Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) Gelar Pertunjukan Permainan Tradisional Sunda Secara Daring
Ketua DKKC: “Permainan tradisional Sunda sangat penting diajarkan pada anak-anak karena mengandung nilai-nilai luhur, pesan-pesan pendidikan dan moral bagi pelakunya.”
Pratama Media News, Kota Cimahi, Minggu, 8 Agustus 2021 – Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) gelar pertunjukan permainan tradisional Sunda secara daring melalui Komite Pengetahuan, Teknologi, Permainan, dan Olahraga Tradisional (PTPOT) DKKC. Pertunjukan tersebut disiarkan melalui kanal YouTube “Dewan Kebudayaan Kota Cimahi”.
Awalnya kegiatan yang dipandu oleh Komite PTPOT DKKC tersebut dimulai sejak 15 Juli 2021 dengan workshop permainan sarung melalui video yang melibatkan 20 orang anak-anak binaan. Mereka berasal dari berbagai komunitas seni yang ada di Kota Cimahi.
Ketua Komite PTPOT DKKC, Apih Trisno mengatakan bahwa pertunjukan permainan tradisional Sunda tersebut semula akan digelar secara langsung pada peringatan Hari Anak Nasional tanggal 23-24 Juli 2021 lalu di Plaza Rakyat Kota Cimahi. Namun, karena adanya kebijakan Pemerintah Kota Cimahi yaitu Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) maka akhirnya diputuskan hasil workshop dilaksanakan secara daring dan pengambilan gambar melalui audio visual.


Realisasi pertunjukan permainan tradisional Sunda tersebut baru bisa dilaksanakan pada Sabtu, 7 Agustus 2021 bertempat di lapangan terbuka Alam Wisata Cimahi (AWC) dan akan ditayangkan melalui kanal YouTube “Dewan Kebudayaan Kota Cimahi” pada Senin (11/8/2021).

“Karena PPKM, proses latihan dibuat singkat. Apih Ajat sebagai pengatur laku kegiatan ini sangat ketat dalam membagi waktu, membagi jumlah peserta latihan, dan memantau 20 orang anak yang terlibat agar vitalitas dan kesehatan tubuhnya terjaga dan tidak menjadi klaster baru penularan covid-19. Alhamdulillah dalam serba keterbatasan kegiatan bisa berjalan. Dalam situasi seperti ini kami DKKC masih bisa hidupkan denyut nadi kebudayaan lokal di Kota Cimahi,” ujar Apih Trisno dalam siaran persnya, Minggu (8/8/2021).
Secara terpisah Ketua DKKC Hermana HMT menjelaskan bahwa permainan tradisional Sunda sangat penting diajarkan pada anak-anak. Bahkan, bukan diajarkan semata, tapi anak-anak mesti mampu menguasainya.
“Permainan tradisional Sunda mengandung nilai-nilai luhur, pesan-pesan pendidikan dan moral bagi pelakunya. Nilai-nilai itu merupakan jati diri bangsa. Juga jiwa bagi pemajuan kebudayaan daerah dan nasional di Republik Indonesia ini,” ujar Hermana.
Hermana menambahkan, nilai-nilai luhur dalam permainan tradisional itu di antaranya adalah membangun kebersamaan, tumbuhkan sikap jujur, terbuka, berani, saling percaya, disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, tolong-menolong, lapang dada, taat, waspada, tangkas, kreatif, cinta lingkungan hidup, cinta tanah air, hidup sehat, riang gembira, dan lain sebagainya. Permainan tradisional itu membentuk karakter dan tingkatkan kecerdasan IQ dan SQ anak.

“Efek negatif dari teknologi digitalisasi mulai membentuk karakter manusia Indonesia banyak yang soliter, di antara mereka sudah jarang bermasyarakat secara langsung, apalagi pada masa pandemi covid-19 ini,” ujar Hermana.

Alumni Institut Seni Budaya Indonesia Bandung (ISBI) tersebut mengatakan bahwa adanya kebijakan PPKM yang diterapkan Pemerintah Kota Cimahi telah membuat anak-anak sangat asik dengan dunia gadget seperti handphone dan lain sejenisnya. Mereka lebih asik bermain game di handphone-nya, berdiam diri di rumah tanpa banyak gerak, tidak merasakan sengatan matahari, dan melupakan permainan tali, galah asin, petak umpet, dan sebagainya.
“Kita tidak bisa menghindari kemajuan teknologi dan harus menjadi bagian penting dari peradaban itu. Namun, dalam meng-counter efek negatif dari teknologi digital maka sangat penting pula permainan tradisional Sunda khususnya di Kota Cimahi dan Jawa Barat diperkenalkan kembali pada anak-anak masa kini dan harus menjadi bagian kehidupan mereka sehari-hari,” jelas Hermana lebih lanjut.
Ketua DKKC tersebut berharap nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pemainan tradisional tetap terjaga dan meresap ke dalam memorinya, menguatkan karakter dirinya, karakter bangsa, sekaligus memperkokoh ketahanan budaya nasional.
“Kami berharap Dinas Pendikan Kota Cimahi, Dinas Pendidikan seluruh Kota/Kabupaten di Jawa Barat, Dinas Pendidikan seluruh Kota/Kabupaten di Indonesia dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) RI menetapkan permainan tradisional untuk anak-anak di daerah menjadi pelajaran ekstrakulikuler, wajib mendampingi pramuka di Sekolah Dasar. Setidaknya seminggu satu kali anak-anak diajak bergembira melalu kigiatan permainan tradisional,” pungkas Hermana. Humas DKKC.
***
Sumber: Humas DKKC
Editor: JHK








