
Misteri Gitar Tua (Bagian 1 dari 2)
Sebuah cerpen karya Heni Anggraeni
Misteri Gitar Tua – Di ruang tamu, Indra, Indri, dan Mang Jaja saling melepas rindu, gelak tawa terdengar begitu ringan. Banyak hal yang mereka ceritakan setelah lama tak bertemu, kedua sahabatnya Dimas dan Elsa yang sengaja diajak oleh Indra, hanya menjadi pendengar setia cerita mereka saat itu.
Keduanya jadi tahu kalau di rumah peninggalan nenek dan kakeknya inilah, Indra dan Indri banyak menyimpan kenangan karena mereka lahir di rumah ini. Namun, saat Indra baru menginjak sekolah menengah atas dan Indri kelas tiga sekolah menengah pertama, ayah dan ibunya membawa mereka pindah ke kota Bogor karena Pak Kusuma ayahnya dipindahtugaskan ke kota hujan itu.
Dua tahun setelah kepindahan mereka, kakek dan neneknya meninggal dunia di tahun yang sama. Sebagai anak satu satunya Pak Kusuma mempercayakan Mang Jaja untuk merawat rumahnya walaupun sudah banyak yang datang sekadar bertanya mau dijual atau tidaknya rumah tua itu. Namun demikian, Pak Kusuma dan Bu mayang tidak berniat menjualnya, bagi mereka biarlah peninggalan orangtuanya itu menjadi tempat persinggahan dari kepenatan seperti yang dilakukan anak-anaknya saat ini, juga sebagai tempat peristirahatan terakhirnya pada saat tua nanti. Itulah cita-cita Pak Kusuma dan Bu mayang hingga mereka merasa lebih baik jika rumahnya yang terletak di kota Lembang itu, diserahkan pada Mang Jaja, tukang kebunnya untuk merawatnya daripada menjualnya.
Jelas sudah yang dituju untuk liburan panjang ke empat muda-mudi ini, bukanlah sebuah villa melainkan rumah tua peninggalan kakek-neneknya Indra dan Indri.
“Masih suka nyanyi seperti dulu nak Indra?” tanya Mang Jaja setelah bercerita ngaler ngidul, mengingat masa dulu Indra yang begitu suka menyanyi dan suaranya memang sangat merdu.
“Oh …! Indra jago nyanyi Mang! Hebat dong!” puji Elsa yang langsung akrab dengan Mang Jaja.
“Jago dia Neng, hebat!” jawab Mang Jaja sambil mengacungkan jempolnya.
“Itu buktinya! Gitar itu bukan hanya pajangan tapi bukti kalau Indra pandai main gitar,” jawab Mang Jaja sambil menunjuk gitar yang tergantung di dinding.
Dimas yang dari tadi hanya tersenyum saja, akhirnya terpancing buka suara.
“Kalau begitu buktikan sekarang, aku ingin dengar!” tantang Dimas sambil mengambil gitar yang terpajang di ruang tamu itu. Gitar yang sengaja Indra tinggalkan karena permintaan neneknya, sang nenek beralasanbila cucunya rindu akan gitar itu, cucunya akan datang padanya untuk mengobati kerinduannya.
Indra tak menolak ketika Dimas menantangnya untuk memainkan gitar itu.dia hanya tersenyum sambil menerima gitar yang Dimas sodorkan.
Sebelum memainkannya, Indra mencium gitar tua pemberian kakeknya itu. Oleh sang kakeklah, Indra diajarkan cara bermain gitar sehingga pintar seperti sekarang ini.
Perlahan dentingan gitar berbunyi dan suara merdu Indra mulai terdengar.
Angin semilir tiba-tiba terasa dingin menyentuh tubuh. Mang Jaja dengan sigap menutup pintu.
Tak ada yang aneh dengan kesigapan Mang Jaja, tetapi jika ada yang tahu ekspresi Mang Jaja saat itu yang seakan terkejut, mungkin mereka akan bertanya-tanya. Kenapa Mang Jaja begitu terkejut? Nmaun, mereka terlalu fokus pada Indra sehingga Indralah yang menjadi pusat perhatian mereka.
Entah mengapa hati tak bisa melupakanmu,
Padahal, kutahu kau kekasih sahabatku.
Bahkan, kucemburu saat dia memelukmu.
Berikan cintamu, walau hanya satu dari seribu cinta yang ada di hatimu.
Berikan rindumu, walau hanya hanya satu dari seribu rindu yang ada di hatimu.
Indra begitu menghayati lagu itu, bukan lagu dari band kenamaan yang dia nyanyikan, melainkan lagu yang digubahnya sendiri beberapa hari yang lalu.
“Ternyata benar kata Mang Jaja, kamu memang jago nyanyi Ndra!” ujar Elsa dengan penuh kekaguman.
“Ah biasa saja El,” jawab Indra seraya menatap Elsa sekilas, seakan tak mau menatap lama gadis itu.
Sementara Dimas, seakan merasa lagu yang diciptakan sahabatnya itu adalah curahan tentang hati yang sebenarnya.
Indra, Dimas, dan Elsa sudah bersahabat sejak kepindahannya ke Bogo, mereka belajar di sekolah yang sama. Namun, mereka tak pernah tahu ternyata Indra begitu piawai memainkan gitar sekaligus memiliki suara yang merdu.
“Mang Jaja gak bohong kan?” kata Mang Jaja sambil tepuk tangan girang,masa lalunya bersama Indra kecil dulu, seakan terbayang kembali dalam ingatannya.
“Kenapa gak kuliah musik saja nak Indra, biar jadi musisi sekaligus penyanyi terkenal,” usul Mang Jaja sambil mengubah posisi duduknya.
“Nanti dulu Mang, SMA juga belum tamat,” jawab Indra sambil tersenyum.
“Bukan cuma jago nyanyi Mang, Kak Indra juga jago bikin lagu,” ujar Indri dengan bangganya.
“Tuh! Apalagi pinter bikin lagu, mau apa lagi,” tutur Mang Jaja.
“Mang Jaja mah cuma bisa ngedoain, semoga Nak Indra jadi musisi dan penyanyi yang sukses dan terkenal, aamiin,” ujar Mang Jaja sambil mengangkat kedua tangannya diikuti oleh Indra, Dimas, dan Elsa ikut mengamini doanya Mang Jaja.
“Oh ya, ngomong-ngomong Mang Jaja pulang dulu ya,” kata Mang Jaja sambil siap siap berdiri.
Mang Jaja hanya sesekali menginap di rumah itu, setelah merawat dan membersihkannya, Mang Jaja akan pulang ke rumahnya yang kebetulan hanya terhalang dua rumah saja.
“Jangan panik dan takut kalau ada apa-apa, udah biasa kok,” ujar Mang Jaja lagi seraya tersenyum.
Apa arti senyuman dan perkataan Mang Jaja tadi tentang jangan panik dan takut, ke empat muda-mudi itu tak ada yang mengerti akan maksud ucapan Mang Jaja tadi.
***
Malam harinya Indra,Indri Dimas dan Elsa kembali berkumpul,hanya saja ruang tengah menjadi pilihan tempat berkumpul mereka saat ini, ditemani TV hitam-putih jadul yang masih ngajugrug di tempat asalnya.
“Rumah ini masih seperti dulu ya kak, bersih dan rapi,” tutur Indri pada Indra yang kembali asyik dengan gitarnya semenjak datang tadi siang. Belum sempat mereka berkeliling apalagi melihat lihat keadaan sekitar karena setelah kepulangan Mang Jaja,mereka langsung tertidur lelap.
“Ya, tak heran jika ibu sama ayah menyuruh Mang Jaja yang merawatnya,” jawab Indra sambil menatap sekeliling ruangan di hadapannya.
Braaakkk!!!!
Sekonyong-konyong dari arah dapur terdengar suara sangat keras seperti suara benda yang jatuh. Sontak saja Indra dan yang lainnya saling bertatapan satu sama lain. Dengan serempak pula pandangan mereka tertuju ke arah suara tadi.
“Suara apa itu!” ujar Indra
“Ayo kita lihat!” ujar Dimas,mencoba bersikap tenang.
Indra,Indri, dan Elsa hanya mengangguk sambil mengikuti Dimas yang mengendap-endap ke arah dapur, tempat sumber suara itu terdengar. Sesampainya di tempat suara tadi tak ada satu barang pun yang terjatuh. Elsa dan Indri tak lepas berpegangan tangan, keduanya merasakan aura aneh di sekitar ruangan itu.
Begitu pun Indra dan Dimas, bulu kuduk keduanya seakan berdiri tegak dan tiba tiba saja Elsa menjerit sambil memeluk Indri.
“Ada apa Kak?” tanya Indri dengan suara kaget.
“Ada apa Elsa?” tanya Indra.
“Aku takut Kak!” jawab Elsa tanpa sadar beralih memeluk Indra dengan penuh ketakutan, tetapi Indra segera melepas pelukan Elsa. Dia merasa tidak enak pada Dimas sahabatnya.
Dimas dan Elsa adalah pasangan kekasih sejak satu tahun lalu, sebagai Mak comblang, Indra tahu segalanya tentang mereka berdua. Indra sebenarnya selalu didera perasaan rindu pada Elsa,tetapi hanya adiknya Indri yang tahu dan Indra selalu wanti-wanti pada adiknya itu untuk tidak mengatakannya pada siapa pun.
“Jangan takut, gak ada apa apa. Paling juga tikus,”ujar Indra mencoba menenangkan Elsa dan adiknya sambil menyuruh Elsa dan Indri untuk berjalan di depan. Padahal, dia sendiri merasakan kakinya sangat berat untuk melangkah.
“Kamu melihat apa tadi?” tanya Indra pada Elsa, setelah Elsa terlihat tenang.
“Aku melihat sosok perempuan berwajah pucat dengan tangan bercucuran darah Ndra,” tutur Elsa masih dengan wajah ketakutan.
“Mungkin karena kamu terlalu diliputi rasa takut yang berlebihan saja El,” jawab Indra.
“Sudah gak usah dipikirin! Sekarang kalian masuk kamar, biar aku dan Dimas yang jaga,” ujar Indra lagi pada Elsa dan adiknya Indri.
Indri dan Elsa pun menurut apa yang dikatakan Indra, keduanya segera memasuki kamar.selang beberapa jam Dimas pun pamit untuk tidur pada Indra.
“Sudah malam Ndra! Aku tidur duluan ya,” pinta Dimas yang merasakan matanya sudah mulai mengantuk karena memang jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
“Mau tidur sama aku atau tidur di kamar sebelah?” tanya Indra pada Dimas.
Di kamar sebelah saja, sudah aku rapihin kok,” jawab Dimas dengan mata yang sayu.
“Ya sok duluan, aku masih belum mengantuk,” jawab Indra. Kemudian Indra pun mengambil gitar dan memetiknya sambil duduk bersila di atas karpet, tetapi sejenak dia hentikan karena dia melihat Elsa melintas di hadapannya.
Elsa mau ke mana? Apa dia mau ke toilet? Tanya Indra dalam hatinya, dibuntutinya Elsa dari belakang dan ternyata benar dia masuk ke kamar mandi. Dengan santai Indra menunggu gadis itu dibalik pintu.
“Sa…! Elsa…! Elsa…! ” panggil Indra beberapa kali setelah ia menunggu lama, tetapi Elsa tidak kunjung juga keluar.
Akhirnya Indra membuka paksa pintu kamar mandi itu, ia khawatir takut terjadi apa-apa sekaligus membuktikan rasa penasarannya dan …
Braaaak!!! Pintu terbuka lebar, tetapi tak ada siapa pun di dalam kamar mandi itu.
Lho, tadi kan Elsa masuk sini! Gumam Indra dengan perasaan yang tak menentu.
“Aku di sini Ndra.” Tiba-tiba suara seorang perempuan mengagetkan Indra sehingga menjadi pucatlah wajah Indra ketika yang dilihatnya adalah sesosok perempuan berwajah pucat dengan tangan bercucuran darah, persis seperti yang diceritakan Elsa.
Indra langsung berlari ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya dengan tangan gemetar dan kaki yang terasa begitu lemas.
Dengan napas ngos ngosan Indra berlari ke sudut ruangan kamarnya,duduk bersandar ke dinding tembok dengan keringat dingin yang mulai bercucuran.
Apa yang dikatakan Elsa benar,tapi kenapa rumah ini jadi begitu angker? Tanya Indra dalam hati.
“Kejar cinta kamu ….” Lagi-lagi suara perempuan itu kembali mengagetkan Indra. Napas Indra semakin tak beraturan.
“Siapa kamu! Siapa kamu!” teriak Indra.
Anehnya tak seorang pun yang mendengar teriakan Indra.
Indri, Elsa, atau Dimas, mereka tertidur pulas. Mereka tidak tahu kalau Indra tengah pingsan di kamarnya.
***
Keesokan harinya.
“Kak Indra …! Kak Indra…! Bangun sudah siang!” teriak Indri sambil mengetuk pintu kamar kakaknya. Tidak biasanya Indra belum bangun. Padahal, biasanya dia yang justru membangunkan Indri kalau sedang di rumah.
“Jam berapa ini Dek?” tanya Indra begitu muncul dari balik pintu kamarnya sambil mengucek-ngucek kedua matanya, tetapi dia kembali masuk lagi ke kamarnya.
“Sudah siang kakak … sudah sholat subuh belum?” tanya Indri dengan nada kesal seraya mengikuti kakaknya masuk ke dalam kamar.
“Kakak pasti sibuk bikin lagu lagi, pasti lagunya tentang Kak Elsa lagi, Kak Elsa lagi!!” gerutu Indri.
“Kamu mah ngaco ah …,” jawab Indra sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan menutupi kepalanya dengan bantal.
“Aku tahu,pasti lagu yang kemarin siang juga buat kak Elsa,benar kan?” tanya Indri dengan mata menyelidik.
“Kenapa sih Kakak gak terus terang saja sama Kak Elsa!” ujar Indri sambil berusaha merebut bantal yang dipakai Indra untuk menutupi kepalanya.
“Sssst! Jangan keras keras, nanti kedengeran Elsa!” bujuk Indra dengan suara agak ditahan.
“Biarin! Lagian apa sih istimewanya Kak Elsa, cantikkan juga aku!” ujar Indri dengan wajah cemberut.
“Ih ada yang cemburu!” ejek Indra sambil menyembulkan kepalanya dari balik bantal seraya tertawa lebar.
“Begini ya adikku saying. Kenapa Elsa begitu istimewa buat kakak karena Elsa cinta pertama kakak,” ujar Indra mulai serius.
“Iya tapi kakakku gak punya nyali, bisanya cuma curhat pada lagu,” tepis Indri dengan bibir yang munyan-menyon.
Keduanya tidak tahu, kalau Elsa dari tadi berdiri di balik pintu sambil membawa handuk di tangannya sembari mendengarkan semuanya. Ia jadi tahu segalanya sehingga membuat gadis itu menangis dan berhambur lari menuju kamarnya.
Gadis itu menangis sesenggukan, apa yang didengarnya barusan, sebenarnya itulah yang diharapkannya. Indra tidak tahu bahwa Elsa pun sebenarnya menyukainya. Saat itu dia berharap Indra bukan sebagai mak comblangnya, tetapi Indra yang menembak dirinya. Namun, itu tak pernah terjadi karena ternyata Indra lebih menjaga perasaan sahabatnya daripada dirinya.
Elsa menghela napas panjang dan menghapus air matanya. Dirinya mencoba tenang lalu menghampiri Indra dan Indri di kamarnya seakan tidak terjadi apa-apa.
“Kalau mau mandi, aku sudah masak air buat kamu sama Dimas,” ujar Elsa sambil memberikan handuk pada Indra.
“Ciyee ada yang seneng diperhatiin,” ledek Indri sambil melirik ke arah kakaknya.
“Trim’s ya El!” ujar Indra sambil mengambil handuk yang disodorkan Elsa kepadanya.
“Kamu kok kaya habis nangis El?”tanya Indra setelah melihat mata Elsa yang merah dan sembab.
“Gak apa-apa Ndra, mungkin kurang tidur saja,” jawab Elsa tak mau Indra tahu kalau dirinya begitu sedih.
Cukup aku simpan perasaanku dalam air mataku ini, seperti dirimu menyimpan perasaanmu dalam lagu-lagumu Ndra. Gumam Elsa dalam hatinya.
***
Setelah mandi dan sarapan pagi mereka kembali berkumpul diteras rumah, cuaca pagi itu agak mendung,bahkan embun pagi pun masih nampak di permukaan dedaunan.
Tak ada yang diceritakan Indra tentang kejadian semalam, Indra tidak mau adik dan kedua sahabatnya menjadi tidak betah. Apalagi Elsa sudah pernah melihat sosok perempuan itu, tetai Indra melihat Elsa dan Dimas yang seakan murung tidak ceria seperti biasanya.
“Aku perhatikan dari tadi, kalian lebih banyak diam, kenapa? Kalian tidak betah?” tanya Indra sambil menoleh kearah Dimas dan Elsa.
“Aku hanya sedikit pusing saja Ndra,” jawab Dimas. Sementara Elsa hanya tersenyum kecil saja tanpa memberikan komentar.
“Aku mau lagu yang kemarin lagi Ndra, ayo kita bernyanyi lagi,” pinta Dimas berusaha ceria.
“Ya bener, aku juga suka,” ujar Elsa dengan wajah mendadak bersinar.
Tanpa banyak bicara Indra bangkit dan mengambil gitar kesayangannya.
Denting suara gitar mulai terdengar, tiba-tiba … (bersambung)
*****
Judul: Misteri Gitar Tua (Bagian 1 dari 2)
Penulis: Heni Anggraeni
Editor: AN
Profil penulis:
Heni Anggraeni saat ini bekerja sebagai karyawan di PT. Perdana Firsta Garment. Sudah lama dia memiliki keinginan kuat untuk menjadi seorang pengarang. Meskipun usianya sudah bukan remaja, tetapi semangat berkaryanya luar biasa. Sudah beberapa cerita pendek lahir dari tangan dinginnya.








