ArtikelCerpenPratama Media NewsSeni dan Budaya

Melongok Pengrajin Batu Alam di Daerah Cipatat, Bandung Barat

Salah seorang pengrajinnya ternyata adalah guru besar sebuah perguruan pencak silat

Seharian tadi  saya berkunjung ke beberapa pengrajin batu alam yang ada di daerah Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Di daerah ini banyak sekali pengrajin batu alam yang memproduksi berbagai macam produk untuk keperluan interior, eksterior, dekorasi taman, atau keperluan pemakaman.

Umumnya batu yang digunakan berjenis marmer atau pualam – berwarna krem mengkilap dengan strip kuning tipis, batu Granit – berwarna hitam mengkilap dengan strip putih tipis –  atau batu Andesit –  berwarna abu abu. Barang olahan batu tersebut sangat diminati oleh masyarakat, baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk keperluan usaha (proyek).

Kalau kita melihat taman kota, sesuatu yang sedang tren saat ini adalah batu yang dibentuk menjadi bulat. Batu tersebut digunakan sebagai dekorasi untuk memperindah kota. Misalnya beberapa batu bulat berdiameter 80 Cm yang ada di sepanjang trotoar di Jalan Braga dan seputar Jalan Asia-Afrika sampai ke Jalan Jenderal Sudirman Kota Bandung.

batu bulat, braga
Batu bulat sebagai hiasan jalan yang ada di sepanjang Jalan Braga, Kota Bandung (Sumber: bersapedahan.wordpress.com)

Ternyata pelopor batu bulat yang dibuat sebagai dekorasi tersebut adalah pengrajin dari Kota Cimahi. Fenomena batu bulat ini akhirnya cepat menyebar ke berbagai kota di Indonesia.

Ketika saya mengunjungi tempat pengrajin batu di daerah Cipatat, di sana terdapat banyak sekali jenis ornamen yang terbuat dari batu. Misalnya ada patung Ganesha yang tingginya kira-kira 150 Cm (tanpa base atau dudukan) yang beratnya kira-kira tiga ton.

patung ganesha
Patung Ganesha setinggi 150 Cm dan berat sekitar tiga ton hasil karya pengrajin Cipatat, Bandung Barat (Sumber: Sony Vespa)

Ada lagi patung macan sepanjang kira-kira 175 Cm dengan berat satu ton yang dipatok dengan harga kisaran Rp 12 juta – Rp 15 juta. Angka tersebut sudah termasuk biaya angkut sampai di tempat. Menurut pengrajinnya, patung ini merupakan pesanan dari sebuah kuil. Proses pembuatannya dengan cara dipahat dengan menghabiskan waktu sekitar satu bulan.  Juga di sana terdapat patung dewa setinggi kira-kira dua meter dan beratnya sekitar tiga ton.

Biasanya batu-batu tersebut diangkut menggunakan truk engkel. Khusus bola batu ukuran sedang, bisa diangkut dengan truk tersebut sebanyak 12 buah sedangkan untuk bola batu ukuran besar seperti yang terdapat di alun-alun Kota Cimahi paling banyak hanya bisa membawa dua buah batu saja.

Saat di sana, saya bertemu dengan Abah Dodo. Beliau adalah salah seorang seniman batu senior di daerah Gunung Masigit. Ternyata beliau juga adalah guru besar Paguron – perguruan – Pencak Silat Putra Sanalika. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk menggali informasi seputar olahraga beladiri tersebut dengan sang Master.

Abah Dodo
Abah Dodo, seorang seniman batu senior di daerah Gunung Masigit sedang memperagakan ilmu bela diri terhadap temannya (Sumber: Sony Vespa)

Saya bersyukur kegiatan jalan-jalan saya kali ini bisa menimba banyak ilmu. Selain ilmu seni batu, saya juga mendapat pelajaran tentang teknik bela diri langsung dari ahlinya. Alhamdulillah ketika pulang saya diberi hadiah seperangkat cobek atau ulekan – sepasang alat terbuat dari batu yang biasa digunakan untuk menumbuk, menggiling, melumat, mengulek, dan mencampur bahan-bahan tertentu – produk Abah Dodo.

cobek, batu alam
Hadiah cobek dari Abah Dodo (Sumber: Sony Vespa)

“Iraha-iraha kadieu deui Son,  urang diajar tarung jarak jauh (artinya: kapan-kapan ke sini lagi Son, saya ajarkan cara bertarung jarak jauh),” kata Abah Dodo saat saya beranjak pulang.

Saya hanya tersenyum sambil menahan tangan yang linu setelah di-piteskeun (artinya: dipatahkan – maksudnya dipelintir) oleh Abah Dodo. Sungguh pengalaman yang sangat berguna dan tak terlupakan.

***

Penulis: Sony Vespa

Keterangan:
Sony Vespa adalah nama pena dari Sony Sanjaya. Penulis adalah seorang pengusaha muda yang bergerak di bidang handycraft (kerajinan tangan) dengan nama bendera “Tjimahi Vintage Ethnic Art”.  Pria yang memiliki hobi mengendarai Vespa ini juga menyukai sejarah, heritage, seni, dan budaya.

Editor: JHK

Artikel Berkaitan

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button