Partisipasi Seniman dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Mereka rela kehilangan nyawa berjuang lewat karya seni demi kemerdekaan
Oleh: Sony Vespa
Setiap 10 November selalu diperingati sebagai Hari Pahlawan oleh seluruh rakyat Indonesia. Pada hari itu kita kembali diingatkan terhadap besarnya jasa-jasa para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Selama ini, peran pahlawan yang bergerak di bidang politik dan militer mempunyai porsi yang lebih banyak diungkapkan dibandingkan dengan pahlawan yang bergerak di bidang lain, khususnya di bidang seni. Padahal para seniman di masa itu juga mempunyai peran yang cukup penting. Oleh sebab itu dalam tulisan ini saya akan mencoba mengangkat peran seniman dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Sapardi Djoko Darmono, pernah berkata bahwa sebuah karya sastra mencerminkan zamannya. Contohnya adalah karya sastra yang lahir di masa revolusi sangat diwarnai oleh semangat perjuangan dan heroisme yang menggambarkan suasana di zaman itu, khususnya awal kemerdekaan. Ciri khasnya adalah menggunakan teknik sindiran dan ejekan, serta karya sastra yang dapat menggelorakan semangat perjuangan seperti puisi “Krawang-Bekasi” karya Chairil Anwar, “Tjoreng Moreng Revolusi” karya S.K. Moelyadi, dan “Kita berjuang” karya Usmar Ismail.
Puisi Karawan-Bekasi
Karya: Chairil Anwar
Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai belum bisa memperhitungkan arti ribu jiwa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu kami tidak bisa lagi berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak hanya karya sastra, seni lainnya seperti seni lukis, teater, dan musik pun sangat dipengaruhi suasana zamannya. Bahkan, hal itu terlihat jelas keterlibatan para seniman dalam mempertahankan kemerdekaan dengan keahliannya masing-masing.
Pada masa itu, pelukis aktif membuat karya lukis dokumenter yang sangat berharga. Misalnya pelukis Dullah dengan mengerahkan anak didiknya yang masih berusia antara 10-17 tahun yang ditugaskannya membuat dokumentasi tentang Yogyakarta di masa pendudukan tentara Belanda. Hanya dengan menggunakan bahan seadanya, seperti kertas bekas dan cat air berwarna putih – di buat dari bedak yang dicampur lem, serta sekali kali menggunakan cat minyak – cat kalengan yang biasa di pergunakan untuk mengecat pintu, mereka pun berkarya.
Lalu bagaimana hasilnya? Ternyata luar biasa. Gambar-gambar yang dibuat dengan ukuran kertas 7 Cm X 10 Cm, tapi sangat mengagumkan. Hasil karya mereka bisa bercerita lebih baik dari foto karena berisi tentang rekaman peristiwa masa itu yang dilukis on the spot dengan daya tangkap mengagumkan dari anak anak kecil yang masih polos.

Aktivitas pelukis ini bukan tanpa risiko. Mereka bisa saja terkena peluru nyasar atau ditangkap tentara Belanda, seperti yang terjadi pada Sardjito – saat itu berusia 14 tahun – yang di tangkap tentara Belanda dan dijatuhi hukuman 7 tahun penjara di penjara anak-anak Tanggerang.
Selain itu, banyak pula poster sebagai produk para pelukis yang mampu menggugah semangat perjuangan atau coretan-coretan di gerbong kereta dan bangunan dengan kata “Merdeka ataoe Mati”, “Berjuang Sampai Titik Darah Penghabisan”, dan kata-kata lainnya yang bernada semangat dan provokatif.

Pelukis yang banyak berperan saat itu dalam aksi corat-coret adalah Moehtar Apik dan Seronok yang di lakukan di Stasiun Kereta Manggarai, Jakarta. Sementara pelukis Soedjoyono dengan beraninya membuat poster langsung di dinding tembok Gedung KPM ( Maskapai Pelayaran Belanda) dengan dikawal pejuang bersenjata.
Selain itu para seniman yang tergabung dalam Seniman Merdeka dengan mempergunakan truk, mereka melakukan show keliling untuk mengibarkan semangat rakyat dan menentang penjajah. Alhasil mereka sering di kejar-kejar tentara Belanda atau Inggris. Bahkan Cak Durasin – salah seorang tokoh ludruk Surabaya – di tangkap dan disiksa Jepang hingga gugur.
Sementara itu para seniman musik tampil dalam perjuangan dengan mengibarkan semangat rakyat melalui lagu-lagu perjuangan seperti Cornel Simanjuntak dengan karya lagunya berjudul “Maju Tak Gentar, “Tumpah Darahku”, dan “Sorak-sorak Bergembira”, Ibu Sud dengan lagunya “Berkibarlah Benderaku”, Ismail Marzuki dengan lagunya “Halo-Halo Bandung” dan “Sepasang Mata Bola”, serta masih banyak lagi lagu perjuangan lainnya.
Demikianlah sekilas tentang peranan seniman dalam kemerdekaan Indonesia sebagai salah satu aspek penting sejarah yang sudah pasti bukan merupakan suatu kebetulan, tapi merupakan semacam sintesa dalam diri seniman itu yang berproses dan membawa perubahan dalam diri mereka yang hasilnya berbagai karya dan peristiwa keterlibatan mereka dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
***
Keterangan:
Penulis adalah seorang pengusaha muda yang bergerak di bidang craft (kerajinan tangan) dengan nama bendera “Tjimahi Vintage Ethnic Art”. Pria yang memiliki hobi mengendarai Vespa ini juga menyukai sejarah, heritage, seni, dan budaya.
Sumber tulisan: Buku terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1996, berjudul “Partisipasi Seniman dalam perjuangan Kemerdekaan Daerah Istimewa Yogyakarta”.
Editor: JHK








