhitungannya? Karena itu tidak termasuk dalam anggaran yang saya buat?”
Pak Broto menjawab ringan disertai gelak tawa manajer lainnya, “Santai aja. Nanti kamu bisa mainkan biaya operasional. Bisa kamu cari bahan baku yang murah, tenaga kerja yang murah, supaya kita tetap ada untung.”
Roy mengangguk meski sedikit kurang paham. Dalam perjalanan pulang ia duduk kebingungan di samping Pak Rustam yang masih setia menjadi sopir Roy. PaK Rustam pun memberanikan diri untuk bertanya, “Kenapa Mas? Sepertinya Mas sedang bingung?”
“Iya ni Pak, project yang akan saya tangani belum ada kata sepakat,” jawab Roy menghindari percakapan yang terlalu dalam.
Padahal yang Roy bingungkan adalah soal “entertain”, tetapi dia takut Pak Rustam tidak mengerti.
“Mungkin Mas Roy belum kasih entertain mereka. Mas Roy kan selama saya kenal orangnya lurus kayak penggaris,” sambung Pak Rustam tenang.
Mendengar Pak Rustam mengatakan soal “entertain”, Roy sedikit kaget. Sambil menutupi rasa kagetnya ia melempar senyum dan tertawa.
“Pak Rustam ini ada-ada saja. Mungkin juga ya Pak. Entertain macam apa yang Bapak tahu?” Tanya Roy penasaran.
“Bisa Mas kasih hadiah berupa barang sebagai kenang-kenangan. Bisa Mas ajak makan, bisa Mas ajak pelesir atau bisa juga Mas kasih tunai,” jawab Pak Rustam.
Mendengar hal itu Roy menarik rambutnya ke belakang dan menyenderkan kepalanya di jok mobil.
Sambil melihat ke jalan, Roy bertanya kepada Pak Rustam, “Maksud Bapak kita sogok mereka?”
“Ya begitulah biasanya Mas. Kalo menggunakan kata nyogok kok rasanya agak fulgar ya. Baiknya pakai kata entertain saja,” sambung Pak Rustam kembali.
“Ah.. sama saja Pak, sama sama tidak benar itu. Apalagi untuk ganti biaya entertainnya nanti saya harus memotong anggaran belanja bahan. Itu sama saja artinya kita harus belanja barang murah yang grade-nya di bawah yang kita sepakati,” jelas Roy.
Tanpa disadari akhirnya Roy berbicara seakan-akan ia sedang curhat pada Pak Rustam.
“Setelah ganti bahan baku, kita tetap harus membuat laporan hasil kerja dengan bahan baku yang di setujui diawal. Artinya nanti kita bakal bohong lagi. Jadi double bohongnya! Setelah kita ingkar janji dengan menurunkan kualitas, juga harus bohong dalam laporannya,” kata Roy lagi dengan panjang lebar.
“Ya, sesekali bohong nggak apa Mas, demi kebaikan,” jawab Pak Rustam.
“Kebaikan apa maksud Pak Rustam?” Roy menatap tajam menunggu jawaban dari sopirnya tersebut.
“Ya kan kalau project ini jebol, saya dan teman-teman yang lain tidak jadi nganggur Mas. Masih bisa bekerja di perusahaan ini. Bagi kami cari kerja itu susah, apalagi saya yang sudah usia segini. Mungkin Mas Roy kalau perusahaan ini tutup masih bisa di terima di perusahaan lain, tapi kalau kami?” Jawab Pak Rustam lirih.

Mendengar jawaban Pak Rustam, kembali Roy menarik rambutnya ke belakang. Roy memikirkan ucapan Pak Rustam tentang mencari kerja lain agar ia terhindar dari kasus ini. Ia berpikir untuk mengambil jalan tengah yaitu mundur dan membiarkan Pak Broto yang melanjutkan negosiasi. Dengan begitu menurut pemikirannya maka ia akan terhindar dari perbuatan salah dan 500 orang karyawannya masih tetap berpenghasilan.
“Tenang Mas, semua sudah ada sistemnya dan itu sudah biasa kok,” ujar Pak Rustam berusaha menenangkan Roy, “Saya sudah antar banyak manajer, termasuk Pak Broto. Mereka juga awalnya berpikir sama seperti Mas Roy, tapi lama-lam kalau sudah terbiasa bisa menikmati juga kok. Masak untuk benar Mas akan mengorbankan banyak karyawan?” Sambung Pak Rustam.
Di persimpangan lampu hijau Pak Rustam berhenti dan bertutur singkat, “Seperti lampu lalu lintas ini, Mas juga sekarang sudah terbiasa kalau hijau menyala kita diam dan kalau merah kita jalan. Kalau kita merasa benar dan jalan di lampu hijau, nanti mati kayak adik saya.”
Setelah ucapan terakhir dari Pak Rustam berakhir, tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Setibanya di rumah, Roy masih terlihat gundah. Sejam kemudian Roy mengambil telepon genggamnya dan menghubungi Pak Broto.
Roy bercakap dengan Pak Broto dan menanyakan satu hal, “Maaf menganggu Pak. Saya mau tanya. Seandainya saya tidak bersedia melakukan entertain bagaimana?”
Pak Broto yang sudah agak kesal, menjawab dengan tetap berusaha sabar dan tenang, “Roy, life must go on. Perusahaan akan tetap berusaha berdiri, baik itu dengan kamu ada di dalamnya atau pun tidak.”
“Oh, begitu Pak. Saat ini Bapak masih atasan saya kan?” Tanya Roy.
“Iya, sekarang saya masih atasanmu Roy, tapi besok kamu yang jadi bos di project ini,” jawab Pak Broto berusaha memberi semangat kepada Roy.
“Kalau begitu saya masih bisa mengajukan permohonan pengunduran diri ke Bapak ya?” Tanya Roy sedikit lemas.
“Maksud kamu apa Roy? Jangan begitu! Kamu punya potensi besar. Aku membimbing Kamu sejak awal bergabung di perusahaan ini dan aku percaya sama kemampuanmu. Jangan Kamu sia-siakan kesempatan emas ini,” jawab Pak Broto tegas.
“Kalau bapak mengenal saya dari awal, Bapak pasti tahu tidak pernah sekali pun saya berbuat curang, bohong atau melakukan trik dalam pekerjaan. Termasuk sekarang saya juga tidak akan melakukan hal ini,” tegas Roy mengakhiri percakapan mereka.
Keesokan harinya Roy tiba di kantor dengan surat pengunduran dirinya. Dia merasa yakin dengan apa yang dilakukannya. Roy berpikir bahwa dia melakukan hal yang benar. Pak Broto yang sudah menyampaikan hal ini kepada komisaris menerima dengan baik kedatangan Roy yang hendak mengundurkan diri.
“Perusahaan menunda pensiunku Roy untuk mendampingi Warji meloloskan project ini. Ada waktu untuk kamu beberapa pekan ke depan untuk mencari pekerjaan baru, tapi maksimal satu bulan ini sebelum kami lepas kontrak kerja Kamu dan beberapa fasilitas dengan berat hati akan saya alokasikan untuk Warji pengganti Kamu,” jelas Pak Broto kepada Roy.
Keesokan harinya Roy mulai menghubungi beberapa temannya untuk mencari kesempatan bèkerja di perusahaan lain. Dengan bekal pengalaman lima tahun bekerja perusahaan ini Roy merasa yakin akan segera mendapatkan pekerjaan baru.
Beberapa kawan yang dihubungi Roy sangat antusias menerima surat lamaran Roy. Terlebih mereka mengetahui reputasi Roy. Dengan jawaban pasti mereka semua menjawab, “Baik Roy nanti HRD akan menghubungi kamu segera.”
Hampir satu bulan berlalu belum ada satu pun kawan Roy yang kembali menghubunginya. Sampai di hari ke-28 Roy, mulai gelisah karena tidak ada satu pun kabar dari temannya. Roy pun berusaha menghubungi kembali mereka menanyakan kabar lamaranya.
Semua kawan Roy mengatakan bahwa belum ada slot kosong. Nanti kalau sudah ada pasti dikabari. Padahal sebelumnya mereka sangat antusias untuk menerimanya di tempat mereka bekerja.
Suatu saat Roy menghungi Arman – salah satu sahabat terdekatnya – sambil menanyakan tentang lamarannya, “Bagaimana Man, CV aku sudah kamu sampaikan ke HRD?”
“Ya sudah! Pada hari Kamu kirim, aku langsung sampaikan ke HRD. Aku bilang ada orang bagus mau join,” jawab Arman.
“Lalu apa kata mereka?” Roy bertanya penasaran.
“Maaf Roy, aku sudah berusaha, tapi HRD bilang kamu bermasalah,” jawab Arman.
“Bermasalah? Aku disini keluar baik-baik. Bahkan, perusahaan tanpa diminta masih memberi aku gaji satu bulan sebelum aku benar benar diputus kontrak,” jelas Arman.
“Entahlah Roy, HRD kan punya link sendiri. Mungkin ada grup para HRD. HRD di sini bilang bahwa kamu agak kaku, kurang cocok untuk pekerjaan kita. Mungkin kalau kamu mau sedikit berubah aku bisa coba lagi merayu mereka. Bagaimana?” Arman menjelaskan jawaban yang diterimanya dari HRD.
“Kaku? Kaku bagaimana maksudnya Man?” Roy sangat kebingungan dengan jawaban Arman.
“Coba Kamu ingat-ingat lagi, ada kejadian apa antara Kamu dan perusahaan sebelum mengundurkan diri?” Tanya Arman sambil mencoba mengingatkan Roy.
“Hmm…mungkin soal entertain?” Roy bertanya memastikan.
“Entahlah Roy, Kamu yang lebih tahu. Tapi seandainya Kamu mau berjanji untuk berubah, aku akan kembali sampaikan kepada HRD dan direktur di sini. Kebetulan aku kan nasional manajer di sini, jadi aku bisa bantu Kamu ditempatkan di manajer area dan kita bisa kerja sama kembali seperti dulu,” jawab Arman.
“Oh.. Kamu ingat Man. Jika ada 1000 orang yang pertahankan kebenaran di situ, kita salah satunya. Jika ada 100 orang yang bertahan, pasti kita salah satunya. Bahkan, jika hanya ada satu orang yang mempertahankan kebenaran, itulah aku satu satunya. Jadi aku tidak bisa mengubah itu,” jawab Roy yakin.
“Ya baiklah, aku salut dengan pendirianmu. Aku bangga jadi sahabatmu, tapi maaf aku tidak bisa membantu,” Arman menjawab haru, “Maaf Roy, aku ditunggu di ruang meeting, ada orang yang harus aku entertain,” sambung Arman .
Percakapan pun selesai. Hingga di akhir hari ke-30, tidak ada satu pun teman Roy yang menghubunginya. Hari itu Roy sudah berada di mobil Pak Rustam untuk di antar ke Bandara. Selama perjalanan tidak ada satu kata pun yang keluar.
Setiap melintasi persimpangan, Roy selalu menatap tajam lampu merah yang diterobos Pak Rustam dan mengingat kisah adiknya Pak Rustam yang berusaha maju di saat lampu berwarna hijau. Dalam hatinya ia berguman, pilih mana, tetap benar atau selamat?.
(TAMAT)
***
Penulis: Manjaro Pai
Profil penulis:
Manjaro Pai adalah nama pena dari seseorang yang belum mau disebut nama aslinya. Mantan manajer di sebuah perusahaan internasional ternama ini lebih memilih resign dari tempatnya bekerja daripada terlibat dengan permainan curang yang dilakukan kantor tempatnya bekerja. Bagi pria murah senyum ini, nilai spiritual lebih penting dari sekedaar lembaran dolar. Dalam kondisi pandemi ini, ia lebih memilih jadi driver ojek online daripada bekerja di tempat yang diragukan kehalalannya.
Editor: JHK








