CerpenLiterasiPratama Media News

Kelingking Membawa Fadhil dan Kamila Terbang

Sebuah cerpen karya Sarkoro Doso Budiatmoko, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat

Pratama Media News, cerita pendek (cerpen) berjudul “Kelingking Membawa Fadhil dan Kamila Terbang ini merupakan karya Sarkoro Doso Budiatmoko,  alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat.

Lebih dari tiga pekan ini atau nyaris sebulan lamanya Fadhil tidak sekejap pun melihat Kamila, gadis pujaannya. Tidak juga seutas tali sepatunya, sekelebat gaun panjangnya, dan sebersit aroma parfum tubuhnya, apalagi sesimpul senyumannya. Bisa dibayangkan betapa galaunya Fadhil menjalani hari-hari ini.

Bagi insan yang sedang kasmaran, sepekan adalah sepotong waktu yang bisa membutakan mata hati dan membekukan isi kepala. Hanya insan berjiwa matang yang mampu mengatasi dengan menjaga keseimbangan antara perasaan dan pikiran. Hanya insan berjiwa tangguh yang mampu tetap terjaga dan tidak gagap dalam bersikap.

Fadhil adalah salah satu insan yang tangguh. Dia paham betul, apapun, seberat apapun, suatu saat akan berakhir. Apakah akan berakhir menyenangkan atau menyedihkan, dia hanya berharap yang terbaik sambil berjaga-jaga menghadapi yang terburuk.

Dosen muda ini tidak mau terjebak pada kebiasaan orang yang sedang kasmaran, suka mengkhayal, dan berandai-andai. Seperti apa yang pernah dialaminya ketika beberapa kali duduk di bangku taman di bawah pohon-pohon kenari, tempat di mana dulu Fadhil pernah janji ketemuan dengan Kamila.

Simbol jatuh cinta
Ilustrasi: Simbol orang jatuh cinta – (Sumber: pixabay.com)

Jebakan khayal itu datang ketika sambil duduk berteduh, pikiran Fadhil melayang, Aku ingin Kamila, bukan daun-daun kenari kering yang menemaniku duduk merenung di sini sambil menunggu waktu mengajar tiba.

Khayal juga muncul ketika Fadhil masuk ke toko sepatu, Suatu hari nanti akan aku beli satu kodi tali sepatu kepang warna-warni kesukaanmu Kamila.

Berandai-andai terjadi lagi ketika Fadhil masuk ke sebuah food court, dilihatnya satu booth penjual jajanan anak jaman sekarang, diucapkannya janji, Aku ngerti kau suka tahu bulat goreng dadakan, akan aku belikan satu keranjang untuk camilanmu, Kamila.

Pun ketika Fadhil melihat beberapa pasangan muda-mudi sedang berolahraga pagi berkeliling alun-alun kota, dia juga berkeinginan, Suatu hari kita lari-lari juga seperti mereka Kamila, pulangnya kita beli bubur ayam.

Fadhil memang bukan pria romantis yang muluk-muluk. Sejauh-jauh mengkhayal, jatuhnya ke tali sepatu, tahu bulat, daun-daun kering, lari-lari dan bubur ayam. Bukan perhiasan emas, cincin, kalung, gelang atau makan enak dan tamasya ke negeri seberang. Sederhana dan simpel saja hidupnya.

Bukan hanya sederhana, Fadhil juga kadang agak naif. Itu tampak ketika dia membandingkan kekasih hati dengan handphone baru.

Dalam hati Fadhil ada kekhawatiran, hasratnya untuk memiliki kekasih Kamila jangan-jangan sama dengan keinginannya dulu untuk memiliki handphone baru. Barang belum di tangan tetapi dia sudah kadung bercita-cita dan berimajinasi macam-macam.

Namun, ketika benar-benar berhasil memilikinya, kebahagiaan, kebanggaan, kemesraan, keceriaan, dan kesenangannya lama-lama memudar dan berangsur lenyap seiring dengan bertambahnya waktu. Layaknya barang model terbaru, akan segera menjadi barang lawas saat muncul barang yang sama dengan model yang lebih baru. Begitu terus dari waktu ke waktu.

Kenaifan Fadhil kini terhapus. Dia yakin, manusia, kawan, apalagi kekasih hati, selalu berubah menjadi lebih baru dari waktu ke waktu. Orang senantiasa memperbarui diri, tanpa memperbarui diri akan dilibas waktu.

***

Begitulah, setangguh-tangguhnya Fadhil, dia perlu juga menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hati sambil meniti lorong kehidupan bersama luruhnya daun-daun kering dan berseminya pucuk-pucuk tetumbuhan di lingkungan kampusnya.

Pria yang hidupnya cukup religius ini belum merasa perlu mengeluh. Dia mengatasi rindu yang menggebu melalui berbagi cerita dengan isi kepala dan isi hatinya sendiri seperti yang selama ini sering dia lakukan.

Bagi Fadhil, hanya isi kepala dan isi hatinya yang tahu persis apa maunya. Kadang dia hanya perlu didengarkan, tidak butuh jawaban atau komentar apa-apa. Namun, kadang juga hanya ingin sekedar mendengarkan.

simbol cinta
Ilustrasi: sepasang jantung sebagai simbol orang jatuh cinta – (Sumber: pixabay.com)

Seperti tentang Kamila, isi kepalanya mencoba ngomong, Fadhil, aku kok yakin Kamila ada di kampus. Tidak mungkin tidak, pasti ada di sini, pasti dia sembunyi, pasti dia lagi menghindarimu.

Sontak omongan ini mengagetkan isi hati Fadhil, Ah, jangan sok tahu. Siapa tahu dia lagi sakit atau berhalangan yang butuh waktu pemulihan lama.

Isi kepala Fadhil menyahut, Bukan sok tahu, tapi penasaran banget, kemana dia, gak mungkin kalau dia membolos begitu lama.

Atau dia lagi tidak mau diganggu urusan roman picisan kayak gini? kata isi hati langsung menohok Fadhil.

Omongan ini menohok dan tidak bisa terima Fadhil, Dibilang roman picisan? Seserius ini aku mikirin Kamila, dibilang roman picisan? Lalu manusia-manusia yang pacaran kesana-kemari dan sebulan kemudian bubar itu roman apaan? Lantas itu orang-orang yang pacaran berbulan-bulan. Bahkan, berbilang tahun tidak juga menikah, itu roman apaan lagi?

Omongan isi hati itu membuat Fadhil berpikir dan bertanya-tanya sendiri, Kenapa ada orang yang dalam hitungan bulan saling kenal, lalu tanpa ba-bi-bu bisa langsung naik pelaminan? Sebaliknya, ada yang berbulan-tahun pacaran tapi kandas dan gagal naik pelaminan? Lalu aku ini apa?

Itu pasti rahasia-Mu ya Allah? Fadhil menjadi yakin, ada campur tangan dari “atas”.  Dia sekarang menjadi lebih meyakini bahwa Kamila sedang disembunyikan-Nya.

Fadhil bergumam dalam hati, oh Allah ya Karim, aku tahu, Kau akan berikan yang terbaik untukku, pada saatnya nanti pasti akan didekatkan atau dijauhkan dengan Kamila, entah bagaimana caranya. Kau tidak akan bebani aku di luar kekuatanku.

Yes, yess, yesss! Fadhil tiba-tiba merasa begitu enteng dan girang.

Fadhil percaya apa yang sudah dijalaninya selama ini tidak akan sia-sia. Dia sudah mencoba mencari, menghubungi dan kesana-kemari mencari cewek bersepatu dan bertali-sepatu khas itu, tetapi tidak ketemu. Tidak mungkin kalau tidak ada campur-tangan-Nya.

***

Di lain tempat, pagi itu Kamila sedang bingung, baju apa lagi yang sebaiknya dia pakai untuk kuliah. Dia akhir-akhir ini ingin tampil prima dan tampak lebih dewasa dengan baju model gaun dan gamis. Jaket dan sweater juga dirasanya bisa membuatnya tampil beda.

Kamila tidak memakai sepatu bertali kepang berwarna-warni lagi. Teman baiknya memberi saran, jangan lagi seperti anak sekolah. Lalu dia melepas tali sepatu dan meniru model sepatu yang dipakai teman-temannya.

Sekarang Kamila juga berusaha mengurangi main dan lebih fokus belajar. Tempat kos pun pindah mendekat ke kampus sehingga dia bisa pulang-pergi kuliah lebih cepat dan lebih senyap. Itu dia anggap sebagai bentuk syukur atas beasiswa yang diperolehnya. Dia tidak mau menyia-nyiakan waktunya.

Kamila tidak mau membuang-buang waktunya. Selain kuliah, dia juga aktif di berbagai kegiatan kampus. Beberapa teman salut atas kesibukannya.

“Aktif sekali kau Kamila, apa acaramu?” Kata seorang teman.

“Iya, untuk mengisi waktu dan memperluas pergaulan, aku lagi ikut menyiapkan seminar, ayo ikut?” Kata Kamila.

Kesibukan tambahan itu membuat Kamila sering jalan kesana-kemari. Saat jalan di kampus itulah jantungnya mendadak berdegup keras laksana mau copot. Dilihatnya Fadhil duduk sendiri di bangku taman di bawah pohon kenari.

Fadhil diam. Tampaknya dia tidak mengenali penampilan baru Kamila. Sesaat terpaku diam dilanda perasaan campur aduk. Ada rasa malu, takut, dan bingung harus bagaimana, takut keliru bersikap dan ada rasa takjub.

Hati Kamila takjub. Dia tidak tahu mengapa jantungnya harus berdegup sekeras itu dan mengapa pula muncul perasaan campur aduk saat hanya melihat Fadhil, padahal setiap hari dia ketemu cowok-cowok lain dan semua lewat biasa-biasa saja.

Ketakjuban lain pun Kamila rasakan. Mengapa yang tersisa dalam ingatannya tentang Fadhil yang baik-baik saja? Padahal kan dia pernah marah dan menuduhnya tidak komit pegang janji?

Kamila semakin mengerti terhadap dirinya sendiri. Dia tidak bisa ingkar. Dia mempunyai banyak kesan baik atas diri Fadhil, pria yang pintar, enak untuk teman ngobrol, tidak neko-neko, dan tampak baik luar dalam. Bahkan, Kamila tambah terkesan dengan paras Fadhil yang tampak bersih, senyumnya terasa tulus dan bahasa tubuhnya terukur. Juga tatapan matanya sejuk, sesejuk daun bermandi embun dingin pagi.

Kamila resah sehingga muncul rasa ingin ketemu, tetapi gengsi. Liburan dan lama lost contact membuatnya bingung, bagaimana cara memulainya.

Terbersit pertanyaan dalam hati Kamila, mengapa teman-temannya begitu mudah bergaul dengan teman laki-laki dan lalu menjadi dekat. Keliruku di mana? Ah, biarlah aku begini.

Kamila ingin menjadi dirinya sendiri sambil bergumam, Kesukaanku pada Fadhil biarlah kusimpan sendiri. Aku menunggu saja, menunggu angin baik bertiup membawaku ketemu dia pria pujaan, eh pria pujaan? He … he … he …

Tiada lagi beban mengusik jiwa Kamila. Dia percayakan pada yang di “atas”, Dia yang Maha Tahu apa yang mahasiswi manis ini butuhkan.

***

Sudah jamak dalam cerita kehidupan, pasangan pertemanan atau pasangan hidup dipertemukan dengan berbagai cara. Ada yang dipertemukan di dunia kerja, ajang bisnis, arena olahraga, kesamaan hobi dan ibadah. Ada juga yang dipertemukan di dunia hiburan dan hura-hura.

Pertemuan Fadhil dan Kamila diawali di dunia pendidikan dan keilmuan. Tempat yang wajar bagi seorang dosen muda dengan mahasiswi. Pertemuan dan kedekatan mereka juga tidak jauh-jauh dari lingkungan kampus.

Kecintaan mereka pada ilmu mempertemukan mereka lagi, setelah sekian lama jeda, dalam sebuah seminar di kampus. Pertemuan yang tidak direncanakan. Kamila sebagai panitia dan Fadhil sebagai peserta seminar. Mereka berdua sama-sama tidak menduga, terkejut dan setengah heran.

Keterkejutan mereka tampak dari diam dan saling pandang sesaat sebelum akhirnya saling sapa. Fadhil berinisiatif menyapa lebih dulu.

“Alhamdulillah, ketemu lagi. Bagaimana kabarnya? Sehat kan?” Ujar Fadhil membuka percakapan.

“Alhamdulillah, sehat kak,” jawab Kamila singkat sambil tersenyum kecil.

Sambil menunggu acara dimulai, Fadhil mengajak duduk di deretan kursi belakang. Dilanjutkan dengan saling minta maaf, ngobrol soal kuliah, beasiswa, dan soal mimpi Fadhil tentang akad nikahnya Kamila. Ternyata itu memang hanya mimpi, Kamila masih sendiri.

Sebuah kabar itu membuat Fadhil sangat girang gembira. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan karena merasa telah kehilangan banyak waktu. Lalu dia memberaikan diri mengutarakan isi hatinya.

Dengan nada suara agak terbata-bata, Fadhil mencoba memberanikan diri berkata, “Kamila, maaf aku orang yang kurang bisa basa-basi, maka sekali lagi maaf kalau ini terasa agak langsungan ya.”

Fadhil berhenti sejenak sambil mengambil nafas dalam-dalam sembari mencari kesan dari Kamila, kira-kira sebaiknya diteruskan atau tidak. Sementara Kamila cuma diam. Dia tampak menunggu.

Lalu Fadhil meneruskan perkataannya, “Kamila, setelah aku berpikir dalam, jauh, panjang dan lebar, aku memutuskan untuk menyatakan  bahwa aku suka kamu Kamila.”

Mereka berdua lalu diam. Mereka juga sama-sama berpikir, ini pasti hasil campur tangan yang di “atas”. Kamila mengadu dalam hati, Ya Allah, bagaimana caranya ngomong? Aku juga suka dia?

Fadhil nekad berkesimpulan Kamila menerima rasa sukanya. Lalu dia cerita tentang keponakan kecilnya.

“Kamila, aku punya keponakan kecil. Suatu hari aku lihat dia sodorkan jari kelingkingnya untuk dikaitkan dengan jari kelingking kawannya,” cerita Fadhil ke Kamila, “Lalu aku tanya keponakanku, ‘Ngapain kamu mengaitkan jari kelingkingmu?’ Ponakanku menjawab ‘Aku minta dia berteman denganku Om. Aku terinspirasi oleh ponakanku itu Kamila.’.”

Kemudian Fadhil dengan lugas menyodorkan kelingking kanannya, “Kamila, maaf ini kelingkingku.”

Kamila, “Ya Kak, ini kelingkingku, tapi dari jauh saja ya.”

“Alhamdulillah, terima kasih Kamila, dari jauh juga sudah membuatku amat bahagia,” balas Fadhil dengan senyuman penuh arti.

Kelingking mereka terkait dari jauh tanpa menyentuh membawa mereka terbang tinggi dari ruang seminar melayang dalam khayalnya masing-masing.

Purwokerto, 21 Mei 2023.

Sarkoro Doso Budiatmoko.

***

Judul: Kelingking Membawa Fadhil dan Kamila Terbang
Penulis: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: JHK

 

Tentang Pengarang:

Sarkoro Doso Budiatmoko, lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak Pranoto dan almarhumah Ibu Fari’ah. Pendidikan hingga SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini,  sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di IPB (1984), Bogor dan pascasarjana di Iowa State University (1996),  Amerika Serikat.

Sarkosro Doso
Sarkoro Doso Budiatmoko, penulis dan pengarang (Sumber: Pratama Media News)

Pengalamannya menjalani berbagai penugasan di Perum Perhutani memperkaya wawasan dan pemikirannya yang sering dituangkan di media massa. Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, budaya, dan sumberdaya manusia. Aktifitasnya menulis tidak surut meski sudah purna-tugas beberapa tahun lalu.

Penikmat buku dan bacaan ini juga dipercaya mengasuh rubrik Kolom di Majalah “Bina Media Berita Kehutanan & Lingkungan” yang diterbitkan oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Tulisan Sarkoro Doso berjudul “Setelah PHL, Lalu?” pernah terbit di Majalah Duta Rimba Edisi 42 (Mar-April 2012) – Penerbit Perum Perhutani, Jakarta, Indonesia.

Kini rimbawan berpengalaman yang berasal dari Perum Perhutani Unit II Jawa Timur aktif menulis blog di Kompasiana. Beberapa tulisannya di platform asuhan Kompas online tersebut di antaranya artikel berjudl “Bijak Memilih: Orang, Pasangan, dan Pemimpin” yang terbit pada 20 Mei 2021 dan artikel berjudul “Hidup Akal Sehat” yang terbit pada 31 Mei 2021.

Penulis dikaruniai tiga orang anak. Saat ini dia menetap di Purwokerto dengan kesibukan menulis dan menjadi staf pengajar di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

***

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button