Berita (News)Pratama Media NewsSeni dan Budaya

Menguak Tabir Dibalik Peralatan Tradisional Sunda di Museum Sri Baduga

Dr. Ade Makmur Kartawinata, "Peralatan dapur tradisional bukan hanya alat, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Sunda."

PRATAMA MEDIA NEWS (PMN)Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (26/11/2024) – Museum Sri Baduga sukses menggelar seminar bertema “Menggali Makna Budaya Peralatan Tradisional Sunda”. Kegiatan budaya ini berlangsung di Museum Sri Baduga, Jln. BKR No.185, Pelindung Hewan, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung.

Kegiatan seminar tersebut menyoroti kekayaan budaya yang terkandung dalam peralatan tradisional dapur Sunda, menghadirkan para ahli dari berbagai latar belakang ilmu yang memberikan sudut pandang menarik dan mendalam.

Seminar ini terdiri dari dua sesi dengan empat pemateri utama yang memberikan presentasi sesuai dengan bidang keahlian mereka. Setiap materi memaparkan aspek berbeda dari tradisi budaya Sunda melalui peralatan dapurnya, menyoroti nilai historis, fungsi, hingga relevansinya pada era modern.

Flyer acara seminar budaya bertajuk "Menggali Makna Budaya Peralatan Tradisional Sunda" - (Sumber: Didin/PMN)
Flyer acara seminar budaya bertajuk “Menggali Makna Budaya Peralatan Tradisional Sunda” – (Sumber: Didin/PMN)

Pembukaan Sesi I: Memahami Fungsi dan Sejarah Peralatan Dapur Sunda

Dr. Ade Makmur Kartawinata membuka seminar dengan presentasi bertajuk “Peralatan Tradisional Dapur Urang Sunda Koleksi Museum Sri Baduga”. Beliau menyoroti peran penting museum dalam melestarikan peralatan dapur tradisional sebagai bagian dari warisan budaya. Ade menjelaskan bahwa koleksi ini bukan sekadar benda mati, melainkan simbol kehidupan masyarakat Sunda yang penuh makna filosofis.

“Peralatan dapur tradisional bukan hanya alat, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Sunda. Setiap benda memiliki cerita tentang cara hidup, kearifan lokal, dan interaksi dengan lingkungan,” ungkap Ade dengan antusias.

Kemudian Dr. Jamaludin, M.Sn., atau yang akrab disapa Mang Jamal, melanjutkan diskusi dengan topik “Kajian Peralatan Tradisional Dapur Sunda”. Dalam paparannya, ia menyoroti bagaimana unsur estetika dan desain pada peralatan dapur tradisional mencerminkan keahlian seni masyarakat Sunda di masa lalu. Mang Jamal juga membahas perlunya penelitian lebih lanjut untuk memperkuat data budaya sebagai referensi dalam pendidikan dan pelestarian budaya.

Sesi II: Pamali, Nilai Tradisi, dan Tantangan Modernisasi

Sesi kedua dibuka oleh Mamat Sasmita dengan presentasi berjudul “Sepintas tentang Parabot Dapur antara Fungsi dan Pamali”. Sebagai tokoh yang dikenal sebagai penggiat literasi Sunda dan pendiri rumah baca Sunda, Mamat menjelaskan bahwa tradisi masyarakat Sunda mengandung banyak aturan tak tertulis, termasuk dalam penggunaan peralatan dapur.

“Pamali adalah cara nenek moyang kita menjaga harmoni. Setiap alat dapur memiliki aturan penggunaan yang diwariskan secara lisan, bukan hanya untuk menjaga fungsinya, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur,” jelas Mamat.

Narasumber seminar budaya bertajuk “Menggali Makna Budaya Peralatan Tradisional Sunda” yang digelar di Museum Sri Baduga Bandung pada Selasa (26/11/2024) – (Sumber: Didin/PMN)
Narasumber seminar budaya bertajuk “Menggali Makna Budaya Peralatan Tradisional Sunda” yang digelar di Museum Sri Baduga Bandung pada Selasa (26/11/2024) – (Sumber: Didin/PMN)

Materi terakhir disampaikan oleh Dr. Haryadi Darmawan, M.M., dengan tema ”Implementasi Koleksi Peralatan Dapur Tradisional Jawa Barat sebagai Daya Tarik terhadap Gen Z”. Haryadi menyoroti tantangan melestarikan budaya tradisional di era digital, khususnya di kalangan generasi muda. Ia menyampaikan pentingnya inovasi dalam pengemasan informasi budaya agar dapat menarik perhatian generasi Z yang sangat terhubung dengan teknologi.

“Dengan mengintegrasikan teknologi, seperti media sosial dan aplikasi digital, kita bisa menjadikan peralatan dapur tradisional bukan hanya sebagai benda antik, tetapi juga sebagai inspirasi gaya hidup modern,” kata Haryadi.

Kehangatan Diskusi dan Inspirasi Baru

Selain mendapatkan wawasan baru, seminar ini juga menjadi ajang reuni bagi para pencinta budaya Sunda. Penulis Didin Tulus, salah satu peserta seminar, mengungkapkan kegembiraannya bisa bertemu langsung dengan beberapa tokoh yang selama ini dikenal melalui media sosial.

“Betapa beruntung mendapat undangan ini. Saya bertemu sahabat-sahabat yang peduli budaya, seperti Mang Jamal dan Pak Mamat. Kami banyak berbincang, bahkan merencanakan kolaborasi ke depan,” ungkap Didin.

Menurut Didin, seminar ini memberikan banyak hikmah dan energi positif, terutama dalam menggali potensi budaya Sunda untuk terus didokumentasikan dan dilestarikan.

Museum Sri Baduga: Garda Terdepan Pelestarian Budaya Sunda

Museum Sri Baduga sebagai tuan rumah juga mendapat apresiasi tinggi dari para peserta. Koleksi peralatan dapur tradisional yang dipamerkan memberikan konteks visual yang mendukung materi seminar sehingga memperkaya pemahaman peserta.

Museum Sri baduga – (Sumber: id.wikipedia.org/Rochelimit)
Museum Sri baduga – (Sumber: id.wikipedia.org/Rochelimit)

Direktur Museum Sri Baduga, dalam sambutannya menyatakan bahwa acara ini merupakan bagian dari upaya museum untuk menjadi pusat edukasi budaya yang interaktif dan relevan.

“Kami berharap, melalui seminar ini, masyarakat semakin menghargai warisan budaya yang kita miliki, sekaligus terinspirasi untuk melestarikannya,” ucapnya.

Menjaga Budaya untuk Masa Depan

Seminar ini menegaskan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai bagian dari identitas bangsa. Peralatan tradisional dapur Sunda bukan hanya artefak masa lalu, tetapi juga cermin dari kebijaksanaan lokal yang relevan untuk masa kini dan masa depan.

Melalui kegiatan seperti ini diharapkan muncul lebih banyak inisiatif untuk mengangkat budaya lokal ke panggung nasional dan internasional, memastikan warisan ini tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Dengan antusiasme peserta dan dukungan dari berbagai pihak, seminar “Menggali Makna Budaya Peralatan Tradisional Sunda” ini menjadi langkah nyata untuk memperkuat fondasi budaya Sunda dalam menghadapi tantangan modernisasi. (Didin Tulus/PMN).

***

Judul: Menguak Tabir Dibalik Peralatan Tradisional Sunda di Museum Sri Baduga
Reporter: Didin Kamayana Tulus
Editor: JHK

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button