Memakai Masker yang Hemat dan Optimal
Oleh: Umar Usman
Sejak kapan saya dan Anda mulai memakai masker? Seumur-umur untuk pertama kali saya memakai masker sejak April tahun ini, setelah pemerintah secara resmi mengeluarkan peraturan tentang pemakaian masker. Sebelumnya, pada Maret 2020 secara resmi menteri kesehatan merilis dua orang pasien warga Kota Depok positif terkena covid-19 pertama di Indonesia.
Apabila saya kalkulasi, di ruang kantor tempat saya bekerja, ada tiga orang. Kami memakai dua buah masker setiap harinya dan bekasnya kami bakar. Jenis dan spek masker yang saya beli seharga Rp 98.000 per dus, isi 50 buah. Ini untuk harga yang kualitas medium, sedangkan untuk mutu yang lebih tinggi harganya Rp 120,000 per dus, isi 50 buah. Sebulan kami bertiga rata-rata menghabiskan dua ratus buah masker, setara dengan empat dus.
Pemakaian masker dalam jumlah yang sangat besar, tentu saja terjadi di rumah sakit, poli klinik, dan Puskesmas oleh para dokter, paramedis, dan pasien di seluruh kota-kota di Indonesia. Bahkan, dipusat perkantoran pemerintah, mulai dari pusat sampai ke daerah, akan lebih besar lagi pemakaiannya. Ditambah lagi pemakaian masker di ruang publik, pusat keramaian, perkantoran swasta, pabrikan, bandara, dan pelabuhan pastinya akan lebih banyak lagi pemakaian masker setiap harinya.

Hitungan imajiner saya, apabila satu masker harganya dua ribu perak per buahnya, dikalikan lima puluh juta warga Indonesia yang memakainya dalam sehari maka dalam sebulan total belanja masker sebesar tiga triliun rupiah. Ini suatu angka yang sangat besar dan pantastis. Selama tujuh bulan pendemi covid-19, berarti pemerintah dan bangsa Indonesia sudah menghabiskan uang sebesar dua puluh satu triliun rupiah hanya untuk belanja masker.
Demi untuk kesehatan dan keselamatan jiwa warga negara Indonesia, sudah semestinya pemerintah dan seluruh komponen bangsa melakukan kajian serta penghitungan ulang tentang pengadaan dan belanja masker. Juga berusaha mencari alternatif lain, misalnya melakuan pengawasan dan disiplin yang ketat dengan menjaga jarak ketika berada di ruang publik dan keramaian, meningkatkan imunitas dan stamina tubuh, melakukan puasa bicara saat sedang berkumpul, dan berbicara seperlunya saja.
Untuk penanganan pendemi covid-19, pemerintah telah mengeluarkan anggaran biaya lebih dari 500 triliun rupiah dan akan terus bertambah sampai akhir tahun ini. Pertanyaannya, berapa jam dalam sehari kita mesti memakai masker dan kualitas masker jenis apakah yang membuat kita aman dari penularan virus? Belum lagi tentang dampak pemakaian masker secara terus menerus dan dalam tempo yang lama. Walaupun belum ada data yang valid, apa resiko dan dampak yang akan ditimbulkan.
Optimalisasi cara apakah yang terbaik bisa dilakukan agar pemakaian masker bisa tepat guna, tepat sasaran, tepat waktu, dan hemat biaya sehingga mata, hidung, dan mulut tidak menjadi kanal penularan virus. Apakah bukan perbuatan yang sia-sia, apabila memakai masker yang tidak memenuhi standar kesehatan?
Sudah saatnya pemerintah segera melakukan terobosan dengan membuat peraturan tentang peningkatan imunitas mental dan psikis warga, agar masyarakat terhindari dari ketakutan berlebihan terhadap pendemi covid-19. Menyikapi dengan ketakutan yang berlebihan terhadap situasi dan kondisi yang terjadi saat ini, justru membuat mental masyarakat menjadi rentan dan lemah melawan pendemi.

Pada posisi ini, pemerintah, ulama, tokoh pemuda, dan relawan kesehatan mesti hadir secara masif memberikan penyuluhan dan sosialisasi tentang peningkatan psikis dan spiritual agar seluruh komponen bangsa terbangun semangat yang tinggi dan pantang menyerah berperang melawan pendemi covid-19.
Menurut pendapat saya, memakai masker yang bahannya terbuat dari plastik transparan, lebih efektif dan optimal melindungi ketiga lubang yaitu mata, hidung, dan mulut. Ketiga lubang ini konon sebagai kanal penularan virus. Percikan air liur dan lendir yang keluar akibat bersin terhalang oleh plastik transparan dan setiap saat dapat kita cuci dengan air bersih karena terbuat dari bahan plastik yang tidak menyerap air. Selain itu, jenis masker ini lebih awet dan tahan lama. Berdasarkan praktik yang saya alami, efektif sampai dua bulan waktu pemakaiannya.
Begitu juga apabila ada udara yang mengandung virus menerpa wajah kita maka masker plastik transparan akan menjadi tameng melindungi mata, hidung, dan mulut. Paling tidak hal ini akan meminimalisir penularan virus, walaupun kemungkinan tertular tetap masih ada.
Dari sisi penghematan biaya pembelian, apabila dibandingkan dengan memakai masker yang terbuat dari bahan kain dan kertas masker, tentu saja suatu komparasi perbandingan yang sangat signifikan besar. Sekedar komparasi dalam perhitungan imajiner saya dengan perhitungan matematis sebagai berikut. Seandainya harga masker plastik transparan dua puluh ribu rupiah per satu buah, waktu pemakaian dua bulan atau enam puluh hari.
Apabila dua puluh ribu saya bagi enam puluh hari sama dengan tiga ratus tiga puluh tiga rupiah setiap harinya, lalu saya kalikan lima puluh juta orang pemakai dalam sehari, sama dengan enam belas milyar enam ratus enam puluh enam juta enam ratus enam puluh enam ribu rupiah. Karena waktu pemakaian dua bulan maka dalam satu tahun kita hanya membeli enam buah masker plastik transparan dengan harga dua puluh ribu rupiah, selama setahun belanja masker plastik transpran sebesar seratus dua puluh ribu rupiah. Apabila dikalikan enam, maka total belanja masker plastik transpran, sebesar seratus milyar rupiah.
Ada selisih perbedaan angka yang cukup besar yaitu sebesar tiga puluh enam triliun lima ratus milyar rupiah berbanding seratus milyar rupiah, apabila kita bandingkan membeli masker berbahan dasar kertas alkalis dan kain dengan memakai masker yang terbuat dari bahan plastik transpran dalam waktu setahun. Selisih angka yang sangat pantastis, bukan?
Dari perbandingan perhitungan imajiner yang saya uraikan tersebut diatas, terdapat selisih penghematan pengadaan dan belanja masker dengan bahan dasar plastik transparan yang cukup besar. Kelebihan dana pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat ini, dapat dialihkan untuk membantu masyarakat yang ekonominya sedang terpuruk dan bantuan untuk pelajar dan mahasiswa yang melakukan proses belajar mengajar dengan cara daring dan online, akibat dampak pendemi covid-19
***
Kembangan, 20 November 2020
Editor: JHK








