Memaknai Film Nasional
Roy Wijaya, "Bagi saya film adalah sebuah hadiah yang bisa memberikan rasa kebahagiaan untuk diri sendiri dan juga orang lain."
Pratama Media News – Memaknai Film Nasional – Bagi sebagian orang, peringatan Hari Film Nasional (HFN) mungkin hanya ritual tahunan untuk sekadar basa-basi saja, tapi tidak bagi saya. Karena Hari Film Nasional adalah hari penting untuk insan film dan masyarakat Indonesia yang harus diperingati dengan suka cita, layaknya merayakan hari ulang tahun.
Ini adalah waktu yang tepat untuk mengingat betapa berharganya film Indonesia untuk masyarakat, terlebih para pembuat film. Saya juga sangat mencintai film Indonesia. Bagi saya film adalah sebuah hadiah yang bisa memberikan rasa kebahagiaan untuk diri sendiri dan juga orang lain.

Membuat film itu seperti mengkaryakan karya kita dan menghadiahkannya untuk orang banyak. Ketika kita berusaha membuat karya kita jadi hadiah, kita berkolaborasi dengan banyak karya lainnya dari berbagai bidang untuk bisa membuat karya jadi milik bersama.
Penetapan 30 Maret 1950 sebagai HFN – bukan Hari Film Indonesia melalui SK Presiden (Habibie) nomor 25 tahun 1999, merupakan pemenuhan kebutuhan akan perlunya identitas nasional dalam karya film. Bahwa 30 Maret 1950 merupakan hari bersejarah karena untuk pertama kalinya film cerita (Darah dan Doa) dibuat oleh orang dan perusahaan Indonesia, serta sebagai upaya meningkatkan kepercayaan diri, motivasi para insan film Indonesia serta untuk meningkatkan prestasi yang mampu mengangkat derajat film Indonesia secara regional, nasional, dan internasional.
Film adalah karya seni yang bebas, mencerminkan kepribadian bangsa dan tidak digantungkan pada komersialitas, seperti konsep film Usmar Ismail yang sangat bertolak belakang dengan konsep film pada masa penjajahan Belanda – yang hanya menjadikan film sebagai alat hiburan, karena mereka tidak merasa bertanggungjawab terhadap kemajuan bangsa kita. Begitu pula pada masa penjajahan Jepang, film hanya dijadikan sebagai alat propaganda.

Kini Film, dalam kemunculannya telah menjadi fenomena yang menarik. Betapa tidak, seiring perkembangan teknologi dan penerapannya film dapat dimasukkan dalam disiplin seni – baik sebagai hiburan saja hingga ekspresi pembuatnya, kajian komunikasi – sebagai media/kanal penyampaian pesan yang dipandang efektif, sejarah – dikaitkan dengan kemampuannya menangkap jejak sejarah perkembangan perdaban sebuah bangsa maupun dunia, dan banyak lagi kajian yang dapat diambil dari film (Said,1991:44). Itu aja sih! (Roy Wijaya).
***
Penulis: Roy Wijaya, Founder of Today Solution and Modeling, Film & Workshop dan owner “RUMAH CREATIVE CINEMA”.
Editor: JHK








